Search

Memuat...

3 Okt 2011

Kembang Turi


PEREMPUAN itu menatap kembang turi di pekarangan rumah dengan seksama. Ia ingin menjadi kelopaknya, atau dahan yang mengaliri kembang turi dengan serat-serat makanan lezat.

Lalu, suatu ketika tatkala seorang ibu rumah tangga menyuguhi suami dan anak-anaknya dengan pecel atau gudangan kembang turi, maka perempuan yang menatap kembang turi dengan seksama itu seperti penari yang berjingkat-jingkat di atas lidah suami dan anak-anak ibu rumah tangga itu dengan irama dansa yang mempesona.


Sudah lama ia ingin menjadi kembang turi. Saat hari pertama di Sekolah Dasar, murid diwajibkan maju ke depan kelas, mengenalkan diri. Tibalah giliran perempuan itu maju. "Nama saya Erliana, alamat di gang nomor enam ... " Ia berhenti. Bu guru pun bertanya, "Nah, cita-citamu apa, Erliana?" Anak itu menjawab sekencangnya yang membuat kelas itu sontak gaduh oleh tawa, "Saya ingin jadi kembang turi ... "


Kembang turi memasuki mimpi-mimpi Erliana. Tas, buku tulis, buku gambar, semuanya penuh gambar kembang turi. Ia memandangi gambar-gambar itu saat ayahnya memboncengkannya pulang-pergi sekolah dengan sepeda. Ia mencuci kaki dan tangan, kemudian makan, dan matanya kembali jatuh ke kembang turi di sampul buku dan tasnya ketika ia sendirian di kamar.


Bolamatanya menyipit, dahinya berkerut, dan alam lain lalu menyedotnya, menyeruakkannya ke dunia antah berantah. Di sana ia menjadi ratu dengan kembang turi menyelinap di atas telinganya dengan belasan pangeran yang menatapnya takjub ... sampai kemudian ibu menepuk bahu Erliana, membangunkannya dari lamunan.
"Ayo sholat dulu sana!"

Kembang turi. Ah, mengapa ia menggantung dengan badan yang segar di ranting yang kering, dengan kelopak-kelopak yang ranum padahal turi tumbuh di pematang sawah yang terpanggang matahari?

Mengapa turi yang batang dan dahannya keras, cokelat mengelupas, dan tak menarik itu menetaskan kembang-kembang yang sekemilau mahkota?
Erliana juga tak habis pikir, mengapa kembang turi sangat gurih. Mengapa kembang turi tidak wangi namun enak rasanya sehingga menciptakan cemburu buta mawar, melati, dan bunga kamboja?

***


BERTAHUN kemudian, ketika ia dibawa suaminya ke kota untuk tinggal di sana, tak lagi ia lihat kembang turi. Bahkan ia melupakannya.

Sampai suatu ketika, di suatu malam dengan hujan yang tumpah ruah memalu genteng dengan amat keras, tiba-tiba kembang turi melintas dalam pikirannya. Dan di tengah malam itu ia sangat ingin mengunyahnya. Sangat ingin!


"Pi ... mimi pengen maem gudangan kembang turi. Cariin, dong ... " ucapnya memelas sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit ...


***

26 Okt 2010

Kamu Tak Boleh Pergi


Pernahkah kau merasakan datangnya gerimis yang menitik bertubi-tubi ke hati? Pernahkah kau diremas rindu yang bertalu-talu mengetuk kalbu? Seperti air terjun, Ayu, rasa itu ngilu seperti tergores sembilu.

Mimi melipat surat. Memasukkannya di loket kantor pos. Dan kemudian menyuruk langkah menembus gerimis, mengejar waktu tersisa sebab sepuluh menit lagi ia harus bekerja, kalau tak ingin Aris memelototkan mata karena jam makan siangnya terampas oleh keterlambatan Mimi.

Bisa saja ia mengirim e-mail, atau cukup SMS. Tapi Mimi ingin meluapkan denting hatinya melalui goresan tinta. Ia ingin mengabarkan pada Ayu yang kini mukim di sudut Kota Kendal sana tentang airmata. Dan ada pula bangga yang menyelip di hatinya tatkala dulu Ayu pernah memuji tulisan Mimi yang rapi.

