Search

28 Jun 2008

Maling di Sekeliling


PAGI belum dibilas mentari, tetapi telah ada keributan kecil di bagian depan kantor kami, hari ini. Agak malas, saya menyeret langkah ke depan, ingin memperoleh jawaban. Tahulah sekarang apa sumber hiruk pikuk yang mengganggu tidur saya itu: koran hilang!


Ya, hanya dua suratkabar – Jawa Pos dan Suara Merdeka – yang membuat beberapa kawan murka. Dua koran yang dibekuk dalam satu lipatan dan dilempar begitu saja oleh loper ke teras, menyisakan rasa kecewa yang mendalam di hati mereka.


Mengapa? Pertama, kegiatan pagi di kantor memang didominasi baca ramai-ramai di ruang tamu, sembari ditemani secangkir kopi. Kedua, koran-koran ini memberi informasi dan inspirasi, selagi jari jemari belum mengetuk tuts kibod komputer. Lebih-lebih ini musimnya Piala Eropa, sehingga para jurnalis di kantor kami (yang kebetulan melulu berurusan dengan sepakbola) mendapatkan data-data pelengkap.


Saya mengamati sekitar, mencari-cari penyebab hilangnya koran. Benar dugaan saya: pagar besi tidak terkatup, bahkan membuka di bagian separuhnya! Dan, bukan sekali ini saja koran-koran itu musnah – entah diembat orang lewat, atau oleh pemulung yang saban subuh mengais tong sampah di sudut depan halaman – yang penyebabnya cuma satu, pagar tidak ditutup!


Di tengah ribut-ribut saya membatin (dan sedikit menyalahkan teman-teman serta diri saya sendiri), mengapa hal sepele selalu kami lupakan, yakni bergegas menggeret pagar berkaki-kaki rel tersebut sebelum tidur. Saat ini baru koran. Jika nanti-nanti yang lenyap motor (maklum hingga larut malam, terutama saat deadline, banyak sepeda motor belum dimasukkan) atau mobil kantor kami yang kerap diparkir sampai pagi di sana, bukankah rasa kehilangan dan hati yang terluka lebih dahsyat dan parah?


Maaf bila saya bilang, tangan-tangan orang Indonesia memang ‘terampil’ menyikat barang milik orang lain. Takarannya bukan lagi klepto, melainkan sudah merasuk ke sumsum, berbarengan dengan mental maling yang mencengkeram (baik lantaran hanya berangkat dari sekadar ingin memiliki barang incaran untuk pemuas hobi, atau karena kesulitan ekonomi yang menjepit).


Di Korea, tahun 1999 dan 2000, saya melihat begitu banyak buku telepon digeletakkan di kotak telepon umum. Tak ada yang jahil membawanya pulang untuk bungkus pisang rebus, tak ada pula yang ngiler untuk mengantonginya.


Di negara yang sama, tepatnya Kota Suwon, saya melihat banyak sepeda motor ditaruh begitu saja di depan rumah, di jalanan, bahkan di pinggir kebun, sementara pemiliknya ngelayap hingga nun jauh di tengah kebun. Padahal, Korea begitu sepi, di banding Indonesia yang setiap jengkal terdapat manusia.


Aha, andai motor-motor yang berdiri mematung tanpa pengawasan itu di Indonesia ...

27 Jun 2008

Menertawai Film Horor Indonesia


Saya berencana bangun jam 1.00 tadi malam untuk menonton semifinal Rusia vs Spanyol. Jam weker sudah saya patok, cemilan sudah tersedia, rokok teronggok. Lengkap sudah. Tetapi, entah mengapa, baru pukul 22.00 mata saya melek prematur.


Tak tahu sebabnya, saya tak terpikat “Empat Mata’. Padahal Tukul adalah tontonan terakhir saya menjelang tidur. Sebentar saya bingung mau berbuat apa. Aha! Saya ingat sore sebelumnya saya menyewa CD Hantu Ambulance!


Terus terang saya salah satu korban promosi film yang salah satu bintangnya Suzanna yang legendaris ini. Produsennya menggelar jumpa pers, mendandani ambulan mirip seperti yang terpampang di filmnya, melakukan konvoi (yang karena alasan sakit Mbak Suzanna-nya tak bisa hadir), dan seterusnya. Saya penasaran dan ingin mendapat jawaban.


Film dibuka dengan angle kabin mobil yang sedang melaju di aspal. Dari arah berlawanan, melaju kencang sedan berkecapatan tinggi dan oleng. Bisa diduga: tabrakan hebat! Salah satu mobil terbang, berdebum, dan mencium jalanan, mirip film laga.


Sebuah intro yang lumayan. Apalagi disertai sedikit slow motion dengan format gambar hitam putih. Mengingatkan saya pada sejumlah adegan keren The Godfather yang dibintangi Al Pacino itu.


Adegan berikutnya lumayan mencekam. Rano (dimainkan Dimas Andrean) dihantui bayangan cewek yang berkelebat di jendela, anak tangga, hingga kamarnya. Rumah megah itu mewujudkan teror yang, terus terang, sempat membuat bulu kuduk saya meremang.


Saya ingin lebih. Saya ingin mendapatkan sumber ketakutan. Tetapi baru 15 menit film bergerak, saya mulai ngakak sendirian dalam kamar, melebihi kencang ketawa Suzanna dalam Sundel Bolong di masa lampau.


Mau tahu sebabnya? Hantu Ambulance gagal total sebagaimana Pocong, Suster Ngesot, Sundel Bolong, Terowongan Casablanca, Genderuwo, Bangsal 13, 40 Hari Bangkitnya Pocong, Beranak dalam Kubur, dan seterusnya. Hantu-hantunya selalu pocong dengan muka yang dibedaki sumba warna merah, atau sesosok tubuh yang berjalan ngesot dan kemudian menggaet kaki korban, atau perempuan berjubah dengan rambut awut-awutan, dan kuburan!


Lebih sebal lagi, trik kuno dengan memunculkan sesosok makhluk nggegirisi di cermin dipakai di film ini. Lebih menyebalkan pula, hantu-hantu seolah ada di mana-mana. Hampir setiap adegan ada hantunya, di kamar, di mobil, di ambulans, di kakus, di gedung yang belum kelar pembangunannya. Hantu-hantu itu menciptakan (atau dipaksakan oleh sutradara Koya Pagayo) ‘teror’ pada setiap orang, sehingga norak dan kampungan.


Dalam penat usai menyimak film ini, saya mendadak cemburu pada Jepang dan hollywood. Film horor Jepang tak asal-asalan membangun ketegangan. Para sineas Nippon begitu cermat menjalin alur, menciptakan visual effect, dan mencermati sisi humanisti. Tengoklah Ima, Ai Ni Yukimasu (2004, besutan sutradara Nobuhiro Doi), atau Ringu dan Ju On (keduanya dibesut pada tahun yang sama).


