Search

12 Nov 2008

SETELAH BONGKOK


Ipan sekonyong-konyong datang tatkala pagi ini saya sedang mengelap kaca mobil. Sekian lama ia tak berkunjung. Itu mengapa tadi saya sempat pangling.

Setelah basa-basi ia mengatakan sesuatu yang saya tak menduganya. “Saya baru saja di-PHK!” Ujarnya girang, di ruang tamu, saat teh masih mengepulkan asap.

Saya simak wajahnya. Pupil matanya yang stabil saya terjemahkan bahwa ia tidak bersedih. “Dipecat kok malah gembira. Coba kau cerita. Ada-ada saja,” rungutku setengah kesal. Saya berharap ia menggebrak meja, atau menyumpah, memaki, bahkan kalau perlu mengumpat panjang saat menuturkan PHK-nya itu.

“Tentu saja saya gembira karena bebas dari belenggu kesedihan tiap hari. Pekerjaan membebani saya sampai maag, liver, dan migren tapi gaji saya sama dengan bawahan."

"Berapa?"

"Rp ...."

Saya tercengang. "Itu kan sama dengan pegawai kasar di pabrik garmen," desis saya.

Ia tersenyum getir.

Ipan yang saya kenal memang senang berapi-api. Lebih dari separuh hidupnya ia abdikan untuk media. Ia setia menjadi jurnalis dan tak pernah mengeluh, padahal kalau mau ia bisa membuka bengkel atau toko ponsel dari pesangon besar yang ia dapatkan dari sebuah tabloid terkemuka, saat ia mengundurkan diri, tahun 2002.

Sejak beberapa waktu terakhir saya tak mendengar ia bekerja dimana dan menjadi apa. Nah, kalau pagi ini ia datang, tentu tak hanya untuk mengadu.

Ia menyeruput teh. Sambil tetap memperhatikannya, iseng saya bertanya. “Pesangonnya besar, dong?”

Ia mendongak, tersedak, lalu tertawa ngakak. Saya ikutan terbahak-bahak. Lalu kami meluncur ke warung pecel terenak di kompleks perumahan. Saya yang mentraktir.

2 komentar:

anggunpuspita mengatakan...

waduh di PHK kok malah seneng!
tapi dalam kegembiraan IPAN pasti dia juga sedih ya mas? walau mungkin tidak ingin dia tampakkan di depan orang.
salam buat IPAN, smoga dia tabah menghadapi kenyataan hidup ini..semangat!

Anonim mengatakan...

ketoke aku paham sopo sing dimaksud...hehehehehe...