Search

26 Nov 2009

KAU TELAH MELAKUKANNYA


KAU telah melakukannya dengan sempurna, meski ada keresahan dalam hatiku, benarkah ini bukan mimpi?

Sejak pertama menatap matamu aku telah menemukan desir ombak. Ada kerlip cinta yang menyala-nyala. Mengubah diriku menjadi kanak-kanak. Membawa diriku pada kenangan masa remaja.

Di sebuah malam pernah kau bertanya, "Bagaimana kalau kita pergi saja, mengikuti angin dan padang belantara, memisahkan diri dari keruwetan pikir, membangun istana di gua atau di pucuk cemara nun jauh di sana?"

Aku kelu dan tak mampu menjawabmu sebab setiap kita bertemu bukan bahasa lisan yang keluar, melainkan bahasa tubuh yang tak lelah memacu keringat. Kita meniti malam-malam dengan bunga sedap malam. Kita lalui bulan demi bulan dengan terang bulan.

Benar-benarkah kau mencintaiku? Benar-benarkah kau mampu menerima keterbatas-keterbatasan? Barangkali pertanyaan itu terus menerus mengganggu hatimu, mengganggu juga hatiku. Pertanyaan yang justru menyuburkan cinta karena sebenarnya kita tak memerlukan jawaban sebab pada setiap kita berjumpa, selalu ada cinta di tatap mata kita yang bersentuhan.

Ah, andai saja kita bersanding tatkala rintik gerimis mengguyur tanah dan aspal seperti saat ini. Sedang apa kau di sana, cinta?

3 Nov 2009

ELANG DARI GOENOENG


SIANG meretas naik ketika elang itu menukik. Wahai angin, mengapa kabarmu mendadak begitu rupa?

Rindu pada angin, rindu pada gelegak samudera. Rindu ini memecahbelah kepala, menautkannya pada sebuah perahu yang terseret ombak dan onak.

Kami bercengkerama. "Jangan di beranda!" Ujar saya seraya membimbingnya ke ruang tamu, mengenalkannya pada hembus angin keluarga saya.

Lalu bernyanyilah sonata. saya menatap elang di matanya, di bawah gerai rambut yang selalu begitu dari waktu ke waktu. "Saya perlu puisi, saya butuh sandaran hati," ucapnya lirih, menyenandungkan kenangan kafe dan sesendok gula.

Puisinya mengajak saya berkelana, dari Yunani hingga Rusia, dari Jogja hingga Blora, dari Pati tempat kelahirannya, hingga Banyumanik tempat ia menetas dan menyemburat.

Puisi pula yang menyambit aorta darah saya, mengalirkan benih-benih bugenvil, menyiraminya hingga waktu tak terbatas. Saya tersentak karena tiba-tiba saya dibangunkannya persis ketika jendela itu terbuka dimana saya segera bisa menatap padang Savana melalui rongga udara.

Tak genap setengah jam kemudian elang itu terbang, kembali ke ujung Goenoeng ...


*Rindu bertalu buat Mas Goenoeng

2 Sep 2009

SAYA PULANG, SAYANG!


Sebulan rasanya jauh. Padahal masih di selongsong bulan yang sama, sedikit menyeberang ke September. Mengapa begitu lama tak singgah di rumah sendiri? Jawabannya panjang. Tapi saya coba pendekkan.

Pertama saya tengah mengalami stagnasi. Stagnan ide maupun hidup. Pelukis bisa berbulan-bulan tidur tanpa menggauli kanvas, cat, dan lamunan, meski misalnya ia sudi menarik garis-garis lukis yang gombal dan omong kosong bisa saja ia lakukan.

Hidup saya juga sedang stagnan. Kaya tidak, miskin mungkin mendekati. Untunglah saya tak lama menganggur. "Tak lama" yang saya maksudkan bukan bertahun-tahun, tapi cukup beberapa bulan saja, termasuk dalam menganggur itu saya pernah mengurusi keponakan mendaftar polwan dan nyari-nyari utangan.

Pekerjaan yang 'lumayan'. "Lumayan" sengaja dalam tanda kutip lantaran bukan pekerjaan yang mewah. Cukup dengan 'gaji bensin' dan mendapat penyaluran hobi. Hobi ngebut? Tentu tidak, walau masih berkutat tentang "mengebut untuk mencapai deadline sesuai jam yang dipatenkan" karena berurusan dengan pemberitaan dan kapan orang-orang di mesin cetak membatasi jam meleknya.

Rindu ini menggebu. Pitoresmi tak capek-capeknya ngulik kuping saya untuk up date blog. "Gimana mo komen kalo apdet aja enggak!" Begitu dia kerapkali sewot mencubit. Ah, kadang saya kangen perempuan ini. Saya membenci dia, anehnya juga rindu.

Hm, rasanya damai memasuki rumah sendiri. Ada adem yang menyesap. Muncul magma yang sekian pekan menggumpal dalam kotak libido yang tak pecah-pecah. Saya balik ke keasyikan lama menelusuri blog kawan-kawan setelah beberapa waktu ber-haha-hihi di fesbuk yang lama-lama menjemukan.

Saya pulang, sayang, jerang air untuk kita mandi bersama ...

5 Agt 2009

PUISI UNTUK BOYOLALI DAN POLISI


AWAL pekan ini saya tersengat musibah yang amat tidak keren: kehabisan bensin! Tapi saya memperoleh pengalaman batin berlimpah.

Memasuki Boyolali dari arah Solo, tiba-tiba mesin saya tersengal. Saya mengira aki bermasalah lagi. Lima hari sebelumnya ia ngambek dan enggan menggerakkan segenap perkakas elektronik gara-gara saya alfa memeriksa airnya. Tapi ternyata bensin ludes. Indikator digital di dasbor menjelaskannya. Lampu BBM kedap-kedip, dan celakanya baru saya ketahui di tengah perjalanan.

Tentu saya panik tak terkira. Maklum saja, senja telah roboh, sementara di dompet tak ada duit sepeserpun.

Di tengah sengal mesin, saya memaksa menginjak pedal gas, mencari tiga-lima meter ke depan supaya kendaraan tidak berhenti di tengah jalan. Jalur itu cukup padat. Bisa-bisa truk gandeng menyambar saya dengan seksama.

Ups! Berhenti persis di sisi trotoar seberang pos polisi bibir timur kota Boyolali. Sesaat saya menarik napas. Mencari-cari cara supaya terbebas dari belitan cemas. Siapa teman di Boyolali? Adakah famili? Nihil!

Saat itulah jendela kaca diketuk dari luar. Seorang polisi muda. Saya perkirakan baru dua-tiga tahun ia lulus sekolah calon bintara. Saya turunkan kaca. Mendapati senyumnya yang ramah.

"Selamat sore, Pak. Ada masalah apa?" Tanya polisi ini dengan amat santun.

"Kehabisan bensin, Mas," jawab saya seraya tersenyum getir. Sengaja saya memanggilnya "mas" karena jarak usia, meski ia aparat negara. Ia tampak tidak protes.

"Hm, begini saja. Bapak istirahat dulu di pos kami, kemudian nanti saya suruhan seseorang untuk membeli bensin di SPBU sana dengan jerigen," ucapnya sambil tetap ramah dan menunjuk SPBU satu kilometer di belakang kami.

Saya jujur saja bahwa saya tak membawa uang. Ia mengerti dan tampak berpikir sejenak. Lalu ia menanyakan apakah ada famili di Boyolali. Saya bilang kerabat terdekat ada di Salatiga (satu jam perjalanan), yakni Komarul, saudara sepupu. Tapi saya tak mengatakan pada polisi muda ini bahwa Komarul adalah seorang reserse berpangkat perwira menengah. Tak lebih untuk menghindari pemikiran negatif, misalnya dikira pamer.

Pendek kata, akhirnya saya duduk di pos polisi. Selang beberapa belas menit polisi muda tadi berpamitan, bertukar piket dengan dua polisi lain. Dua petugas berikutnya tak kalah ramah. Kami bersalaman. Yang senior bernama Wibowo (saya memanggilnya Pak Bowo), satunya Pak Arief (kebetulan namanya sama dengan saya). Pak Bowo lebih senior ketimbang Pak Arief.

Dalam dingin menusuk tulang -- selagi saya menunggu transfer dari Komarul -- kehangatan menyelimuti kami. Entah mengapa kami selayaknya tiga kawan yang lama tak berjumpa. Tak ada batas-batas, tak ada hal-hal yang mereka sembunyikan.

Awalnya saya tak berterus terang bahwa saya jurnalis. Tapi saat Pak Bowo bertanya apa pekerjaan saya, akhirnya saya ungkapkan juga. Toh pengakuan saya tak menyurutkan keterusterangan dua polisi ini melontarkan apapun, termasuk rahasia-rahasia kepolisian yang selama ini jarang diketahui umum. Termasuk pula ia bertekad untuk menjadi polisi yang bersih supaya menjadi suri tauladan anak-anaknya yang kini masih berusia SD.

Sebagai manusia, Pak Bowo yang asal Kendal itu punya rasa takut juga. Ia mengisahkan bagaimana pernah dikeroyok sepuluh pemuda mabuk di depan pentas dangdut. "Saya membawa pistol. Tapi saya tak boleh menembak secara acak. Dua peluru saya muntahkan ke langit, padahal bisa saja saya arahkan ke kaki para pengeroyok. Tembakan ke atas itupun mencemaskan saya, jangan-jangan peluru nyasar mengenai orang tak berdosa," tuturnya.