Di balik kaca showroom-nya, Mimi termangu. Begitu banyak orang berseliweran, begitu riuh tempatnya bekerja, tetapi hatinya sunyi. Berkelebat bayangan pria dengan tawa kecilnya yang mengganggu malam-malamnya. Ia datang tanpa diduga dalam mimpi-mimpi kecil Mimi, menyenandungkan lagu syahdu, berteriak kecil manakala datang cubitan lembut di perutnya. Mimi tersenyum bila mengingat betapa pria itu gampang geli, bahkan ketika Mimi cuma menyentuh tengkuknya.

Pria itu bukan siapa-siapa tadinya. Ia berdiri di ujung jembatan tatkala gerimis membuat licin jembatan bambu yang menghubungkan kampungnya dengan kampung sebelah. Sudah senja pula. Langit seperti cungkup bengis yang meremangkan bumi melalui mendung tebal.

Mimi terpeleset. Tubuhnya limbung. Sedetik lagi tubuhnya akan melayang, dan mencebur ke sungai berarus deras di bawah sana, kalau saja tangan kekar itu tak datang secara tiba-tiba dan menangkap lengannya.

"Tak apa-apa. Kamu sudah aman sekarang," ujar pemilik tangan itu, dengan nada yang amat menenteramkan.

Masih dengan napas memburu, Mimi mengamati pria itu. Bukankah ia tadi masih berdiri di ujung sana untuk mengantre jembatan saat aku menyeberang? Manusia atau bukan? Mimi bertanya-tanya. Tapi itu tak penting. Yang penting kini ia selamat.

Lalu, dengan sabar pria itu menuntun Mimi hingga ujung jembatan. Gerimis reda. Pria itu membantu menangkupkan payung, dan kemudian berlalu. Diam-diam Mimi menyesal karena tak sempat mengucapkan terima kasih.

Tetapi dunia tak selebar yang disangka-sangka. Seminggu kemudian Mimi menjumpai pria itu lagi di sebuah pesta pernikahan seorang kawan. Memakai baju putih dengan celana casual berbahan jins, Mimi sempat tak mengenalinya. Saat berpapasan di perjamuan makan, pria itu memberinya senyum. Itu senyum terindah yang pernah Mimi lihat. Ditelitinya, apakah si pria bersama seseorang di resepsi ini. Setelah dirasanya aman lantaran tak bersama siapa-siapa si pria, Mimi mendekati. Ah, untuk sekadar berterima kasih, boleh dong menyambangi seorang pria, batin Mimi.

"Terima kasih, ya, kemarin aku ditolong sama kamu," ucap Mimi seraya mengulurkan tangan. "Aku Mimi. Kamu siapa namanya?"

Pria itu meraih tangan Mimi setelah mengusap-usap telapaknya yang sedikit kotor oleh sambal dengan tergesa ke celana. "Oh, iya. Iya sama-sama. Aku Pipi. Loh, kok namanya bisa Mimi-Pipi ... " Ucapnya tergelak. Mimi pun tak bisa menahan tawa ...

***

Pria dengan tawanya yang khas, dengan alis tebal, rambut yang lucu. Mimi pernah bermimpi bersuamikan pria tinggi yang cerdas. Dan Tuhan memang tak pernah tidur.

Ia menerima lamaran Pipi suatu hari, tiga bulan silam. Rembulan begitu rendah malam itu. Angin bergerak perlahan, menciptakan aroma kembang di ruang tamu tatkala keluarga Pipi datang berombongan. Hingga dinihari Mimi diliputi senyum yang terus mengembang.

"Tiga ya," rajuk Pipi.

"Dua saja ah. Memang enggak capek apa melahirkan? Kamu sih enak, cuma bikin tapi nggak ikutan ngeden," cemberut Mimi.

"Iya, deh."

"Awas kalau udah dua minta nambah lagi!" Mimi mencubiti pinggul Pipi, membuat Pipi blingsatan kegelian.

Tanggal 20 Februari. Itulah pelaminan yang direncanakan. Tiap pagi, saat matanya membuka, Mimi menghitung hari. Rasanya waktu bergerak lamban. Rasanya jarum jam sengaja menggodanya dengan perlahan-lahan jalan.

