Search

30 Des 2008

TAK PERLU PERAYAAN TAHUN BARU


SAAT orang-orang sibuk dengan tahun baruan, saya tenang-tenang saja. Saya hanya akan nonton TV, memutar DVD, atau menyalakan playstation tatkala handai taulan dan kawan meniup terompet pada pukul 12.00 malam.

Apalah arti tahun baru? Apalah makna pergantian tahun? Apa, sih, yang istimewa?

Bagi saya tak beda dengan hari-hari biasa. Semua hari sama. Semua terdiri dari 24 jam. Mungkin yang membedakan adalah angka di kalender, dari 2008 menjadi 2009.

Seumur-umur saya tak pernah merayakan ulangtahun. Cuma, terkadang, istri mencium kening saya secara tiba-tiba, pagi saat saya masih berkubang selimut. Juga kadang teman-teman kantor riuh rendah mengucapkan selamat ultah. Tahu-tahu ada tumpeng atau kue bermotif bola di meja rapat, dan saya dipaksa meniup lilin, kemudian foto-foto.

Sebaliknya, saya juga jarang menyelamati istri, Ibu, Bapak, mertua, ipar, keponakan, adik-adik, famili, kawan, atau siapapun yang berulangtahun. Tradisi latah yang menurut saya hanya pemborosan belaka karena ketika tanggal lahir tiba, seseorang mendadak panik karena bakal ditodong kawan-kawannya untuk makan bersama. Kalau ada duit, beres urusan. Nah, bagaimana jika dompet sedang kempes? Tak jarang, kata seorang teman, ia perlu mengutang untuk mentraktir sate kambing atau MCD bila ultahnya tiba!

Saya memang anti yang latah-latah. Saat ulangtahun tiba, dan kemudian mendadak kawan-kawan menodong traktir, saya biasanya bilang: “Loh, bukannya saya yang harus ditraktir karena usia saya berkurang setahun?

Tahun baru tak ubahnya tantangan baru. Bakal banyak setan bergentayangan di depan sana, dan kita harus menaklukkannya. Mengapa perlu diramai-ramaikan?


29 Des 2008

ENDANG, IBU TIRI KAMI


“Rief, kapan mulih, bpk gerah.”

Tanpa tanda tanya. SMS khas Bapak. Mulih maksudnya pulang, gerah adalah sakit. Selalu, sekarang ini, Bapak meminta saya pulang karena ia sakit. Gula. Itulah yang ia derita.

Bapak sakit-sakitan sesudah Ibu meninggal, 1993. Paling rapuh sejak ia menikahi Endang (Endang siapa lengkapnya, saya tak pernah tahu, setahu saya Endang saja), pada 2000. Ini pernikahan kedua setelah Bapak duda. Sebelumnya ada perempuan lain, namanya Emi. Tapi, entah mengapa, Emi diceraikannya pada 1998.

Ketika saya susah payah mencuri waktu untuk mengebut ke Demak, menyusuri jalan desa yang aduhai rusaknya, Bapak tersenyum bugar di beranda. “Katanya gerah, Pak? Kok tampak sehat?” Serbu saya sebelum mencium punggung tangannya. “Iya, kemarin pucat banget. Sudah dibawa ke dokter tadi pagi,” ujar Endang yang tahu-tahu muncul dari dalam.

Endang usianya hanya berjarak 2 tahun dengan saya. Ia lebih tua. Saya memanggilnya “Bu” karena ia dinikahi oleh Bapak. Karena 'Ibu', maka saya pernah menghormatinya. Tetapi Endang bukan tipikal seorang nyonya. Ia kerap bicara selengekan, tak mencerminkan Ibu Carik yang patut dihormati warga (Bapak adalah seorang carik -- wakil lurah -- di desanya).

Selang beberapa saat setelah kami basa-basi, mulailah Endang ini menyerempet-nyerempet uang. Ia bilang, Bapak tak punya duit untuk berobat. Juga sesekali menyinggung Daffa – anak Eni, adik bungsu saya -- yang dipelihara oleh Endang.

“Ia keranjingan main bola. Mbokya bawain dia bola tendang dari Semarang. Ibu tak punya duit untuk membelikannya. Susu saja kadang tak mampu Ibu beli,” cerocosnya dengan muka minta dibelaskasihani, tanpa memberi saya kesempatan untuk beralasan, umpama saya belum gajian sehingga di dompet tinggal beberapa puluh ribu.

Sepanjang mengobrol bertiga, Bapak banyak diam. Sembilan puluh persen pembicaraan hanya berkisar tentang kekurangan. Kekurangan yang saya kira didramatisasi, sebab tak ada tanda-tanda miskin di matanya.

Sekian tahun lalu, sebelum ada Endang dalam kehidupan kami, saya disurati Bapak. Dalam amplop diselipkan selembar foto. Foto perempuan bercelana pendek, dengan satu kaki ditumpangkan di kaki lainnya, dan berkacamata hitam pekat. Tadinya saya ngakak. Saya membatin, preman dari mana ini? Tapi saat membaca surat, tahulah saya wanita tadi adalah calon ibu tiri saya. Mendadak wajah saya pucat.

“Ia pernah bekerja di Kuala Lumpur, jadi TKW. Tapi jangan dilihat TKW-nya. Ia wanita yang baik, dan Bapak yakin bisa ngemong kalian berempat,” kata Bapak dalam suratnya.

Monggo, Pak, nikahi saja dia. Bapak bisa memilah mana baik mana buruk, ujar saya dalam surat balasan. Kalimat yang saya tulis asal, karena saya punya firasat buruk tentang Endang ini. Firasat yang juga merebak di benak Indah, Edi, dan Eni, tiga adik-adik saya.

Maka, terjadilah apa yang kami risaukan. Bapak meminta kami, terutama saya untuk pulang, ketika ia tengah butuh. Namun, ketika bertubi-tubi ia menjual kebun, tanah, hingga rumah, tak satupun kami diminta pulang. Ia telah terkontaminasi akal busuk istri barunya.

Seluruh handai taulan saya serempak mengutarakan ini tatkala saya keluhi: “Ibumu telah melakukan tugasnya sebagai perempuan yang rakus. Bukan hanya harta yang ia gerogoti, tapi juga kesehatan bapakmu ... “

26 Des 2008

KERLIP BUNGA TULIP

Romantika ini selalu menyerbu tiap Desember tiba. Dibawa tetes gerimis, kenangan bersama Tya hadir lagi, inci demi inci, melalui celah jendela.

***

BERGEGAS saya naiki kereta di Stasiun Holland Spoor Den Haag. Kereta ini menuju Hilversum, tempat Tya bekerja di Radio Nederland Wereldomroep. Ia anak Salatiga yang sekian tahun bekerja di seksi siaran Bahasa Indonesia. 

Perkenalan yang tak sengaja. Mendadak ia privat saya. Chatting sebelum yahoo messenger membudaya seperti masa kini dulu dikuasai program MIRC. Ada ribuan channel. Saya pilih channel “Indonesia”. Siapapun bisa mengajak privat (berbicara berdua saja di ‘kamar’ yang aman) dari ratusan nickname dalam sidebar IRC, dengan meng-klik dua kali siapa yang hendak kita ajak ‘mojok’.

“Mas ini tinggal di Semarang?” Ujarnya tiba-tiba.

“Iya. Tapi kantor saya di Jakarta,” jawab saya setengah senang karena diajak ngobrol perempuan.