Pak Bowo beristrikan seorang guru SD. Kehidupan sederhana mereka jalani bertahun-tahun. Kebersahajaan itu saya dapati dari sepeda motornya. Ia cuma menunggang motor bebek keluaran lama. Tak mengesankan ia polisi beringas yang main gertak. Itu terbukti saat mendadak datang seorang pemuda dengan motor protolan ke pos polisi ini. Saya sempat mengira pemuda itu bakal diomeli. Bahkan barangkali diintimidasi. Ternyata tidak!

Pak Bowo menatap prihatin RX King berpelatnomor Jakarta itu. Sudah nomornya palsu, tak dilengkapi kaca spion pula. Si pemuda juga tak memakai helm. Kemudian Pak Bowo menyunggingkan senyum kebapakan kepada si pengendara. Antara tersipu dan takut, pemuda berkaus belel ini mengaku asli Sukoharjo (masih karesidenan Solo), tersesat saat mencari rumah kawan, dan kehabisan bensin (saya sempat tersenyum lantaran senasib dengannya).

Usai bertanya-tanya, Pak Bowo meminta Pak Arief menelepon markas. Kemudian datang mobil polisi bak terbuka. Si pemuda kusut itu beserta motornya lalu diangkut ke Polres Boyolali karena terindikasi melakukan hal-hal tak beres.

Kami kembali mengobrol. Dingin makin menggerogoti. Pak Arief kemudian bergabung setelah tadi sibuk mencatat-catat di meja pos. Saya dan Pak Bowo sejak petang memilih duduk di kursi kayu sebelah bangunan.

Makin hangat saat kami bersama menyantap nasi goreng yang gurih, dibeli Pak Bowo dari warung dekat pasar. Terkuak pula Pak Arief yang kelahiran Klaten ini adalah anak tentara. Ingin jadi polisi ia rela merantau ke Semarang. Di Semarang sempat ia menjadi kuli bangunan, semata untuk bertahan hidup dan membuktikan pada orangtua.

"Saya dididik untuk disiplin dan penuh semangat. Saya anak tentara, tapi jarang saya katakan kepada orang-orang," ungkapnya sebelum bergegas membelikan air kemasan botol saat dilihatnya saya perlu minum. Pak Arief pula yang mengantar saya dengan sepeda motornya ke ATM BCA yang cukup jauh.

Sampai kemudian kami harus berpisah. Setelah bensin yang saya beli di kios eceran persis di sebelah mobil saya diparkir mengalir ke tanki pada jam 8 malam (total 3 jam saya dinaungi pos polisi), saya minta diri dengan berat hati. Bertukar nomor telepon, lalu kami bersalaman.

Boyolali meninggalkan jejak cinta dan sejuk yang membius. Pepohonan di sepanjang jalan menuju Salatiga melambai-lambai, menyusupkan memori terdalam, memori yang temaram. Malam senyap. Misterius. Ingin rasanya menulis puisi untuk Boyolali ...

26 Jul 2009

NOORDIN M TOP DAN CALEG

SAYA iri pada Noordin M Top. Fotonya ditempel dimana-mana. Di halte, terminal, bandara, sampai tembok hotel mesum. Saya pernah sangat ingin gambar muka saya dipasang di gardu listrik atau dipaku di pepohonan. Biarlah di sana tertera pula tulisan "WANTED" berukuran besar, lalu di bawah foto ditulisi jumlah uang bagi siapapun yang mampu menciduk saya, seperti di film koboi.

Saya juga pernah iri pada caleg yang memasang foto di spanduk, umbul-umbul, bahkan brosur. Betapa asyiknya memamerkan deret gigi dan bibir yang terkembang. Seolah menyapa siapa saja, seakan jalanan adalah miliknya.

Pernah saya guyon dengan Mas Goenoeng Mulyo. Dalam canda sempat kami mau memesan spanduk dengan sablonan foto-foto kami, kemudian dipasang melintang di atas jalan. Tentu tak ada logo partai maupun jargon pemilu di situ, melainkan deret tulisan enteng saja: "Saya bukan caleg, cuman pengin nampang saja!"

Namun kemudian baru-baru ini saya menyadari bahwa tampang dipublikasikan belum tentu positif muaranya. Bayangkan, pagi tadi muncul foto seseorang di halaman dalam sebuah koran, dengan kalimat yang sungguh tak enak: "Panggilan, nama W*s**, alamat Jalan S******** Raya nomor sekian Tangerang, untuk mempertanggungjawabkan penggunaan uang sebesar Rp 27 juta". Olala!

Noordin mungkin tidak nyaman fotonya di-"wanted"-kan. Bayangkan, predikat "buronan nomor wahid negeri ini" kemana-mana disandangnya. Jika suatu ketika ia dibekuk, pasal untuk menjeratnya sangat berlapis-lapis. Itu belum cercaan yang menimpuknya dari segenap penjuru jagat raya.

Tapi, siapa tahu ia kini ia tengah menyedu kopi di depan televisi, seraya tersenyum congkak di sela emping melinjo yang sedang dikunyahnya. Noordin tak takut sama sekali lantaran wajahnya tak dikenali lagi usai ia melakukan face off. Itu mengapa siapa menyangka kita saban hari mengobrol dengannya di pasar, terminal, atau di sudut pasar tradisonal.

Sedikit lebih baik adalah nasib mereka yang mengadu untung di pemilu legislatif. Setelah tak dicontreng orang, mereka tak menyisakan masalah apa-apa, kecuali barangkali membayar utang untuk keperluan pileg. Pertanggungjawabannya tak sehebat Noordin, karena cuma berperkara dengan bank, atau pihak lain yang diutangi.

Bagi yang terpilih, segera saja ia merealisasikan janji-janjinya untuk membela rakyat, kecuali bagi mereka yang setelah terpilih lantas bersiap tidur di sidang-sidang, sebab masyarakat boleh jadi telah melupakannya karena jalan telah dipavingisasi pada masa kampanye, atau rakyat telanjur senang karena telah memperoleh kaus dan uang.

Memasang foto di jalanan? Nggak deh!



21 Jul 2009

BLOG ADALAH PAWON SESUNGGUHNYA


SAYA penyendiri. Masuk kamar saat matahari pulang, kemudian bersemayam di kursi putar yang menghadap meja. Lama. Bisa semalaman tak keluar.

Hening begitu sibuk menimang tubuh dan jiwa. Sepi adalah sigaret yang mengentutkan asap-asap bergulung, menyorongkan album-album kehidupan beribu lembar banyaknya. Dan saya hanya ditemani televisi yang menyala sesekali, buku, dan alat tulis elektronika yang dilumasi speedy. Tak ada sesiapa, bahkan anak maupun istri saya.

Itu mengapa kegemuruhan facebook (atau publik menyingkatnya dengan FB) cuma saya hampiri sesekali. Keramaian yang tak terlalu menyeret saya untuk berlama-lama membaca sambil tertawa-tawa, sebagaimana saya hanya seminggu sekali menyeruak keramaian pasar Johar, pasar tradisional terbesar di Semarang, atau Mal Ciputra dan Matahari.

Saya lebih tenteram membaca-baca blog kawan, atau sesekali menulis di blog sendiri, ketimbang berkomentar, membaca komentar, atau mengomentari komentar orang di FB. Blog serasa sudut pawon*) dimana kita meracik sup atau sambal goreng. Mengalun kesunyian yang indah berada di pojok dapur seraya membaui terasi, kepul asap penggorenggan, atau sisa makanan kemarin.

Blog lebih tepat untuk media perenungan, pergunjingan hati, serta menekuri kaya atau kemelaratan. Blog adalah kuali yang melahirkan fiksi bersama realita dalam adonan sedap menurut selera masing-masing penulisnya.

Saya sulit diseret ke satu irama hilir mudik yang menyesakkan mata, meski FB efektif menjalin kekerabatan dan atau memburu kawan-kawan lama. Tapi sangat suntuk menurut saya. Kita dijerat dan sulit keluar dari keinginan menulis ratap hati dan mengomentari. Kita seperti menyelinap dalam ketat pasar malam dimana pantat dan kepala saling beradu dan bersebadan.

Tetaplah blog masih nomor satu di hati saya, kendatipun lama-lama di ranah ini sepi ditinggalkan penghuni ...



*) Pawon: dapur

11 Jul 2009

HOLE IN ONE DARI ISTRI


ISTRI saya marah membaca postingan ini. Bisa dimaklumi. Ia membaca sebuah pesan singkat kiriman 'seseorang' yang sangat ia benci, persis di hari ulangtahun saya, 23 Juni lalu. Padahal itu imajinasi belaka.

Imajinasi atau nyata, ia tak mau mengerti. Maklum, dengan hanya menyinggung tentang 'dia', ia berpikiran bahwa saya rindu pada 'orang itu'. Padahal, sejatinya saya tak pernah lagi mengangankan sesuatu yang dulu terjadi terseret ke masa kini, lebih-lebih menginginkan pertemuan.

Istri saya asyik sekaligus unik. Di satu sisi ia tipikal buldozer yang senantiasa menggilas hari ini dan hari depan untuk tujuan-tujuan. Tapi, sesekali ia juga menengok ke belakang dan berusaha memperbaiki hal-hal buruk masa lalu, termasuk hubungan saya dengan 'dia'.

Saya berterima kasih padanya meski seharian ia mengomel, melebihi omelan saya sesaat setelah saya memergokinya mengirim SMS ke mantan pacarnya. Istri adalah pagar. Istri adalah masinis kereta. Istri juga stik golf untuk menuntun bola memasuki hole in one kehidupan. Sebab itu, setelah meminta maaf padanya, saya mulai menata kembali manajemen perasaan antarkami.

