Search

2 Jun 2009

POLISI, DUKUN, DUIT


SEMUA orang ingin menjadi polisi. Itulah kalimat yang berkelana dalam hati saya tatkala seharian kemarin berpanas-panas di kompleks Akademi Kepolisian (Akpol), Semarang.

Tujuh ribu lebih lulusan SMA/SMK -- baik tamatan setahun silam, atau masih berdebar menunggu kelulusan tahun ini -- tumpah ruah, menyemut, dan jantungnya berdenyut di lapangan bagian dalam Akpol. Mereka yang berdatangan dari segenap penjuru Jawa Tengah ini tengah harap-harap cemas menanti nomor pendaftarannya dipanggil melewati speaker. Jika nomornya disapa, berarti ia lulus tahap pertama: ujian kesehatan.

Maka, ketika hanya dua ribuan orang yang disebutkan, yang lain pulang dengan mata lusuh, wajah lebam, berjalan keluar kompleks dengan lunglai dikuntit para orangtuanya yang juga murung, setelah sejam lebih mereka disengat gencar matahari.

Saya berada di antara ribuan orang ini, mengawasi Citra, anak pertama Indah, adik kandung saya. Menjaga parasnya dengan ketat. Siapa tahu nomornya tak disebut, alias harus pulang lebih awal. Kalau gagal, bisa saja ia pingsan, atau meronta merutuki nasib. Beragam kemungkinan bisa terjadi, meski potongan badan dan wajah Citra sesungguhnyalah sudah sangat polwan: tinggi 167, atletis, cantik, dan cerdas, ditambah ia pernah pula mewakili kabupatennya menjadi Paskibra di Semarang.

Modal tubuh bagus bukan jaminan. Sebagaimana rekrutmen apapun di negeri ini, uang adalah berhala. Beberapa pekan mengawal Citra, kasak-kusuk membuncah. Pernah saat tes kesehatan di RS Bhayangkara untuk menguji kebugaran (dan keperawanan bagi calon polwan), seorang bapak asal Jepara mengungkap bahwa pihaknya telah menyiapkan 100 juta rupiah demi baju polisi.

Pada saat lain, di hari itu juga, seorang bapak membawa dukun. Benar, dukun! Pria renta itu berusia kira-kira 70 tahun. Ia merapal sesuatu di sudut masjid kompleks RS Bhayangkara, membaca doa-doa supaya si anak melenggang ke babak berikutnya, yakni tes psikotes yang digelar hari ini, di Aula Undip Tembalang.

Tak tahu saya, apakah bapak yang mengaku siap menyogok 100 juta dan dukun tadi sukses menghela anak-anaknya menuju tahap berikut. Yang pasti, saya ngeri. Bayangkan, 'lawan-lawan' saya adalah duit berlimpah dan dukun! Tapi, alhamdulillah, 'dukun' Citra cukup manjur. Ia hanya selalu meminta dukungan Tuhan, dan lolos tes kesehatan!

***

MENJADI polisi? Ini cita-cita sebagian besar anak-anak TK, disamping dokter, pilot, presiden, dan sebagainya. Polisi masih pekerjaan impian, terutama bila lulusan SMA tak punya peluang kuliah lantaran tak punya uang.

Polisi dihujat, tetapi masih digemari. Lebih-lebih, konon, tahun ini gaji brigadir (lulusan sekolah calon bintara) bergaji berlipat-lipat dibanding sebelumnya (ada yang bilang 3 jutaan untuk 0 tahun, bahkan sebagian meyakini gaji polisi pada tahun pertama Rp 7 juta).

Polisi menjadi pilihan dan masih tampak sebagai pekerjaan penuh wibawa, di sela-sela menjadi anggota legislatif yang juga ladang untuk memperkaya diri. Nyaris tak ada polisi di negeri -- dengan pangkat perwira menengah hingga atas -- hidup di atap kemiskinan. Mereka kaya, dan entah duitnya dari mana.

Saat menggandeng keponakan yang wajahnya menyala karena menyelinap dalam daftar 200-an calon polwan yang lolos tahap pertama dari jumlah 600-an pendaftar Jawa Tengah, tak banyak yang saya pikirkan, kecuali mewejanginya agar jika menjadi polisi nanti jangan korup dan memelintir rakyat jelata.

Sungguh, saya tak memikirkan banyak hal kecuali itu ...

7 komentar:

lintang mengatakan...

pertama.., benar mas polisi memang wibawanya merosot karena beberapa oknum memang mencari keuntungan dari profesi itu mudah2an, Citra lolos sapai tahap akhir dan enjadi polwan yang amanah mas.

Ikkyu_san a.k.a imelda mengatakan...

Wah selamat Citra sudah melampaui tahap-tahap yang merisaukan. Semoga diterima ya. Dan semoga bisa menjalankan tugas polisi yang sejati.
EM

goenoeng mengatakan...

profesi2 yang sekarang jadi incaran selain PNS (termasuk pegawai BUMN) adalah polisi. memang nggak bisa dipungkiri, bahwa kalo mau cepet sugih banda, jadilah salah satu dari keduanya. bagaimana dan darimana banda tersebut, hanya Tuhan Yang Maha Tahu, saya sendiri nggak tau dan nggak mau menduga2. yang saya lihat dengan mata kepala adalah, seseorang yang baru 3 tahun menjadi salah satu dari profesi tersebut, tiba2 ngebrukke rumah, dan dibangun gedong magrong2, plus kemewahan di dalamnya plus mobil 2 biji keluaran terbaru. hmmm... bayangkan...
apakah saya iri dengan hal tersebut ? wooo... tentu saja !

ernut mengatakan...

slamat buat citra!!

Anonim mengatakan...

balasdendam gegara taon 90 ga keterima akpol makanya ngajak ponakan masuk akpol? hehe

blue mengatakan...

wah polwan!!!!

*mata berbinar*

G mengatakan...

Xixixi... ipar saya polwan :) Lulus pula tes PTIK dan jalannya bakalan mulus deh untuk jenjang karir selanjutnya. Untung mobilnya baru 1, walopun HP-nya memang gonta-ganti siy.. Dan dia mmg cerita bnyk yg nyogok untuk bisa masuk/masuk PTIK, syukurnya dia ga punya duit utk nyogok2 jadi lolos tanpa perlu keluar duit (wong ga ada juga klo pun mau, xixixixi). Tapi praktek2 kayak gitu bukannya "jamak" dinegeri ini? Hamanya sudah bikin sarang diakar, sehingga seluruh batang, ranting, daun dan buah sudah berhama. Yah institusi kepolisian cuma ranting sahaja.

Hiduplah Indonesia Raya.