Search

16 Des 2008

PROSTITUSI SMA DAN AIRMATA SAYA


SETENGAH jam saya menunggu. Food court Citraland Mall berisik. Saya mengawasi setiap orang yang memasuki ruangan. Tapi Lena belum juga tampak.

Lena (nama saya samarkan) menyanggupi bertemu pukul 13.30. “Usai sekolah ya Mas. Biar nanti ia saya jemput dulu,” kata Lastri (ini juga bukan nama sebenarnya), ibu Lena, lewat telepon, sehari sebelum janji pertemuan ini.

Baik Lena maupun ibunya belum pernah bertemu saya. Saya diberi nomor telepon mereka oleh seorang teman. “Apa mau dia ketemu? Apalagi ini untuk wawancara,” kata saya khawatir. Teman saya tersenyum penuh arti. “Siapkan saja Rp 150 ribu, dan ajak mereka makan. Saya jamin mau,” ucap dia, masih dengan senyum jahatnya.

Lima belas menit kemudian, seorang ibu menggamit lengan perempuan belia berseragam SMA. Dada saya berdebar sengit. Si ibu menebar pandangan ke sekeliling, dan berhenti pada lambaian tangan saya di ujung ruangan. Keduanya pun bergegas menuju meja saya.

Mereka duduk di seberang meja. Saya mencoba mencairkan kebekuan dengan senyum sehangat mungkin saat lengan saya terulur untuk bersalaman. “Mas Arief, ya? Saya Lastri. Ini Lena,” ujar Bu Lastri dengan sikap yang masih canggung.

Saya melirik Lena. Umurnya 17 tahun kira-kira. Tampang ingusan yang masih pantas mengobrolkan bintang sinetron bersama kawan sebaya. Atau cekikikan membaca SMS di sudut sekolah. Membicarakan baju atau celana terbaru, atau mendiskusikan cowok-cowok yang mereka taksir.

Pesanan datang. “Ayo, Lena, jus alpukatnya tampak gurih tuh. Ayuk minum.” Saya mendorong gelas panjang lebih dekat ke Lena. Ia kikuk. Tapi toh tangannya memetik sedotan, lalu menyelipkannya ke bibir. Saya membayangkan bibir itu meruap dan merintih ketika seorang pria meraupnya di atas ranjang ...

Makan sambil basa basi adalah cara yang praktis untuk membuka tabir. Wawancara tak perlu formal dengan mengacung-acungkan notes atau alat perekam. Bu Lastri menyetujui ‘harga’ Rp 150 ribu untuk interview ini, plus tentu saja makan saya yang bayar (tepatnya, kantor saya yang bayar), dengan syarat: identitas mereka tak boleh dikorankan dengan jelas!

Kemudian Bu Lastri mengisahkan. Keluarga ini tadinya fine-fine saja. Tiga anak Bu Lastri miliki, Lena adalah sulung dengan dua adik yang semuanya perempuan. Ayah Lena seorang polisi.

Sampai suatu hari mendadak datang tagihan. “Jumlahnya hampir 20 juta. Saya hampir pingsan. Di luar sana, ternyata suami saya dililit utang,” kata Bu Lastri terbata-bata.

Sudah jatuh masih tertimpa tangga. Si Bapak punya WIL dan jarang pulang. Di tengah kalut, setelah lintang pukang sendirian mencari nafkah plus mengangsur utang sang suami, Bu Lastri pun menyerah. “Dalam pikiran saya hanya satu, bagaimana mencari uang untuk hidup. Saya berpikir keras, saya mengumpulkan beberapa alternatif. Sampai kemudian seorang germo bekas kawan saya SMA mengusulkan sesuatu yang membuat saya hampir mati karena sesak napas. Ia menawari saya menerjunkan Lena ke lembah hitam. Bayangkan, Mas, sanggupkah menerima kenyataan bahwa anak kita adalah pelacur?” Airmata Bu Lastri tumpah. Napasnya tersengal dan mengiba. Ia sibuk mengusap ingus yang meleleh cair.