9 Jul 2009

MULUT YANG TAK SETIA


Berbeda Pito yang konsisten nyedot LA menthol, saya cenderung 'asbak'. Bagaimana tidak. Setelah asyik masyuk dengan Sampoerna merah (dah jauh-jauh tahun sebelumnya pernah menyenggamai Filtra, Gudang Garam, Djarum, Dji Sam Soe, bahkan Djarum kretek), saya memadu cinta dengan Class Mild.

Bersama Class Mild saya merenda hari-hari suka dan merana, sedih-gembira, untung dan buntung. Tapi itu cuma setahun, 2008-2009. Beberapa bulan lalu saya jatuh cinta pada Star Mild, baik biru maupun menthol, gara-gara ditusuk batuk. Batuk yang tak kunjung sembuh dan berlendir. Di tengah batuk, saya nebeng Star Mild teman. Eh, sembuh!

Mungkin saya punya bakat tak setia. Buktinya, belum sebulan kesana kemari mengantongi Star Mild, mendadak saya sangat ingin mencicipi LA merah seorang kawan perempuan yang bertemu di sebuah acara ultah. Nah, saya keterusan LA hingga kini.

Rokok, setidaknya menurut saya, tak menyimpan tabiat makanan. Makanan bisa dengan lekas mengubah arah lidah, pagi bayam, siang opor, sore siomay. Perokok tak bisa mengubah selera sigaret dalam waktu singkat. Umumnya mereka bertahan lama dengan satu merek, termasuk para perokok ketengan yang membeli di kakilima Rp 500-an sebatang.

Karena jam terbang saya tinggi dalam urusan sedot tembakau, mulut saya mati rasa akibatnya. Kini saya tak canggung menghisap rokok apapun, bahkan jika disuguhi cerutu kuba sekalipun. Saya paham benar karakter rokok di depan saya, dan berisiko apa (tersedak, terbatuk, dsb) jika saya menghisapnya.

Rokok juga membuat saya mati gaya. Otak saya bisa sekarat gara-gara rokok tak tersedia ketika hasrat menulis menggedor-gedor dada ...

7 Jul 2009

ASAL TETAP TERATUR MAKAN!

SAYA salut pada Adi. Tetangga sebelah kiri rumah ini begitu bersemangat membagi undangan nyontreng ke segenap tetangga. Padahal, jika dihitung capek dan tanggungjawabnya, honor Ketua KPPS tidak nendang. Apa lacur, mari Adi kita nobatkan sebagai salah satu pahlawan tanpa tanda jasa.

Pilpres menyulut orang menjadi sibuk. Bukan oleh kampanye semata, melainkan juga penat menyimak debat, kenyang pemberitaan (sampai mau muntah membacanya), dan sibuk memutuskan mau memilih siapa.

Ada yang bilang ini pesta demokrasi. Tapi galibnya pesta, pemilu justru menguarkan bau sinisme. Ada ketawa membuncah, tapi muncul lantaran seorang capres/cawapres mengejek kandidat lain. Tepuk tangan pun seolah tepuk nyamuk: mencoba membunuh pihak lain lewat teror mental.

Pemilihan presiden di negeri ini masih serupa pemilihan ketua OSIS di SMA, semrawut dan gontok-gontokan. Demokratisasi cuma ada di seminar-seminar dan skripsi anak-anak kuliah. Napsu menginjak lebih tegas ketimbang berlapang dada.

Saya jarang mendengar seorang kandidat presiden berkata begini dalam debat di televisi: "Saya tak peduli kalah atau menang. Yang penting negara ini aman, makmur dan sejahtera.", kecuali dalam debat terakhir di Balai Sarbini tatkala moderator memungkasi acara dengan satu pertanyaan: "Andai Anda tidak jadi presiden, apa yang akan Anda lakukan?"

Seorang kawan mengatakan, pilpres akan berbuntut panjang. Siapapun yang menang akan menghadapi oposisi yang keras dan 'siluman' bergentayangan. Nah, kapan bisa tidur nyenyak bila nanti begini situasinya?

Karena pening menerka 'api' apa yang menjilat-jilat usai pilpres nanti, semalam saya putuskan: saya tak peduli siapapun menjadi presiden 2009-2014, asal kami bisa makan dengan teratur setiap hari dan menyekolahkan anak-anak. Itu saja!

3 Jul 2009

RASA RASA


SEPERTI ranum danau bening, dengan pucuk-pucuk bambu yang mengayun kala matahari bosan menari. Seperti menatap pelangi dan memotretnya dari punggung bukit. Itulah rasa yang kau berikan, sayang.


Kau bidadari dari lekuk langit ketujuh. Melayang ke bumi dengan pijar dan getar tatkala aku tak lagi berada dalam ruang yang nyaman untuk menghirup udara.


Tahukah bahwa kau oksigen bagiku? Di saat hati sunyi, kau datang dengan selendang sutera. Aku gusar sebab sukar mengatakan apa-apa saat kita berpapasan di tangga. Tahukah kau bahwa aku jatuh cinta? Tahukah kau, di tangga itu aku kuyub oleh asmara?


Dan kita bercakap-cakap setelah pertemuan di tangga. Malam-malam ribut oleh pesan-pesan ponsel kita. Aku dipompa oleh spiritmu, sampai akhirnya aku sadar aku bukanlah siapa-siapa. Ya, menyadari “bukan siapa-siapa” inilah mengapa aku sedih. Kau tak bisa kumiliki dan memilikiku.


Itu kenapa sering aku bersikap aneh, sering berubah-ubah sikap, mirip SMA yang sedang jatuh cinta. Aku kerap ingin berada di sisimu untuk mengadu ketika resah dan tak tahu harus berbuat apa. Kau bisa membuatku kembali tersenyum padahal semenit sebelumnya marah-marah, karena mencintaimu adalah hal terindah.


Kau terlalu baik untuk diusik, terlalu indah untuk diganggu, kendati setan pernah mampir dan menyuruh-nyuruhku untuk melakukan sesuatu. Sejumlah teman pernah marah melihatku murung dan tak doyan makan usai memergokimu dalam gandengan seseorang di depan gereja. Tapi, sejauh ini mereka mau memahami penjelasanku bahwa akulah yang bersalah karena aku memang tak berhak apapun atas dirimu.


Aku hanya perlu merajutmu dalam kesendirian dan mengajakmu ke tempat-tempat indah. Di sana aku leluasa memandangmu hingga bola mata perih. Menatapmu dengan sorot mata cinta yang besarnya melebihi samudera.

Ingin kubangun perahu untuk menyeberangi lautan, memeluk punggungmu ketika kau sedang di depan cermin membedaki paras. Aku ingin menciumi rambutmu, membawamu ke ambang jendela dan kita memandang bunga dari sana.


Aku sangat ingin berdua saja memandangi bintang-bintang, meraup kepalamu ke pundakku, dan kita menangis bersama.

(Jantungku berdenyut ketika menulis ini. Serasa di depanku ada kau dengan senyum yang menggoda, dengan tahi lalat yang menari di bawah matamu itu, dengan tangan yang lembut mengaduk gula dalam secangkir teh.


Maukah kau menunggu jiwaku ketika malam-malam ingin singgah? Aku akan mengetuk jendela kamarmu dan memberi setangkai bunga. Menjulurkan tangan dan membelai rambutmu yang lebat itu, lalu mengawasimu ketika kau pulas).

19 Jun 2009

SEMARANG 82 KILOMETER



MENEMBUS
gerimis pekat dengan kecepatan 60 km/jam seolah meniti buih. Solo baru saja habis, dan Kartasura menghisap dengan merkuri-merkuri yang lelah. "Semarang 82 Km", begitu papan menjulang di sudut Kartasura menjelaskan jarak yang mesti saya tempuh tiga jam ke depan.

Saat itulah saya melihatnya.

Ia melambaikan tangan. Sekejap saya pikir ia menyetop bus. Atau mobil lain. Tapi pada saat sama tak ada mobil yang melintas di tiga kaca spion saya. Tidak pula sepeda motor. Sepi menyayat. Artinya, ia melambai pada saya.

Refleks saya menginjak rem. Cericit ban berdenyar sebentar. Perlahan saya mundur, lalu mengambil jarak dua depa di depannya. Dari sorot lampu tampaklah perempuan muda -- kisaran 22 usianya -- berkaus putih, jins biru, dan syal melilit lehernya. Ia mematung dengan ransel menggantung, disangga kaki-kaki basah oleh tempias.

Tak ada sesiapa di sana. Benak saya terganggu oleh beragam kejutan yang berdenyut. Siapa tahu ia hantu. Atau sundel bolong kesepian lantaran tak ada manusia yang digoda. Atau ... Hei, ia melangkah menuju saya!

"Malam, Mas, boleh saya menumpang?" Ucapnya penuh harap. Saya menjatuhkan kaca lebih ke dalam. Mengawasi parasnya yang pias. Rambutnya masai tercabik gerimis. Ia menggigil kedinginan.

"Saya ke Semarang. Kalau Anda ke Jogja, berarti kita tak searah," kata saya seraya menunjuk pertigaan di depan. Ke kiri menuju Yogya, kanan ke arah Semarang.

"Saya mau ke Ungaran. Kalau keberatan, saya akan membayar ongkos tumpangan." Kali ini ia tampak ingin menegaskan bahwa ia sedang bergegas dan tak memerlukan banyak alasan saya untuk menolaknya. Saya melirik rintik. Kian menderas. Saya tak tega membiarkannya kuyub, dan saya akan dikejar-kejar rasa berdosa bila esok ia ditemukan tewas di trotoar lantaran kedinginan atau ditebas parang.

Saya mempersilakannya. Ungaran adalah pintu selatan Semarang. Apa salahnya ada teman mengobrol seperjalanan? CD-CD cengeng di lambung dashboard tentu telah lelah lantaran terlalu sering keluar masuk selop player.