Dalam takaran lain, industri film Indonesia seyogyanya sudah mulai berpikir bagaimana film-film horor Amerika begitu memesona memungut ide dan pengambilan gambar. Tak banyak hantu dimunculkan, tetapi film-film dengan sutradara canggih macam M Night Shyamalan menyajikan ide-ide cerita yang unik.


Sutradara yang dibesarkan di Philadelphia ini mengawali debut karir penyutradaraan dalam film layar lebar Praying with Angers tahun 1992. Hingga tahun 2006, setidaknya, sutradara, produser dan penulis skenario yang dilahirkan di Pondicherry, India ini telah menulis skenario untuk delapan film dan tujuh diantaranya disutradarai langsung oleh Shyamalan sendiri.


Night Shyamalan adalah salah seorang sutradara yang konsisten menawarkan dunia ‘baru’ di setiap filmnya. Sebut saja, The Sixth Sense (1999), yang menyuguhkan drama dengan balutan dunia paranormal melalui pengalaman supernatural seorang bocah. The village (2004), yang menyuguhkan drama dalam balutan mitos. The Unbreakable (2000), drama thriller dalam balutan dunia supernatural. Lady In the Water pun, menyuguhkan sesuatu yang lain, yaitu menawarkan keeksotisan cerita-cerita dongeng dengan drama urban Amerika.


Begitu banyak yang bisa kita gali dari serpihan budaya Bumi Pertiwi untuk dikemas dalam film horor. Sayang, dari sekian judul yang sempat saya koleksi (atau menyewa dari rental), cuma The Mirror (dibintangi Nirina Zubir) yang pernah membuat saya terkesan. Itupun idenya mengadopsi The Others (Nicole Kidman) ...

26 Jun 2008

Di Pintu Mati


Solo-Semarang dengan sekeranjang mendung, membuat mobil saya limbung. Berulang saya menoleh ke kaca, mendapati wajah tirus tanpa aura. Kacamata Oakley palsu yang saya beli seharga Rp 20 ribu di Kartosuro – semata emergency guna menangkal matahari yang nyalang menembus kaca – malah membuat kepala saya diliputi bencana.

Angin berdesir lirih saat saya membuka kaca. Asap segera menghambur keluar. Berbatang-batang rokok dengan leluasa mengalirkan racun ke jantung dan paru-paru saya, melumurinya dengan ancaman kematian yang lekas, selekas saya menginginkannya.

Saya di ambang gila barangkali saja. Kegilaan yang ditempa godam, laksana tapal kuda yang dihantam palu oleh tukang besi secara bertubi-tubi, di atas tungku yang baranya menyala-nyala. Kegilaan yang menghadirkan mimpi buruk tatkala saya berhenti di kerindangan akasia di trotoar Boyolali. Mata saya terpejam dalam sergapan AC, tapi hati saya meloncat-loncat menghindari serbuan perih.

Di sebuah ruang antara hidup dan mati, arwah Ibu menukik tajam dari langit dengan rumbai baju putih yang berkelebat mengikuti tubuhnya. Senyumnya masih putih seperti dulu. Ia mengulurkan tangan, menepuk pundak dan mengelus dengan lembut setiap jengkal rambut saya.

“Jangan mati sekarang, nak, karena kau masih dibutuhkan oleh banyak orang. Percayalah pada sifat-sifat kemuliaan, karena kau adalah manusia yang mulia. Ibu tahu hatimu luka. Ibu tahu ada napas yang membara. Namun masih banyak hal yang harus kau lakukan sebelum malaikat benar-benar menjemputmu, meski kau harus lebih banyak lagi berkorban. Waktunya zuhur, coba ambil air wudlu untuk kehadiranmu di depan Gusti ...”

Saya tergeragap dan sontak menggerakkan mobil ke masjid di sebelah terminal.

25 Jun 2008

Tembang Pria Hujan


Tiba-tiba ada Andi Meriem Matalata ketika warna merah menjilat gazebo belakang rumah, tempat kau siang-malam menyalakan lentera. Kau simak matahari dengan seksama, melemparmu ke antah berantah. Ke perkampungan ikan dengan dendang nelayan. Ke derap kuda di jaman kerajaan.


Di ujung timur, pagi ini, bidadari menari-nari. Menukik di sela lambai cemara. Mengantar ratusan roh dengan tergopoh. Membuat bibirmu tertutup dan terkatup. “Sudahkah kita sampai, sayangku? Telah kita tempuh perjalanan jauh, tetapi tak juga kita dapatkan kayuh,” bisikmu pilu.


Kau habiskan waktu untuk menunggu, memunguti gelintir pasir dan kesiap kabut. Mendengar kecipak ikan, birahi kelinci, dan embun yang mengalun. Kau letakkan sayap di pundak, tapi Jogja selaksa angkasa dan mayapada, terjal-menganga seperti gua.


“Bukankah duniamu memang gua, sayangku? Bukankah cinta ini terantuk stalagtit dan stalagmit? Tahukah kau bahwa cemburu bisa tuli dan bisu? Kapan kau bersedia menjagai perasaan ini? Perasaan yang diliputi tulus dan murni,” erangmu di antara angin beludru.


Kau mulai nyalang dan menerawang. Menembus kabut tirus. Menggumamkan asa pada sosok pria yang berjalan dengan tergesa dalam hujan yang perawan. Kau mengayun lengan dengan cemas, tapi tak juga ia datang kepadamu dengan lekas.


Tiba-tiba kau ingin menyanyi Rela bersama Andi Meriem Matalata, dengan komposisi awan, badai, dan hujan ...


Ooo, ijinkanlah aku menyayang dirimu
Walaupun tak pantas kumencintaimu,
Ijinkanlah agar aku tetap bersamamu
Mendampingimu kemanapun kuikut denganmu ...


Ooo, biarkanlah aku selalu di sisimu
Menggayutkan tanganku di lenganmu
Biarkanlah, biar aku lelap di pundakmu

Dan kau usapkan jemarimu
Membelai rambutku ... *)


(*bait pertama dan kedua lagu Rela, Andi Meriem Matalata)

24 Jun 2008

TENTANG MIMPI

Seorang murid TK ditanya gurunya: “Apa cita-citamu, nak?” Si kecil menjawab: “Dokter, Bu!”

Itulah mimpi. Sebagaimana minggu-minggu kemarin Bambang Sadono atau Sukawi Sutarip serempak bermimpi: “Saya ingin jadi Gubernur Jawa Tengah!”

Mimpi adalah angan-angan. Seorang gelandangan bermimpi punya rumah, meski RSSS sekalipun. Kuli mimpi jadi mandor, wartawan mimpi mendapat Pulitzer, kernet mimpi jadi sopir, pengamen mimpi jadi penyanyi tenar.