Lalu pembicaraan meluncur deras, dari hari ke hari. Ia mengaku kangen Salatiga, terutama ketepak-ketepok kuda yang menarik delman. Ia ingin pulang, tapi kantornya belum mengijinkan. Ia ingin melihat fotonya yang dipasang di Studio Duta, Jalan Thamrin Semarang, dengan pakaian adat Bali. “Foto itu masih ada, Tya, saya melihatnya waktu pulang minggu lalu,” kata saya pada kesekian belas kali kami berbincang.

Ia sangat cantik di foto itu. Dipasang di bagian atas Studio Duta dengan ukuran besar (sehingga siapapun yang melintas bakal melihatnya), Tya mengayunkan jari jemarinya, seperti penari Bali. Lima menit saya mengamatinya dengan debar aneh. Debar yang saya bawa esok harinya saat kami kembali bertemu di maya. “Kamu cantik, Tya. Sungguh.” Ia diam beberapa saat, lalu menuliskan ini : “Saya gadis biasa kata teman-teman. Tapi mata Mas barangkali lebih jeli …”

***

Kereta cepat menuju Hilversum makin garang menjejak rel. Den Haag-Hilversum bakal saya tempuh 1,5 jam, tetapi rasanya terlalu lama. Lama sekali.

Saya bersyukur mendapat tugas ke Belanda dari kantor saya. Bahkan sujud syukur karena sebelumnya saya pesimis bertemu Tya dalam waktu dekat, kecuali dua tahun lagi saat ia diijinkan pulang ke kampung halaman.

“Benar, Mas?” Ucapnya terkejut.

“Iya, Tya, meliput Tesselaar Tulip Festival sekalian mengintip perkembangan beberapa klub sepakbola besar di Belanda.”

“Asyik! Puji Tuhan!”

“Mau dibawain apa?” 

“Apa saja, Mas, pasti nanti saya terima dengan senang hati.”

Saya bawa beberapa bahan batik, sejumlah novel, dan vas bunga. Beberapa hari silam ia mengeluh vasnya pecah. “Padahal (vas) itu saya bawa dengan susah payah dari Yogya. Elroy (itu nama kucingnya) kadang bandel, naik-naik meja,” kata Tya.

***

Perjalanan dari Den Haag ke Hilversum melewati kota Leiden dan Amsterdam. Flat-flat penduduk dan gedung perkantoran berkelebat. Setelah Leiden lewat, tampak padang rumput. Ratusan sapi dan biri biri berkeliaran di sana. 

Satu setengah jam sudah. Kereta mulai mengurangi kecepatan. Stasiun Hilversum tampak riuh. Saya sibuk menahan gemuruh dada, seolah akan saya jejakkan kaki di pintu surga. Sesosok bidadari menunggu dengan tempayan penuh anggur dan leci di sana.

Pintu kereta terbuka. Hembusan angin winter menusuk-nusuk kulit. Stasiun Hilversum yang kecil seakan tidak peduli dengan temperatur yang mulai mendekati titik nol derajat celcius.

Saya katupkan kerah jaket. Tapi angin tetap menyelinap. Gigi saya bergemerutuk menahan gigil. Baru semenit saya menengok kanan-kiri, mendadak sayup-sayup suara memanggil dari sebuah pilar stasiun, dua meter di depan saya. “Mas Arief … !“

Saya menoleh ke sumber suara dan sontak mengerjap-ngerjapkan mata. Di depan sana berdiri gadis semampai dengan syal melambai-lambai. Ia mengirim pijar mata melalui senyumnya yang indah, melebihi kerlip bunga tulip … 


**
Masihkah kau simpan serat hatiku di ujung dadamu, Tya? Dimana kau kini berada?

23 Des 2008

KANGEN BAND? BHWAHAHAHA ... !!




PERTAMA mendengar “Kangen Band”, saya membayangkan personel yang kusut dengan jins bolong, perkakas musik serba akustik, dan belel. Tak tahunya, mereka berdandan ala Ariel Peterpan. Rambutnya dikemas dengan wax, menjuntai melewati dahi, dan dibekukan dengan hairspray.

Bukan bermaksud meledek, tapi saya memang ngakak. Nama “Kangen Band” melukiskan betapa grup ini asal saja mencomot nama. Sesuai nama band-nya, corak musik kelompok ini juga serenyah kacang.

Kangen Band tidak sendiri. Belakangan lahir begitu banyak grup dengan nama aneh-aneh. Kotak, Bonus Band, Tiket, Hello Band, Elkasih, Garasi, Kanan Lima, Groove Bandit, Hijau Daun, Asbak Band, Baron Soulmate, Repvblik, Kingkong, dan kawan-kawan.

Rata-rata grup tersebut menawari corak yang serupa, ayun nada yang seragam, kurang menggigit, dan termehek-mehek. Tak ada ciri khas yang unik dan meninggalkan kesan. Mereka sepakat mengemas melodi yang sangat easy listening, dan syair kelas ringtone. Nyaris tak ada jiwa dalam lagu-lagu mereka, seperti dulu ditelorkan oleh KLA Project, Elfa's Singer, Krakatau, God Bless, bahkan Koes Plus.

Karakter tak jelas itu jauh di bawah standar Kerispatih yang cengkoknya sulit dan puitis, Letto yang menjanjikan melankolisme megah, Slank yang rock tapi manis, Dewa yang inovatif dan dewasa, Naff, Padi, Sheila On7, ADA Band, Jikustik yang meracik instrumen dengan padat.

Industri musik kini 'lepas kontrol', bahkan overload. Diteliti dari begitu gampangnya grup lahir, rasanya perusahaan rekaman sedang rakus. Tak peduli laku atau hanya akan dibajak dalam format MP3, hampir sebulan sekali nongol kelompok baru yang membuat persaingan makin tak keruan.

Perusahaan rekaman sedang getol menelorkan grup musik “asal lahir”, mengingatkan kita pada era Ari Wibowo dengan Madu dan Racun-nya pada 80-an dalam menerbitkan lirik dan melodi yang murah meriah!

Dalam kesemrawutan ini, kelompok-kelompok berkarakter yang tidak nge-pop bernasib tidak nge-top. Sebut saja Mocca dan White Shoes & the Couples Company (WSTCC). Mocca yang berpakem twee pop dan semua liriknya berbahasa Inggris ini tak banyak dikenal oleh kaum muda terkini, tapi laris diundang oleh perhelatan mahal.

Bukan itu saja. Mocca yang dinaungi Fast Forward Record berkesempatan merilis album di Prancis. Fast Forward Record memasarkan album-album indie dari Swedia dan Prancis, sebelum Mocca. Kerja sama yang berimbal balik ini membuka peluang Mocca untuk mewujudkan obsesi mereka go international.

WSTCC tak banyak diminati di negeri ini, tetapi moncer di negara lain. Band yang digawangi pasangan suami istri Aprilia Apsari-Yusmario Farabi, Ricky Surya Virgana-Mela, dan Saleh ini manggung di San Francisco pada 2 November 2008. Sebelumnya mereka beraksi di New York pada 25 Oktober sebagai salah satu band performance dalam CMJ Music Marathon Festival 2008.

Tahun ini dua kali WSTCC diundang di festival musik internasional di AS. Pada Maret lalu mereka naik pentas di SXSW Music Festival 2008, Austin, Texas. Selain merilis satu album, satu mini album, satu kompilasi dan album internasional, grup ini juga dipercaya membesut original soundtrack film Quickie Express, Janji Joni, dan Berbagi Suami.