Ia menghambur. Meletakkan pantatnya dengan lembut. Lalu mengantup pintu dengan terukur. Sekejap aroma Guess Pink menguar. Saya hapal baunya karena istri saya memakainya juga.

"Dari mana tadi? Kok berdiri di tempat sepi tengah malam begini? Sedikit bergeser ke pasar kan terang." Saya meliriknya. Roda telah mendorong kami. Gerimis makin tebal.

"Saya diturunkan paksa oleh pacar saya. Tepatnya mantan," ujarnya lirih tetapi penuh geram.

Saya terkesima. Tenggelam sebentar dalam percik pertengkaran yang pasti hebat. Lumayan untuk diceritakan kawan, atau istri, esok hari. Rasa penasaran dan sedikit naluri wartawan memaksa saya untuk bertanya.

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Ia memaksa saya untuk melayani napsunya. Seminggu ini itu terus yang ia minta, dengan janji akan segera menikahi. Saya bukan cewek dungu. Bukan perempuan gombal yang bersedia diajak ke kamar hotel lalu membuka baju untuknya. Jujur saya menyayanginya, tetapi tidak untuk seks pra-nikah cinta saya untuknya ... "

"Berapa lama kalian berpacaran?"

"Sejak SMA."

Cepat-cepat saya menghitung. "Wah, lebih lima tahun, dong."

"Enam tahun lima bulan pertanggal ini."

"Dan selama itu kalian sudah sejauh mana?"

"Ciuman. Itupun pipi. Ia pernah meminta bibir, dan saya memberinya. Tapi jangan membayangkan saya membiarkannya berlama-lama menciumi bibir saya. Ia penuh napsu, tapi saya mengatupkan bibir rapat-rapat sambil berdoa agar Tuhan mengampuni saya."

Saya menghela napas. Hm, enam tahun menjalin cinta tanpa persentuhan titik paling sensitif adalah hal langka di jaman sekarang! Saya takjub sekaligus salut.

Jessica -- hingga hampir Boyolali ia baru mengenalkan namanya -- kuliah di kampus sohor di Surakarta, jurusan komunikasi. Kalau tak salah terka, ia pastilah kembang kampus. Hidungnya bangir. Kulitnya -- saya pergoki kala tadi tersiram lampu mobil -- sehalus sutera. Saat mendekati jendela, syalnya sedikit membuka, menyiratkan leher seputih kapas tanpa ruas. Sayang ia pelit senyum lantaran mungkin tengah bersedih. Jika nanti ia tersenyum, saya akan segera bisa menilainya apakah ia lebih cantik dari Dian Sastro ataukah sebaliknya.

Tampaknya ia membiarkan saya defensif sebab sejak tadi tak pernah ia bertanya. Jessica mengaku tak peduli saya bajingan atau setan. Ia menyetop saya untuk satu tujuan yang tak bisa ditunda-tunda: mengadu kepada ibunya, mengguguk di bantal, lalu tidur. Esoknya, ia akan menemukan fajar baru.

"Saya tak menyesal putus darinya. Ia boleh anak pejabat penting, tapi saya lebih terhormat. Orangtua kami mendidik anak-anaknya menjunjung tinggi martabat."

Saya mengangguk-angguk tak putus-putus. Jessica mungkin sekelumit anak negeri ini yang pantas mendapat cum laude untuk hati bening. Ia bibit unggul yang secara fisik merangsang kelelakian tapi sepanjang hidupnya ia duduk di singgasana ratu dengan tatap mata was-was dan waspada.

Jessica membangun benteng kukuh. Membiarkan mata menelanjanginya, namun ia kirim pesan kepada setiap orang bahwa harga diri tak ubahnya berlian di kotak pandora. Tak boleh siapapun menyentuhnya, kecuali jika ia telah menikah nanti.

Saya menyentuh pundaknya untuk membangunkannya dari kantuk pulas. Menanyakan apa tadi sudah makan. Seratus meter di depan ada restoran 24 jam. Saya akan membelok jika ia menyetujui kami berhenti. Tapi ia menggeleng seraya mengucap terima kasih.

Sesampai di Ungaran, ia terjaga. Mengucak mata dengan gerakan ringan, lalu menunjuk belokan ke kiri. Jalan menurun tajam. Kemudian berkelok-kelok naik, lantas berhenti di luar pagar tinggi sebuah rumah sangat megah.

"Saya turun di sini, Mas, terima kasih atas tumpangannya. Kalau ada waktu mampir, ya. " Kali ini ia tersenyum. Semanis es krim. Saya kubur bayangan tentang Dian Sastrowardoyo sebab Jessica lebih cantik! Lalu ia membuka pintu, mengayun langkah menuju pos sekuriti di ujung pagar. Seorang satpam membukakan pintu. Ia melambai, masih dengan senyum tadi, kemudian melenggang ke dalam.

Belakangan saya memperoleh kabar dari kawan, rumah tempat Jessica berhenti adalah milik saudagar kaya pemilik saham terbesar satu televisi swasta hebat di negeri ini. Dan Jessica adalah anak keduanya ...



**
Atas ijinnya, saya diperbolehkan menulis fragmen kecil Kartasura-Ungaran ini, dengan catatan namanya disamarkan.

10 Jun 2009

WARTAWAN YANG TERLUPAKAN


SIAP-SIAPLAH tidak terkenal jika Anda menjadi wartawan. Jurnalis tetap duduk di akar rumput tatkala orang-orang yang pernah diprofil melambung di langit ketujuh!

Pada suatu kesempatan, tahun 2004, di Semarang, saya bertemu Peggy Melati Sukma. Bukan masalah gampang ketemu empat mata dengannya karena ia kini dibentengi panitia acara, event organizer yang mengundangnya, atau orang-orang sok penting lain. Tapi berkat seorang kawan pemilik EO, saya bisa berhadap-hadapan dengan Peggy di lobi sebuah hotel bintang 4.

"Masih ingat saya, Peggy?" Tanya saya, sok akrab, di luar konteks wawancara.

Peggy meneliti wajah saya beberapa kejap. Lalu ia menggelengkan kepala.

"Tahun 1993 saya mewawanacari Anda, memotret beberapa frame, lalu foto Anda muncul di halaman pertama koran saya. Itu terjadi di sebuah kafe. Anda belum setenar sekarang, dan saat itu Anda didaulat menyanyi dalam rangka ultah media kami. Masih ingat?" Saya mencoba menguak memorinya. Ia tersenyum. Saya membayangkan ia berteriak girang lantaran segera ingat momen itu. Tapi nihil. Ia tetap menggelengkan kepala.

Saya tidak kecewa saat turun menuju parkir mobil, meski 'misi' saya membuka ingatannya tak membuahkan hasil. Itu memang sungguh sangat lama. Peggy diundang untuk meramaikan kompetisi "Gadis Sampul" HUT Mingguan Bahari, koran pertama saya. Lagipula, sudah tentu ratusan wartawan pernah menginterviewnya hingga detik ini, sehingga apalah arti saya.

Saya tidak sedih dilupakan Peggy Melati Sukma karena ada momen lain sebagai pelipur lara. Suatu siang, pertengahan 2005, saya harus berurusan dengan sebuah hotel sohor di Jogja untuk urusan sponsor.

Di lobi, saya termangu menunggu public relations hotel bersangkutan menemui saya. Sampai akhirnya perempuan itu tampak melangkah ke arah saya dengan penuh percaya diri. Perempuan yang cantik dan fashionable. Ia menyalami saya dengan darah hangat dan bersahabat, seolah kami telah belasan tahun saling mengenal.

"Apa kabar, Mas Arief?"

Saya terkejut. Rasanya saya tak pernah mengenalkan diri sebelumnya, tapi ia tahu nama saya. "Dari mana Anda tahu nama saya?" Tanya saya, jujur.

"Kita pernah di camp yang sama, Mas, ketika kami menjalani pelatnas taekwondo di Kaliurang. Mas Arief satu-satunya wartawan yang menunggui kami berlatih selama seminggu. Ingat?"

Saya terkesiap. Saya ingat itu! Lalu mencoba menerka-nerka namanya. "Kamu Evina Bazir yang dulu tomboi itu? Yang saya foto di tepian kolam renang dengan mimik muka sulit diatur?" Ujar saya berapi-api, melupakan sebutan "anda" padanya.

Ia pun terkekeh-kekeh. Tawa yang tak berubah seperti tahun 1998 saat setengah hari ia mengejek kumis saya, dan ejekan tentang kumis itu saya sertakan dalam profil dia di Tabloid BOLA, koran saya waktu itu.

Alamak, ia menjelma menjadi perempuan yang super feminin meski tetap dinamis. Ia kini jauh lebih ayu daripada dulu. Namun bukan itu yang membesarkan hati saya, melainkan karena ia tak lupa pada saya meski kini telah menjadi salah satu perempuan berpengaruh di bisnis perhotelan Yogyakarta!

Ada kisah lain mengenai "penemuan orang-orang lama yang kini menjadi 'orang'". Medio 2007 saya disenggol seorang pramugari. Saya kaget lantaran sedang berdoa agar pesawat tidak terjerembab ke sawah atau menubruk rumah, doa yang selalu saya panjatkan tiap pesawat yang saya tumpangi sebentar lagi tinggal landas.

Saya mendongak. Ia tersenyum manis. Saya kerjapkan mata, jangan-jangan ia bidadari yang hendak memeluk saya ketika ternyata saya telah mati karena pesawat yang saya naiki kecelakaan. Ternyata bukan!

"Halo, Mas Arief. Apa kabar?" Ia mengangsurkan tangan.

