Search

6 Mei 2009

DALAM KABUT BOGOR


MALAM ini tiba-tiba saya ingin menulis puisi. Udara Bogor yang nglangut dengan embun yang meleleh dan kabut yang menggantung, menguarkan rintih perih nan lirih.

Tetapi jari-jari seperti lori yang direm secara tiba-tiba. Menguarkan cericit, udara menjerit. Saya terlempar dalam fatamorgana, dalam kepingan masa silam, tenggelam.

Di Bogor, pada gerimis yang sejak maghrib menukik di genting dan segala atap rumah, saya ingat Mas Goenoeng, ingat Mbak Rini, ingat tumpukan kertas print out dan dua keping CD yang teronggok. Kertas-kertas berisi puisi. Kertas-kertas dalam bingkai masa depan yang bakal kami retas.

Bumi adalah lingkaran benang yang menjulur kemana-mana. Minggu malam saya masih di Semarang. Senin roda-roda menyentak saya menembus pantura, melumat Tol Cikampek petang harinya, dan menjelang tengah malam tiba-tiba saya sudah rebah di kasur busa sebuah rumah di Bojong, Jawa Barat.

Betapa muskilnya. Betapa terkadang saya rapuh untuk sekadar menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hidup penuh misteri. Hidup tungganglanggang oleh pelik dan hati yang merana.

Sungguh, saya rindu puisi dan segenap keindahan yang terajut. Rindu berkubang dalam musik senyap. Rindu membaca mantera-mantera kehidupan yang beberapa hari ini saya tinggalkan demi misi tertentu yang harus saya jalani di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya.

Prosa, mari bersenggama!

13 komentar:

goenoeng mengatakan...

bogor yang kedua kali mas ?
walau hati memerih, jangan lupa oleh2e lho ya... :D

Anonim mengatakan...

berasa kek jaman kuliah dulu. seneng belajarnya, seneng diskusinya, seneng ngenyek dosennya, tapi perih giliran mesti bayaran ke BAAK.

kangen ngampus...

(kenapa kampus ya?)

Sekar Lawu mengatakan...

ada apa ini ?
mengapa ingin bersenggama mambuatmu seperti matigaya...

halaah.....

Imelda mengatakan...

di Bogor rupanya...

entah kenapa bagiku bogor penuh kenangan yang menyedihkan dan membuat hati suram

EM

Soeryani Atmadja mengatakan...

saya juga rindu...

blue mengatakan...

Prosa!!! tuh.. diajakin bersenggama...

*tiba-tiba pengen bersenggama*

Anonim mengatakan...

@sofi:
perlu gadis? KEBIASAAN!
*keplak*

G mengatakan...

Bogor=asinan bogor. Ngomong2 soal Bogor, wah dulu sering tuh praktek irigasi di sana, wkwkwkwk.. i love bogor, melelahkan.

rini ganefa mengatakan...

hai cerpenis,
di 60 puisiku ada yang berbicara tentang bogor
tapi juga kelam, dingin, dan basah
kalo nggak salah, itu empat tahun lalu. dan 2008 kemarin, aku punya catatan tepi tentang bogor
tapi tak lagi sepi, sendiri dan kelam melainkan penuh warna.
catatanmu 'dalam kabut bogor' sangat menyentuh justru karena ungkapan yang apa adanya. cobalah tulis puisi sebab prosamu puitis buanget!

Cibinong Agency mengatakan...

Saya salut, ini sebuat catatan yang menarik untuk dibaca sekaligus dihayati. Semoga sukses bung!

blue mengatakan...

@pito : yang nggak gadis juga gpp. sinih!!

Bang, aku sabtu ke semarang. pengen mbeling...

Anonim mengatakan...

@sofi:
polwan mau? tak kasi gratis borgol ama pistol2an wes. sisan anal bead ama spanker. pergunakan dengan semestinya.
pen mbeling? selama ini emang ngapain lu? tuz APARTEMEN e piye & kapan, cuk?

*balesan komeng gara2 gada posting baru buat dibaca*

goresan pena mengatakan...

rindu itu seperti hantu...
hahahhah.... rumus dari mana itu? :)