Setelah tangisnya reda, ia detail menceritakan bagaimana Lena bisa dibooking. Setelah empat bulan dibawah kendali mucikari, Bu Lastri melepaskan diri. Ia ‘pasarkan’ sendiri sang buah hati, melalui informasi dari mulut ke mulut. Pria hidung belang yang mengencani Lena langsung bertelepon dengan Bu Lastri, kemudian setelah ada kesepakatan harga dan tempat kencan, ia sendiri yang mengantar sang anak ...

“Berapa tarif Lena, Bu?” Tanya saya. Ekstra hati-hati.

Short time Rp 300. Itu tiga jam. Kalau semalam tiga kali lipatnya, atau bisa diskon menjadi 700 ribu jika terpaksa. Itu dengan syarat Lena harus diantar ke sekolah pada esok harinya oleh yang membooking. Sebab itu Lena harus bawa seragam dan buku pelajaran ke hotel,” ungkap Ibu Lastri, dengan beban yang sudah sedikit hilang. Dengan tampang yang menurut saya lebih kejam ketimbang monster dengan wajah berlumuran darah.

**Sorenya, saya menulis cerita ini dengan air yang merembes hebat dari pupil mata. Saya ingat Eni, adik bungsu saya, saat memandang dengan seksama wajah Lena dari foto-foto yang tadi siang saya bidik.

Kisah ini nyata. Terjadi ketika saya bekerja di grup Jawa Pos, awal 2000-an. Ada penugasan feature bersambung tentang prostitusi di kalangan anak-anak SMA Semarang, yang membuat saya makin tahu, betapa keruh dan muramnya isi jagat raya!
**

11 komentar:

goresan pena mengatakan...

maaf, mas...tapi saya akan mengkritik tulisan ini...hehe, bukankah sebagai seorang sahabat, kita wajib menyampaikan dengan jujur?

hm, dalam tulisan ini saya menemukan beberapa bentuk kekerasan yang mungkin tidak sengaja mas buat. seperti...
"Saya membayangkan bibir itu meruap dan merintih ketika seorang pria meraupnya di atas ranjang ..."

pada tulisan ini, saya merasa mas berada pada pihak yang tidak objektif. jika memang benar mas ingin mengemukakan fakta, rasanya tak perlu lah...nilai2 partriakrhis di bawa...hehehe...
apa yah....

saya termasuk yang tidak setuju dengan prostitusi itu, terutama untuk remaja, lebih2 yang diarganize dengan ibunya. gila! apapun alasannya.

tetapi, mungkin akan menarik mas...
jika diberikan gambaran kenapa celah ini bisa ada.

sekali lagi mas...saya mohon maaf, saya hanya berusaha jujur dengan apa yang saya rasakan setelah membaca posting ini. karena saya pun akan sangat berterima kasih jika tulisan saya dikritik...

salam hangat persahabatan...:)

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

Baik sist. Ini penjelasannya:

1.Karena saya pria dan kebetulan saya jurnalis di sana.

2.Sejak dipilih oleh rapat redaksi untuk melakukan liputan ini, saya langsung in cas dan 'kerasukan'. Wawancara dengan Lena adalah seri ketiga dari keseluruhan 5 seri yang dimuat bersambung. Tiap hari saya berburu, tiap hari saya blusukan. Bayangkan, sehari wawancara dengan 3 org 'bermasalah' dari kalangan SMA.

3. Juga harus ditelaah, alinea yang kamu persoalkan berakhir dengan ... (titik-titik), alia menggantung. Saya ingin ungkapkan kalimat berikutnya di alinea yang sama, tapi muncul dorongan untuk menghentikan. Ini hanya persoalan estetika tulisan saja, supaya tidak garing (meski akhirnya memang menumbuhkan ketidaksimpatian, terutama dari kalangan perempuan).