Sambil meraup telapaknya, saya bertanya-tanya. Tapi kepala saya tak lagi 'core 2 duo' dengan memori 2 giga. Saya lupa siapa dia!

"Saya Ayu, Mas, gadis Weleri (Kendal) yang Jenengan (Anda) wawancarai di sekolah pramugari ... "

Olala! Ayu? "Wah, kok jadi begini besar kamu Yu?" Selonong saya tanpa peduli mata-mata iri penumpang lain.

"Hahahaha ... Mas Arief bisa saja. Sudah setahun saya di maskapai ini, Mas. Hayo, pasti jarang naik pesawat kita, ya? Oke, enjoy ya Mas, saya nerusin kerjaan," ucapnya. Ia pun melenggang. Dan saya hanya mengangguk-angguk saja.

Ya, ya. Ayu adalah salah satu narasumber saya tatkala saya membuat profil sekolah pramugari di Jalan Pekunden, belakang Hotel Graha Santika Semarang, saat saya bekerja di Harian Jawa Pos Radar Semarang, awal 2003. Saya heran ia masih ingat saya.

Lebih mengherankan, saya menjadi tidak kesepian lagi gara-gara bekerja di media massa, sebab seterpuruk-puruknya profesi ini di blantika ketenaran, masih banyak yang mengingat 'jasa-jasa' kami membesarkan mereka. Saya tersenyum, dan merasa tenteram.




***
Terima kasih untuk orang-orang yang tak pernah melupakan saya:
1. Jean Retno Ariyani (penyanyi)
2. Kurniawan Dwi Julianto (pesepakbola)
3. Ahmad Dhani (penyanyi, pencipta lagu)
4. Sukawi Sutarip (Wali Kota Semarang)
5. Soraya Haque (bintang iklan, pemakalah di seminar-seminar kepribadian)
6. Alvin Lie (politikus)
7. Joko Suprianto (mantan pebulutangkis dunia)
8. Pongky Jikustik (penyanyi, pencipta lagu)
9. Duta Sheila O7 (penyanyi)
10. Jaduk Ferianto (budayawan)
11. Kholil Danoe Atmodjo (pemain sepakbola nasional 50-an asal Semarang yang pernah membawa harum persepakbolaan nasional sehingga disegani di kancah dunia)
12. Chrisjon (petinju, juara dunia kelas bulu versi WBA)
13. Tukul Arwana (komedian)

Serta masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu.

4 Jun 2009

FACEBOOK ITU ...


"Oom Arief punya fesbuk ga?"

SMS itu sangat mengganggu benak saya, kemarin petang. Datangnya dari Opie, keponakan di Bandung yang baru saja mendaftar pendidikan broadcast. Mengapa terganggu? Inilah rinciannya.

Facebook, atau kini digampangkan menjadi "fesbuk" atau "FB", pernah dikampanyekan secara gencar oleh Gati Siahaya, berbulan lewat. Saya menolak lantaran parno oleh wahana serupa yang lebih tua, yang instruksinya memusingkan dan lelet di-download.

Tapi, diam-diam (sambil celingak-celinguk, takut dipergoki orang karena latah) saya mengisi formulir. Form yang simpel dan gampang diakses, sehingga resmilah saya punya fesbuk. Lantas waktu bergulir. Lalu suatu saat saya (iseng pula) mau membuka fesbuk tadi untuk melayani puluhan kawan (dan calon teman karena kenal mereka pun tidak) yang meminta alamat fesbuknya di-add, melalui e-mail saya.

Apa lacur, saya lupa password-nya! Tanggal lahir saya ketik. Nihil. Nomor PIN kartu ATM saya terakan. Ditolak juga. Nama Bapak-Ibu saya tulis ... Eeee dicuekin juga. Wah, apa ya? Langsung saya tutup lagi dan kembali menggumuli blog. Padahal, kalau mau teliti dan telaten, sebenarnya ada instruksi yang sanggup menolong membuka akses jika saya mau. Tapi sudah telanjur kesal.

Sampai kemudian kemarin petang. Opie yang berangan-angan menjadi presenter "Jejak Petualang" Trans7 seperti Riyanni Djangkaru itu membuka pikiran saya. Lalu, pagi-pagi saya membuka situs sosialitas facebook, dan dengan semangat 45 me-reset password.

Olala, saya terkesima dibuatnya. Facebook yang kesohor itu -- sampai-sampai sebuah pondok pesantren mengharamkan santrinya mengakses -- ternyata dunia baru yang melebihi keindahan akuarium koi dan arwana! Menyalip kilau etalase butik berlian!

Saya terkekeh-kekeh. Saya asyik masyuk. Mengomentari dan menyimak komentar orang adalah menyusup ke sebuah relung penuh artefak. Memburu kawan-kawan lama bisa jadi melebihi petualangan Brendan Fraser cs di film Journey to The Center of The Earth.

Saya takut ketagihan dan lupa mencari nafkah ...

3 Jun 2009

APRILIA, APRILIA ...


MALAM ini saya ingin menyeka peluh di lehernya. Aprilia tak tumbuh di taman rumah, tetapi mekar mewangi di lubuk hati, dari hari ke hari.


Ia membuat saya sulit memejamkan mata. Ia mengapung dan memasung. Ia berjingkat seperti penari. Tungkainya yang putih menyangga tubuh ayu itu, seperti belalang di punggung daun.


Saya terlempar ke kursi depan sebuah pentas balet, memandang tak berkejap tatkala ia meliuk dan meloncat seperti Ana Pavlova. Dada saya bergemuruh dipenuhi kerinduan yang menyala-nyala untuk sekadar, misalnya, menjentik hidungnya. Atau menggamitnya menyusuri salju.


Terakhir saya menjumpainya di sebuah vila, dalam gerimis dan kabut jingga. Ia menyanyi dengan geletar suara Trifina Samderubun, melahirkan gelembung-gelembung rahasia antara dia dan saya.


Waktu bergerak melompati kali, menjaga agar kaki tak terjerembab dalam jeram. Tetapi hati terhisap labirin, malaikat mengerumuni saya dalam ketidakmampuan menerjemahkan apa makna wangi bunga aprilia.


Saya pernah mengatakan ini kepadanya, terus terang dan transparan. Saya katakan bahwa saya tak mampu melupakannya walau sedetik saja. Lalu apa yang ia katakan? "Mengapa saya? Saya tak semenarik yang kau kira."


Saya bisu dan tuli karenanya sebab rahasia adalah misteri paling agung, terutama bila melibatkan cinta. Cinta tanpa syarat, biarpun tak mudah terbangun karena terbagi. Ia tahu mustahil bagi saya turun dari khayangan dan meninggalkan bidadari saya di sana. Ia tak mungkin pula meninggalkan pangerannya di singgasana ...


***



**Ana Pavlova: pebalet legendaris Rusia. Namanya dilabelkan oleh Australia dan Selandia Baru untuk sejenis dessert.

**Trifina Samderubun: penyanyi seriosa Jawa Timur yang sohor pada era 80-an.

**Diposting ulang atas permintaan Pitoresmi, setelah naskah ini sempat terapung-apung lama di google.

2 Jun 2009

POLISI, DUKUN, DUIT


SEMUA orang ingin menjadi polisi. Itulah kalimat yang berkelana dalam hati saya tatkala seharian kemarin berpanas-panas di kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang.

Tujuh ribu lebih lulusan SMA/SMK -- baik tamatan setahun silam, atau masih berdebar menunggu kelulusan tahun ini -- tumpah ruah, menyemut, dan jantungnya berdenyut di lapangan bagian dalam Akpol. Mereka yang berdatangan dari segenap penjuru Jawa Tengah ini tengah harap-harap cemas menanti nomor pendaftarannya dipanggil melewati speaker. Jika nomornya disapa, berarti ia lulus tahap pertama: ujian kesehatan.

Maka, ketika hanya dua ribuan orang yang disebutkan, yang lain pulang dengan mata lusuh, wajah lebam, berjalan keluar kompleks dengan lunglai dikuntit para orangtuanya yang juga murung, setelah sejam lebih mereka disengat gencar matahari.

Saya berada di antara ribuan orang ini, mengawasi Citra, anak pertama Indah, adik kandung saya. Menjaga parasnya dengan ketat. Siapa tahu nomornya tak disebut, alias harus pulang lebih awal. Kalau gagal, bisa saja ia pingsan, atau meronta merutuki nasib. Beragam kemungkinan bisa terjadi, meski potongan badan dan wajah Citra sesungguhnyalah sudah sangat polwan: tinggi 167, atletis, cantik, dan cerdas, ditambah ia pernah pula mewakili kabupatennya menjadi Paskibra di Semarang.

Modal tubuh bagus bukan jaminan. Sebagaimana rekrutmen apapun di negeri ini, uang adalah berhala. Beberapa pekan mengawal Citra, kasak-kusuk membuncah. Pernah saat tes kesehatan di RS Bhayangkara untuk menguji kebugaran (dan keperawanan bagi calon polwan), seorang bapak asal Jepara mengungkap bahwa pihaknya telah menyiapkan 100 juta rupiah demi baju polisi.

Pada saat lain, di hari itu juga, seorang bapak membawa dukun. Benar, dukun! Pria renta itu berusia kira-kira 70 tahun. Ia merapal sesuatu di sudut masjid kompleks RS Bhayangkara, membaca doa-doa supaya si anak melenggang ke babak berikutnya, yakni tes psikotes yang digelar hari ini, di Aula Undip Tembalang.

Tak tahu saya, apakah bapak yang mengaku siap menyogok 100 juta dan dukun tadi sukses menghela anak-anaknya menuju tahap berikut. Yang pasti, saya ngeri. Bayangkan, 'lawan-lawan' saya adalah duit berlimpah dan dukun! Tapi, alhamdulillah, 'dukun' Citra cukup manjur. Ia hanya selalu meminta dukungan Tuhan, dan lolos tes kesehatan!