Apa yang melintas dalam benak saya saat merayakan ulang tahun ke-37, hari Senin kemarin? Tak banyak. Saya cuma ingin hidup bahagia. Bentuk kebahagiaan yang bisa direntang ke macam-macam. Bisa membiayai sekolah anak-anak juga kebahagiaan. Bisa makan-minum tanpa mengutang, tak dibelit gangguan lever atau maag, jarang lagi kena flu, punya pekerjaan sehingga tak menjadi pengemis, masih punya motor tanpa menumpang angkutan kota, juga membahagiakan

Kalau pun ada selipan mimpi tatkala jam berdentang 12 kali menjelang tanggal 23 Juni, paling-paling ingin memenangi lomba cerpen atau cerbung. Sebuah angan-angan lama setelah sekian kali hanya runner up atau juara empat.

Saya tak ingin diperbudak mimpi. Misalnya ingin merebut kursi direktur dan punya rumah tiga lantai. Atau ingin punya mobil mewah dan memiliki warnet. Atau ingin punya banyak duit sehingga mampu membeli apa saja, termasuk membeli mimpi.

Saya tak ingin diganggu mimpi-mimpi yang menyesatkan. Saya tak ingin memberhalakan mimpi sehingga melakukan segala cara. Saya tak ingin hidup di tengah mimpi yang membuat maag saya kumat. Saya tak ingin dipaksa bermimpi kalau itu hanya untuk membuat lever saya makin membengkak. Saya tak ingin dikerjai mimpi jika itu akan membuat saya menjadi maling, tukang peras, atau pengecut.

Saya tak ingin jadi pemimpi dan memimpikan sesuatu yang membuat wajah saya tampak tua. Saya tak ingin jadi pemimpi yang membuat jantung saya berhenti tiba-tiba. Saya tak ingin jadi pemimpi dan mengangankan sesuatu yang bukan rejeki saya.

Saya tak ingin mati sia-sia …



(Terima kasih tak terhingga pada kawan, kerabat, sahabat lama yang nyaris terlupakan, bekas guru dan dosen saya, teman di luar negeri, mantan pacar, serta siapapun yang merasa kenal pada saya tapi kurangajarnya saya justru melupakan (atau secara tak sengaja memang lupa) pada kalian, atas ucapan: “selamat ulang tahun” untuk saya yang kecil dan hina ini, baik lewat SMS, langsung menelepon, maupun email)

21 Jun 2008

15 Menit yang Mahal


Tiba-tiba pria itu mengetuk kaca. Saya terkejut bukan kepalang mendapati seringai buruk dengan rongga-rongga gigi keropos. Kalau ini tengah malam, saya langsung ngacir. Siapa tahu ia hantu. Tapi lantaran pagi, dan sekeliling juga penuh orang, saya buka kaca.


“Mau menumpang, Mas. Boleh tidak?” Ujarnya, setengah merengek, di beberapa senti di sebelah saya.

“Sampai mana?” Kata saya setengah terpaksa. Bayangkan: “ditumpangi pria dekil dengan asal usul yang tidak jelas”. Bukan saya pelit, tapi semata saya memikirkan keselamatan. Siapa tahu ia pura-pura miskin. Atau, siapa menyangka ia gila.

“Kalau Mas lewat Citarum, saya turun di sebelah stadion, depan Rumah Sakit Panti Wilasa,” ucapnya pede. Seolah saya sudah memberinya ijin membuka pintu.

Saya menimbang-nimbang. Bila terlalu panjang berdebat, saya akan diklakson puluhan kendaraan di belakang saat nanti lampu menyala hijau. Namun jika saya ijinkan ia masuk kabin, berarti saya menghadapi risiko, umpama ternyata laki-laki ini buronan polisi. Akhirnya saya ambil keputusan mempersilakan ia naik, dengan membuang semua prasangka. Siapa tahu ia memang benar-benar butuh tumpangan.

Rasa senang mengalir di wajahnya ketika mobil bergerak. Dari sudut mata saya melihat ia berusaha mengajak saya berbincang. Tapi saya rem dulu keinginan bertanya-tanya. Lima menit kemudian, saya membuka suara. “Namanya siapa, Pak?”

“Agus, Mas, Agus Widiyantoro,” ujarnya setengak berteriak. Mungkin ia senang akhirnya saya mengajaknya bicara. Wah, nama yang keren. Tadinya saya mengira Busro, Kasdi, Darmin, atau Kampret.

Polos dan apa adanya. Itu kesan 10 menit setelah ia resmi menumpang saya. Mendadak saya menyukainya. “Bekerja atau mau apa di Citarum sana?”

“Bekerja, Mas.”

“Kerja apa?”

“Serabutan. Kadang menimba air, kadang mendorong mobil, memanggul beras, sering juga memijat atau mengelap kaca restoran,” tuturnya penuh semangat. Ada kebanggaan tersendiri, meski ia bekerja di sektor paling rendah. Ia tak sungkan mengatakan bahwa ia kacung.

“Sudah menikah? Berapa anaknya?”

“Belum, Mas, saya belum berani. Takutnya nanti pilihan saya tidak disetujui Ibu.”

Saya meliriknya. “Memang berapa umur Pak Agus sekarang?”

“Empat puluh dua.” Buset!

Lalu tanpa diminta ia menceritakan tentang simpanannya. Berupa uang, bukan gundik. Berapa? “Satu juta, Mas. Saya selipkan di sebuah bengkel yang sering saya bantu mencopoti ban kempes,” akunya. Entah benar entah dusta, saya tak memedulikannya.

Ia mengoceh tentang banyak hal. Suaranya khas pinggiran yang begitu terampil mengungkap pembunuhan di Semarang, perampokan toko emas yang kerugiannya Rp 25 miliar itu, tentang pemilihan Gubernur Jateng, soal korupsi, masalah banjir, dan seterusnya. Saya mengangguk-angguk saja, menikmati ucapan-ucapannya yang lucu.

Persis 15 menit dari mulai ia memasuki kabin mobil, Agus minta diturunkan. Di sebuah sudut Stadion Citarum, tempat ia menapaki hari-hari. Ia lambaikan tangan dengan senyum yang mengandung ungkapan terima kasih yang murni.

Selepas dia pergi, tiba-tiba saya merasa kehilangan. Jujur saya iri padanya. Hidup yang begitu ringan dan sederhana. Hidup yang asyik dalam sebuah dunia kecil yang ia nikmati tanpa mendung dan berhitung …

20 Jun 2008

Mereka Menuang Kata-kata


Setidaknya empat blog belakangan ini saya cermati. Menjadi semacam rutinitas pagi selagi mulut mengunyah roti dan minum teh, menjelang kerja. Keempatnya adalah http://sofianblue.wordpress.com (milik Sofian), http://www.jejaksimungil.com (punya Mei), http://falling-eve.blogspot.com (Enno), dan http://ulies.blogs.friendster.com (ditulis oleh Mira/Ulies).

Kecuali Mira yang mulai tidak produktif (“saya nulis kalau lagi bener-bener mood aja, Mas,” katanya), Enno, Mei, dan Sofian (senang memakai nick name “Blue”) seolah menyiratkan bahwa menulis di blog adalah hobi, tugas, sekaligus tuntutan.

