
SEPERTI ranum danau bening, dengan pucuk-pucuk bambu yang mengayun kala matahari bosan menari. Seperti menatap pelangi dan memotretnya dari punggung bukit. Itulah rasa yang kau berikan, sayang.
Kau bidadari dari lekuk langit ketujuh. Melayang ke bumi dengan pijar dan getar tatkala aku tak lagi berada dalam ruang yang nyaman untuk menghirup udara.
Tahukah bahwa kau oksigen bagiku? Di saat hati sunyi, kau datang dengan selendang sutera. Aku gusar sebab sukar mengatakan apa-apa saat kita berpapasan di tangga. Tahukah kau bahwa aku jatuh cinta? Tahukah kau, di tangga itu aku kuyub oleh
Dan kita bercakap-cakap setelah pertemuan di tangga. Malam-malam ribut oleh pesan-pesan ponsel kita. Aku dipompa oleh spiritmu, sampai akhirnya aku sadar aku bukanlah siapa-siapa. Ya, menyadari “bukan siapa-siapa” inilah mengapa aku sedih. Kau tak bisa kumiliki dan memilikiku.
Itu kenapa sering aku bersikap aneh, sering berubah-ubah sikap, mirip SMA yang sedang jatuh cinta. Aku kerap ingin berada di sisimu untuk mengadu ketika resah dan tak tahu harus berbuat apa. Kau bisa membuatku kembali tersenyum padahal semenit sebelumnya marah-marah, karena mencintaimu adalah hal terindah.
Kau terlalu baik untuk diusik, terlalu indah untuk diganggu, kendati setan pernah mampir dan menyuruh-nyuruhku untuk melakukan sesuatu. Sejumlah teman pernah marah melihatku murung dan tak doyan makan usai memergokimu dalam gandengan seseorang di depan gereja. Tapi, sejauh ini mereka mau memahami penjelasanku bahwa akulah yang bersalah karena aku memang tak berhak apapun atas dirimu.
Aku hanya perlu merajutmu dalam kesendirian dan mengajakmu ke tempat-tempat indah. Di
Ingin kubangun perahu untuk menyeberangi lautan, memeluk punggungmu ketika kau sedang di depan cermin membedaki paras. Aku ingin menciumi rambutmu, membawamu ke ambang jendela dan kita memandang bunga dari
Aku sangat ingin berdua saja memandangi bintang-bintang, meraup kepalamu ke pundakku, dan kita menangis bersama.
(Jantungku berdenyut ketika menulis ini. Serasa di depanku ada kau dengan senyum yang menggoda, dengan tahi lalat yang menari di bawah matamu itu, dengan tangan yang lembut mengaduk gula dalam secangkir teh.
13 komentar:
38 and still rawk. hihi. gw tau skarang oknum dibalik cerita menyemenye ini!
@Pito, xixixixi... cerita menyemenye.. *ketawa banget2!*
AF, haiyah... *kembali ke komentarnya Pito* (^^,)
Maaf bang, aku sepakat dengan komentar di atas-atasku, entri ini tingkat kecengengannya terlampau keterlaluan. Tragisnya, si penulis bukan anak muda lagi. Namun, masih terjebak terus dalam nuansa sinetron tenda biru. Aku tidak habis pikir. Kemampuan emosi penulis gagal berkembang. Selalu nelangsa.
Hahahahaha ... terima kasih telah melek apresiasi!
Jadi ingat Forum Lingkar Pena yang mengadili adegan ranjang sebanyak 7 halaman di novel Imperia tulisan Akmal Naseri Basral, tahun 2005.
Maaf lagi, tulisan cengeng ini dianggap sejajar dengan tulisan Akmal Naseri Basral??????????
speechless....
*gelar karpet*
*nggawe kopi, nyepakke cemilan*
iki ketoke seru...
*menyimak*
Ngikut Pito.. *kasih tempat dunk, en bagi cemilannya juga* Eh..atau kau dan aku nonton Transformer aja Pit? Gimana? *wahahaaha..kagak jelas*
ini yg flaming pakek anonim, tunjukkan jatidiri dunk! kek gwa neh, kalo kurang ajar pake ID asli.
mbak G, transfromer kalah rame ama ini. tungguin aja. atau dikaw antriin tiketnya?
hihi..
setiap manusia berbeda dalam merasakan tulisan mungkin bagi sebagian cengeng tapi bagi sebagian sebuah tulisan yang cukup menghibur jadi apapun tulisan itu membutuhkan kepandaian untuk bertutur . lepas cengeng atau tidak aku menyukai ceritanya.
Cuma Mbak Lintang yang bijak. Tuhan memberkati, Mbak.
Nasibmu kang, makanya lain kali tulisan orang lain nggak usah dipaksain masuk ke blog sampean. Ibarat ngga makan nangka tapi kena getahnya, wahahaha ...
Hbhwhwhahahahakakak ... aku ngakak beneran Fu.
Posting Komentar