Search

18 Nov 2008

PRIA BERKEPALA BUAYA


PRIA berkepala buaya itu berkali-kali menyelinap dalam mimpi Salma. Menebar ancaman yang membuat tidurnya tak nyaman.

Kepada Lena ia menceritakannya, dengan getar kepanikan yang melebihi kisah tentang pertama ia menstruasi. Tetapi sahabatnya itu sama sekali tak punya belas kasihan dan malah terpingkal-pingkal.

“Jangan sering-sering nonton film horor, Neng. Itulah akibatnya,” ujar Lena di tengah tawanya yang nyaring. Salma melenguh kecewa.

Sorenya ia mendekati Mama. “Ma, Salma mimpi buruk. Ada pria berkepala buaya yang terus menerus-menerus menguntit. Salma takut.”

Bersikap kolokan biasanya menyita perhatian Mama, sebagaimana ia mengadu karena diganggu temannya di sekolah, atau suatu pagi didapatinya bulu tumbuh meremang di bagian tubuhnya yang tertutup.

Sang mama sejenak menyimak paras gadisnya. Memelorotkan kacamata. Dijentiknya hidung perawan ranum itu. “Jangan kelewatan kalau bercanda karena akan terbawa saat kamu memicingkan mata. Ayo belajar sana, Mama tahu besok kamu ulangan.”

Salma menatap Mama putus asa. Dari jendela kamar ia menerawang jauh. Tak ia pedulikan kupu-kupu putih yang terbang mendekat untuk mengucap selamat tidur seperti biasanya. Kekalutan benar-benar menguntitnya setiap malam tiba. Bahkan ketika hanya mengingat malam.

Terkadang ia ingin menulis surat pada Papa, mengabarkan mimpi buruknya. Tapi Salma tak tahu bagaimana memulai. Di benaknya nyaris tak ada lagi perkataan untuk ia tuangkan ke kertas tertuju Papa. Menelepon mungkin lebih baik. Mendengar kata halo yang berat. Dan telepon akan segera ditutup kasar oleh Salma tanpa sepatah kata sempat terucap, saat suara bariton di ujung sana bingung siapa yang menelepon.

Dua tahun sudah Papa pergi. Salma pernah menyimpan beberapa fotonya secara rahasia di tumpukan buku. Kini sudah tak bersisa lagi. Salma menyobeknya menjadi cuilan-cuilan kecil. Membakarnya penuh amarah di pekarangan rumah. Menginjak-injak abunya hingga melesak ke tanah.

Saat belum dibakar, sesekali ditariknya foto itu dari persembunyian, menatap deretan gigi putih di sela kumis tebal. Ah, mata yang selalu tersenyum dan berkecipak. Seperti ketika suatu hari tanpa sengaja Salma melihat kecipak menakjubkan dari kamar mandi.

Ia hanya akan melintas karena ingin menyedu kopi. Menuju rak piring untuk mengambil cangkir, ia harus melewati kamar mandi. Minggu pagi yang sepi. Mama arisan. Bik Inah mengobrol dengan pembantu sebelah.

Tepat ketika sejengkal lagi mencapai rak, sesuatu menyedotnya. Pintu kamar mandi separuh terbuka. Dilihatnya lekuk tubuh seorang pria dewasa yang berlumur busa sabun. Salma terkesima, lupa harus bergegas menjauh karena yang ia tatap adalah ayahnya sendiri ...


Catatan kaki

**Setelah peristiwa kamar mandi itu, Salma mempergoki sang ayah bergandengan tangan di sebuah mal dengan wanita sintal. Sebuah pukulan amat berat. Ia oleng dan merasa terhina, sebab diam-diam ia mencintai ayahnya. Cinta yang menyimpang, tapi ironisnya Salma menikmati.

Bertahun kemudian, ia mendapatkan paradigma baru mengenai cinta. Salma merasa nyaman berada di sisi wanita, lebih karena pria tak ubahnya jentik-jentik di selokan yang siap menjadi nyamuk pengisap darah. Sikap inilah yang melahirkan mimpi buruk tentang "pria berkepala buaya", manifestasi dari kebenciannya terhadap kaum adam.

Kisah nyata ini dituturkan oleh “Y”, perempuan Solo yang memilih menjadi lesbian**

15 komentar:

-G- mengatakan...

Saya jadi pilu dan kehabisan kata2.

Hellen mengatakan...

wah kisah yang memilukan.... beginikah akhir dari sebuah rasa cinta yang berujung kecewa?

amalia mengatakan...

salah siapa jika begini..
bapakkah, anakkah, atau karena adanya sebuah pilihan.
(aku terdiam)

bu tjokro mengatakan...

kupikir bukan cmn salma pernah memergoki bokapnya lg mandi mengapa kemudian kejiwaannya berubah, tp krn zaman skrg udah sangat permisive sehingga gaya hidup pun jadi serba kelam.

rio mengatakan...

kisahnya hampir sm dg temen kuliah saya, hanya bedanya ia dilukai mantan pacarnya, bukan bapaknya :p

adis mengatakan...

wah wah, ceritanya kok banyak yg tragis sih mas? yg hepi ending napa :p

sendangmulyo mengatakan...

Darah saya menggelegak baca postingan ini. Tiba-tiba saya merasa terlempar ke arcapada dan terjebak dalam sebuah gugus cokelat dan maha kelam ...

si shug mengatakan...

waaaa, kisah ttg lesbi/gay emang ga pernah lekang diterjang jaman. Tabik buat mas arif ngungkap hal ginian. Ciao mas, met menjalani hari-hari nan pengap, cieee

anja mengatakan...

wah ttg lesbi yak?

ini indri mengatakan...

Tidak ada yg namanya hitam putih didunia.

Tidak ada yang benar2 jahat dan benar2 baik.

embak mengatakan...

Aku pias membaca kisah Y ini. Di sekitar kita emang banyak yg sprti ini, tp kt engga tau knp mereka melakukannya. Tapi, hidup terdiri dr banyak pilihan ...

bebek mengatakan...

Olala, tragis nian si salma. Berkunjunglah sesekali ke hati setiap org di sekitar kita, maka akan kita temukan begitu banyak keragaman prinsip dan hidup. Tugas kita menghargai sikap org lain, sepanjang ia tak mengusik hidup kita.

holahop mengatakan...

Dahsyat bang, saya suka gaya sampeyan

wikan mengatakan...

mohon diijinkan utk memberi komentar. menurut sy nggak ada yg salah, baik si salma, bapaknya, atau ibunya. yang salah adalah dunia yg udah terbalik-balik. moga2 ini bukan bencana, tp semata kekeliruan menatap sesuatu aja. itu sih cuman pendapat saya.

si ulies mengatakan...

Yuhuuuu ,,, mas arif emang oke punya! tak rugi kuangkat dia jd guru nulisku :p