***

MENJADI polisi? Ini cita-cita sebagian besar anak-anak TK, disamping dokter, pilot, presiden, dan sebagainya. Polisi masih pekerjaan impian, terutama bila lulusan SMA tak punya peluang kuliah lantaran tak punya uang.

Polisi dihujat, tetapi masih digemari. Lebih-lebih, konon, tahun ini gaji brigadir (lulusan sekolah calon bintara) bergaji berlipat-lipat dibanding sebelumnya (ada yang bilang 3 jutaan untuk 0 tahun, bahkan sebagian meyakini gaji polisi pada tahun pertama Rp 7 juta).

Polisi menjadi pilihan dan masih tampak sebagai pekerjaan penuh wibawa, di sela-sela menjadi anggota legislatif yang juga ladang untuk memperkaya diri. Nyaris tak ada polisi di negeri -- dengan pangkat perwira menengah hingga atas -- hidup di atap kemiskinan. Mereka kaya, dan entah duitnya dari mana.

Saat menggandeng keponakan yang wajahnya menyala karena menyelinap dalam daftar 200-an calon polwan yang lolos tahap pertama dari jumlah 600-an pendaftar Jawa Tengah, tak banyak yang saya pikirkan, kecuali mewejanginya agar jika menjadi polisi nanti jangan korup dan memelintir rakyat jelata.

Sungguh, saya tak memikirkan banyak hal kecuali itu ...

28 Mei 2009

IBU


TIAP Kamis, selalu paras Ibu melayang-layang di depan mata. Ada rindu untuk mendekap dan menghirup keringatnya.

Tradisi keluarga kami berziarah di makam leluhur tak pernah luntur. Sudah lebih lima kali saya melewatkannya: tak melafalkan doa-doa di atas makam Bunda pada Kamis petang. Dan saya menuai akibat buruk: ia menyusup ke alam mimpi saya, menggapai-nggapaikan tangan pertanda ingin disambangi.

Bapak tak memiliki hati singa seperti Ibu. Itu sebabnya saya mencintai Bapak tapi seraya bertanya-tanya, mengapa belasan tahun menikahi Ibu tetapi ia tak sekokoh istrinya, melainkan malah rapuh dan melepuh.

Saya tak memperoleh surga tatkala Bapak menikahi Emi, perempuan Ambarawa, Jawa Tengah, setelah Ibu meninggal. Bukan lantaran Emi nyinyir, tetapi karena Bapak tergesa menceraikannya sebelum sempat ia menabur kasih sayang kepada kami, saya dan tiga adik saya.

Lalu juga tak mendapat apa-apa ketika Bapak meminang Endang, janda tanpa anak asal Demak (juga Jawa Tengah). Endang berkompromi dengan adagium "ibu tiri tak semenarik ibu kandung". Ia bawel dan setengah hati. Mungkin ia menyayangi Bapak, tapi tidak untuk anak-anak (tiri)-nya.

Sebab itu Ibu tetap nomor satu di mata saya (dan tentu adik-adik saya), kendatipun secara fisik saya (berusaha) menghormati Bu Endang. Indah dan Eni, dua adik perempuan saya, memperlihatkan rasa tidak suka saban bertemu Bu Endang, tapi saya tidak.

Saya sangat menyayangi Ibu, walau dulu tanpa iba memangkas paksa rambut saya yang gondrong sebahu. Saya mencintainya meski mestinya saya marah karena pernah diminta memutuskan Retno, pacar saya semasa kuliah, gara-gara Retno kurang sopan saat makan.

Saya amat mencintainya, dan ingin mewarisi kekuatan macan itu. "Macan" yang dikuntit ratusan orang dengan genang airmata, ketika ambulan yang mengangkut jasadnya dari Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, memasuki kampung, tahun 1992 ...

26 Mei 2009

MANIK MATA PERMATA


KAFE Mantra suatu petang. Ia duduk bertopang dagu. Seorang perempuan. Benar-benar perempuan dengan rambut hitam tebal legam, hak tinggi, dan mata dimaskara.

Aku sangat ingin mendekatinya. Dua menit melihatnya dan aku langsung jatuh cinta. Tetapi harus kumulai dengan apa? Hai, saya Bandung. Kamu siapa? Ah, klise dan kampungan. Atau, saya kebetulan tengah menunggu seseorang. Boleh duduk di kursi kamu? Huh, formil dan terlalu "om-om"!

Kubiarkan dada diliputi gemuruh air bah seraya berdoa agar Mas Handry terlambat datang, entah macet atau mengantar Ezza berlatih drum, agar bisa berlama-lama meyimaknya.

Tubuhnya semampai. Tadi kentara sekali kesemampaian itu tatkala ia meminta tisu. Kakinya seruncing Nurul Arifin. Cara berjalannya mapan, mengingatkanku pada Ayu Utami ketika ia mendaki mimbar pada bedah bukunya di Gramedia.

Sebentar-sebentar ia melirik gerimis. Seperti menghitung rintik. Atau menggambar kenangan di punggung daun. Di balik parasnya yang ayu, ia sedang dihela resah. Risau nan tipis lantaran ia punya kerjap mata bintang. Apa yang sedang ia pikirkan?

Aku menerka-nerka. Mungkin barusan ia putus pacaran. Atau gelisah oleh kedua orangtuanya yang cekcok. Atau barangkali ada kerumitan di kantornya sehingga butuh waktu untuk menenteramkan hati.

Ya, ia pekerja kantoran! Blazer merah itu penandanya. Kalau tak salah merah marun adalah seragam Bank Gumilang. Costumer service? Bisa jadi. Setidaknya teller. Ah, apapun, bidang apa ia geluti, aku tak peduli. Yang menyita perhatian sekarang ini ialah ia mulai menitikkan airmata!

Sudut pandang yang tepat untuk melihat guliran bening dari manik matanya sebab mejaku memiliki garis lurus ke meja nomor 9 tempat ia terpatri. Aih, mengapa tiba-tiba ia terisak? Mengapa pijar mata bintang itu sirna?

Bergegas ia menyambar tisu, mengelap lembut, mengerjap-ngerjapkan mata supaya rintik airmata tak terlihat oleh siapa. Namun terlambat. Gundah itu terpergok olehku, dan celakanya ia juga memergokiku tengah mengamatinya. Tak ada waktu membanting tatapan ke sudut lain. Aku diam dan menunggu, dengan gemuruh dada sesanter genset.

Ia bangkit. Perlahan mendekati mejaku, dan tahu-tahu telah berdiri di seberang. Aku sulit berkata-kata, sekadar misalnya mempersilakan duduk. Bagaimana aku mempersilakannya duduk jika ternyata ia berdiri di sana untuk keperluan lain, umpama memanggil waiters? Tetapi bukan, ia memang berdiri untuk menghampiriku, dan sepertinya sedang menungguku untuk mempersilakannya duduk.

Ia duduk tanpa kuminta. Semerbak white musk menguar. Aku tak sempat menghirup lama-lama karena wajah itu lebih dulu terhampar. Lebih cantik dari yang kusangka. Ada tahi lalat di bawah masing-masing mata.

"Namaku bukan Permata, tapi Nindya. Kau tengah membayangkan Permata ketika tadi mengamatiku lama-lama karena napas dan mataku mirip dengannya. Terimalah kenyataan bahwa Permata telah jauh meninggalkanmu, dan hadapi semua dengan lapang dada meski rindu membelenggu. Camkan, aku bukan Permata, tapi Nindya ... "

Aku terkesiap. Di mejaku tak ada siapa-siapa. Di luar, gerimis makin menyilapkan mata ...

25 Mei 2009

"TOPENG MONYET" KUBURAN


KUBURAN akhirnya cuma parodi biasa. Padahal begitu mendengar, saya membayangkan grup Bandung ini seperti Marlyn Manson atau Cradle of The Filth yang mencoreng muka seperti mayat, atau semisterius Gorillaz.

Enam pria itu melenggang cengengesan menuju kursi setelah disebut Tukul dalam "Bukan Empat Mata", beberapa malam silam. Keenamnya bertingkah konyol dengan paras jenazah. Esoknya, masih di keluarga Trans, mereka tampil di "Ceriwis Yo Wis", masih dengan polah kanak-kanak!

Selang beberapa hari, band bikinan 2001 ini nongol siang bolong di panggung terbuka SCTV, dengan lirik-lirik: Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya. Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya. Ingat, ingat ingat ingat, cuma ingat kuncinya. Ingat, aku ingat ingat, cuma ingat kuncinya dari lagu andalan Lupa-lupa Ingat.

Kuburan sebenarnya memiliki celah sangat mewah. Di sela band-band mehek dengan rambut seragam: "menutupi sebelah mata" yang lahir normal maupun prematur, ia menghapus dahaga, dan hanya bersaing dengan keunikan Changcuters yang lebih dulu merampas perhatian.

Grup ini berpotensi menawarkan sesuatu yang unik, memancing penasaran, dan wibawa, jika menyuguhkan lagu-lagu kental plus lirik kelam tanpa melupakan aroma syahdu dan easy listening (mengingat kuping penikmat musik negeri ini rata-rata mencandui sonata indah dan gampang diingat). Mereka mesti jaim dengan menyeleksi undangan-undangan talkshow dan pentas siang hari, mengingat "kuburan" identik lolong serigala, jangkrik tercekik, dan desis malam yang menyeramkan.

