Search

19 Mei 2009

RIKU, MORAL, DISIPLIN, CERMIN


SAYA 'sangat marah' pada Mbak Imelda Courtier. Bagaimana tidak, pagi-pagi ia menggugah airmata saya untuk meleleh liar ke bawah.

Ia bertegur sapa biasa dengan saya awalnya. Lalu, jemari saya tergoda untuk membuka website ini. Kata demi kata saya lumat, saya kunyah, dan ... saya sesenggukan.

Adalah Riku. Ia anak pertama Mbak Imelda hasil pernikahannya dengan pria Jepang bernama Gen, berusia 6 tahun. Sepulang dari bermain di rumah teman, Riku membawa selembar kertas laporan penemuan uang, dari polisi. Berapa uang temuan Riku sehingga ia perlu melaporkannya ke polisi? Sepuluh yen, alias 1000 rupiah!

Dua hal membuat saya takjub (dan ujungnya saya tak sanggup membendung airmata itu), pertama kejujuran Riku. Ia tak bergegas mengantongi 10 yen ini atas nama 'kebanggaan' lantaran menemukan duit tercecer, lalu membeli permen; melainkan segera ke kantor polisi untuk mengadu.

Kedua, polisi Jepang tak menganggap Riku main-main, tetapi segera mencatatnya dalam berkas penemuan, dengan kertas formal, teliti, dan resmi! Bahkan malamnya kantor polisi bela-belain menelepon ke rumah Mbak Imelda untuk konfirmasi. Olala! Di kantor polisi negeri ini, para aparat sudah pasti bakal berkata: "Sudahlah, nak, kantongi saja uang itu untuk jajan di sekolah."

Riku boleh jadi adalah 'lem' perekat cermin retak negara Indonesia di sektor moral. Polisi Jepang adalah cermin bening kinerja aparat negara-negara dimanapun di dunia yang masih slebor dan korup. Mereka profesional karena budaya disiplin yang sudah mengerak.

Dari beberapa dialog dengan Mbak Imelda saya memetik sejumlah pelajaran tentang bagaimana mengajari anak berperilaku, bagaimana mendidik anak menjadi berkarakter. "Apa yang dilakukan oleh orangtua adalah apa yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Tugas orangtua adalah memberitahu, menerangkan, dan mengatakan apa yang baik dan apa yang buruk, dengan sikap dan ucapan yang bisa diteladani," ucapnya.

Dalam konteks di atas, "orangtua" bisa disematkan di pundak para pemimpin negeri ini. Tauladan adalah kaca: jika para penyelenggara negara mencuri, maka bawahannya hingga akar juga mencoleng. Polisi Indonesia tak malu mencari-cari kesalahan pengendara di jalan raya karena pimpinannya juga menerima amplop. Pelayan masyarakat mau disuap karena atasannya juga maling.

Begitu seterusnya, hingga sampai nenek moyang kita suatu saat nanti mendadak hidup lagi, luka busuk ini tak bisa diobati!

Menggiring anak-anak biar berakhlak mulia juga tak mudah. Seperti kata Mbak Imelda, sekali kita salah mengucap, maka anak-anak juga meniti jalan yang salah, meski bila orangtua mau telaten untuk memperbaiki maka bukan tak mungkin kesalahan jalan anaknya bisa diperbaiki.

Padahal, porsi orangtua menjaga anaknya cuma sekian persen. Sekian persennya lagi -- dan celakanya porsinya lebih besar -- anak terbentuk dari pergaulan. Dari pengalaman saya, orangtua dan sekolah saling lempar tanggungjawab bila satu kejadian buruk menimpa anak!

Jujur saja, saya belum menjadi ayah yang baik bagi anak. Tentu saya perlu banyak belajar dan membaca agar menjadi idola bagi mereka.

12 komentar:

The Bitch mengatakan...

riku punya ibu hebat. bapaknya mah ga kebagian hebat. soalnya ibu adalah tempat anak belajar pertama kali.

ibuku juga hebat. ga bunuh diri punya anak yg bandelnya kek setan gini. haha!

Ikkyu_san a.k.a imelda mengatakan...

Waaah... marahnya sama saya jangan lama-lama ya mas...heheheh.

Tapi saya yakin kok, kita semua bisa menjadi orang tua yang baik. Dan jangan lupa: JANGAN MALU minta maaf juga pada anak. Tunjukkan bahwa orang tua juga manusia yang bisa salah. Dan anak-anak juga akan segera minta maaf jika salah dan tidak mengulang lagi.

EM

ernut mengatakan...

saya baca kisah riku yg dikisahkane kembali oleh mas arif juga ikut mbrebes mili....salud untuk riku dan para orang dewasa disekitarnya yang membentuknya menjadi seperti itu..

goresan pena mengatakan...

hem... iyah, Riku hebat yah...:)

V mengatakan...

Wow wow, salut sm riku. anak kecil yg jd contoh bg kita semua untuk jujur. jd malu deh kita2 orgtua yg celingak celinguk nemu 10.000, berharap ga ada org yang ngeliat kt ngantonginnya, hihihihii

Zaky mengatakan...

Dalam banyak hal kita emang kalah sama Jepang mas. Sampai-sampai dulu seorang kawan menyeletuk begini, rugi kita pernah dijajah sm jepang, karena kita enggak mampu mencuri kedisiplinannya.

rien mengatakan...

kata orang, anak-anak adalah kertas putih. tergantung gimana ortu dan lingkungkan mendidiknya biar kelak jd burem atau bening. ih, jd pengin punya anak, heeee

lintang mengatakan...

terima kasih mas cerita ini memotifasi saya menjadi ibu yang lebih baik lagi.

G mengatakan...

Jujur saja, saya belum menjadi ayah yang baik bagi anak. Tentu saya perlu banyak belajar dan membaca agar menjadi idola bagi mereka.Psst..., siapa bilang jadi orgtua itu mudah, ya kan? (^_-) Lupa bhw anak meniru, anak mencontoh, so tggjawabnya berat ya ternyata. Buat AF, selamat berjuang.. jalanmu memang masih panjang dan berliku, hahaha.. klo mau dibuat berliku siy.. (^__^) *lari ngejar bis sebelum dipentung*

Kalo mbak EM dan Riku siy.. saya ga heran deh, makanya saya termasuk fans beratnya EM (^_-)

goenoeng mengatakan...

buat Riku dan mbak Imel, aku nggak komen deh. memang sudah teruji, sip !

aku mau komen buat yang punya blog, kok senenge nangis ta ? hehehe...

blue mengatakan...

Jujur, saya suka gambarmu ini bang...
*ngilu liatnya*

G mengatakan...

@Goenoeng, hwahahhaaaaa... itu tuuuh yg juga menjadi pertanyaan saya, huehuehueee........ *ternyata menangis bukan hanya "senjatanya" peyempuan seperti kata sahibul hikayat...kekekeke*

NB: AF ini bukan keroyokan, saya hanya mbututin mas Goen (^^,)