Search

2 Mei 2009

SERIBU NGILU LAYANG-LAYANG


From:
To: sesilia_sesilia@yahoo.com

Melindap, terhuyung, tertatih-tatih. Aku sudah tak mampu lagi mengeja hatimu, kasihku. Datanglah, temui aku di perempatan, dan bawalah bunga kamboja.

Dengan cinta: Ilalang


SAYA memicingkan mata, menahan haru yang menikam hati. Perempuan itu setengah menangis, membiarkan layar laptopnya menganga dengan e-mail dari Hergiawan yang belum padam. Saya tak mampu mematikannya, meski ingin.

Bunga melati masih menguarkan dupa. Pelaminan belum padam. Sesilia mengayuh sepi di percik bahagia kerabatnya. Pesta yang berkecubung, tapi ia tak mengerti perihal satu hal mengapa ia menyerah ketika Mama-Papa merajuknya agar ia mau diperistri Mahardika.

"Dika anak orang kaya, Sesi. Ia bisa membelikan kapal kalau kau menghendaki," bisik Mama di tiris gerimis, suatu petang.

Sesilia bungkam. Segera ia digamit paras Hergi yang tiba-tiba menukik ke beranda. Pria dengan kumis tipis. Sesilia begitu damai dalam rengkuhannya. Begitu temaram saat mata mereka bersitatap.

"Aku tak ingin kau menyelinap keluar dari peraduan yang kubangun bertahun-tahun di lubuk hati. Kau batu mulia dari khayangan yang bergegas hinggap saat asmara memuncak di mata." Hergi membawa Sesilia ke pelukannya.

"Kau tak hanya rupawan, sayang, tetapi memberi gempita hati," bisik Sesilia, tepat di daun telinga lelakinya.

Dua tahun kuncup mereka sirami. Mendadak Minggu pagi datang beberapa orang. Dari jauh, lamat-lamat, Sesilia mendengar mereka adalah utusan Sastropawiro, miliarder ujung kota yang memiliki belasan SPBU, sejumlah mal dan banyak toko berlian.

Kunjungan para setan! Sesilia merutuk, meninju angin, dan lara. Siapa tak mengenal Mahardika? Ia pria tengik yang pongah. Sepagian ia hilir mudik dengan Mercedez ayahnya, sore keluar masuk kafe, dan malamnya menyabu. Di kampus -- dulu tatkala Sesilia sekelas dengannya -- Mahardika pernah menghardiknya dengan kalimat keji. Sakit rasanya hati Sesilia.

Lalu segalanya mengalir deras. Tahu-tahu hadirlah hari itu. Ia merasa dibekuk baju pengantin Anne Avantie yang sesungguhnya indah. Batinnya remuk, senyumnya semu. Sesilia sesenggukan ketika sebentar lagi malam pertama menjelang.

Dua bulan berselang. Sesilia menyebut nama Hergi berkali-kali, dua hari sebelum malaikat menyambangi pria itu dengan kereta kencana menuju surga, lima menit sesudah ia menulis e-mail terakhir untuk Sesilia ...


**
Menerjemahkan retak hati ADP, kawan lama, yang secara kebetulan bertemu saya di bengkel service Toyota, Selasa, 28 April 2009.

15 komentar:

Imelda mengatakan...

ahhhh indah sekali untaian kata-katamu mas...
dan...sedih sekali harus berakhir begitu.

EM

genthokelir mengatakan...

cerita yang endingnya membuat keharuan mas walah walah sampean memang pinter melarutkan pembacanya

G mengatakan...

RIP Hergi, tinggal Sesilia yg harus tetap tinggal dalam "nerakanya" kalau itu mau dijalani sebagai neraka, tp kalau mau dijalani sbg berkat... well mungkin bisa saja menjadi "surga" yang indah.

Ada pemikiran bhw romantisme itu baru muncul pada awal2 abad ini ketika pernikahan direkatkan erat dengan percintaan yg menggebu2 (pdhl nyatanya enggak juga kan ya? hihi), lucunya, percintaan yg menggebu2 tsb juga melahirkan side-effect, yaitu perceraian yg menggebu2.

Tanpa mengecilkan kepedihan Sesilia niy.. Life goes on. Salah langkah (fatal) satu kali, bukan berarti harus menghukum diri seumur hidup. Belum tentu kalau "jadi" dengan Hergi juga tak akan berakhir dengan perceraian, misalnya.. Hanya aja mmg sesuatu yg dipaksakan dan ga bisa memperoleh apa yg kita inginkan itu membuat "neraka dunia" terasa lebih panas di hati dan di pikir (dgn catatan lagi, kalau mau dilihat sbg "neraka").