Enno punya kesempatan luas untuk menuang kata-kata. Ia adalah editor sebuah majalah hukum di Jakarta. Jenis pekerjaan yang memang bergumul dengan huruf dan kalimat. Itu mengapa ia sebebas merpati meracik kalimat untuk disuguhkan ke khalayak ramai melalui blog-nya.

Retno, begitu ia punya nama asli -- (“Enno itu tak lebih memudahkan cara menyebut saja, kok, mirip anak kecil yang cadel sehingga tak bisa menyebut Retno dengan benar. Di luar negeri, Enno itu nama laki-laki,” ujarnya suatu ketika) – adalah Pisces yang lain daripada yang lain. Setahu saya, Pisces itu tidak romantis. Bintang yang cenderung cerewet dan butuh perhatian.

Namun, harus saya akui, paparan di blog-nya mencuri perhatian. Ia menikung dengan cermat saat beralih kalimat. Ia mencomot banyak kosa kata musykil tapi indah. Enno mahir berkelit dan meliuk, bak penari balet di Sydney Theater. Cewek ketus ini juga pandai mengerem kalimat, sehingga melahirkan gemas dan penasaran.

Sayang ia melalaikan satu hal. Ibarat majalah, blog Enno menumbuhkan gusar pembacanya lantaran ia kurang mengindahkan ritme. Ia menumpuk topik-topik yang nyaris sama di judul-judul yang bertetangga, sehingga terkadang memaksa kita (para pembaca) mati rasa. Ia bisa mengurai perihal “Pria Hujan”-nya dalam tiga judul sekaligus, sampai-sampai kita merasa sebal.

Bagaimana dengan Mei? SiMunGiL, begitu ia minta disapa dengan akrab, lebih lebar membangun blog-nya. Perkara sosial ia tulis. Persoalan cinta ia babat, resensi film pun ia ungkap (bahkan harus saya akui wanita mungil ini maniak bioskop).

Kekuatan Mei adalah pada pesan. Setiap mengakhiri tulisan, ia menyodorkan filosofi, tak peduli filosofi ini ia kutip dari ucapan seorang tokoh. “Terus terang, tidak semua orang bisa melakukan ini. Tidak ada hal yang tidak butuh proses. Semua hal yang berhubungan dengan mahkluk lain, pasti membutuhkan proses. Hanya kita mau atau tidak berusaha dan belajar dari hari ke hari, untuk menjadi yang lebih baik lagi”. (ini salah satu pesan berbau motivasi di judul “Listening” yang ia posting pada 7 Juni 2008, jam 4.19 sore).

Kekuatan lain, ia paham benar lead, alias “kepala berita”. Alinea pertama ia kukuhkan sebagai ‘mesin rayu’ untuk mengikat pembacanya untuk tak berhenti membaca.

Kelemahannya? Nyaris sama dengan Enno, Mei mendapat beribu-ribu pena dari “cinta”. Ketika keduanya sedang berayun-ayun dalam kotak asmara, tulisannya membanjir. Dan tatkala Mei putus hubungan dengan seseorang, tempo hari, mendadak ia hanya memposting foto dirinya tanpa kata-kata dan deskripsi, atau memasarkan asesori (oya, Mei ini bekerja di sebuah perusahaan kasur busa – yang tanpa kita sadari mereknya tiap malam kita tindih saat kita tidur, sebab mereknya amat terkenal – disamping juga memproduk sendiri asesoris perempuan).

Nah, mari kita bicara soal Sofian Blue. Latarbelakangnya jurnalis. Ia bekerja di sebuah koran terkenal, di Jakarta. Anak urban yang mencoba mencari nasi dan jatidiri di ibukota.

Background wartawan itulah yang menuntunnya sibuk mengamati sosial. Sebagian besar tulisannya, terutama akhir-akhir ini, adalah periuk keseharian. Ia mengamati fenomena Euro 2008, penyanyi dangdut, sampai nasib kawan sekampungnya yang dulu preman dan kini lumpuh.

Blue pintar bertutur dan blak-blakan, khas remaja (masih remaja tidak ya?). Ia menyikut dan mengkritisi. Cuma itu? Tidak. Ia juga mahir menuang prosa lirik, alias artikel yang diadon dengan kata-kata puitis. Blue mendadak jadi Chairil Anwar cilik tatkala dibelit asmara (dan birahi?)

Setiap membaca tulisannya, saya membayangkan raut wajahnya yang lebih didominasi serius. Saat bekerja di kantor yang sama, beberapa tahun silam, saya tak pernah menyangka di benaknya tengah bersemayam romantisme. Di balik wajahnya yang mengalun seperti gamelan, Blue ternyata ingin seperti Peterpan.

Sedikit mengulik kelemahannya, blog “Sebuah Dunia Kecil” ‘diingkari’ oleh Blue sendiri. Ia menulis panjang lebar, sampai-sampai harus memakai format “more” untuk menuntun pembaca menyantap tulisan hingga tuntas, lewat halaman lain.

Apa ini salah? Tentu tidak. Tapi, alangkah menyenangkan jika Blue mengeremnya menjadi hanya satu halaman (pembaca tak perlu lagi meng-klik “more”) supaya tak merepotkan. Sering kita kehilangan mood hanya gara-gara disibukkan dengan ‘birokrasi’, terlebih bagi mereka yang bandwithd-nya pas-pasan.

Blue juga angin-anginan. Tulisannya sering luar biasa, tetapi juga ada yang setengah dipaksakan, sehingga kita kehilangan pesan. Mungkin, seperti pada lumrahnya manusia, ia juga butuh mood total untuk menghadirkan suguhan lezat.

Mira, Enno, Mei, dan Blue (kebetulan keempatnya di Jakarta) sama-sama punya talenta hebat. Andai ada penerbit yang bermurah hati menjemput mereka ke penerbitan novel (teenlit atau novel beneran), saya kira mereka tidak bikin kecewa!

17 Jun 2008

Surat untuk Ibunda (di Surga)


BU, kutitipkan surat ini pada bintang yang tadi malam singgah di rumah. Sedang apa pagi ini? Sudah minum teh seraya mengudap jajan pasar seperti Ibu sering lakukan saat kita masih bersama? Sehat, kan, Bu? Syukurlah.

Seharian kemarin aku merindukan Ibu. Kangen gingsul dan tawa Ibu yang renyah. Aku masih secengeng dulu setiap mengingat masa indah. Airmata tak pernah berhenti tumpah tiap kali teringat bagaimana aku begitu kerasan memijat kaki Ibu dan menciptakan rasa nyaman menjelang Ibu tidur.

Selalu kita habiskan malam untuk bercengkerama di beranda saat jengkerik melengking. Bulan sedang purnama. Ibu suka mengelus rambutku, memilin-milinnya seolah takut kehilangan. Menceritakan banyak hal tentang masa silam, tentang bagaimana dulu Bapak mengapeli Ibu lewat jendela karena kakek sangat galak, tentang bagaimana menaklukkan hidup, tentang makna mengaji dan shalat, tentang menyayangi binatang.