Omong-omong, kalau ingin membuat katarsis kemajuan musik di negeri ini, maka simaklah ringtone, nada panggil pribadi, serta kumpulan lagu di kotak ponsel para ABG masa kini. Di sana akan Anda temukan lagu-lagu pop dari grup band yang aneh-aneh.

Waktulah yang akan mengubur band-band 'kacang goreng' dalam hukum: Seleksi alam! Kuburan yang telah menganga di depan mata ...


**Naskah ini disusun untuk makalah sarasehan "Industri Musik dan Lagu Mendayu-Dayu Negeri Ini", yang digelar Kelompok Musik Jalanan Semarang, 14 Januari 2009, oleh: Arief Firhanusa. Beberapa bagian telah disunting dan ditambahkan.

22 Des 2008

CERAI


DALAM sebulan, dua kali saya bertanya dengan satu kalimat yang sama: “Mengapa cerai?”

Pertama pada M. Ia teman satu sanggar sewaktu kami sama-sama miskin di Semarang, awal 1990. Ia sosok yang, jujur saja, saya kagumi. Jarang bicara ngelantur dan khusuk shalat. Artikelnya banyak dimuat di beragam suratkabar.

Lalu saya mendengarnya ia berpisah dengan istri. Istri yang cantik, pemain sinetron, dan gaul. Tiga anak telah mereka peroleh. Anak yang tentu lucu-lucu. Kehidupannya juga tidak kekurangan. Ia terakhir saya pergoki menaiki Kijang kapsul yang mulus. Saya ingin bertemu dengan M usai mendengar ia menceraikan istrinya. Dan terkabul.

“Ada yang salah dalam pernikahan kami. Tapi saya tak bisa bercerita banyak. Ini problem internal kami. Sudahlah, saya harus melaluinya,” ujarnya serius dan misterius. Tapi saya amat memahami.

Kemudian yang kedua dengan J, kawan seperjuangan sekitar 1999. Kami bertemu di Bandara Soekarno-Hatta sewaktu sama-sama menunggu penerbangan ke Semarang. Saya melontarkan pertanyaan: “Mengapa cerai?” Tak ada jawaban jelas. Dan saya bukan tipikal pria yang interogatif masalah rumah tangga orang.

***

CERAI mungkin kata yang biasa saja di khasanah selebriti. Tetapi di kalangan umum perceraian meniupkan aroma ngeri. Kengerian yang timbul pada nasib anak-anak. Anak-anak yang tanpa dosa tetapi dilibatkan pada dosa-dosa orangtuanya.

Pengadilan Agama mungkin mulus memutuskan gono-gini, hak asuh anak, dan sebagainya. Namun selang sebulan setelah ketuk palu, ada rentetan lain yang menguras airmata. Malam, ketika gerimis turun, salah satu anak akan bertanya kepada ibunya: “Ma, Papa pergi kemana? Kok lama sekali nggak pulang? Kakak rindu Papa.”

Ketika si anak sakit dan perlu rawat inap, si ibu kalang kabut. Ia terbiasa berdua mengatasi beragam masalah. Tahu-tahu kini hilir mudik dan lintang pukang sendiri. Belum lagi jika si anak demam dan menggumamkan nama sang bapak ...

Status duda mungkin gurih pada awalnya. Ia ngeceng di mall atau dugem semalaman tanpa diganggu SMS istri. Tetapi ia punya hati kecil yang tak bisa diam. Di jalanan, tatkala dilihatnya balita dalam gendongan ibunya, si duda akan meratap lantaran teringat Devi dan Saskia yang kini hidup bersama ibunya. Kecuali, tentu saja, ia telah mati rasa!

Perceraian cuma mengguratkan luka. Seorang janda, sebut saja Zaenab, pernah merintih dengan ratap ngilu ketika menyadari dia sendiri, lima bulan setelah ia cerai. “Aku kesal dengan kelakuan Apri, tapi lebih kesal lagi ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa status janda itu sungguh tak nyaman di hati. Anak-anakku nakal sekali. Mereka hanya segan pada ayahnya. Aku nggak ngerti, apakah aku yang salah pilih suami, ataukah salah karena menuruti kata hati dengan menceraikan Apri ..” Kata Zaenab yang famili jauh dengan saya itu. Dua anaknya kini beranjak remaja.

Sebab itu, berbahagialah orang-orang yang bisa menahan diri untuk tidak bercerai, karena segenap masalah sudah pasti ada jalan keluarnya. Bukan begitu, Bapak Ibu?

18 Des 2008

SENYUM YANG AMAT REMBULAN


SAYA selalu menoleh padanya. Biar cuma 2 detik saja. Biar ia tak memedulikan saya. Sesekali saya menglaksonnya, meski ia sibuk melayani pembeli.

Saya tak tahu namanya. Barangkali ia pun tak peduli siapa nama saya. Tapi saya selalu ingin melihatnya setiap pagi saya lewat. Hanya sekilas, tapi itu cukup. Cuma beberapa kejap, tapi itu telah memenuhi hasrat saya untuk menyimaknya.

Ia duduk takzim jika sepi pembeli. Di trotoar, tempatnya menggelar sayur, makanan kecil, dan ikan, ia dinaungi akasia yang rimbun. Pepohonan yang memelihara wajahnya yang berjilbab itu agar tak gontai oleh gencar matahari. Melindungi sayur mayurnya agar tak mengelupas dan layu.

Saya berniat membeli donat, seminggu silam. Tapi ia tak ada di sana. Saya bertanya-tanya.

Esoknya, trotoar itu juga lengang. Tiba-tiba saya merasa kehilangan. Saya merasa rindu padanya. Rindu yang aneh. Ia tak mengenal saya, dan saya pun tak tahu asal usulnya. Entah mengapa saya berdoa agar ia baik-baik saja.

Hari ketiga saya kembali melihatnya duduk bersila. Ah, senang rasanya. Bergegas saya membelok dan jongkok. “Dua hari tak jualan kemana saja, Bu? Ada famili punya hajat, ya?” Tanya saya. Tak peduli sejumlah ibu-ibu kompleks perumahan mencibir karena saya sok akrab.

Ia melihat saya. Lalu menyunggingkan senyum datar. “Saya kehilangan sepeda motor, Mas,” ujarnya, dengan ritme stabil, seolah “kehilangan” yang ia maksudkan itu tak mengganggu. “Pulang dari sini, saya mampir di masjid Penggaron, memarkir motor dengan keranjang dipenuhi sayur masih terkait di sadel. Selesai shalat, saya tak mendapati motor saya di tempatnya, dibawa kabur maling, komplet dengan dua keranjangnya ...”

Saya ternganga dan susah berucap apa-apa. Terbayang betapa perih hatinya. Betapa sedihnya dia. Herannya, ia malah tersenyum seolah ia baik-baik saja. Senyum yang amat rembulan. Senyum yang mengabarkan sesuatu yang membuat saya kagum dan tertegun: Ia ikhlas atas musibah yang menimpa!

Nyaris saja saya memeluknya saat sadar senyum ikhlas seperti itu pernah dimiliki almarhumah Ibu ...


(Apa kabar, Bunda? Baik-baik saja, kan, di alam sana?)

16 Des 2008

PROSTITUSI SMA DAN AIRMATA SAYA


SETENGAH jam saya menunggu. Food court Citraland Mall berisik. Saya mengawasi setiap orang yang memasuki ruangan. Tapi Lena belum juga tampak.

