Search

25 Apr 2008

MIMPI JADI ARTIS


KONTES-KONTESAN di televisi menyaingi sinetron. Bila sinetron sudah membuat muntah, maka kontes-kontesan masih tahap menebar bau anyir sehingga perut kita (terutama saya) sedang bergejolak sehingga jika tren ini makin menjadi-jadi, maka kita muntah-muntah juga.

Dulu ada AFI yang memancing airmata jika ada kontestan yang dieliminasi. Lalu API yang lucu karena ada Teamlo. Indonesia Idol menarik karena pesertanya aneh-aneh dan juri-jurinya oke punya. KDI juga lumayan.

Nah, sekarang bermunculan kontes-kontes bakat yang menggunakan polling SMS massa sebagai acuan penilaian, mengekor AFI, API, KDI, dan Indonesia Idol. Sebut saja “Idola Cilik”, “Mamamia Show”, “Stardut”, “Kontes Dangdut Indonesia”, serta banyak lagi. Sebagian acara ini menyita waktu, bahkan ada yang sampai 6 jam!

Program macam ini disatu sisi positif untuk memberi peluang kepada generasi muda memamerkan bakat, kreativitas, dan mengaktualisasi diri, ketimbang menyedot putaw atau berseks ria tanpa nikah. Namun ada dampak kurang sedap di masyarakat, antara lain membuai masyarakat dengan mimpi menjadi selebriti dan adanya unsur judi di balik polling SMS.

Pengaruh TV sudah sangat menyiksa masyarakat kita. Menjamurnya acara infotainment dan ajang kontes-kontes idola membikin warga negeri ini silau. Beragam ajang kontes idola mengiming-imingi masyarakat kita bahwa menjadi selebritis adalah impian.

Celakanya, para orangtua sangat mendukung anak mereka menjadi ‘artis’. Tidak sedikit mereka yang gagal audisi kemudian menjadi sangat sedih atau uring-uringan kepada juri. Hal itu hanya mempertegas fakta bahwa menjadi finalis dan masuk TV adalah segala-galanya.

Kondisi lebih parah ketika anak-anak kita ditanyai cita-citanya, mereka menjawab ingin menjadi artis dan masuk TV. Televisi telah mengubah paradigma masyarakat dan merasuk ke anak-anak. Salahkah menjadi artis? Tidak. Artis adalah pilihan hidup. Tetapi harus dipahami, kehidupan artis sesungguhnya tidaklah segemerlap apa yang tampak di TV. Tidak sedikit popularitas artis membuat mereka tidak mampu mengendalikan diri dan terjebak perilaku negatif seperti narkoba dan seks bebas.

Beberapa diantara mereka yang menang di acara kontes idola lumayan sukses. Misalnya Delon yang jebolan “Indonesia Idol”, Siti KDI, T2 yang finalis AFI 2005, dan Sule yang juara API. Mereka termasuk yang mampu bertahan dan berkembang.

Tapi tidak sedikit juga mantan finalis yang kemudian tidak menjadi siapa-siapa dan dilupakan orang, susah mendapat job karena kemampuan mereka pas-pasan, dan hanya tinggal di kos yang murah. Lebih parah lagi ada yang terlilit utang karena dulu memaksakan untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya.

Banyak diantara mereka yang ketika mengikuti kontes mengorbankan sekolah atau kuliah, dan sekarang baru menyesal bahwa pendidikan mereka menjadi sia-sia. Mungkin sangat menarik jika ada stasiun TV yang mau mengekspos juga bagaimana kehidupan mantan peserta ajang kontes tersebut!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Setuju maskup!!!
Semalem kebetulan liat Cahaya, sinetron itu lebih khayal drpd Back To The Future-nya S. Spielberg.
Negeri ini terlalu bodoh bahkan hanya untuk sekedar membedakan hitam dan putih. Jadi Mari kita muntah2 dulu.

WAKTU mengalir deras ke purbakala, mengatakan...

Wah, komentar Arjuna nylekit tapi OK punya. Ayo Jun kita muntah2 massal!