Tinggal satu setengah bulan lagi saat-saat membahagiakan itu tiba, ketika suatu sore ponselnya bergetar. Mimi menyambar handphone, mengamati nomor. Tak tercatat dalam memorinya, tapi tetap ia angkat.

"Mbak Mimi ya?" Ujar suara di seberang. Seorang pria.

"Iya benar. Dengan siapa saya bicara?"

"Ini Han, teman kantor Pipi. Saya mau mengabari bahwa Pipi sekarang di rumah sakit. Mbak segera ke sana. Pipi pingsan tadi ... "

Wajah cokelat itu kini pucat. Mimi berdiri di seberang pembaringan, menatap pipi Pipi, menyentuh rambut yang tinggal satu senti. Pipi harus dikemoterapi, dipangkas rambutnya hingga pelontos untuk mempermudah dokter melakukan operasi. Kanker otak. Sebuah vonis yang meluruhkan segenap saraf Mimi hingga ia lemas tanpa bisa berkata-kata.

Hampir sebulan Pipi dirawat. Ia telah melewati masa kritis paskaoperasi. Tiap pagi, saat Mimi membawakan bubur ayam, Pipi memberi senyum lewat kerdipan mata, seolah-olah ia ingin mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Mimi tak mampu menahan haru. Diusapnya tangan kekasihnya. Memberi aliran hangat. Membisikkan kata-kata indah. Mengelap keringat di leher, dan kadang ia sampai tertidur di bibir ranjang dengan kepala tergeletak setelah lelah melafalkan doa-doa.

"Kamu nggak boleh meninggalkan aku. Nggak boleh! Kamu jangan pergi! Kamu jahat!" Lalu seseorang menepuk-nepuk pundaknya hingga mata Mimi nyalang. Ia mengusap-usap mata. Mengingat kembali kepingan-kepingan mimpi barusan tadi. Ia mimpi Pipi tengah meregang nyawa di ruang ICCU rumah sakit. Airmata Mimi meleleh, dan kemudian tersedu sedan ...

***

Sore setelah tadi mengirim surat ke Ayu, Mimi tetap termangu-mangu. Ia melayani costumer tanpa gairah. Nasi bungkus yang dibelikan Kinan pun belum disentuhnya. Untunglah teman-temannya memberi perhatian lebih. Mereka tak lelah menghiburnya.

Mimi melirik arloji. Jam empat. Sudah waktunya salat. Ia beranjak meninggalkan meja, mengambil mukena dari ruang dalam. Lalu sebelum ia meminta ijin Kinan untuk salat, matanya bersitatap dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu showroom.

Mimi mengerjap-ngerjapkan mata. Mengawasi dengan seksama siapa yang berdiri di sana. Seulas senyum mengembang di bibir pria yang kurus, berambut tipis, tapi tetap gagah itu. Mimi tak asing dengan senyum itu. Ia berlari tergopoh menuju pintu ...

13 Sep 2010

Iklan Sejati, Simpel, Macho, dan Pintar


IKLAN Rokok Sejati mengingatkan saya pada kedigdayaan Rokok Bentoel merenggut Piala Citra Adhi Pariwara 1993. Bentoel, dengan suguhan iklan berupa gambar megah-detail dengan sentuhan jingle "I Love Blue Indonesia", tanpa banyak mengumbar kalimat-kalimat "jual obat", begitu asyik dan menorehkan romantisme.

Citra Adhi Pariwara ialah sebuah sayembara yang digelar RCTI dan SCTV (semasa mereka masih satu grup), yang berbiaya penyelenggaraan cukup besar dengan menyediakan hadiah total Rp 60 juta untuk memancing minat pemirsa.

Sampai hari terakhir sayembara (saat itu), 1.928.034 lembar kartu pos masuk, bahkan dikirimkan pula dari wilayah yang tak bisa menangkap secara langsung siaran RCTI/SCTV dan harus menggunakan antena parabola seperti Makassar, Klaten, Semarang, dan Purwakarta.

Bentoel International unggul karena dipilih 138.727 pemirsa. Iklan odol Close Up masuk peringkat kedua, dipilih 100.715 pemirsa. Urutan selanjutnya: iklan obat batuk Komix (83.641 pemirsa), iklan obat Promag (81.712), iklan sampo Dimension (70.323), iklan korporasi Marlboro (38.110), iklan obat nyamuk Baygon (33.901), iklan mi Indomie (32.311), iklan sirup Nutrisia (30.421), dan iklan pesawat televisi Digitec (28.510).

