Search

Memuat...

5 Agt 2009

PUISI UNTUK BOYOLALI DAN POLISI


AWAL pekan ini saya tersengat musibah yang amat tidak keren: kehabisan bensin! Tapi saya memperoleh pengalaman batin berlimpah.

Memasuki Boyolali dari arah Solo, tiba-tiba mesin saya tersengal. Saya mengira aki bermasalah lagi. Lima hari sebelumnya ia ngambek dan enggan menggerakkan segenap perkakas elektronik gara-gara saya alfa memeriksa airnya. Tapi ternyata bensin ludes. Indikator digital di dasbor menjelaskannya. Lampu BBM kedap-kedip, dan celakanya baru saya ketahui di tengah perjalanan.

Tentu saya panik tak terkira. Maklum saja, senja telah roboh, sementara di dompet tak ada duit sepeserpun.

Di tengah sengal mesin, saya memaksa menginjak pedal gas, mencari tiga-lima meter ke depan supaya kendaraan tidak berhenti di tengah jalan. Jalur itu cukup padat. Bisa-bisa truk gandeng menyambar saya dengan seksama.

Ups! Berhenti persis di sisi trotoar seberang pos polisi bibir timur kota Boyolali. Sesaat saya menarik napas. Mencari-cari cara supaya terbebas dari belitan cemas. Siapa teman di Boyolali? Adakah famili? Nihil!

Saat itulah jendela kaca diketuk dari luar. Seorang polisi muda. Saya perkirakan baru dua-tiga tahun ia lulus sekolah calon bintara. Saya turunkan kaca. Mendapati senyumnya yang ramah.

"Selamat sore, Pak. Ada masalah apa?" Tanya polisi ini dengan amat santun.

"Kehabisan bensin, Mas," jawab saya seraya tersenyum getir. Sengaja saya memanggilnya "mas" karena jarak usia, meski ia aparat negara. Ia tampak tidak protes.

"Hm, begini saja. Bapak istirahat dulu di pos kami, kemudian nanti saya suruhan seseorang untuk membeli bensin di SPBU sana dengan jerigen," ucapnya sambil tetap ramah dan menunjuk SPBU satu kilometer di belakang kami.

Saya jujur saja bahwa saya tak membawa uang. Ia mengerti dan tampak berpikir sejenak. Lalu ia menanyakan apakah ada famili di Boyolali. Saya bilang kerabat terdekat ada di Salatiga (satu jam perjalanan), yakni Komarul, saudara sepupu. Tapi saya tak mengatakan pada polisi muda ini bahwa Komarul adalah seorang reserse berpangkat perwira menengah. Tak lebih untuk menghindari pemikiran negatif, misalnya dikira pamer.

Pendek kata, akhirnya saya duduk di pos polisi. Selang beberapa belas menit polisi muda tadi berpamitan, bertukar piket dengan dua polisi lain. Dua petugas berikutnya tak kalah ramah. Kami bersalaman. Yang senior bernama Wibowo (saya memanggilnya Pak Bowo), satunya Pak Arief (kebetulan namanya sama dengan saya). Pak Bowo lebih senior ketimbang Pak Arief.

Dalam dingin menusuk tulang -- selagi saya menunggu transfer dari Komarul -- kehangatan menyelimuti kami. Entah mengapa kami selayaknya tiga kawan yang lama tak berjumpa. Tak ada batas-batas, tak ada hal-hal yang mereka sembunyikan.

Awalnya saya tak berterus terang bahwa saya jurnalis. Tapi saat Pak Bowo bertanya apa pekerjaan saya, akhirnya saya ungkapkan juga. Toh pengakuan saya tak menyurutkan keterusterangan dua polisi ini melontarkan apapun, termasuk rahasia-rahasia kepolisian yang selama ini jarang diketahui umum. Termasuk pula ia bertekad untuk menjadi polisi yang bersih supaya menjadi suri tauladan anak-anaknya yang kini masih berusia SD.

Sebagai manusia, Pak Bowo yang asal Kendal itu punya rasa takut juga. Ia mengisahkan bagaimana pernah dikeroyok sepuluh pemuda mabuk di depan pentas dangdut. "Saya membawa pistol. Tapi saya tak boleh menembak secara acak. Dua peluru saya muntahkan ke langit, padahal bisa saja saya arahkan ke kaki para pengeroyok. Tembakan ke atas itupun mencemaskan saya, jangan-jangan peluru nyasar mengenai orang tak berdosa," tuturnya.