Ah, ah, ini juga sebagai catatan pribadi untuk diri sendiri bhw: apa yg sudah terjadi (baik krn kesalahan sendiri, maupun yg terjadi diluar kendali diri) tidak boleh menentukan apa yad, sbb apa yad dan apa yg sdg dijalani memiliki nafasnya sendiri, walau tak terlepas dari kisah sebelumnya, namun kisah sebelumnya tak boleh jadi belenggu, tapi harus menjadi pelajaran yg berarti.

Thanks. Kisah ini mengasah saya ttg sesuatu. (^_^)

Anonim mengatakan...

terus? ADP itu sesilia? atau hergi? kalo hergi, dikaw ketemu setan, dunk?

ternyata setan juga ada di bengkel.

*ini bener2 kesimpulan lompat2an*

venus mengatakan...

halah, cinta. I'm a non-believer. emang ada yg namanya cinta? :p

nice post, though :)

lintang mengatakan...

cerita mengharukan meski berakhir tragis dengan dipisahkannya mereka oleh takdir apalagi dengan meninggalnya handy.

Tuti Nonka mengatakan...

Hmm ... masih ada ya Siti Nurbaya zaman sekarang? Cuma Datuk Maringgihnya juragan pom bensin dan mall. Dan Syamsul Bahri akhirnya menyerah dalam kematian ...

Sekar Lawu mengatakan...

mmmm...layatan maning Mas.....Jam pira dikubure ?

goenoeng mengatakan...

di bengkel Toyota ? wah, memang sudah ganti ta ? ayo ngaku...

mending nyantai deh. menikmati apa adanya. semua ada plus minusnya kan ? siapa tau dibalik minus didepan ada plus dibelakang. yah, siapa tau... hehehe, saat aku ngomong seperti ini, rasanya guaampaaang banget. nah, kalo giliran mengalami sendiri... syusyaaah...

:)

Arief Firhanusa mengatakan...

Berbagi dengan:
@MBAK IMELDA
Melegakan bisa menuang sesuatu atas kesedihan kawan, Mbak.

@MAS TOK GENTHOKELIR
Bukan saya, Mas, tapi tangan dan hati saya :)

@G
Penturan yang sarat makna, G. Makasih ya.

@ANONIM
ADP itu si Sesilia, Pie.

@VENUS
Cinta itu rasa yang mengerak dan sulit dihalau dari hati.

@LINTANG
Iya, tragis memang. Tapi apa yang dibilang G itu benar Mbak.

@IBU TUTI
Mirip Siti Nurbaya, tapi ini versinya kapal dan SPBU.

@MBAK AYIK
Hahahahaha,, mbakyuku ada-ada saja!

@MAS GOEN
Masih yang dulu Mas, ke Toyota karena diminta sama kakak untuk menyerpiskan mobilnya, hehehe ...

blue mengatakan...

ini sudah menjadi ciri sampeyan bang!!

rak perlu komentar lah

goresan pena mengatakan...

tak mampu...
bukan main dua orang saling cinta itu, kata2nya itu loh...

"Aku tak ingin kau menyelinap keluar dari peraduan yang kubangun bertahun-tahun di lubuk hati. Kau batu mulia dari khayangan yang bergegas hinggap saat asmara memuncak di mata." Hergi membawa Sesilia ke pelukannya.

"Kau tak hanya rupawan, sayang, tetapi memberi gempita hati," bisik Sesilia, tepat di daun telinga lelakinya.

hm, dengan kalimat2 seperti itu, saya justru membayangkan tokoh lelakinya adalah mas arief sendiri, sementara perempuannya...hem... sapa yah...? ada yang minat? hehehe..

abis, bahasanya mas arief banget gitu..:p

goenoeng mengatakan...

@Hezra
tapi, omong punya omong ya Hez, aku mbayangkan orang pacaran ngomongnya kayak gitu, malah jadinya berbalas pantun lho, hehehe

@Tuanrumah
piss pak, piss... :)

Arief Firhanusa mengatakan...

BERBALAS PANTUN DENGAN:
@BLUE
Jangan katakan itu, Blue, karena pujian adalah teror (gaya Tukul Arwana).

@HESRA
Menulis seperti itu pantesnya saat kita naik jetcoaster dengan angin kencang yang menampar-nampar muka, Hez, hehehe ...

@MAS GOEN
Nah, pantun jenengan udah kubalas, haha ...

The Bitch mengatakan...

naek jet coaster enaknya sambil nyanyi garuda pancasila. been there, done that.

kesini lagi, kesini lagi. bosen baca wiki, bosen donlod anime, kenyang blogwalking, jeleh fesbukan, blom bisa tidur. gada yg baru pulak! phew!