Lena (nama saya samarkan) menyanggupi bertemu pukul 13.30. “Usai sekolah ya Mas. Biar nanti ia saya jemput dulu,” kata Lastri (ini juga bukan nama sebenarnya), ibu Lena, lewat telepon, sehari sebelum janji pertemuan ini.

Baik Lena maupun ibunya belum pernah bertemu saya. Saya diberi nomor telepon mereka oleh seorang teman. “Apa mau dia ketemu? Apalagi ini untuk wawancara,” kata saya khawatir. Teman saya tersenyum penuh arti. “Siapkan saja Rp 150 ribu, dan ajak mereka makan. Saya jamin mau,” ucap dia, masih dengan senyum jahatnya.

Lima belas menit kemudian, seorang ibu menggamit lengan perempuan belia berseragam SMA. Dada saya berdebar sengit. Si ibu menebar pandangan ke sekeliling, dan berhenti pada lambaian tangan saya di ujung ruangan. Keduanya pun bergegas menuju meja saya.

Mereka duduk di seberang meja. Saya mencoba mencairkan kebekuan dengan senyum sehangat mungkin saat lengan saya terulur untuk bersalaman. “Mas Arief, ya? Saya Lastri. Ini Lena,” ujar Bu Lastri dengan sikap yang masih canggung.

Saya melirik Lena. Umurnya 17 tahun kira-kira. Tampang ingusan yang masih pantas mengobrolkan bintang sinetron bersama kawan sebaya. Atau cekikikan membaca SMS di sudut sekolah. Membicarakan baju atau celana terbaru, atau mendiskusikan cowok-cowok yang mereka taksir.

Pesanan datang. “Ayo, Lena, jus alpukatnya tampak gurih tuh. Ayuk minum.” Saya mendorong gelas panjang lebih dekat ke Lena. Ia kikuk. Tapi toh tangannya memetik sedotan, lalu menyelipkannya ke bibir. Saya membayangkan bibir itu meruap dan merintih ketika seorang pria meraupnya di atas ranjang ...

Makan sambil basa basi adalah cara yang praktis untuk membuka tabir. Wawancara tak perlu formal dengan mengacung-acungkan notes atau alat perekam. Bu Lastri menyetujui ‘harga’ Rp 150 ribu untuk interview ini, plus tentu saja makan saya yang bayar (tepatnya, kantor saya yang bayar), dengan syarat: identitas mereka tak boleh dikorankan dengan jelas!

Kemudian Bu Lastri mengisahkan. Keluarga ini tadinya fine-fine saja. Tiga anak Bu Lastri miliki, Lena adalah sulung dengan dua adik yang semuanya perempuan. Ayah Lena seorang polisi.

Sampai suatu hari mendadak datang tagihan. “Jumlahnya hampir 20 juta. Saya hampir pingsan. Di luar sana, ternyata suami saya dililit utang,” kata Bu Lastri terbata-bata.

Sudah jatuh masih tertimpa tangga. Si Bapak punya WIL dan jarang pulang. Di tengah kalut, setelah lintang pukang sendirian mencari nafkah plus mengangsur utang sang suami, Bu Lastri pun menyerah. “Dalam pikiran saya hanya satu, bagaimana mencari uang untuk hidup. Saya berpikir keras, saya mengumpulkan beberapa alternatif. Sampai kemudian seorang germo bekas kawan saya SMA mengusulkan sesuatu yang membuat saya hampir mati karena sesak napas. Ia menawari saya menerjunkan Lena ke lembah hitam. Bayangkan, Mas, sanggupkah menerima kenyataan bahwa anak kita adalah pelacur?” Airmata Bu Lastri tumpah. Napasnya tersengal dan mengiba. Ia sibuk mengusap ingus yang meleleh cair.

Setelah tangisnya reda, ia detail menceritakan bagaimana Lena bisa dibooking. Setelah empat bulan dibawah kendali mucikari, Bu Lastri melepaskan diri. Ia ‘pasarkan’ sendiri sang buah hati, melalui informasi dari mulut ke mulut. Pria hidung belang yang mengencani Lena langsung bertelepon dengan Bu Lastri, kemudian setelah ada kesepakatan harga dan tempat kencan, ia sendiri yang mengantar sang anak ...

“Berapa tarif Lena, Bu?” Tanya saya. Ekstra hati-hati.

Short time Rp 300. Itu tiga jam. Kalau semalam tiga kali lipatnya, atau bisa diskon menjadi 700 ribu jika terpaksa. Itu dengan syarat Lena harus diantar ke sekolah pada esok harinya oleh yang membooking. Sebab itu Lena harus bawa seragam dan buku pelajaran ke hotel,” ungkap Ibu Lastri, dengan beban yang sudah sedikit hilang. Dengan tampang yang menurut saya lebih kejam ketimbang monster dengan wajah berlumuran darah.

**Sorenya, saya menulis cerita ini dengan air yang merembes hebat dari pupil mata. Saya ingat Eni, adik bungsu saya, saat memandang dengan seksama wajah Lena dari foto-foto yang tadi siang saya bidik.

Kisah ini nyata. Terjadi ketika saya bekerja di grup Jawa Pos, awal 2000-an. Ada penugasan feature bersambung tentang prostitusi di kalangan anak-anak SMA Semarang, yang membuat saya makin tahu, betapa keruh dan muramnya isi jagat raya!
**

13 Des 2008

TEBAR PESONA


Jangan TP-TP loh! Awas!

ISTRI saya gemar mengucap itu kala saya hendak pergi, jauh sebelum Amin Rais mengomentari calon presiden negeri ini yang gemar tebar pesona di televisi.

"TP" yang dimaksud tentu tebar pesona. Dia tidak khawatir saya mencari pacar, tapi menurutnya, tebar pesona adalah pekerjaan melelahkan. “Bukankah kau harus pura-pura manis, pura-pura baik, pura-pura tidak pura-pura ketika tebar pesona? Lebih baik energinya untuk bekerja. Mencari duit untuk menghidupi anak-istri,” omelnya. Lebih pada omelan seseorang pada kawan. Sungguh, kami sudah seperti rekan.

Tebar pesona pada prinsipnya mencuri hati, menaklukkan pertahanan, dan ia bersorak puas sesudah memakan korban. Itu jika dilakukan orang terhadap lawan jenis (termasuk barangkali berlaku pula bagi kaum homoseksual dan lesbian terhadap sejenis). Penebar pesona tak melulu bujangan. Bapak-bapak dan om-om bahkan, konon, lebih cekatan. Ibu-ibu yang suka arisan juga (lagi-lagi katanya) piawai memulai.

Tebar pesona dilakukan untuk kepuasan batin maupun penaklukan. Mereka memamerkan sesuatu yang amat mereka andalkan. Seorang tante melenggang di mal seperti macan lapar. Pinggulnya bergoyang dengan sentakan-sentakan tertentu. Ia memamerkan bahunya yang mulus lewat tanktop -- yang kurangajarnya -- dari bahan tipis. Itu ketika ia melihat sekelompok pria sedang berdiri di depan etalase. Tante ini sedang menebar pesonanya.

Seorang pria setengah baya berdiri dengan bau wangi di meja penerima tamu sebuah seminar. Ia berdasi sutera, menggenggam Nokia E90 seraya mengayun-ayunkan tangan, dan bicara tentang golf serta bursa saham. Di depannya, tiga perempuan ayu, para penerima tamu itu, ternganga-nganga dibuatnya. Salah satu di antaranya membatin: “Hm, andai si bapak ini bepergian sama saya ke sebuah tempat yang amat mewah, betapa asyiknya, ya.” Aha, si bapak sedang sukses menebar jeratnya!