4. Saya mencoba menghakimi Bu Lastri di alinea terakhir, dengan penekanan bahwa wawancara yang saya lakukan dengan amat terpaksa, sebab saya mendadak menjadi sinting ketika tahu betapa kotornya dia dengan 'menjajakan' putrinya.

5. Sekalian mohon maaf andai ada setitik nila di susu sebelanga. Tapi, saya pertahankan kalimat yang dipertanyakan oleh Hesra itu (tanpa mengedit ulang maupun men-delete), dengan alasan: SAYA MENCOBA JUJUR DENGAN DESKRIPSI SAYA, DAN JUJUR AKAN PERASAAN SAYA SEWAKTU MELAKUKAN WAWANCARA ITU.

Anyway, thanks karena kamu telah kritis. Saya bahkan tak pernah menyangka ini bakal kamu debat. Lain kali saya akan lebih hati-hati.

bewe mengatakan...

Saya membayangkan Lena bernyanyi, "Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa ..."

blue mengatakan...

sungguh merinding membayangkannya bang,
jujur, saya kadang suka sedih melihat prostitusi anak semacam itu. hehhhhh!!!

btw, nomor bu lastri masih ke simpen bang? atau Lena barangkali?

Ullyanov mengatakan...

Saya dulu juga pernah 2 tahun bekerja di Jawa Pos (Group). Tepatnya Radar Bromo (Pasuruan-Probolinggo). Tapi, saya tidak pernah mendapatkan tugas menulis feature tentang prostitusi anak sekolah. Yang pernah (dan justru sering) liputan penggerebekan prostitusi terselubung, warung remang-remang. Alih-alih dapat narasumber gadis-gadis, yang banyak malah tante-tante dan bencong. He..he..
Salam kenal...

goenoeng mengatakan...

hmm...mas, bakti anak buat orangtua, terpaksa terus dia oke-oke saja atau .... ?

sing mesti, ibune jan tegel banget !
edyan tenan...eh, sori, sori....aku malah numpang misuh disini.

sugeng dalu boss. aku mau neruske misuh offline....

Anonim mengatakan...

Ini cerita prostitusi tahun 2000-an orang tua rela bahkan tega jadi germo utk anaknya sendiri,memilukan memang.. tapi jaman sekarang prostitusi anak SMA bukanlah hal yang tabu, short time bagi mereka adalah biasa malah ada yang menjajakan dirinya sendiri kepada si hidung belang,,bukan hanya sekedar untuk mendapatkan uang tapi sepertinya juga menikmati...kalau begini yg salah siapa?.. hehehe

nita mengatakan...

saya yakin hal begini banyak terjadi dan gak cuma ada di kota2 besar. pernah baca juga kalo warung remang2 tempat mampirnya para supir truk juga punya hostess2 muda yg kerja di sana dg persetujuan orang tua. dari dulu sepertinya kemiskinan masih jadi alasan utama orang terjun ke dunia prostitusi

jadi ingat novel Nayla karya Djenar M. Ayu

prihandoko mengatakan...

hari ibu sebentar lagi menjelang..sebagian dari kita..atau paling tidak saya...menganggap ibu itu adalah wakil tuhan didunia, beerarti saya juga harus menambahkan definisi di atas menjadi "Ibu adalah wakil tuhan didunia, dan bisa juga jadi wakil iblis di dunia" begitukah?

Semoga..dan sy doakan selalu..agar Ibuku tetap menjadi wakil tuhanku didunia ini.

Nuga mengatakan...

Bayangkan, Mas, sanggupkah menerima kenyataan bahwa anak kita adalah pelacur?”


* Yap...ibu sanggup!! dengan gilang gemilang!
The other side of Mother Day.

goresan pena mengatakan...

hehe,...gitu to...
hehe, lucu yah...yg gitu aja pake di debat...karena saya menaruh perhatian lebih ke blog ini mas...saya selalu berusaha untuk membaca tiap postingnya hingga tuntas...

trmn ksh ya sudah mau berbagi...