Ibu tersipu ketika aku bilang wajah Ibu hitam manis. Bapak menimpalinya dengan berkata bahwa kalau tidak manis tentu Bapak tidak mau menikahi Ibu. Lalu kerumunan kecil pun tercipta. Indah, Eddy, dan Enny berbaur dan kolokan. Kita berenam berendam dalam sebuah beranda rumah yang dijalari bunga-bunga.

Ibu adalah ‘petani’ yang sukses ‘bercocoktanam’ dan mengairi ladang. Penggalan-penggalan dongeng yang kerap Ibu kisahkan, sikap Ibu yang pasrah dan penyayang, kerelaan Ibu untuk menerima apa adanya, menghasilkan buah yang berlimpah.

“Dendam itu racun. Dendam akan terus mengikutimu sampai akhirnya kamu menjadi jahat,” tutur Ibu.

Ketika aku telah dewasa kini, pelajaran dari Ibu adalah roda dan asnya. Aku pernah merasa tak akan kehilangan pelita dan harapan, sebagaimana Ibu selalu tekankan kepada kami, anak-anak Ibu, untuk pantang menyerah.

Ada dua serigala yang selalu bertempur di dalam hatimu, serigala baik dan buruk. Serigala mana yang menang tergantung bagaimana kamu memutuskan,” kata Ibu di kali lain.

Tetapi terkadang roda kehidupan terantuk bebatuan. Saat-saat tertentu aku ingin mengadu kepada Ibu tentang kabut dan awan. Ada saat aku tak punya pegangan dan rentan. Aku tak punya roh baja seperti Ibu memilikinya. Aku adalah titik-titik air yang mudah diterpa angin.

Aku tak mewarisi ketegaran Ibu sebagaimana Ibu masih bisa tersenyum meski tubuh Ibu terbujur kaku tatkala ginjal Ibu tak lagi berdenyut. Ibu masih bisa tertawa meski malaikat telah berkerumun. Aku tak mempunyai kekuatan Surat Yasin seperti Ibu kerap kumandangkan usai maghriban.

Maafkan aku yang renta sebelum waktunya, Ibu. Jika saatnya tiba, aku akan segera mengetuk pintu rumah Ibu di surga sana. Aku ingin tiduran di pangkuanmu untuk melepas lelah …

16 Jun 2008

Ingin Pulang ke Masa Silam


Tiba-tiba saya ingin menaiki mesin waktu bikinan Alexander Hartdegen dalam film Time Machine. Saya ingin menyusup ke masa silam, memunguti kembali hari-hari. Meraup kembali sesuatu yang tak saya dapatkan saat itu.


Tiba-tiba saja saya ingin bertemu Lusi, Suroyo, Hanum, Hamidah, Yoyok, Anis, Nurwahid, Yudha, Pak Sri Suyatno, Pak Barno, Bu Endang, dan Pak Kahar.


Saya ingin berjalan di teras SMA, menyapa setiap orang di sana, mengajaknya ke warung Bu Barokah di belakang sekolah. Minum teh dan mengudap bolu. Lalu duduk bergerombol di teras kantin, mengobrolkan apa saja.


Saya ingin memarkir motor di sayap kiri gedung, berdiri mematung memandangi kamboja, menyimak majalah dinding yang dipenuhi puisi, atau melirik Titik yang hari ini memakai lotion Citra.


Tiba-tiba saya ingin berjalan ke masa silam, mengabarkan bahwa pada tahun 2008 terjadi pergolakan hebat di setiap kepala orang di negeri ini, yang membuat dada saya terasa sepi ...

Video Mesum


INI peringatan kepada siapapun yang:

1. Selingkuh dengan tetangga,

2. Menggauli bini teman,

3. Serong dengan sekretaris,

4. Membooking SPG,

5. Berciuman di lift,

6. Menyetubuhi ipar sendiri,

7. Siswa SMA yang merogoh dada pacar,

8. Anggota DPR yang bersenggama dengan bawahan di sebuah losmen,

9. Menampari adik kelas di lorong-lorong sepi mirip Yakuza seperti di Pati itu

10.Menggebuki yunior seperti dilakukan siswa STPDN:

JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN KAMERA!


Kamera – digital maupun yang membonceng ponsel – mirip mata-mata. Awalnya ia menjadi arena sukacita, foto bersama (dari kecup bibir hingga telanjang dada), dan menjadi memori biasa.


Tetapi, esoknya, ketika:

  1. Handycam dipinjam kawan, atau
  2. Ponsel Anda rusak dan lantas hinggap di tukang permak, atau
  3. Komputer Anda dibuka-buka teman saat Anda sedang makan siang, ketika foto-foto mesum Anda sudah Anda jejalkan ke harddisk, atau
  4. Anda lupa men-delete gambar-gambar yang telanjur Anda buka di layar komputer warnet dari ponsel atau handphone Anda,


Maka:

terbitlah kisah lain yang biasa-biasa saja (maksimal teredar di internet dengan posisi syur), hingga menjadi tayangan televisi yang menghebohkan dan CD-nya dicari-cari.


Hanya butuh beberapa klik untuk mengopi pemotretan Anda. Cuma butuh beberapa kejap guna memindah bidikan Anda yang mesum ini ke media lain (sesama HP atau ke harddisk mereka yang iseng dan ngiler), lewat kabel data maupun bluetooth.


Tak ada yang menyangka kesenangan pribadi berdampak gunjingan massa. Tak pernah melintas di benak saat merekam kemesraan (baca: kemesuman) berujung urusan polisi.


CD “Bandung Lautan Asmara” yang melibatkan Nanda dan Adi, pacarnya, dibesut dengan semangat iblis. Mereka ciuman dan telanjang, indehoy dan saling tindih, di sofa, kasur, serta kamar mandi, bersama kamera yang menyala.


Tak tahunya, rekaman sangat privacy ini mengapung ke masyarakat selang beberapa waktu kemudian. Dari tukang batu hingga pejabat negara bisa menyimaknya dengan napas yang menggebu. Anak-anak SMP bisa menontonnya dengan napas memburu. Dan menjadi urusan kepolisian! Para pelaku malu. Adi dan Nanda mencoreng keluarga. Aib beredar di jiwa keduanya sampai nanti ajal tiba!


Untuk mereka:

  1. yang merekam adegan ranjang, atau
  2. SPG yang dibooking, atau
  3. Saling cium dan rogoh celana di lift, atau
  4. Ipar yang disetubuhi kakak sendiri, atau
  5. Pejabat negara yang suka daun muda, atau
  6. Para artis yang merelakan tubuh serta payudaranya diintip kamera, atau
  7. Yang mencoba-coba baju di kamar ganti:

BERHATI-HATILAH!

Sundown at Midnight


APA yang bisa kueja dari secangkir teh yang telah musnah kepul asapnya? Apa yang bisa kudaki dari berbatang-batang puntung rokok yang meringkuk dalam kubangan asbak?

Malam merangkak, mendaki, dan terengah. Malam terantuk bebatuan dan lelah. Malam tak ada butiran bintang, tak ada pula mimpi-mimpi. Hampa dan nestapa.