Tebar pesona bisa dilakukan di bus kota, konser musik, khitanan anak teman, lobi sebuah hotel, di sebuah malam amal yang mengundang dai, bahkan di yahoo messenger. Di YM, seseorang pandai menikung kata, meluluhlantakkan pertahanan lawan bicaranya (bahkan terkadang memakai webcam guna memamerkan bagian terdalam tubuhnya). Ia sedang menebar pesona. Ia tengah melakukan 'pertunjukan' kecil supaya orang lain di ujung sana takluk di hadapan dengkulnya.

Dari survei kecil-kecilan saya, mereka yang tebar pesona adalah pria-pria atau perempuan-perempuan yang merasa cantik atau tampan, atau setidaknya seseorang yang merasa punya keunggulan, umpama bibirnya yang sensual, (maaf) payudara yang membuat jelalatan mata, kerlip mata yang mengerjap seperti bintang, badan montok padat merayap, atau hanya sekadar punya jari jemari runcing dengan kutek menyala-nyala di kukunya.

Tebar pesona itu tak ubahnya kleptomania. Ia mencuri untuk kesenangan. Ibu-ibu yang menggondol asbak atau vas bunga di kamar hotel dibimbing oleh 'hobi'-nya yang aneh, sekaligus itu penyakit. Begitu pula tebar pesona ...

("Kau tak mungkin laku kalau tebar pesona, karena kulitmu hitam dan jarang sisiran," cibir istri saya suatu ketika. "Ah, masa, sih?" Protes saya di depan cermin)

11 Des 2008

PELANGI TAK HADIR MALAM HARI


“Pelangi ditakdirkan tak hadir malam hari”

PELANGI adalah manik-manik warna dalam lajur yang ajaib. Seperti itukah cinta? “Seperti itu, Bang. Hanya tak mudah mengelolanya jika kehadirannya tak tepat waktu dan tempat,” kata Blue, teman saya yang jurnalis sebuah media besar di Jakarta.

Entah ia tengah gerah terhadap cinta, atau sedang menyindir saya. Belakangan saya banyak membuat tulisan beraroma cinta, baik di blog maupun cerpen untuk majalah. Asal laptop tidak sedang panas karena nonstop menggerakkan CPU, maka saya mengetik. Tak peduli di kantor orang atau sambil menonton sepakbola.

Saya sedang menyaingi Dhani Dewa barangkali. Atau menyalip Ungu, D'Masiv, Naff, Kangen Band dan sebagainya dalam menggerus cinta. Cinta mengucur deras, berderap dan berkecipak dalam kepala saya.

Beberapa tahun silam saya seproduktif ini. Dalam sebulan tercipta tak kurang 15 cerita pendek, diantaranya Rumah Angsa, Sajadah Merah, Peluru Cinta, Cerai, Tato, Melepas Minah, Gadis Penjaga Lukisan, Seorang Pengamen Menghunus Pisau, Surat Bapak, Malam Jahanam, Malam Eksekusi, Bercinta dengan Serigala, Pria Berkepala Buaya, Relung Paling Jauh, dan beberapa lagi.

Pertanyaannya, mengapa begitu subur? Jawabnya, saya sedang putus cinta. Ya, saya sedang dirundung masalah dengan mantan kekasih. Situasi sedih kok malah produktif? Jangan salah, teman saya, Handry TM, justru memenangi lomba skenario yang digelar Departemen Pariwisata tatkala sedang dililit utang.

Lalu, sedang putus cintakah saya saat ini? Hoho, tentu tidak! Saya telah beristri. Ataukah tengah jatuh cinta? Bisa jadi. Tiap hari saya jatuh cinta pada Ibu Pertiwi. Saya mencintai meja, baju baju saya, lemari, pintu kulkas, ubin kamar mandi, bahkan sapi yang siap sedia dipotong lehernya kala Idul Adha tiba.

Cinta menyirami kecambah sehingga tumbuh menjadi tanaman. Tentu tetumbuhan dengan buah yang bergizi, karena ada “cinta buta” dan “cinta terlarang” yang buahnya tak mengandung vitamin. Biar begitu, cinta tetap cinta. Indah ketika melibatkan pula kasih sayang.

Tetapi sebagaimana pelangi yang tak bisa memancar malam hari, cinta pun bisa hanya angan dan bayang-bayang ...



10 Des 2008

KECANTIKAN YANG MEMBUNUH





LIMA menit saya memelototi Marcella Zalianty di sampul sebuah tabloid. “Hm, cantik benar anak ini,”

gumam
saya. Bukan gumam sebenarnya, karena kuping istri saya pun mendengar.

Ho-oh, cantik banget. Niru siapa, ya? Ibunya tak secantik itu,” timpalnya tanpa curiga. Kami biasa blak-blakan menilai seseorang dan tak ada api cemburu. Kadang ia juga termehek-mehek pada Afgan atau Ariel Peterpan.

Itu beberapa hari menjelang perkara pengeroyokan Agung Setiawan yang, konon, melibatkan Marcella. Tabloid tadi memaparkan sinetron Lastri yang syutingnya di Solo diperkarakan lantaran disinyalir mengoarkan komunisme. Di Lastri yang disutradarai Eros Djarot ini, Marcella bintang utama sekaligus produsernya.

Kecantikan yang urung saya balut dalam hati paling dalam, sebab pagi-pagi saya membaca berita Marcella kesandung masalah. Di televisi ia digelandang polisi menuju ruang periksa, dan esoknya digiring lagi untuk menjalani cek kesehatan bersama Ananda Mikola, pembalap yang turut terseret dalam kasus penggebukan terhadap Agung tersebut. Kabarnya Marcella stress berat.

Bukan sekali ini saja wajah ayu menjebak saya. Dulu saya suka Alda Risma. Suaranya mengalun enak. Video klip lagunya Aku Tak Biasa pun membuat para pria sulit bernapas dengan teratur. Maklum, Alda di-‘pinjami’ oleh Tuhan bodi yang bukan main syurnya.

Tak tahunya, ia tewas mengenaskan di sebuah hotel, entah karena masalah apa. Kematian yang kurang terkuak hingga seksama, tapi saya meyakini bahwa Alda tewas karena ia cantik. Kecantikan yang mengalirkan aroma dendam dan cemburu buta, juga, konon, narkoba.

Lidya Pertiwi menempati daftar ini. Ia belia dan punya senyum yang ranum. Saat memerani sinetron Untung Ada Jini dan Ande Ande Loemoet, Lidya adalah bocah yang bukan siapa-siapa tapi beranjak memukau andai disiram dengan benar. Tapi, apa lacur, ia harus mendekam di penjara lantaran kasus kematian seseorang.

Bersama ibunya, Vince Yusuf, dan pamannya, Tony Jusuf, Lidya melakukan pembunuhan berencana atas model Naek Gonggom Hutagalung yang ditemukan tewas di Putri Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara, 28 April 2006. Pembunuhan ini bermotif perampokan dengan melibatkan Lidya sebagai umpan.

Kini saya masih mengagumi Dian Sastro dan mulai suka Aura Kasih. Aura telah gugur dari benak saya karena konon ia disukai oleh Pasya Ungu, yang berarti mulai menebar ‘kecemburuan’ saya.

Kecantikan bisa membunuh, dan ... dibunuh!

4 Des 2008

LIFE BEGINS AT FORTY


SAYA pernah dipelototi oleh seorang bupati perempuan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sepele penyebabnya: saya menanyakan berapa usianya.

