Search

26 Mei 2009

MANIK MATA PERMATA


KAFE Mantra suatu petang. Ia duduk bertopang dagu. Seorang perempuan. Benar-benar perempuan dengan rambut hitam tebal legam, hak tinggi, dan mata dimaskara.

Aku sangat ingin mendekatinya. Dua menit melihatnya dan aku langsung jatuh cinta. Tetapi harus kumulai dengan apa? Hai, saya Bandung. Kamu siapa? Ah, klise dan kampungan. Atau, saya kebetulan tengah menunggu seseorang. Boleh duduk di kursi kamu? Huh, formil dan terlalu "om-om"!

Kubiarkan dada diliputi gemuruh air bah seraya berdoa agar Mas Handry terlambat datang, entah macet atau mengantar Ezza berlatih drum, agar bisa berlama-lama meyimaknya.

Tubuhnya semampai. Tadi kentara sekali kesemampaian itu tatkala ia meminta tisu. Kakinya seruncing Nurul Arifin. Cara berjalannya mapan, mengingatkanku pada Ayu Utami ketika ia mendaki mimbar pada bedah bukunya di Gramedia.

Sebentar-sebentar ia melirik gerimis. Seperti menghitung rintik. Atau menggambar kenangan di punggung daun. Di balik parasnya yang ayu, ia sedang dihela resah. Risau nan tipis lantaran ia punya kerjap mata bintang. Apa yang sedang ia pikirkan?

Aku menerka-nerka. Mungkin barusan ia putus pacaran. Atau gelisah oleh kedua orangtuanya yang cekcok. Atau barangkali ada kerumitan di kantornya sehingga butuh waktu untuk menenteramkan hati.

Ya, ia pekerja kantoran! Blazer merah itu penandanya. Kalau tak salah merah marun adalah seragam Bank Gumilang. Costumer service? Bisa jadi. Setidaknya teller. Ah, apapun, bidang apa ia geluti, aku tak peduli. Yang menyita perhatian sekarang ini ialah ia mulai menitikkan airmata!

Sudut pandang yang tepat untuk melihat guliran bening dari manik matanya sebab mejaku memiliki garis lurus ke meja nomor 9 tempat ia terpatri. Aih, mengapa tiba-tiba ia terisak? Mengapa pijar mata bintang itu sirna?

Bergegas ia menyambar tisu, mengelap lembut, mengerjap-ngerjapkan mata supaya rintik airmata tak terlihat oleh siapa. Namun terlambat. Gundah itu terpergok olehku, dan celakanya ia juga memergokiku tengah mengamatinya. Tak ada waktu membanting tatapan ke sudut lain. Aku diam dan menunggu, dengan gemuruh dada sesanter genset.

Ia bangkit. Perlahan mendekati mejaku, dan tahu-tahu telah berdiri di seberang. Aku sulit berkata-kata, sekadar misalnya mempersilakan duduk. Bagaimana aku mempersilakannya duduk jika ternyata ia berdiri di sana untuk keperluan lain, umpama memanggil waiters? Tetapi bukan, ia memang berdiri untuk menghampiriku, dan sepertinya sedang menungguku untuk mempersilakannya duduk.

Ia duduk tanpa kuminta. Semerbak white musk menguar. Aku tak sempat menghirup lama-lama karena wajah itu lebih dulu terhampar. Lebih cantik dari yang kusangka. Ada tahi lalat di bawah masing-masing mata.

"Namaku bukan Permata, tapi Nindya. Kau tengah membayangkan Permata ketika tadi mengamatiku lama-lama karena napas dan mataku mirip dengannya. Terimalah kenyataan bahwa Permata telah jauh meninggalkanmu, dan hadapi semua dengan lapang dada meski rindu membelenggu. Camkan, aku bukan Permata, tapi Nindya ... "

Aku terkesiap. Di mejaku tak ada siapa-siapa. Di luar, gerimis makin menyilapkan mata ...

17 komentar:

Ikkyu_san a.k.a imelda mengatakan...

uaaaahhhhhh
sampe merinding aku
hihihi

EM

Bu Tjokro mengatakan...

Uhui, sampek sesak dada ini membacanya. hayo, itu kenangan pribadi with someone ya? halaaa ngaku aja!

nina mengatakan...

Itu loh cara melukiskan sosok seorang cewek kok detail banged. Permata? hihihi kaya nama TK sebelah rumah. salam kenal mas.

blue mengatakan...

aku baca postingan ini jadi inget pito bang.
Inget utang tulisan. Jadi bergairah untuk menulis. Nuwun bang, sampeyan memang telaga ispirasi saya..
Iloveu lah...

Dentinghatirini mengatakan...

suka banget baca postingan ini. tp scra umum tulisan ms arif bagus-bagus. o iya, trus itu nindya itu ngilang gt aja ato gmana si?

Anonim mengatakan...

anjrit! kenapa gwa?!

SOFI!!! SETOR!

G mengatakan...

Hmm... khas.. bunga2 dimana2 haha.. semprotkan glade (^^,)

lintang mengatakan...

lamunankah atau fatamorgana sepertinya kenangan yang tertinggal di otak belakang ya mas.

goenoeng mengatakan...

dia cantik kan, mas ?
hmm... bisa dipastikan dia pasti baru menungguku... :P

Anonim mengatakan...

halah nggombal,dasar om-om!!!!!!!!!!!

Arief Firhanusa mengatakan...

Terima kasih untuk respon kawan-kawan. Semoga selalu ada payung Tuhan untuk kita. Amin.

LAFFU mengatakan...

Aku gumun kang marang sampean, tiap menceritakan perempuan kok selalu indah. Jangan-jangan emang pecinta wanita, haha ... pis kang, jo nesu!

shugy mengatakan...

aku idem sama yang di atas saya itu

V mengatakan...

hai mas, dag lama ga mampir. gimana kabarnya. kapan ke jogja? blognya makin yahud loh.

Anonim mengatakan...

keren. skarang udah tau white musk. bukan st dupont atau Channel no. 5 aja. tapi jangan sampe beli guci ya. guci itu cuma buat tante2 yg sasakannya tinggi, gelambir lehernya banyak, idung & dagunya a la haji jeje, dan tiap minggu arisan berlian.

selalu ada perempuan dengan dua tahi lalat di bawah matanya. i wonder who she is. bukan Gladys the Gladiol kan?

Arief Firhanusa mengatakan...

Buset! Pito nyimpen cerpen "Bercinta dengan Serigala" itu ya? Sebab ST Dupont dan Channel No.5 ada di cerpen itu. Wow, diam-diam aku punya fans berat ... hehehe .. thanks sister!

The Bitch mengatakan...

in your dream. wek!