Sayembara iklan dengan publisitas luas itu bukan sekadar mengukur kebagusan iklan televisi, melainkan juga menegaskan tampilnya kecenderungan baru dalam strategi periklanan di Indonesia: menguji pesona iklan di kalangan masyarakat (konsumen).

Belasan tahun kemudian, pada era terkini ketika Sayembara Citra Adhi Pariwara sudah tak lagi ada, iklan di televisi begitu kusam dan menjemukan. Para pengiklan tak ubahnya penjual obat di trotoar, dengan jargon-jargon: "Pakailah shampo ini karena akan membuat rambut Anda indah", atau "Mengapa pakai pembalut yang lain ketika pembalut kami membuat Anda lebih nyaman bergaul?"

Pemirsa televisi dipaksa untuk bodoh dengan propaganda iklan (baik yang menjerumuskan, maupun produk tertentu memang benar-benar berkhasiat dahsyat), sehingga konsumen dipaksa terpojokkan harus memilih sabun anu, atau obat maag itu, tanpa kesan mendalam, tanpa masyarakat diberi ruang untuk berapresiasi (karena sesungguhnya iklan televisi juga media seni dan sarana memintarkan pemirsa).

Iklan tivi di Indonesia rata-rata memang cerewet. Tak peduli calon konsumen bakal paham atau tidak, mereka dipaksa menelan istilah-istilah biologi, kimia, ilimiah (macam cocoba di iklan shampo); dan bahkan tak jarang iklan memaksakan seorang bintang menjadi tokoh utama dengan pencantuman namanya di iklan bersangkutan plus tandatangannya. Seolah-olah produsen begitu tak percaya diri pada produksinya sehingga perlu 'onani' agar orang mau berbelanja.

Sejati Iklan, Iklan Sejati

Kembali ke Rokok Sejati. Apa kira-kira yang menawan hati Anda tatkala menyimak iklan rokok ini? Tentu pemilihan tema, sudut pengambilan gambar, kualitas pencahayaan, pemilihan pemain, dan tahu benar bagaimana menyampaikan pesan.

Tema-tema iklan rokok ini, mulai versi "Dangdut di Atas Truk", "Pasar Malam", "Cikulon", hingga edisi "Mudik", seluruhnya bertutur tentang "solusi sederhana bagaimana menaklukkan problem berat".

Pemilihan lokasi syuting pun menerjemahkan bagaimana sesungguhnya rokok ini membidik segmen, yakni daerah pinggiran. Daerah yang tak perlu megah-mewah karena sebenarnya konsumen rokok bukan hanya penghuni apartemen atau juragan dealer mobil.

Versi "Dangdut di Atas Truk" menyuguhkan kreativitas yang dibutuhkan guna meramaikan kembali warung yang sepi dengan teknik simpel tapi memikat masyarakat. Edisi "Pasar Malam" dikisahkan bagaimana menghidupkan kembali generator yang rusak hanya dengan mekanisme sepeda motor.

Jilid "Cikulon" pun begitu. Wilayah yang gersang dan sepi sebuah dusun mendadak ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dengan cara propaganda yang sederhana. Lalu, di edisi terbaru bahkan lebih 'manusiawi' dengan menyajikan seorang pemuda yang merelakan diri menjadi pahlawan bagi kawan-kawannya yang karena sesuatu hal tak bisa mudik Lebaran.

Kemudian, di akhir iklan, slogan "Sejati emang bikin bangga" pun didengungkan. Ya, hanya kalimat itulah yang menegaskan bahwa ini iklan rokok. Bukan dengan pesan "belilah rokok kami, karena kami lebih enak!"

Karena merek rokok adalah Sejati, maka tak pelak dipilihlah bintang iklan yang mewakili pria macho, pintar, gagah, dan ganteng. Tiap menggelar audisi (terakhir bulan Maret lalu, seperti yang saya baca di sebuah situs), syarat-syarat bagi pelamar ialah usia 25-30 tahun yang ganteng, macho, dan diwajibkan memakai kemeja plus celana jins. Itu untuk pelaku utama. Untuk pemeran pendukung cukup berwajah lucu dan bahkan boleh berbadan pendek.