“Wartawan pintar tak perlu menanyakan berapa usia nara sumber penting seperti saya. Kalau ingin referensi, buka buku kerja yang saya bagi-bagikan ke seluruh staf kabupaten. Di sana ada tanggal kelahiran saya,” ujarnya judes sembari beranjak dari kursi. Saya dan seorang teman tersenyum getir dibuatnya.

Umur tak layak ditanyakan. Tak etis, kata orang-orang. Tapi seseorang pernah membisiki saya perihal usianya. “Empat puluh, Mas. Boleh tak percaya,” ucapnya menimbun kekhawatiran saya bakal diomeli, seperti yang dilakukan bupati tadi.

Baiklah kita beranjak saja. Usia 40 memikul sebuah ungkapan: “life begins at forty”, alias hidup dimulai pada umur 40. Di kalangan pria, empat puluh adalah puber. Ia mulai necis dan wangi. Rambutnya mulus ditempa sisir yang ia kantongi kemana ia pergi. Sebentar-sebentar ke kaca, sebentar-sebentar ia mematut bajunya. Ia mulai melirik gadis yang lewat di depannya. Ia cekikikan dengan kawannya saat perbincangan mengarah gincu dan perawan.

Pendek kata, 40 adalah puber. Empat puluh adalah tali kekang disentakkan. Empat puluh adalah godaan baru, dan berbahaya bagi istri jika suaminya tak diawasi dengan ketat.

Bagaimana dengan perempuan? Saya tak mau membicarakannya, sebab saya bukan pakar di bidang perilaku. Salah-salah seseorang menjewer saya bila salah-salah kata.

Yang pasti, “life begins at forty” ini sesungguhnyalah mengandung pesan bahwa semangat mulai meletup tatkala usia seseorang menapak 40. Lahir semangat baru, lahir motivasi baru, lahir produktivitas baru. Bukankah begitu Bapak-bapak dan Ibu-ibu?

(Pertanyaannya, apakah kelak saya juga begitu?)

INFOTAINMEN, KATROL, DAN INUL DARATISTA


DIAM-DIAM saya mencurigai Ariel Peterpan. Ia semobil bersama Luna Maya menuju mal untuk, konon, membeli keran air. Mendadak, entah tadi dari mana munculnya, tiba-tiba menghambur para jurnalis infotainmen dan mengeroyok kedua orang itu.

Paginya hampir seluruh stasiun televisi mengabarkan momen ini. Momen CLBK Ariel-Luna Maya yang (katanya) ditunggu-tunggu, paska kisruh Ariel dengan bininya.

Seolah ada skenario, seakan ada setingan. Bagaimana mungkin reporter dan kamerawannya begadang di gang rumah Ariel atau Luna untuk sekadar mengintip kapan mereka berangkat tidur atau buang hajat? Bagaimana mungkin energi dikerahkan untuk hanya mengawasi keduanya kapan berciuman dan kapan membeli keran? Sementara itu begitu banyak selebriti ‘bermasalah’ yang juga perlu di-‘paparazi’-kan, sedangkan jumlah SDM infotainmen tak bisa mengimbangi.

Jawabnya: kemungkinan besar memang telah direncanakan! Ada aktor di balik aktor. Ada konseptor (manajemen artis, si artis sendiri, atau pihak-pihak terkait) yang mendalangi ‘liputan palsu’ ini.

Luna-Ariel tentu tak sendiri. Bejibun selebriti negeri ini memanfaatkan infotainmen untuk mengatrol popularitas. Syahdan, perceraian menempati daftar tertinggi untuk menjadi jembatan meraih popularitas yang merosot, atau mereka sedang menggarap album baru agar mulus di pasaran. Agustus lalu Peterpan (sebelum bakal berganti nama) merilis album baru bertajuk Tak Ada yang Abadi. Siapa tahu album ini kurang sangar menohok pasar sehingga perlu didongkrak.

Maka simaklah berita-berita ini: Pasya Ungu mengencani Aura Kasih atau Acha Septriasa; vokalis grup band The Titans, Rizki, menceraikan Ratna Damayanti; Aris Idol selingkuh dengan mahasiswi Universitas Tarumanegara yang molek bernama Fia, dan tega meninggalkan sang bini, Rosillia Octo Fany, yang ia nikahi pada 22 September 2007.

Belum lagi Dhani Dewa yang berkubang masalah, atau memang sengaja mencari kubangan masalah; Dewi Persik yang menjotosi seorang pria yang (konon) merogoh payudaranya, dan sebagainya.

Persaingan sengit dunia hiburan menyulut pakem “menghalalkan segala cara”. Media televisi menjadikan ini komoditi. Maka tersulaplah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, saling membutuhkan.

Pagi, tatkala ibu-ibu berdandan menuju kantornya terlebih dulu ternganga-nganga menyimak berita-berita yang mengagetkan perihal idolanya. Para ABG termangu-mangu menyaksikan Pasya Ungu bercerai, dan mereka memberi dorongan moril secara massal, menangis secara serempak, menghanyutkan emosi tanpa kompromi, tanpa pernah mereka sadari bahwa yang disiarkan layar kaca tak ubahnya sandiwara belaka!

Nah, selagi menunggu-nunggu kabar baru nan menggelikan esok hari, ada baiknya menyambangi Inul Daratista yang tampak lugu disorot kamera ketika ia mengumumkan kehamilannya. Kehamilan yang ia tunggu-tunggu selama 14 tahun bersama Adam, suaminya.

Inul adalah simbol keluguan, simbol ketidakmengertian soal informasi yang dikomoditikan, dan senyumnya tetap desa, walau rambutnya disemir warna perak. Tak tampak di matanya sandiwara. Ia diliput syukur, tidak juga bukan masalah karena namanya sudah menjual, meski berita yang pernah mengatrolnya adalah tentang goyangan yang membuatnya dihujat besar-besaran!

3 Des 2008

KETIKA CINTA HARUS PURNA


MALAM telah purna. Mata Ratu Felisia nyalang meski semalaman tak terpejam. Percik ngilu melumuri dadanya tanpa mega-mega di luar sana mau membantunya.

Ia perlu kekuatan untuk menulis surat pada Genta, penyair tampan dari negeri seberang. Tapi tak sebutirpun angin membawanya pergi untuk mengadu tentang dilema ini. Jauh di lubuk hatinya, Ratu Felisia mengagumi Genta, namun batinnya menolak. Genta telah beristri. Ratu Felisia pantang merajut cinta dengan suami orang.

Ia beringsut. Dari jendela kamarnya ia melongok ke bawah. Mendapati sekumpulan jelata yang mengembalakan domba. Terkadang ia iri pada rakyat biasa. Kecantikan adalah sebilah pisau. Ia ingin kabur dari ‘penjara’ itu, mengelupas segenap pori mukanya, berganti dengan wajah biasa yang lekat dengan debu.

Pria-pria bersilangsengketa memperebutkannya. Raja-raja bertarung untuk mengambil hatinya. Ratu Felisia sedih, dan memilih mendayung hatinya ke Genta, pria biasa yang pandai memanah rembulan dengan kata-kata pujangga, meski akhirnya ia berhenti pada satu titik bahwa mencintai pria beristri adalah kekeliruan.

