Search

14 Nov 2008

BUNGA-BUNGA APRILIA DARI SYLVIA


How are you? Hopefully you are fine. I am writing this letter will go on to teach at the University of Suwon. Being a lecturer is my dream, and pray you take my dream to realize it.

How about your family? OK, right? To tell them that we meet for three weeks in Korea to make the memories are not forgotten. I have also talked to my husband about the memories of 1999.

We have given one child, male, 1.5 years old. My husband works in the urban research institution owned by the government of South Korea. I send our family photo for you.

Bye. Hopefully, the steps you always blessed God.

With all the nostalgic,
Sylvia


SEPERTI capung yang mendadak hinggap di lembayung. Setelah tujuh tahun. Ya, setelah sekian lama. Saya nyaris lupa padanya. Lupa akan sebuah sore dengan udara 25 derajad celcius di World Cup Stadium, Suwon, Korea Selatan.

“Nama saya Sylvia Koh. Panggil saja Silver. Saya dari koran Jeonbuk Yonhap,” ucapnya acuh seraya menarik pulang lengannya. Tangan saya masih menggantung di udara.

Ia menyentak keluar lensa Nikon 400 mili dari kotak alumunium. Saya terkesima mendengar derit lembut gesekan lensa dengan wadah. Diam-diam saya murung. Maklum, dari Jakarta saya hanya dibekali Nikon 300 mili. Itupun sudah bopeng.

Sepanjang pertandingan sepakbola ia membidik dengan intensitas yang mengagumkan. Saya segera ingat film Sniper-nya Tom Berenger. Sesekali saya mencuri pandang, tapi ia menganggapnya angin lalu saja.

Tapi adakalanya kita percaya akan pepatah: “jangan lihat orang dari kulit”. Malamnya ia begitu mempesona dengan senyum dan gaun cinderela. Acara welcome party seperti perjamuan para raja-raja lengkap permaisurinya. Tak pernah terbayangkan saya tiba-tiba jadi ‘raja’. Ia menggamit lengan saya, meski saya protes. Protes kecil yang dusta belaka, karena sesungguhnyalah saya ingin menyentuh kulitnya yang sehalus anggur.

Di lobi Hotel Continental, Seoul, usai acara, ia terisak. Sambil menyapu linang airmata di pipi, Sylvia menuturkan tentang kegersangan hatinya karena diputus sepihak oleh pacarnya. “Orangtuanya tidak setuju karena saya miskin,” ungkapnya lirih.

Kemiskinan memang menjadi alasan penting ketika seseorang akan memutuskan sesuatu atas dasar napsu. Paginya saya mampir ke rumah Sylvia di Suwon, 2 jam perjalanan kereta dari Seoul. Ibunya menjajakan donat di beranda rumah. Tetapi senyum yang mengembang di bibir dua orangtua Sylvia adalah kekayaan yang tiada tara. Mereka menawari saya makan siang, dengan bahasa isyarat, sebab mereka termasuk di luar (hanya) 30 persen warga Korea yang bisa berbahasa Inggris.

***

BANDARA Internasional Seoul lembab. Tatapan mata Sylvia membuat dada saya ngilu dan terasing. Tanpa ia bicara, saya membaca rona kehilangan yang beredar dari pupil matanya.

“Saya tak tahu apa yang harus saya katakan. Tiga minggu ini kamu membuatku ingin memuja sesuatu. Jangan pernah melupakan saya,” ujarnya, sayup-sayup, di bibir pintu keberangkatan.

Saya mengangkat dagunya dengan telunjuk. “Jangan pernah mengatakan itu.”

“Setelah sampai Indonesia kamu pasti tak menyisakan apa-apa tentang kebersamaan kita.”

“Saya tak ingin menghapusnya dari ingatan.”

“Saya tak mempercayainya ...”

Terkadang bumi berotasi tanpa kendali. Beragam peristiwa adalah berbilah-bilah hal yang bisa membuat orang melupakan tentang kenangan, meski kenangan paling indah sekalipun.

Setelah belasan kali kami berkirim surat, tibalah saatnya kami tak ingat satu sama lain. Sampai akhirnya Sylvia mengirim suratnya via email, kemarin pagi!


Semarang, 14 November 2008
**Mengenang bunga-bunga aprilia yang ditanam Sylvia di dada saya**

11 komentar:

goresan pena mengatakan...

wah...manis nya mas...kenangannya...
kata anakku ; co Cweeeettttt....

-G- mengatakan...

Aah...saya mulai menangkap samar2 dibalik kabut (apaa..coba?) ini kah salah satu rembulan yg terpasung (^_-)

nita mengatakan...

sayang banget hubungannya gak berlanjut. apa krn jarak yg jauh?

Amalia Hazen mengatakan...

manusia punya banyak cinta dan itu indah.. bunga aprilia itu indah tapi bukan untuk dipetik, karena ditamanmu telah tumbuh bunga2 yg lebih indah.
indah ternyata...

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
laffu mengatakan...

hm.. seperti rembesan kabut yang membekap jiwa..
meski, mungkin, dengan kadar yang berbeda, aku bisa merasakannya.
kenangan memang selalu indah, kang. dan, sekadar, menciumi aromanya, menjadi lebih nikmat daripada harus bergelut menggumulinya dalam gamang realita.

dan, gadis korea, dengan segala pesonanya, memang mengagumkan..

Riema Ziezie mengatakan...

nostalgian yang indah tapi pahit di dada ya

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

@goresan pena: Cinta memang indah, tapi dewasa ini saya mendapatkan sebuah istilah yang sempat menciptakan malu pada diri saya: CINLOK.

@-G-: Benar adanya, G, ini salah satu alasan mengapa pekerjaan wartawan sangat rentan melahirkan rembulan-rembulan yang terpasung.

@nita: Jarak yang membentang adalah salah satu alasan saja. Banyak hal lain yang lebih kuat untuk mencegah cinta lintasnegara itu.

@amalia hazen: bener mbak, seratus buat jenengan! Bunga aprilia yang saya dapatkan sekarang lebih harum semerbak!

@anonim: perlukah dijawab? Tinggalkan jejak dulu!

@laffu: iya kang, seperti halnya gadis Jepang. Tetapi selalu ada kelemahan dan kelebihan dimanapun kita berpijak.

@riema ziezie: saya kira pahit sih enggak, karena selalu ada gula dan madu saat kita melabuhkan sesuatu ..

blue mengatakan...

ahhh.. bang. foto cewe itu cantik kali...

novnov mengatakan...

duhhh manis banget sih kenangannya...kenapa gak di lanjutin aja sihhh?...

satrio mengatakan...

baru nyadar kang...
ceritane nang korea tapi koq fotone nang jatidiri yah...