Seekor kupu-kupukah dirimu? Atau belalang dengan rentang kaki mirip penari? Bukan. Kau bukan pintu yang berderak jika seseorang menyentak dengan sepenuh kekuatan. Kau bukan lolong serigala di malam-malam buta, karena telah kau paku sedemikian rupa kusen jendela.


Tak ada yang bisa kueja dan kumaknai ribuan hati, bahkan tatkala kau menyanyi dan menari sekalipun. Kau hanyalah angin yang menampar sekejap dan kemudian melanglang lagi. Menjerumuskanku dalam sentak dan derak. Menjebakku dalam ingatan-ingatan setan.


Tak ada yang bisa kugamit dan kucerna seperti apa hasrat-hasrat laknat. Seperti beruang kutub dengan hati yang tertutup ...



Jakarta, 15 Juni 2008
(dalam antuk sepi yang mengetuk-ketuk pintu)

*Terinspirasi lagu “Sundown at Midnight”, Fariz RM

12 Jun 2008

Malam Malam Retak


BULAN merah jambu. Hening ingin memunguti bintang jatuh melalui pucuk karsen yang bergoyang ditimpa angin. Tetapi sonata ini berhenti di kusen jendela, tempat ia menyulam mozaik malam. Malam yang renta dan selalu piatu.

Dua jam lalu ia menyimak Mama yang mematut di kaca dan menggumamkan lagu cinderela. Bibir itu tak henti tersungging. Bedak telah mengkilat. Baju sudah melekat. Hati Hening tetap meratap dan bertanya.

“Takkah kau lihat mamamu ini cantik, bidadariku? Takkah kau simak tubuh mama ini digilai setiap laki-laki?” Mama menari, menyibak bagian bawah rok bak Marylin Monroe. Mama memang seperti kutilang. Sebuah adonan sintal dan kerjap mata. Ruang menjadi benderang oleh payudara Mama yang mengayun-ayun seperti delima.

“Udah cantik, Ma. Kapan Mama mau berangkat?” Hati Hening melepuh. ‘Keberangkatan’ berarti sepi. Malam yang selalu berkerak. Mama tak ubahnya monster yang datang malam-malam, mendorong pintu dengan tergesa, menghambur ke kamar tanpa melepas sepatu, menguarkan alkohol yang melumuri anak tangga menuju lantai dua.

Seorang pria telah menjemput di beranda. BMW merah berpelat Yogyakarta. Senyum ramah ia sunggingkan kala berpamitan, tapi Hening seolah bertatapan dengan seringai serigala.

Hening mencintai Mama, meski perempuan itu bukan ibu kandungnya. Wanita yang slebor tapi lucu. Ia menggamit hati Hening yang perih karena sekian tahun ditinggal Ibunda. Saat berdua di pembaringan, Mama meminjami banyak kisah kehidupan. Diam-diam Hening memetik beberapa diantaranya untuk menambal sejumlah hal yang tak ia peroleh dari orang tuanya.

“Apa yang kau lihat dari Mama, bidadariku? Rembulan yang terbelah? Matahari yang terkapar? Ataukah debu?” Kata Mama suatu ketika.

Hening mengamat-amati Mama. Ada relung mata yang berselimut kabut. Ada pipi yang merona tetapi gundah. Bibir merekah, namun tampak ngilu. Beberapa uban meringkuk di atas telinga.

“Mama cantik,” ujar Hening sembari menyembunyikan dusta.

“Kau tidak jujur, bidadariku.”

“Setidaknya Mama membuat pria tergila-gila.”

Mama menatap Hening beberapa kejap, sebelum menuturkan hal yang membuat Hening sangat terkesima. “Tahukah kau, nak, Mama adalah binatang paling jalang yang pernah diciptakan Tuhan ….”

(Terinspirasi kisah Wiwied Nurwidyo, di Solo)

11 Jun 2008

Nyaris Mati


DUA kali saya nyaris mati.


Pertama ketika SMP. Entah setan mana yang menggoda, saya menyibak ladang jagung dan menemukan pohon kelapa yang saya yakini ada sarang burungnya. Saya naiki kelapa setinggi 5 meter itu dengan menenteng sangkar. Sangkar saya bawa untuk menjebak burung, dengan pintu yang terganjal kayu. Jika burung menerobos pintu ini karena tergiur umpan di dalam sangkar, maka ia menginjak ganjal sehingga pintu sontak tertutup. Burung kaget bukan kepalang, tapi terlambat. Ia terperangkap!


Sampai titik terakhir batang kelapa, saya aman. Tetapi saat saya menggapai pelepah untuk mencari penahan badan agar bisa menyelinap ke pusat pohon, saya tak menyadari bahwa pelepah ini ternyata telah kering. Pelepah kelapa yang kering tinggal menunggu waktu untuk copot dari batang.


Tak ayal tubuh saya meluncur deras ke bawah, berdebum dari ketinggian 5 meter, tertimpa pelepah kelapa, dan pingsan. Saya tak tahu bagian tubuh mana yang duluan mencium tanah. Yang pasti selang setengah jam kemudian (saya main kira-kira. Saat mulai memanjat pohon tadi matahari masih memancar. Ketika sadar hari sudah remang) saya siuman, tapi linglung.


Dua hari saya mengalami amnesia. Ibu sering tampak terguguk di sudut kamar karena saya menyebut nama sendiri saja tidak mampu. Saya tak ingat siapa Bapak, siapa pula para tetangga yang menjenguk. Saya benar-benar hilang ingatan dan sejam sekali muntah-muntah.


Seminggu kemudian saya berangsur-angsur sembuh. Ini keajaiban, sebab kelak di kemudian hari saya baru mengerti bahwa amnesia bisa berbulan-bulan sembuhnya. Ini barangkali karena upaya Bapak mengerahkan energi. Di kampung, Bapak dipercayai punya kelebihan.


***


KEMATIAN kedua pernah berniat menjemput saya ketika SMA, sekitar 1989. Pagi ketika berangkat sekolah, saya mencopot helm lantaran gerah. Melaju dengan kecepatan tinggi bersama Indah, adik saya yang waktu itu juga SMA, saya tak memperhitungkan bahwa di depan sana ada polisi.


Jarak 10 meteran tak cukup waktu untuk memakai kembali helm. Polisi di depan sana sudah mengacung-acungkan pentungan. Saya berpikir cepat. Saya terobos barikade polisi dengan harapan lolos dari jerat tilang. Kena tilang berarti didamprat oleh Bapak. Jika mampu melewati polisi-polisi ini saya pasti aman karena beberapa ratus meter lagi sampai gerbang sekolah.


Gebukan polisi terlewati. Indah menjerit-jerit lantaran tegang. Tapi saya tak hiraukan rengekannya. Tinggal melewati bus kecil di depan, maka kami aman.


