MENGGUMAMKAN TANAH AIR ANGIN API
Kamis, Februari 04, 2010
Li Na

Entah terbuat dari apa kau, Lin. Serat-serat kulitmu terbujur teratur. Buku-buku ototmu berjajar seperti perca.

Pagi-pagi dan malam-malam aku sibuk mengumpulkan denyut jantungmu di punggungku. Kurangkai hembus napas itu, menyatukannya dalam hati yang temaram. Lalu kukabarkan cinta tatkala senyummu mengubur rekah amarah.

Entah kau ini terbuat dari apa sehingga hatiku dipenuhi akuarium. Ikan-ikan menari dan berkecipak di dalamnya. Ikan penuh warna dan semuanya bermata lentera, mirip matamu ketika memandangku.

Tak ada yang mampu menghitung betapa kali aku jatuh cinta kepadamu, sebab setiap detik cinta itu menetes deras. Menyuburkan kecambah, mengalunkan asmaradana untuk peri-peri kecil di hati kita.

Matamu itu selalu biru dan ungu. Mata yang senantiasa mengatakan cinta. Menghela kelenjar darahku untuk mengalir dengan gegas.

Banyak lagu disusun dalam partitur dan not balok. Tapi lagumu tak perlu itu, sebab segera mengayun lewat kecupan yang lembutnya tiada tara. ...

Label:

Dituang dengan sejujurnya oleh Arief Firhanusa @ 4.2.10   3 komentar
Jumat, Januari 29, 2010
Wanita Tercantik di Dunia

"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah kepak merpati dengan kulit kuning langsat itu," godanya, suatu ketika.

Bukan! Bukan menggoda! Ia selalu mengatakan yang sebenarnya tentang tahi lalat di bawah mata, tentang rambut hitam tebal Lina, dan tentang jari-jemari kekasihnya yang runcing dan langsat.

Ia menemukan Lina di tangga sebuah pertokoan. Mata Lina mengerjap dan membius, membuat pria itu bertekuk lutut. Lalu ia meminta nomor telepon, mengucapkan kalimat-kalimat yang samar karena ia gugup.

"Aku akan menelepon. Kamu kos di mana?" Tanya dia.

Lina menyunggingkan senyum. Sederet gigi dengan pesona luar biasa. Membuat jantung pria itu berdenyut. "Saya kos di belakang situ. Mampir kalau ada waktu," ucap Lina, dengan benih-benih cinta.

Cinta? Apakah sekelumit perjumpaan itu bermakna cinta? Pria itu berkaca. Memandang Lina berkelebat dalam cermin, mengingatkan padanya pada sebuah pertemuan awal, sekian bulan lalu. Pria itu hanya menawarinya tumpangan, dan kemudian menurunkannya di sebuah perempatan. Tetapi setengah jam cukup untuk meliarkan perasaan.

Sekian bulan kemudian bertemu di tangga toko itu. Dan kemudian, hingga kini Lina tetap menjadi bidadari, dengan isak tangis yang sesekali memasuki relung telinga pria tadi, ketika keduanya perlu menangisi sesuatu.

"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah tambatan hati dengan asmara yang tak terperi," ucapnya setiap kali.

Bukan ucapan biasa, sebab tak ada makhluk lain yang mampu menandingi kecantikan itu. Lina memiliki tubuh semampai, yang teratur dan ritmis saat berjalan. Lina pulalah yang punya ledak tawa lucu tapi menciptakan rindu.

Pria itu rindu dendam setiap waktu, seolah langit segera runtuh jika sehari tak bertemu. Ia tak berselera makan tanpa Lina di sisinya. Tanpa Lina, ia tak tidur dengan nyenyak. Tanpa bidadari itu, hidup terasa semu ...

Pagi ini -- dan pagi-pagi berikutnya sampai ajal tiba -- selalu ia ucapkan kalimat yang membuatnya merasa nyaman karena diselimuti cinta: "Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina."