Celakanya, Kuburan gagal mengelola aset kemisteriusan yang bisa dijual tanpa obral lantaran malah muncul dengan performa 'topeng monyet'. Susah payah mereka mengecat wajah sepucat mentega, memblok mata sehitam arang, memakai sepatu boot tinggi plus stocking hitamnya, dan berbusana ala victorian kalau hanya untuk membanyol, mengekor P-Project, sesama Bandung yang sudah sukses.

Dandanan gothic anak-anak muda itu tak menghasilkan efek memerindingkan bulu kuduk, tetapi hanya seperti badut biasa yang biasa disewa di acara ulangtahun. Sayang seribu sayang!

Pertanyaannya, seberapa lama mereka bakal bertahan?

19 Mei 2009

RIKU, MORAL, DISIPLIN, CERMIN


SAYA 'sangat marah' pada Mbak Imelda Courtier. Bagaimana tidak, pagi-pagi ia menggugah airmata saya untuk meleleh liar ke bawah.

Ia bertegur sapa biasa dengan saya awalnya. Lalu, jemari saya tergoda untuk membuka website ini. Kata demi kata saya lumat, saya kunyah, dan ... saya sesenggukan.

Adalah Riku. Ia anak pertama Mbak Imelda hasil pernikahannya dengan pria Jepang bernama Gen, berusia 6 tahun. Sepulang dari bermain di rumah teman, Riku membawa selembar kertas laporan penemuan uang, dari polisi. Berapa uang temuan Riku sehingga ia perlu melaporkannya ke polisi? Sepuluh yen, alias 1000 rupiah!

Dua hal membuat saya takjub (dan ujungnya saya tak sanggup membendung airmata itu), pertama kejujuran Riku. Ia tak bergegas mengantongi 10 yen ini atas nama 'kebanggaan' lantaran menemukan duit tercecer, lalu membeli permen; melainkan segera ke kantor polisi untuk mengadu.

Kedua, polisi Jepang tak menganggap Riku main-main, tetapi segera mencatatnya dalam berkas penemuan, dengan kertas formal, teliti, dan resmi! Bahkan malamnya kantor polisi bela-belain menelepon ke rumah Mbak Imelda untuk konfirmasi. Olala! Di kantor polisi negeri ini, para aparat sudah pasti bakal berkata: "Sudahlah, nak, kantongi saja uang itu untuk jajan di sekolah."

Riku boleh jadi adalah 'lem' perekat cermin retak negara Indonesia di sektor moral. Polisi Jepang adalah cermin bening kinerja aparat negara-negara dimanapun di dunia yang masih slebor dan korup. Mereka profesional karena budaya disiplin yang sudah mengerak.

Dari beberapa dialog dengan Mbak Imelda saya memetik sejumlah pelajaran tentang bagaimana mengajari anak berperilaku, bagaimana mendidik anak menjadi berkarakter. "Apa yang dilakukan oleh orangtua adalah apa yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Tugas orangtua adalah memberitahu, menerangkan, dan mengatakan apa yang baik dan apa yang buruk, dengan sikap dan ucapan yang bisa diteladani," ucapnya.

Dalam konteks di atas, "orangtua" bisa disematkan di pundak para pemimpin negeri ini. Tauladan adalah kaca: jika para penyelenggara negara mencuri, maka bawahannya hingga akar juga mencoleng. Polisi Indonesia tak malu mencari-cari kesalahan pengendara di jalan raya karena pimpinannya juga menerima amplop. Pelayan masyarakat mau disuap karena atasannya juga maling.

Begitu seterusnya, hingga sampai nenek moyang kita suatu saat nanti mendadak hidup lagi, luka busuk ini tak bisa diobati!

Menggiring anak-anak biar berakhlak mulia juga tak mudah. Seperti kata Mbak Imelda, sekali kita salah mengucap, maka anak-anak juga meniti jalan yang salah, meski bila orangtua mau telaten untuk memperbaiki maka bukan tak mungkin kesalahan jalan anaknya bisa diperbaiki.

Padahal, porsi orangtua menjaga anaknya cuma sekian persen. Sekian persennya lagi -- dan celakanya porsinya lebih besar -- anak terbentuk dari pergaulan. Dari pengalaman saya, orangtua dan sekolah saling lempar tanggungjawab bila satu kejadian buruk menimpa anak!

Jujur saja, saya belum menjadi ayah yang baik bagi anak. Tentu saya perlu banyak belajar dan membaca agar menjadi idola bagi mereka.

16 Mei 2009

ISTANA SERIBU JENDELA


CINTA adalah istana dengan seribu jendela. Ia berjalan perlahan-lahan seperti rusa di padang Savana. Lalu menukik lembut ke pucuk pinus dan mengepak sayap di sana.

Shugy meniti pelaminan seperti pangeran. Matahari gencar memancar, memercikkan sebutir peluh kecil di dahi. Tetapi ia takzim dengan senyum yang tak pernah tanggal, menggamit hati Ethika Kumalaayu Arumsariningtyas yang duduk di sisinya dengan pendar mata syair pujangga.

Pelaminan penuh pijar dan bunga di Jalan Kenangasari 15, Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu 9 Mei lalu itu menghipnotis. Aura dan peri berkejaran, membentuk lingkaran-lingkaran Saturnus.

Di kursi tamu saya dikurung sunyi. Memandang pengantin adalah sendirian meniti debur. Tiga hari sebelumnya saya masih bersilangcanda dengan Shugy. Ia karib. Beberapa kali kami terlibat dalam penyelesaian beragam masalah kecil. Tahu-tahu, ia berbusana maharaja di depan saya, dalam acara penting dan sakral.

Pernikahan bukan akhir, tetapi permulaan. Ada banyak 'polisi tidur', banyak masalah pelik dan peka dalam perjalanan. Tetapi Shugy menatap tantangan ini dengan garang, dengan nyali seorang Musketeers. Maklum, ia masih kuliah, meski juga telah bekerja.

Namun bukan itu masalahnya. Ia dan Ethika Kumalaayu dihadapkan pada perbedaan keyakinan. Indonesia masih memandang sisi ini sebagai musabab lahirnya percik dalam pernikahan.

Tetapi Shugy saya yakini punya pisau tajam untuk membelah sekat. Ia dan istrinya bakal terus lekat bergandengan tangan, hingga ajal tiba. Dan, jujur saja, saya mengagumi kebulatan hati keduanya membangun rumah cinta "dalam perbedaan".

Selamat menyibak samudera baru, kawan!

10 Mei 2009

FRAGMEN TENTANG STRAWBERRY


Bukankah kau Diana Ross tatkala menyanyikan When You Tell Me That You Love Me? Bukankah kau peri berhati strawberry?

***

AKAN
kukisahkan kepadamu tentang seorang perempuan muda dengan pijar mata kerlip bintang. Ia hanyalah pekerja biasa, mengais rejeki dari sebuah kantor kecil, dan lugu.

Tangannya mengibas hujan yang melolong sepanjang hari. Di sudut gang itu ia melemparkan senyum. Senyum yang ranum. Mengingatkanku pada Winona Ryder dalam Autumn in New York.

"Kemana kita?" Tanyanya.

"Ke sebuah tempat yang pasti kamu suka."

"Jangan ke sebuah kolam yang melulu berisi ikan koi, ya, aku bosan warna merah belang-belang," kerlingnya.

Tak seberapa lama, kami telah duduk di sebuah kafe. Mata kami bersirobok. Mata-mata yang saling berbicara. Tahukah kau, dua tahi lalat di bawah kedua matanya seperti api unggun di depan tenda tatkala kita sedang meniti malam bersama dua cangkir kopi untuk menepis gigil. Aku terkesiap menyadari keindahan tak cuma hadir dari pementasan balet Rusia, atau dari mawar jingga di bawah jendela.

Kami tak banyak membicarakan berbagai hal, karena jemari kami telah menciptakan riuh. Ia menyeruput lemon hangat lewat tangan yang mengayun ringan seperti penari bali. Bibir gelas menyelinap ke bibirnya dengan takzim, lalu percik air mengalir lembut melewati tenggorokannya dengan khidmat, menciptakan ruas-ruas menawan di lehernya yang putih. Tanganku bergetar ...

"Warna apa yang kau suka?" Tanyaku.

"Ungu."

"Mengapa ungu?"

"Karena ada sifat tegas di balik sebuah kelembutan. Kau sendiri?"

"Biru."

"Mengapa biru?"

"Karena laut dan langit saling bersitatap dengan rona yang sama, seolah saudara kembar saling menjaga satu sama lain."

Ia tersenyum, senyum yang kesekian belas, mengayunkan jantungku seperti ketika kita meluncur dalam jetcoaster. Ah, mengapa hatiku menjadi pipih begini?

"Kau bisa menyanyi?" Tanyanya tiba-tiba.

"Tak banyak yang aku bisa."

"Ayolah, menyanyi apa saja. Pasti aku suka mendengarnya."

Aku tak bisa mengelak. Membiarkannya kecewa berarti mengijinkanku melepas sesuatu yang berharga. Lalu aku menggumamkan Immortality, lagunya Celine Dion. Ia bertopang dagu dalam senyum menggelembung. Mripatnya berkejap-kejap. Pipinya berbinar-binar.

Immortality
There is a vision and a fire in me

I keep the memory of you and me, inside
And we don't say goodbye

We don't say goodbye

With all my love for you

And what else we may do

We don't say, goodbye ...


Lalu sesuatu yang tak kuduga terjadi. Airmatanya meleleh. Sontak aku berhenti menyanyi. Kuteliti wajahnya. "Mengapa menangis?"

Ia menghela napas, menyeka bulir airmata, dan mengucapkan sesuatu yang tak kusangka-sangka.