Bus itu tak besar. Tetapi ketika saya berusaha menyalipnya, saya harus memindah gigi dua kali agar mencapai kecepatan maksimal. Kami hampir sampai ujung depan bus ketika mendadak meluncur sepeda dari arah berlawanan. Sepeda ini memboncengkan keranjang di sisi kiri kanan. Itu mengapa saya tak cukup ruang menyibak ‘gang sempit’ antara bus dan sepeda. Setang saya menyerempet keranjang sehingga motor oleng, kehilangan keseimbangan, dan meluncur deras ke depan bus.


Tentu sang sopir tak siap oleh kehadiran motor saya yang meluncur deras di depannya. Tak heran badan bus menggasak dengan keras dan tanpa ampun, menyeret saya sejauh 25 meter, dan baru berhenti ketika dua belah paha saya hancur karena diparut aspal. Posisi telungkup saya (dengan tertindih sepeda motor) memang memungkinkan badan saya rusak.


Ajaibnya, saya masih hidup! Jika terlambat beberapa detik saja, ban bus sudah melindas tengkorak, dan membuat otak saya berceceran di jalanan! Malaikat tidak mungkin tidur saat peristiwa ini terjadi, tetapi karena Allah masih cinta pada saya.


Juni ini, Insya Allah saya merayakan ulang tahun ke-37. Rejeki berlimpah tak ada bandingannya dengan nyawa. Terkadang saya berpikir, buat apa duit miliaran kalau hanya untuk mengundang risiko tertinggi? Nyawa dan kesehatan, bagi saya, adalah sesuatu yang maha mahal!

9 Jun 2008

Omong Kosong BBM


SAYA 'berpikiran kotor' setelah harga BBM naik. Saya berangan-angan orang malas keluar rumah, tak ada lagi macet, dan aspal menjadi selengang jalan-jalan di Korea Selatan. Tapi saya gigit jari. Macet tetap ada, meski tak sesuntuk Jakarta. Pagi, saat berangkat ke kantor, sebal tetap saja menggumpal.

Saat meluncur menuju tempat kerja, kisaran jam 6-7 pagi, jalan dari Plamongan Indah ke arah Simpanglima tak menyisakan sejengkalpun ruang untuk bernapas. Enam lampu merah di jalur itu menyusahkan siapapun karena semua tak mau mengalah. Orang menjadi gampang kesal dan emosional karena harus beringsut dan berjejal. Sepeda-sepeda seenak perut mengendap dan merayap. Mobil menyalip tanpa belas kasihan. Sepeda motor menukik tanpa hirau keselamatan sesama.

'Kejahatan' saya tak berhenti di sini. Saya juga berdoa agar mal menjadi sepi karena orang lebih mementingkan duduk di rumah untuk mengirit duit. Restoran kosong lantaran sea food tak lagi bisa dibeli. Pasar malam tak lagi diadakan. Simpanglima tak seberjejal biasanya pada Minggu pagi karena warga yang menyemutinya memilih tidur di pagi hari sebab malamnya begadang untuk menenteramkan bayi-bayinya yang tak lagi mampu meminum susu.

Dugaan saya, lagi-lagi, keliru. Mal masih riuh. Kafe masih penuh gelak tawa tanpa dosa. Simpanglima masih seramai biasanya, dan bahkan mereka menenteng belanja. Toko-toko tetap panen, pasar tradisional tak diselimuti wajah-wajah cemas, gedung bioskop tetap memutar film dengan penonton yang mengantre.

Ah, jangan-jangan cuma di Semarang. Siapa tahu di Solo, Yogya, Kudus, Jakarta, Surabaya, atau Medan pemandangannya berbeda. Tidak juga! Solo Grand Mall tidak lengang. Malioboro tetap dikunjungi turis domestik. Medan? "Siapa bilang sepi? Tuh orang-orang tetap girang! Bah!" Seru Marwis Umsa, kawan saya di Medan dalam SMS-nya.

Apa kesimpulannya? Harga BBM melejit, orang tetap tak menjerit. Orang-orang tetap belanja dan bersuka. Orang-orang tetap konsumtif dan "antimiskin". Orang tetap mempertahankan hidup lewat cara-cara yang mereka yakini. Kegembiraan, begitu ucap mereka barangkali saja, mahal harganya. BBM naik bukan alasan penting untuk menekuk muka dan menjilati lara, sebab hidup ini indah. Hidup ini cuma sesaat!

Ataukah kesimpulan itu timbul karena saya tak menyeruak ke lapis terbawah masyarakat? Atau mungkin cuma melintasi jembatan Banjirkanal menuju rumah, tanpa pernah berpaling ke orang-orang papa di bawahnya?

Mereka, barangkali, golongan paling tertikam dan tetindas!

6 Jun 2008

Kisah Ranting Patah

RANTING itu bukan salju. Ia retak dan kemudian tanggal, sementara salju bisa digumpalkan lagi dalam genggaman setelah pecah.

“Aku bahkan ranting di musim kemarau, Mas. Aku benar-benar patah,” begitu ucapnya dalam pagi yang gerah.

Pilu itu mengalir deras menyusuri udara, meletup dari sebuah sudut Kota Jakarta, terlempar dengan seksama menuju satelit di mayapada, kemudian tergopoh menghambur ke speaker ponsel saya. Tiba-tiba. Seolah mumi bangkit dari kotak mayat dan menghantui saya dengan lekas.

“Mengapa bisa terjadi?”

“Tak ada lagi tujuan. Itu alasan pacarku saat memilih untuk berpisah. Tak ada jalan. Tak ada rongga. Tak ada jalan setapak menuju huma. Tak ada lagi kemesraan di tengah kami … “ Ia mengguguk, pelan dan rentan.

Udara menyesap. Tetapi semilir ini tentu tak mampu menghalau pengap yang tengah berontak dalam aortanya. Saya turut sedih. Tak banyak yang bisa saya ucapkan kecuali membuatnya terus berbicara. Namun tersendat dan gagap. Ia mengiba dan lara.

Sambil mengerjap mata, saya mencari malaikat dan peri. Saya ingin menyampaikan kabar bahwa Tuhan senantiasa terjaga dengan tongkat wasiatnya. Tak satupun kereta berhenti, biarpun ia menumpahkan penumpang di setiap stasiun. Tak ada kapal yang bergolak dan karam, meskipun riak menghantam. Tak ada peluh yang habis hanya karena terlalu sering diseka.

Ia mulai memejamkan mata saat saya ceritakan kisah tentang “bintang jatuh”*). Namanya Yvaine. Ia luruh ke bumi, diperebutkan oleh para putra Raja Stormhold, sejumlah tukang sihir, dan Tristan.

Tristan adalah remaja tanggung yang mencintai Victoria setengah mati. Lantaran menggebu-gebu, Tristan berjanji memberikan “bintang jatuh” untuk hadiah ultah Victoria.