Label:

Dituang dengan sejujurnya oleh Arief Firhanusa @ 29.1.10   2 komentar
Kamis, November 26, 2009
KAU TELAH MELAKUKANNYA

KAU telah melakukannya dengan sempurna, meski ada keresahan dalam hatiku, benarkah ini bukan mimpi?

Sejak pertama menatap matamu aku telah menemukan desir ombak. Ada kerlip cinta yang menyala-nyala. Mengubah diriku menjadi kanak-kanak. Membawa diriku pada kenangan masa remaja.

Di sebuah malam pernah kau bertanya, "Bagaimana kalau kita pergi saja, mengikuti angin dan padang belantara, memisahkan diri dari keruwetan pikir, membangun istana di gua atau di pucuk cemara nun jauh di sana?"

Aku kelu dan tak mampu menjawabmu sebab setiap kita bertemu bukan bahasa lisan yang keluar, melainkan bahasa tubuh yang tak lelah memacu keringat. Kita meniti malam-malam dengan bunga sedap malam. Kita lalui bulan demi bulan dengan terang bulan.

Benar-benarkah kau mencintaiku? Benar-benarkah kau mampu menerima keterbatas-keterbatasan? Barangkali pertanyaan itu terus menerus mengganggu hatimu, mengganggu juga hatiku. Pertanyaan yang justru menyuburkan cinta karena sebenarnya kita tak memerlukan jawaban sebab pada setiap kita berjumpa, selalu ada cinta di tatap mata kita yang bersentuhan.

Ah, andai saja kita bersanding tatkala rintik gerimis mengguyur tanah dan aspal seperti saat ini. Sedang apa kau di sana, cinta?

Label:

Dituang dengan sejujurnya oleh Arief Firhanusa @ 26.11.09   6 komentar
Selasa, November 03, 2009
ELANG DARI GOENOENG

SIANG meretas naik ketika elang itu menukik. Wahai angin, mengapa kabarmu mendadak begitu rupa?

Rindu pada angin, rindu pada gelegak samudera. Rindu ini memecahbelah kepala, menautkannya pada sebuah perahu yang terseret ombak dan onak.

Kami bercengkerama. "Jangan di beranda!" Ujar saya seraya membimbingnya ke ruang tamu, mengenalkannya pada hembus angin keluarga saya.

Lalu bernyanyilah sonata. saya menatap elang di matanya, di bawah gerai rambut yang selalu begitu dari waktu ke waktu. "Saya perlu puisi, saya butuh sandaran hati," ucapnya lirih, menyenandungkan kenangan kafe dan sesendok gula.

Puisinya mengajak saya berkelana, dari Yunani hingga Rusia, dari Jogja hingga Blora, dari Pati tempat kelahirannya, hingga Banyumanik tempat ia menetas dan menyemburat.

Puisi pula yang menyambit aorta darah saya, mengalirkan benih-benih bugenvil, menyiraminya hingga waktu tak terbatas. Saya tersentak karena tiba-tiba saya dibangunkannya persis ketika jendela itu terbuka dimana saya segera bisa menatap padang Savana melalui rongga udara.

Tak genap setengah jam kemudian elang itu terbang, kembali ke ujung Goenoeng ...


*Rindu bertalu buat Mas Goenoeng

Label:

Dituang dengan sejujurnya oleh Arief Firhanusa @ 3.11.09   5 komentar
PESELANCAR KABUT

Arief Firhanusa
MUKIM di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
SETELAH bilur-bilur luka menciptakan perih berkepanjangan, saya hendak beranjak, memunguti serpihan mutiara yang tercecer untuk mendayung sampan. Bosan rasanya memasung rembulan. Saya ingin menjadi kabut, kemudian berselancar dalam embun yang turun dari pucuk daun bambu ...
KLIK ini untuk intip profil saya
GUMAM SEBELUMNYA
LACI ARSIP

RENTANG BENANG

klik di sini untuk download shoutmix
SUMBANGSIH DARI

Blogger Templates

BLOGGER