Di sela kuyub matahari, ketika angin telah lelah menghibur hatinya, Ratu Felisia mengambil pelepah kayu dan tinta. Lalu mulai menulis:

“Sayang, mencintai suami orang itu salah, karena berpotensi memecah sebuah rumah tangga. Nonsen ungkapan yang mengatakan “cinta tidak harus memiliki”, sebab manusia yang mencintai pasti berusaha untuk memiliki dan penuh tuntutan.

Jaman sekarang komunikasi super instan sehingga batas ruang dan waktu semakin hilang. Inilah kemudian yang menciptakan an instant affair. I don’t like that.

Saya meyakini friendships dan admirations ketimbang affair, yang memberi inspirasi dan rasa rindu yang dibiarkan. Admirations memberi ruang untuk tumbuh membentuk kenangan manis tanpa saling membelit. Affair selalu menyisakan luka!

Karena itu, saya memilih untuk mengagumi, menyukai, dan memujamu, tanpa perlu menyentuh apapun di luar batas kepemilikan. Bukan saya tidak menyukai, tetapi karena saya selalu menyukai!”

Setelah itu ia menggulung surat, memanggil kurir, lalu menyodorkan gulungan itu dan memerintahkannya agar selekas mungkin surat dikirim ke negeri seberang.

Bergegas kemudian ia menaiki kuda. Menyentaknya dengan kecepatan penuh menuju utara. Tak seorangpun tahu kemana ia menuju ...

2 Des 2008

AWARD (dan bagaimana saya harus bersikap)


PEKAN silam, Hellen (alamat blognya bisa Anda klik dari banner “Hellen’s Place” di sidebar blog saya) menulis pesan di buku tamu: “Saya ada award untuk Mas. Diambil ya dari blog saya.”

Saya senang tetapi panik. Senang, pasalnya istilah "award" membuat dada saya berdentum hebat. Berulang-ulang ikut sayembara mengarang (novel, cerpen, novelet) saya memimpikan “award”. Tapi mimpi itu masih membentur tembok.

Award, bagi saya, tak ubahnya penghargaan dan anugerah yang sakral, lebih dari sekadar piala tarik tambang, sebagaimana Foo Fighters, Mariah Carey, BB King, Celine Dion dan John Mayer yang bakal menerima penganugerahan Grammy Award pada 3 Desember 2008 besok di Nokia Theater LA Live di Los Angeles dalam Pre Event Grammy Nomination Concert yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi CBS.

Di jagat perfilman dikenal Academy Award, yakni penghargaan selangit untuk film terbaik di kolong langit serta tetek bengek komponennya yang dibubuhi piala bernama Oscar.

Nah, mengapa panik? Terus terang saya gagap bagaimana menghargai apresiasi teman untuk urusan “award” ini. Membuat icon/logo/gambar award (tentu tak sekadar meng-kopas dari Google) perlu kerja keras. Memutuskan kategori (“persahabatan”, “kesetiakawanan”, dll) juga butuh mengerutkan dahi. Mengalamatkan kemana award ditujukan juga perlu berpikir kencang. Padahal saya tak akan memasang icon tersebut! Karena itulah saya serba salah. Tapi saya mencoba kukuh dengan sikap saya.

Saya tersanjung, tetapi juga bingung. Lebih-lebih setelah Hellen, ada juga Ziezie yang memberi penghargaan serupa. Diam-diam saya membatin, ada apa dengan saya sehingga perlu diberi award?

Saat pertama membuat blog, 2006, saya hanya ingin membuka buku harian. Saya menulis apa saja. Saya menoreh apapun yang saya suka. Saya tak peduli tulisan itu dibaca atau tidak, dicueki atau dikomentari, dibuka atau angin lalu saja.

Sampai detik ini saya juga tak terlalu mewajibkan diri naskah saya dibaca orang lain, atau dikomentari siapapun. Saya menulis, hanya menggores noktah yang hinggap tak terkendali di kepala, dan merasakan orgasme sesudah tertuang. Direspon syukur, tidak juga bukan masalah.

Itu mengapa saya tenang-tenang saja biarpun di setiap postingan saya hanya memperoleh 10 komentator. Amat jauh dibanding blog-blog lain yang satu postingan enteng saja dikomentari 40 orang!

Lalu mendadak saya dikenalkan dengan tradisi award. Entah sejak kapan budaya itu menyelinap di kalangan blogger, namun saya menengarai bahwa kebiasaan menganugerahi kawan itu banyak dilakukan oleh para blogger cewek. Paling tidak, prosentase pria untuk urusan kirim mengirim award itu kecil.

Bagi saya sesungguhnya, award terbesar adalah bagaimana orang tersenyum senang setelah membaca tulisan saya. Tidak lebih, tidak kurang!

Toh saya bukan orang yang tak tahu berterima kasih. Sebab itu, terima kasih tak terhingga untuk Hellen atau siapapun yang bersiap-siap memberi saya award, kendati hampir pasti logo award (yang lebih terkesan main-main itu) tak saya pasang di sidebar. Maaf seribu maaf.

29 Nov 2008

I LOVE YOU


Selamat sore Radio Gaya dengan Priska, ada yang bisa dibantu?

Suara renyah-merekah dan selancar answering machine.

“Bisa minta lagu, Mbak?” Kata saya. Tol kebetulan lengang. Kecepatan 80 km/jam saat spedometer saya lirik. Telepon yang diliputi debar dada, sebab seumur-umur baru sekarang saya mencoba request lagu di radio. Dulu saya pernah bilang, orang yang menelepon radio cuma untuk minta lagu adalah tolol.

Baik. Mas atau Bapak siapa ini?

“Arief. Mas saja. Masih imut kebetulan,” jawab saya sekenanya seraya nyengir kuda. Ia mengikik lembut. Kalau saya ladeni bisa lama. Mendadak terlintas pikiran pulsa habis karena tadi tinggal 5 ribu saat saya mulai menelepon.

Oke Mas Arief. Mau minta lagu apa?

“Ini, Mbak, I Love You. Sofie.”

O, I Love You-nya Sofie? Wow! Itu juga lagu favorit saya. Baik, sebentar lagi kita putar lagu itu.

“Makasih, Mbak.”

Klik!

Tak lama berselang, suara lain – kali ini diudarakan dan bisa disimak siapapun yang memilih frekuensi ini melalui radio – menggaung di kabin Accord saya, “Buat Mas Arief yang sedan melaju di Tol Jatingaleh menuju Solo, selamat menempuh perjalanan. Lagu ini, kata Mas Arief, ditujukan kepada seseorang yang memiliki tangan sehalus sutera dengan cincin mahkota Joan of Arc, bintik mata mirip pelangi, dan senyum yang menguarkan parfum EA. Inilah Sofie dengan I Love You.”

Sompret! Siapa bilang begitu tadi? Ngarang ah!

Tapi makian saya dikubur secara seksama oleh intro I Love You yang menyayat, lantas ditingkahi lirik lirih tapi megah ini:

Since the day we met it seems like heaven came to me
i’ve got this funny sense of humor that delivers me
is it good or bad that i believe each word you say
it feel that nothing can go wrong in your company


i’m honest
not untauchable
i’m a woman but not free
i’m fighting for my honour and i’m not so quickly pleased

i’m honest
not untauchable
and i don’t like second touch
but i know that since the day i do it’s gotten out of hand
i love you….

don’t wonder how i know your name it’s wisphered by the breeze
and in a certain way it’s hypnotizing me
how can you size the space that we love in admiration
it is frightening it is something i can see

don’t… i love you…


27 Nov 2008

SENYUM RANUM ANGEL IBRAHIM


SAYA menggandrungi sejumlah perempuan. Diantaranya Ina Rawie, Paramitha Rusady, Melanie Putria, Christine Hakim, dan Angel Ibrahim.