Tetapi garis nasib memutuskan lain. Pada saat pencarian yang sarat konflik dan berliku, Tristan justru terikat asmara dengan Yvaine, Sang Bintang Jatuh itu. Ia sadari, Victoria bukanlah kekasih dambaan hati. Di sisi lain, Yvaine menemukan pohon yang teduh dari mata Tristan, setelah ia begitu lama mengambang di udara saat menyinari bumi pada setiap malam.

Bintang yang jatuh tak selamanya hampa, sayang. Pasti ada keteduhan lain yang menunggumu, yang akan kau temukan jika kau sibak padang ilalang.



: Kepada Mungil yang tengah dihempas prahara
*) Disadur dari film
Stardust, besutan sutradara Matthew Vaughn. Stardust yang dirilis pada 2007 ini adalah adaptasi dari komik grafis karya Neil Gaiman (1998)




4 Jun 2008

Tiga Lagu Hebat




ADA tiga lagu yang membuat saya bersemangat. Celakanya, semua berbahasa Inggris. Pertama It Must Have Been Love (Roxette), lalu November Rain (Guns N' Roses), lantas Forever and One (Helloween).

Masing-masing punya sejarah.
It Must Have Been Love dinyanyikan seorang house keeper Hotel Graha Santika Semarang ketika Kelompok Gramedia merayakan syukuran (syukuran kelompoknya Kompas ini digelar setiap akhir tahun secara desentralisasi) di Semarang, sekitar tahun 1999.

Suaranya enak. Cengkoknya "Inggris" banget. Saya makin tertegun karena ujung-ujungnya saya ketahui bahwa si penyanyi adalah seorang
house keeper, yang, maaf, kerjanya bagian paling bawah di sebuah hotel. Namanya Mbak Sani.

Lagu N
ovember Rain saya kenali pertama saat sering dilantunkan Heidi Ibrahim, vokalis Power Slaves, grup band asal Semarang yang kini mati suri itu, awal 90-an, ketika Power Slaves belum tenar. Heidi begitu flamboyan saat menyanyikan salah satu hit Guns N' Roses ini. Ia mengenakan celana selutut, dengan tampang yang selalu tertutup rambut kala ia menunduk.

Lebih terpesona lagi ketika
November Rain saya simak lewat video klipnya. Dibesut dengan seting sebuah gereja, ada adegan ciamik tentang kematian seseorang. Di tengah klip, gitaris Slash keluar dari gereja, kemudian membetot senar dengan sangat menyayat. Angle hebat pun terbidik dari pengambilan gambar melalui helikopter yang berseliweran di gereja sehingga menimbulkan efek angin yang menerbangkan daun-daun kering.

Bagaimana dengan
Forever and One? Jujur tadinya saya tidak kenal lagu ini. Pertama mengenalnya saat saya mengantre di tukang potong rambut madura, tahun 1998. Saat kesal karena tukang cukurnya lemot, mendadak radio yang digantung dekat kaca cermin mengudarakan lagu tersebut. Setelah beberapa kali mendengar di kesempatan lain, tahulah bahwa lagu ini judulnya Forever and One.

Ketiganya saya bawa kemana-mana, dan menjadi lagu wajib di kala suntuk maupun girang. Di bandara ketika menunggu jadwal penerbangan, saya sempatkan menyolok
earphone ke laptop, mendengar tiga lagu tersebut secara berulang-ulang, sembari menyeruput teh.

Di bus patas, di kesendirian dalam kamar, di kantor menjelang kerja, bahkan di sebuah resepsian yang hingar bingar oleh solo organ, saya hantam kromo saja: mendengar lagu-lagu ini seraya manggut-manggut. Peduli setan dibilang edan!

It Must Have Been Love menawari beat yang semarak dan berjingkrak. Saya selalu larut dalam setiap tarikan napas Marie fredriksson, vokalis Roxette. Aura lagu itu merembes ke setiap pori-pori saya, menuang spirit dalam gumpalan-gumpalan adrenalin di kepala.

November Rain tampak dari luar sebagai lagu yang kencang. Namun, secara lirik maupun sentakan gitar yang menyayat, lagu ini sebenarnya berkisah tentang kesedihan. Rock yang "ramah lingkungan" dan mampu membuat dada bergemuruh. Saya selalu menikmatinya sebagai altar dengan bunga-bunga di permukaannya.

Forever and One setali tiga uang. Sebuah drama percintaan yang menggigit. Ia dibungkus oleh hentakan drum yang konstan dan menawan. Saya ingin menjadi Michael Kiske, vokalis Helloween yang belakangan cabut tersebut. Saya ingin berteriak lantang dari atas pentas, dengan semburan lirik: ... Forever and one, I will miss you. However, I kiss you, yet again, way down in Neverland. So hard I was trying, tomorrow I’ll still be crying. How could you hide, your lies, your lies ...

Uh!

Pele


TIAP Juni tiba, selalu saya teringat momen terbesar dalam perjalanan jurnalistik saya ini.

Matahari Kuala Lumpur tepat di atas kepala. Dari kamar 562 lantai 5 Hotel Regent, Jalan Hang Tuah, saya melongok ke bawah. Lalu lintas cukup padat. Mal di seberang hotel disemuti pengunjung. Saya terhanyut dalam kebergegasan Malaysia, tetapi benak saya sedang berada di hall hotel ini. Saya tengah menunggu aba-aba dari panitia Piala Dunia Junior untuk segera menghambur ke ruang pertemuan.

Tak lama, telepon di kamar berdering. “Selamat siang, Anda di tunggu di hall sekarang juga. Terima kasih,” suara lembut perempuan muda, dengan Inggris bercampur Melayu. Dalam kesempatan lain, mungkin ia akan saya ajak ngobrol karena suaranya sungguh merdu. Tetapi saya tak boleh berbasa basi kalau tak ingin ketinggalan momen besar.

Di hall, ubin seolah bergoyang tatkala pria hitam itu memasuki ruangan. Dada saya berdegup kencang. Lelaki ini, Edson Arantes do Nascimento, atau dunia menyapanya dengan “Pele”, menebar senyum. Standing ovation dilakukan hadirin. Lalu lampu kilat menghujaninya. Pele menebar senyum dan lambaian tangan.

Setelah bicara panjang lebar mengenai masa depan sepakbola– bergantian dengan sejumlah pembicara lain dari beberapa negara sepakbola – Pele mengakhiri makalahnya. Tepuk tangan bergema. Kemudian ada sesi foto bersama. Di antara jejalan undangan dari seluruh dunia, saya mendapat kesempatan berfoto dengannya. Foto yang sangat mahal. Saya berterima kasih pada Akihito Saito, fotografer asal Jepang yang membidik saya dengan Pele.

***

APA kabar, Pele? Pagi ini saya mendadak sangat rindu. Hangat telapak tangan Anda masih membekas hingga kini. Saya cermati foto kita berukuran besar di tembok rumah, dan saya kembali mendapati keramahtamahan Anda, meski momen itu telah berselang lama, Juni sebelas tahun lalu.

Anda terbesar dalam sejarah dan saya sangat beruntung bisa menyentuhmu. Nanti, kisah ini bakal saya tuturkan ke anak cucu.