Search

3 Des 2008

KETIKA CINTA HARUS PURNA


MALAM telah purna. Mata Ratu Felisia nyalang meski semalaman tak terpejam. Percik ngilu melumuri dadanya tanpa mega-mega di luar sana mau membantunya.

Ia perlu kekuatan untuk menulis surat pada Genta, penyair tampan dari negeri seberang. Tapi tak sebutirpun angin membawanya pergi untuk mengadu tentang dilema ini. Jauh di lubuk hatinya, Ratu Felisia mengagumi Genta, namun batinnya menolak. Genta telah beristri. Ratu Felisia pantang merajut cinta dengan suami orang.

Ia beringsut. Dari jendela kamarnya ia melongok ke bawah. Mendapati sekumpulan jelata yang mengembalakan domba. Terkadang ia iri pada rakyat biasa. Kecantikan adalah sebilah pisau. Ia ingin kabur dari ‘penjara’ itu, mengelupas segenap pori mukanya, berganti dengan wajah biasa yang lekat dengan debu.

Pria-pria bersilangsengketa memperebutkannya. Raja-raja bertarung untuk mengambil hatinya. Ratu Felisia sedih, dan memilih mendayung hatinya ke Genta, pria biasa yang pandai memanah rembulan dengan kata-kata pujangga, meski akhirnya ia berhenti pada satu titik bahwa mencintai pria beristri adalah kekeliruan.

Di sela kuyub matahari, ketika angin telah lelah menghibur hatinya, Ratu Felisia mengambil pelepah kayu dan tinta. Lalu mulai menulis:

“Sayang, mencintai suami orang itu salah, karena berpotensi memecah sebuah rumah tangga. Nonsen ungkapan yang mengatakan “cinta tidak harus memiliki”, sebab manusia yang mencintai pasti berusaha untuk memiliki dan penuh tuntutan.

Jaman sekarang komunikasi super instan sehingga batas ruang dan waktu semakin hilang. Inilah kemudian yang menciptakan an instant affair. I don’t like that.

Saya meyakini friendships dan admirations ketimbang affair, yang memberi inspirasi dan rasa rindu yang dibiarkan. Admirations memberi ruang untuk tumbuh membentuk kenangan manis tanpa saling membelit. Affair selalu menyisakan luka!

Karena itu, saya memilih untuk mengagumi, menyukai, dan memujamu, tanpa perlu menyentuh apapun di luar batas kepemilikan. Bukan saya tidak menyukai, tetapi karena saya selalu menyukai!”

Setelah itu ia menggulung surat, memanggil kurir, lalu menyodorkan gulungan itu dan memerintahkannya agar selekas mungkin surat dikirim ke negeri seberang.

Bergegas kemudian ia menaiki kuda. Menyentaknya dengan kecepatan penuh menuju utara. Tak seorangpun tahu kemana ia menuju ...

8 komentar:

Prihandoko mengatakan...

hehehe...kalau jodoh memang ngga kemana...iku jare bapakku, tapi yo ndilalah tenanan...uhuiii...pengalaman pribadi alias proven!!

-G- mengatakan...

Ratunya pasti udah nenek2 ya? Nenek2 cantik? (^^,) Kayak Elizabeth Taylor dong. Btw, mas Arief, itu kok masih pake pelepah kayu en tinta trus komunikasi super instan pula.. (^^,)

@Mas Prihandoko, oh ya? oh ya? itu a proven theory yah? (^^,)

nita mengatakan...

rasa kagum itu bisa muncul dimana aja ya, di kantor, juga di blog. saya setuju dg sebatas admiration alias mengagumi itu. cuma kalo admirationnya udah makin besar biasanya sih buru2 memutus hubungan. walk out langsung tanpa pamit....heheheh. that's the safest possible thing to do:)

anggunpuspita mengatakan...

eeehhhmmmm...i know what you mean!
mungkin memang itu keputusan dan jalan yang terbaik.

blue mengatakan...

sampeyan bener bang..

Affair selalu menyisakan luka!

lebih baik, saya memilih untuk mengagumi, menyukai, dan memujanya, tanpa perlu menyentuh apapun di luar batas kepemilikan.

seperti kalimatmu itu. *sigh*

Amalia Hazen mengatakan...

ketika kata kerinduan terucap..
ketika mata tidak lagi bisa bicara..
Ketika keinginan menatap mesra tak terjadi..
campurkan ketiga macam warna lilin malam membentuk pelangi, untuk menerangi dan menunjukkan arahnya kemana kuda akan pergi...

-G- mengatakan...

Yang jadi pertanyaan dalam cerita ini adalah: lalu apakah responsnya Genta ya?
*penasaran.com*

goresan pena mengatakan...

indah mas...saya seperti terlempar di pojok istana..menyaksikan kepiluan sang ratu..hm..indah...

mengingatkan saya akan kasih tak sampai yang pernah saya tulis 'sudah hampir separuh jalan'...

inget juga lagu imel;
"but i don't know if it's right or wrong...
coz u belong to someone i know..."