"Aku sedang menunggu Raka, pacarku. Sore ini ia berjanji datang ke sini, ke kafe ini. Immortality suka kami nyanyikan di teras rumah. Ia yang memetik gitar ... "

6 Mei 2009

DALAM KABUT BOGOR


MALAM ini tiba-tiba saya ingin menulis puisi. Udara Bogor yang nglangut dengan embun yang meleleh dan kabut yang menggantung, menguarkan rintih perih nan lirih.

Tetapi jari-jari seperti lori yang direm secara tiba-tiba. Menguarkan cericit, udara menjerit. Saya terlempar dalam fatamorgana, dalam kepingan masa silam, tenggelam.

Di Bogor, pada gerimis yang sejak maghrib menukik di genting dan segala atap rumah, saya ingat Mas Goenoeng, ingat Mbak Rini, ingat tumpukan kertas print out dan dua keping CD yang teronggok. Kertas-kertas berisi puisi. Kertas-kertas dalam bingkai masa depan yang bakal kami retas.

Bumi adalah lingkaran benang yang menjulur kemana-mana. Minggu malam saya masih di Semarang. Senin roda-roda menyentak saya menembus pantura, melumat Tol Cikampek petang harinya, dan menjelang tengah malam tiba-tiba saya sudah rebah di kasur busa sebuah rumah di Bojong, Jawa Barat.

Betapa muskilnya. Betapa terkadang saya rapuh untuk sekadar menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hidup penuh misteri. Hidup tungganglanggang oleh pelik dan hati yang merana.

Sungguh, saya rindu puisi dan segenap keindahan yang terajut. Rindu berkubang dalam musik senyap. Rindu membaca mantera-mantera kehidupan yang beberapa hari ini saya tinggalkan demi misi tertentu yang harus saya jalani di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.

Prosa, mari bersenggama!

2 Mei 2009

SERIBU NGILU LAYANG-LAYANG


From:
To: sesilia_sesilia@yahoo.com

Melindap, terhuyung, tertatih-tatih. Aku sudah tak mampu lagi mengeja hatimu, kasihku. Datanglah, temui aku di perempatan, dan bawalah bunga kamboja.

Dengan cinta: Ilalang


SAYA memicingkan mata, menahan haru yang menikam hati. Perempuan itu setengah menangis, membiarkan layar laptopnya menganga dengan e-mail dari Hergiawan yang belum padam. Saya tak mampu mematikannya, meski ingin.

Bunga melati masih menguarkan dupa. Pelaminan belum padam. Sesilia mengayuh sepi di percik bahagia kerabatnya. Pesta yang berkecubung, tapi ia tak mengerti perihal satu hal mengapa ia menyerah ketika Mama-Papa merajuknya agar ia mau diperistri Mahardika.

"Dika anak orang kaya, Sesi. Ia bisa membelikan kapal kalau kau menghendaki," bisik Mama di tiris gerimis, suatu petang.

Sesilia bungkam. Segera ia digamit paras Hergi yang tiba-tiba menukik ke beranda. Pria dengan kumis tipis. Sesilia begitu damai dalam rengkuhannya. Begitu temaram saat mata mereka bersitatap.

"Aku tak ingin kau menyelinap keluar dari peraduan yang kubangun bertahun-tahun di lubuk hati. Kau batu mulia dari khayangan yang bergegas hinggap saat asmara memuncak di mata." Hergi membawa Sesilia ke pelukannya.

"Kau tak hanya rupawan, sayang, tetapi memberi gempita hati," bisik Sesilia, tepat di daun telinga lelakinya.

Dua tahun kuncup mereka sirami. Mendadak Minggu pagi datang beberapa orang. Dari jauh, lamat-lamat, Sesilia mendengar mereka adalah utusan Sastropawiro, miliarder ujung kota yang memiliki belasan SPBU, sejumlah mal dan banyak toko berlian.

Kunjungan para setan! Sesilia merutuk, meninju angin, dan lara. Siapa tak mengenal Mahardika? Ia pria tengik yang pongah. Sepagian ia hilir mudik dengan Mercedez ayahnya, sore keluar masuk kafe, dan malamnya menyabu. Di kampus -- dulu tatkala Sesilia sekelas dengannya -- Mahardika pernah menghardiknya dengan kalimat keji. Sakit rasanya hati Sesilia.

Lalu segalanya mengalir deras. Tahu-tahu hadirlah hari itu. Ia merasa dibekuk baju pengantin Anne Avantie yang sesungguhnya indah. Batinnya remuk, senyumnya semu. Sesilia sesenggukan ketika sebentar lagi malam pertama menjelang.

Dua bulan berselang. Sesilia menyebut nama Hergi berkali-kali, dua hari sebelum malaikat menyambangi pria itu dengan kereta kencana menuju surga, lima menit sesudah ia menulis e-mail terakhir untuk Sesilia ...


**
Menerjemahkan retak hati ADP, kawan lama, yang secara kebetulan bertemu saya di bengkel service Toyota, Selasa, 28 April 2009.

1 Mei 2009

CERPEN DAN PUISI DALAM SATU HUMA


KAMI duduk bertiga di dua meja yang diseret menjadi satu. Maghrib bertalu. Azan berkumandang dari masjid di bawah sana. Kafe di ketinggian yang senyap, Rabu 29 April lalu, karena kami tamu pertama, disusul sepasang pria-wanita yang sempat saya pikir mereka bukan suami istri.

Mbak Rini Ganefa tampak anggun, tanpa gurat lelah, meski beberapa jam sebelumnya guru Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengajar sekian puluh anak SMP 20. Mas Goenoeng juga bugar. Tak melintas penat kendatipun sejam sebelumnya ia masih berkutat dengan sistem komputer di kantor perbankan tempat ia bekerja.

Ada semangat yang meletup. Diawali canda ringan, kami segera larut dalam perbincangan sersan. Mbak Rini tampak meledak-ledak, Mas Goenoeng super fokus, dan saya mengimbanginya. Saking semangat, Mbak Rini lupa mengeluhkan gulungan asap yang mengepul dari rokok saya dan Mas Goenoeng, seperti pertemuan sebelumnya.

Sedang membicarakan rencana unjuk rasa pemilukah kami? Hoho, tentu bukan! Ini dia: kami bakal membuat buku.

'Membuat buku' mungkin tampak ringan. Semua bisa membuat, dalam bentuk seremeh apapun, umpama brosur agak tebal. Tetapi buku yang kami rembug (dan nanti berupa kompilasi) adalah buku yang serius, yang diterbitkan oleh penerbit beneran, dan dijual. Tak peduli dijual di toko atau kakilima.

Kompilasi? Benar. Saya menyumbang beberapa cerita pendek, sementara Mas Goenoeng dan Mbak Rini menyodorkan puluhan puisinya. Itu sebabnya kelak ada label "Tiga Warna" di buku ini, entah di sampul depan, atau di belakang.

Kami juga membidani sebuah kelompok, namanya Komunitas Huma. Nama yang meluncur begitu saja dari mulut saya tatkala menggumamkan lagu Huma di Atas Bukit milik God Bless, dan langsung disepakati menjadi nama komunitas.

Huma, menurut Mas Goenoeng, adalah sebuah gubuk mungil. Tak ada kemewahan, tak ada prosedur, tak memiliki batasan siapa yang boleh keluar dan masuk. Itu sebabnya, kelak, Komunitas Huma boleh dimasuki siapapun yang respek pada kesenian (penulis, pelukis, pemahat, pemain teater, bahkan pemain wayang orang), tetapi tentu ada sedikit norma-norma yang mesti dipahami, misalnya haram hukumnya mendaftar hanya untuk gagah-gagahan.

Namun, Mbak Rini memberi sentuhan perempuan yang seketika kami mengerti, bahwa Komunitas Huma hanya akan menampung mereka, atau kita, yang benar-benar belum beredar secara luas sebagai sastrawan besar, atau penulis keren yang telah menerbitkan banyak buku, kecuali nama-nama beken yang kelak kami undang untuk menjadi pembicara saat kami nanti menggelar workshop dan sejenisnya.

Rencananya Komunitas Huma bakal menjadi salah satu sayap DKJT, alias Dewan Kesenian Jawa Tengah.

Kembali ke soal kompilasi tadi. Buku itu dibelah menjadi tiga bab, dua bab menampung puisi (Mas Goenoeng dan Mbak Rini), dan bab lain berisi cerpen. Perihal bagaimana formatnya (cerpen-puisi-puisi, atau puisi-serpen-puisi), kami pasrahkan ke penerbit.

Ketiga bab tak ada kaitan, warnanya berbeda. Puisi Mas Goeneong dan puisi Mbak Rini torehannya berlainan, goresan dan gayanya tak sama. Tema juga sama sekali tak ada benang merahnya. Kami bertiga bebas menentukan tema, sehingga saya dan mereka tak terbelenggu pada topik seragam yang dipaksakan.

Pendek kata, pembeli buku ini bisa mengunyah tiga sajian dari tiga penulis di satu buku!

Beberapa orang beken -- dari kalangan selebriti, sastrawan, budayawan, penulis top, kalangan akademis -- bakal memberikan komentar-komentarnya di halaman belakang. Tentu bukan melulu komentar gurih, melainkan juga ada kritik dan saran, pedas atau setengah pedas.

Nah, setelah kelak terbit, menurut rencana kami menggelar launching di Toko Buku Gramedia Semarang. Bedah buku yang diplot asyik sebab bakal disuguhi tontonan musik dari band lokal (lagu wajibnya Huma di Atas Bukit), teaterikal puisi, serta kuis-kuis berhadiah.

Spirit yang tak kunjung padam. Spiritlah yang mengalirkan darah ke aorta kami untuk tapak kaki menggapai matahari.