
Saya juga pernah iri pada caleg yang memasang foto di spanduk, umbul-umbul, bahkan brosur. Betapa asyiknya memamerkan deret gigi dan bibir yang terkembang. Seolah menyapa siapa saja, seakan jalanan adalah miliknya.
Pernah saya guyon dengan Mas Goenoeng Mulyo. Dalam canda sempat kami mau memesan spanduk dengan sablonan foto-foto kami, kemudian dipasang melintang di atas jalan. Tentu tak ada logo partai maupun jargon pemilu di situ, melainkan deret tulisan enteng saja: "Saya bukan caleg, cuman pengin nampang saja!"
Namun kemudian baru-baru ini saya menyadari bahwa tampang dipublikasikan belum tentu positif muaranya. Bayangkan, pagi tadi muncul foto seseorang di halaman dalam sebuah koran, dengan kalimat yang sungguh tak enak: "Panggilan, nama W*s**, alamat Jalan S******** Raya nomor sekian Tangerang, untuk mempertanggungjawabkan penggunaan uang sebesar Rp 27 juta". Olala!
Noordin mungkin tidak nyaman fotonya di-"wanted"-kan. Bayangkan, predikat "buronan nomor wahid negeri ini" kemana-mana disandangnya. Jika suatu ketika ia dibekuk, pasal untuk menjeratnya sangat berlapis-lapis. Itu belum cercaan yang menimpuknya dari segenap penjuru jagat raya.
Tapi, siapa tahu ia kini ia tengah menyedu kopi di depan televisi, seraya tersenyum congkak di sela emping melinjo yang sedang dikunyahnya. Noordin tak takut sama sekali lantaran wajahnya tak dikenali lagi usai ia melakukan face off. Itu mengapa siapa menyangka kita saban hari mengobrol dengannya di pasar, terminal, atau di sudut pasar tradisonal.
Sedikit lebih baik adalah nasib mereka yang mengadu untung di pemilu legislatif. Setelah tak dicontreng orang, mereka tak menyisakan masalah apa-apa, kecuali barangkali membayar utang untuk keperluan pileg. Pertanggungjawabannya tak sehebat Noordin, karena cuma berperkara dengan bank, atau pihak lain yang diutangi.
Bagi yang terpilih, segera saja ia merealisasikan janji-janjinya untuk membela rakyat, kecuali bagi mereka yang setelah terpilih lantas bersiap tidur di sidang-sidang, sebab masyarakat boleh jadi telah melupakannya karena jalan telah dipavingisasi pada masa kampanye, atau rakyat telanjur senang karena telah memperoleh kaus dan uang.
Memasang foto di jalanan? Nggak deh!
6 komentar:
makanya pasang foto di fesbuk aja hihihi
iri kok sama teroris dan caleg. ada-ada saja.
woe, kapan ke rumah? katanya mau ngupdate blog. tak tunggu kang.
foto-foto dipasang dijalanan biasanya bermasalah mas, lebih baik taruh di blog atau fesbuk aja seperti kata Ikkyu san imelda itu, hehe
ini tulisannya serius kali bang..
tapi inspiratif sangat.
walah..ngimpi opo toh mas kok pingin masang foto di tiap trotoar pakai tulisan dicari segala...?
aku juga nggak pingin..
Posting Komentar