Di tengah ketatnya persaingan industri rokok, Bentoel Group (produsen Rokok Sejati) berhasil membukukan pendapatan Rp 2,8 triliun pada semester pertama 2008 (tahun pertama Sejati diproduksi). Itu berarti terjadi peningkatan 37 persen dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Ingin tahu omzet sebesar itu didongkrak dari merek yang mana? Bisa ditebak: Sejati!

Masyarakat sudah bisa memilah mana iklan buruk, menggurui, dan brengsek, dengan mana iklan pintar dan tak ceroboh. Itu sebabnya Rokok Sejati kini menjadi rokok alternatif di sebelah Dji Sam Soe, Sukun, atau Sampoerna Hijau, lantaran iklannya memikat. Padahal Sejati tergolong pendatang baru. (*)

(Tulisan ini disusun berdasarkan apresiasi pribadi belaka, plus sedikit pertimbangan teknis periklanan. Tak ada pesan sponsor atau keberpihakan untuk kepentingan tertentu selain upaya memintarkan masyarakat)



8 Sep 2010

SAYA PULANG, BU


Lebaran tahun ini adalah Lebaran yang kesekian rumah hanya terisi Bapak, Ibu (Endang), dan beberapa topeles makanan dan bergelas-gelas teh. Di atas tikar, di ruang depan, Bapak bersila dengan sarung yang tak lagi baru (entah mengapa sarung yang ia pakai bukan sarung yang saya belikan, tapi memilih sarung yang dibelikan Ibu). Sementara Ibu (Endang) sesekali menerima tamu.

Mengapa saya menulis Ibu dengan Endang dalam tanda kurung? Sebab Bu Endang adalah wanita pengganti Ibu. Ibu meninggal tahun 1993, meninggalkan kami dengan bertangkup-tangkup kenangan yang selalu membuat saya menangis tiap Lebaran tiba.

Saya biasanya pulang saat Lebaran pertama. Memasuki halaman rumah, dada saya sudah mulai sesak. Dulu, Ibu menyambut kami, anak-anaknya, dengan wajah riang di depan pintu. Lalu kami dirangkul satu persatu. Eni, si bungsu, paling lama dikecup rambutnya. Bungsu yang bandel, bungsu yang cerewet, tapi Ibu amat menyayanginya.

Kini, tak ada lagi senyum itu. Tak ada yang memasakkan ayam dari peternakan sendiri. Tak ada yang bersuara lembut ketika menyodori kami kue-kue bikinannya. "Coba cicipi ini. Ayo coba, dong. Ibu susah payah membikinnya," ucapnya dengan kebanggaan yang tersirat. Kami pun lahap mengunyah, dan terkadang saya bohong karena kue itu sebenarnya biasa-biasa saja rasanya tapi saya mengatakan enak sekali agar Ibu senang.

Di rumah, saat takbir sayup-sayup terdengar, saya menatap foto Ibu di tembok ruang dalam. Tak ada orang yang mengawasi saya, tapi Tuhan menyaksikan saya menangis, bahkan sesenggukan. Ia kini hanya bisa saya tatap lewat foto dengan senyum lembutnya yang tak pernah luntur.

Sering tanpa sepengetahuan siapapun ia menyelipkan 100 ribu ke kantong saya saat adik-adik asyik mengobrol sendiri. "Buat nanti minum di jalan. Tak perlu kamu bicarakan soal uang itu ke adik-adikmu, biar mereka tidak iri. Panen tak seberapa banyak tahun ini, jadi Ibu harus mengirit," katanya, dengan elusan di rambut saya yang menciptakan kerinduan yang mendalam ketika ia kini sudah tak ada.

Saya masih menatap foto Ibu saat membayangkan selang-selang infus itu menancap lengannya, dengan oksigen yang senantiasa menangkup sebagian wajahnya. Ruang ICCU RS Telogorejo sepi sunyi tengah malam itu tatkala seorang suster memegang pundak saya. Dengan sangat berhati-hati, ia mengabarkan bahwa Ibu telah tiada ...

Ibu, Lebaran ini saya pulang. Tidurlah dengan tenang.