Pak Bowo beristrikan seorang guru SD. Kehidupan sederhana mereka jalani bertahun-tahun. Kebersahajaan itu saya dapati dari sepeda motornya. Ia cuma menunggang motor bebek keluaran lama. Tak mengesankan ia polisi beringas yang main gertak. Itu terbukti saat mendadak datang seorang pemuda dengan motor protolan ke pos polisi ini. Saya sempat mengira pemuda itu bakal diomeli. Bahkan barangkali diintimidasi. Ternyata tidak!

Pak Bowo menatap prihatin RX King berpelatnomor Jakarta itu. Sudah nomornya palsu, tak dilengkapi kaca spion pula. Si pemuda juga tak memakai helm. Kemudian Pak Bowo menyunggingkan senyum kebapakan kepada si pengendara. Antara tersipu dan takut, pemuda berkaus belel ini mengaku asli Sukoharjo (masih karesidenan Solo), tersesat saat mencari rumah kawan, dan kehabisan bensin (saya sempat tersenyum lantaran senasib dengannya).

Usai bertanya-tanya, Pak Bowo meminta Pak Arief menelepon markas. Kemudian datang mobil polisi bak terbuka. Si pemuda kusut itu beserta motornya lalu diangkut ke Polres Boyolali karena terindikasi melakukan hal-hal tak beres.

Kami kembali mengobrol. Dingin makin menggerogoti. Pak Arief kemudian bergabung setelah tadi sibuk mencatat-catat di meja pos. Saya dan Pak Bowo sejak petang memilih duduk di kursi kayu sebelah bangunan.

Makin hangat saat kami bersama menyantap nasi goreng yang gurih, dibeli Pak Bowo dari warung dekat pasar. Terkuak pula Pak Arief yang kelahiran Klaten ini adalah anak tentara. Ingin jadi polisi ia rela merantau ke Semarang. Di Semarang sempat ia menjadi kuli bangunan, semata untuk bertahan hidup dan membuktikan pada orangtua.

"Saya dididik untuk disiplin dan penuh semangat. Saya anak tentara, tapi jarang saya katakan kepada orang-orang," ungkapnya sebelum bergegas membelikan air kemasan botol saat dilihatnya saya perlu minum. Pak Arief pula yang mengantar saya dengan sepeda motornya ke ATM BCA yang cukup jauh.

Sampai kemudian kami harus berpisah. Setelah bensin yang saya beli di kios eceran persis di sebelah mobil saya diparkir mengalir ke tanki pada jam 8 malam (total 3 jam saya dinaungi pos polisi), saya minta diri dengan berat hati. Bertukar nomor telepon, lalu kami bersalaman.

Boyolali meninggalkan jejak cinta dan sejuk yang membius. Pepohonan di sepanjang jalan menuju Salatiga melambai-lambai, menyusupkan memori terdalam, memori yang temaram. Malam senyap. Misterius. Ingin rasanya menulis puisi untuk Boyolali ...

11 komentar:

Newsoul mengatakan...

Mampir sejenak teman, angin selatan membawa saya kesini. Hm...kira-kira puisi untuk Boyolalinya sudah jadi belum ya...?

Imelda mengatakan...

senang mengetahui bahwa masih ada polisi Indonesia yang punya "Hati"

EM

dyahsuminar mengatakan...

Hebat betul itu polisi....
Tulisan mas Arief membuat Bunda senyum senyum sendiri,,membacanya...kehabisan bensin di tengah jalan di luar kota...waah...tidak membayangkan.

lintang mengatakan...

mudah-mudahan semakin banyak polisi yang berhati mulia seperti di Indonesia ini mas.

Sekar Lawu mengatakan...

uh, ini benar2 sisi lain dari cerita tentang polisi....sisi lain nya sering membuat saya malu meski cuma sekedar mendengar atau membacanya...

ernut mengatakan...

sing kebangeten ki yo mas arief, mosok keluar kandang ora sangu fulus babar blas, sungguh suatu kegiatan yang sangat mebayani!
btw, terharu dengan para polisi itu...

echi weedya mengatakan...

di Semarang ada polisi kayak gitu gak ya??? :)

lintang mengatakan...

kutunggu tulisan terbarunya.

genthokelir mengatakan...

ewalah walah mobilnya keren kehabisan bensin hahahaha
sebenarnya masih banyak kok polisi yang berhati mulia cuman kadang sudah tertutup dengan beberapa oknum yang jahat
salam dari gunung

shugy mengatakan...

Semoga Bapak2 Polisi bisa mengayomi semua Warga Negara ini dengan baik :)
dan semakin profesional dalam bertugas...Tetep Semangat!

galang mengatakan...

seandainya saja beliau2 ini bertugas diAmpel, tentu kami akan hormat slalu