Ina yang penyanyi melankolis itu hilang entah kemana. Christine, Melanie dan Paramitha masih berkelebat di layar kaca. Nah, kemana Angel Ibrahim?

Berita terakhir dilansir kala ia dinikahi Nelson Padamean Purba, pria Batak yang saat menyunting Angel pada 5 Juli 2003 berpangkat Ajun Komisaris Polisi dan Wakapolres Bandung.

Berita gencar berikutnya tatkala ia meringkuk di rumah sakit lantaran DB, Maret 2004. Bukan berita biasa karena Angel berniat mengakhiri hidupnya dengan suntik racun guna menyelamatkan jabang bayi di rahimnya. Niat ini batal karena ia tersadar dari stressnya.

Sesudah itu jarang infotainmen mengabarkannya. Perempuan kelahiran Jakarta, 9 Mei 1969 yang blasteran Ambon-Cina-Portugis dan merampungkan S3-nya di Universitas Indonesia pada 2003 ini membiarkan kita melewati sejumlah momen pentingnya, umpama ia memasuki ranah politik.

Terus terang saya rindu padanya. Wajah yang ranum dan pualam. Perempuan yang tak menyiratkan bengal, lebih-lebih nakal. Senyumnya enak dilihat, apalagi tatkala ia tersipu. Saat saya belum muak dengan sinetron, saya rajin menyimaknya kala ia berakting untuk Saat Memberi Saat Menerima, Istana Impian, dan Indahnya Rembulan Teriknya Matahari, medio 1990.

Saya pernah berdoa kapan-kapan dipertemukan dengannya. Nah, doa saya terkabul. Beberapa malam lalu, saya menjumpainya, meski dalam bentuk poster. Poster MMT yang dipancang secara sederhana dengan dua batang bambu ini terpasang di Jalan Ngaliyan, Semarang Barat.

Bukan poster film atau sinetron, melainkan foto dirinya sedang propaganda sehubungan ia mencalegkan diri untuk daerah perwakilan Semarang dan sekitarnya, dengan nama asli Metty Murniawati Ibrahim, SE, MM. Saya foto poster itu, dan berjanji akan mencoblosnya saat Pemilu 2009 tiba. Tak masalah jika kelak ia kalah ...

26 Nov 2008

SAYA CURI ROKOK ISTRI






SAYA cuti merokok. Itu kabar gembira bagi siapa saja yang pernah menggurui saya. Ya, tiga hari saya tak berurusan dengan cengkeh, sebelum akhirnya saya menyerah juga.

“Selamat! Ternyata Oom bisa melakukannya!” Teriak Dian, keponakan saya yang jurusan biologi di SMA-nya, via SMS. Ia paling rajin mengkhotbahi saya perihal bahaya nikotin, melebihi beberapa kawan di blog yang juga getol beretorika.

“Tumben nggak beli rokok, Mas?” Tanya Bu Tik, kios pojok gang, siang saat saya belanja untuk tukang. Saya lagi puasa, Bu, jawab saya sekenanya, tak peduli ia tampak kecewa karena jumlah belanjaan saya berkurang Rp 8 ribuan, seharga Class Mild, rokok saya.

Saya tak paham mengapa dokter menganjurkan agar saya tak merokok ketika saya mengeluhkan batuk. Toh penyebab batuk bisa apa saja, dari gorengan, knalpot, sampai kentut. “Tolong rokoknya dikurangi, Pak,” kata Dokter Beny, tanpa dosa. Bukankah dengan tak merokok saya mengurangi pendapatan kios maupun petani tembakau? Lagipula, dokter gemuk ini juga perokok!

Tapi saya turuti. Hari pertama ganjil rasanya. Biasanya setelah sarapan saya merokok, lalu siangnya ketika mulai beraktivitas. Keganjilan kian menjadi-jadi tatkala saya mengobrol dengan kawan. Mereka mengepulkan gulungan-gulungan pekat, menjentikkan abu di asbak, dan menyulut batang berikutnya saat rokok pertama telah musnah, yang memancing air liur. Saya komat kamit berdoa agar tak tergoda.

Hari kedua, saya mulai terbiasa. Saya taruh air kemasan di selangkangan saat bermobil, untuk mengatasi kebiasaan merokok ketika menyetir. Berulang-ulang saya tenggak air untuk mengatasi hasrat merokok.

Malam, hari ketiga, baru saya gelisah. Saat menulis, tangan keringatan. Kejanggalan datang, sebab saya biasa menaruh asbak di ujung kibod. Sambil menerawang, biasanya saya isap rokok dalam-dalam, kemudian menemukan banyak kata untuk dituang. Tak ayal saya tersiksa karena otak mendadak berkerak.

Itu sebabnya, saya memutuskan dengan bulat: saya harus merokok!

Tapi malam buta dan gerimis begini mana ada kios buka? Aha, Inilah solusinya: Saya ‘pinjam’ dulu rokok istri. Dia biasa menyimpan mentol di tas atau meja rias. Saya berjingkat-jingkat menjangkau tas kerja di meja, lalu merogohnya dengan napas memburu. Ups, ada! Saya berbinar-binar dibuatnya.

Nah, saya mulai tenang, mengetik pun lancar, meski sedikit pahit karena perlu adaptasi dulu setelah sekian hari tak menaruh rokok di bibir.

“Papaaaaaaa ... !!!” Suara melengking dari ruang tengah, pagi buta saat saya baru saja memeluk guling. Pasti itu istri saya yang marah mendapati kantong mentolnya kosong, sementara ia perlu merokok saat buang hajat.

Saya pura-pura pulas.

24 Nov 2008

JANGAN JADI SPIDER-MAN!


Jangan jadi Spider-Man, Mas, karena aku cinta Doc Ock.”

Seseorang mewanti-wanti begitu pada saya, tiba-tiba, dan tak saya duga. Doc Ock yang dimaksud tentu Dr Otto Octavius, musuh Spider-Man di sekuel yang kedua.

Membayangkan Doc Ock mengamuk dengan belalai besinya saja saya ngeri, apalagi mencoba untuk cinta. Ia sadis dan tak punya perasaan. Ia sangar dan darahnya dialiri setan. Ia ingin menguasai dunia, dan tak peduli sesama.

Dari sudut mana ia pantas disanjung dan dipuja? Dari sisi mana ia layak digandrungi dan dicinta? Olala! Saya tahu sekarang! Pastilah lantaran Alfred Molina, pria kelahiran London, 24 Mei 1953 yang mengawali kariernya di film Raiders of The Lost Ark (1981) itu! Ia yang jadi Doc Ock di Spider-Man 2.

Dugaan itu menyelinap di kepala, karena yang mengaku “cinta Doc Ock” ini adalah wanita. Ia mungkin silau dengan ketampanan Alfred Molina, dan barangkali saja terobsesi. Padahal, sebelum-sebelumnya ia penuh keramahtamahan, kelemahlembutan, gokil tapi sopan, penuh harga diri dan memahami makna kebajikan.

Saya masygul. Saya teramat kecewa. Saya terbangun dari mimpi tatkala menyadari, di belahan hati bidadari ternyata juga menyimpan kejahatan!

"Karena ada pahlawan-pahlawan aneh, maka diciptakanlah musuh-musuh aneh oleh pembikin komik," ujarnya. Entah becanda, atau bermaksud membela diri. Tapi saya telanjur malas mendengarnya.