Search

11 Des 2008

PELANGI TAK HADIR MALAM HARI


“Pelangi ditakdirkan tak hadir malam hari”

PELANGI adalah manik-manik warna dalam lajur yang ajaib. Seperti itukah cinta? “Seperti itu, Bang. Hanya tak mudah mengelolanya jika kehadirannya tak tepat waktu dan tempat,” kata Blue, teman saya yang jurnalis sebuah media besar di Jakarta.

Entah ia tengah gerah terhadap cinta, atau sedang menyindir saya. Belakangan saya banyak membuat tulisan beraroma cinta, baik di blog maupun cerpen untuk majalah. Asal laptop tidak sedang panas karena nonstop menggerakkan CPU, maka saya mengetik. Tak peduli di kantor orang atau sambil menonton sepakbola.

Saya sedang menyaingi Dhani Dewa barangkali. Atau menyalip Ungu, D'Masiv, Naff, Kangen Band dan sebagainya dalam menggerus cinta. Cinta mengucur deras, berderap dan berkecipak dalam kepala saya.

Beberapa tahun silam saya seproduktif ini. Dalam sebulan tercipta tak kurang 15 cerita pendek, diantaranya Rumah Angsa, Sajadah Merah, Peluru Cinta, Cerai, Tato, Melepas Minah, Gadis Penjaga Lukisan, Seorang Pengamen Menghunus Pisau, Surat Bapak, Malam Jahanam, Malam Eksekusi, Bercinta dengan Serigala, Pria Berkepala Buaya, Relung Paling Jauh, dan beberapa lagi.

Pertanyaannya, mengapa begitu subur? Jawabnya, saya sedang putus cinta. Ya, saya sedang dirundung masalah dengan mantan kekasih. Situasi sedih kok malah produktif? Jangan salah, teman saya, Handry TM, justru memenangi lomba skenario yang digelar Departemen Pariwisata tatkala sedang dililit utang.

Lalu, sedang putus cintakah saya saat ini? Hoho, tentu tidak! Saya telah beristri. Ataukah tengah jatuh cinta? Bisa jadi. Tiap hari saya jatuh cinta pada Ibu Pertiwi. Saya mencintai meja, baju baju saya, lemari, pintu kulkas, ubin kamar mandi, bahkan sapi yang siap sedia dipotong lehernya kala Idul Adha tiba.

Cinta menyirami kecambah sehingga tumbuh menjadi tanaman. Tentu tetumbuhan dengan buah yang bergizi, karena ada “cinta buta” dan “cinta terlarang” yang buahnya tak mengandung vitamin. Biar begitu, cinta tetap cinta. Indah ketika melibatkan pula kasih sayang.

Tetapi sebagaimana pelangi yang tak bisa memancar malam hari, cinta pun bisa hanya angan dan bayang-bayang ...



8 komentar:

-G- mengatakan...

Membaca entry ini rasanya jadi bermacam2 juga, merah kuning hijau di langit yg biru... Jadi, begitukah warna-warni 'cinta'?

Warna-warna pelangi sesungguhnya kan berasal dari pantulan cahaya matahari pada sisa2 titik air hujan yang masih menggantung di atmosfir kubah langit (^_^)

Sepertinya yg dikatakan bhw airmata bisa melahirkan keindahan itu, mungkin saja benar adanya.

Sekar Lawu mengatakan...

dan ternyata cinta (menulis) bisa menghidupimu ya mas arif...sebagai jurnalis...

prihandoko mengatakan...

you're just like -G- , you write fluently. Tapi yang repot kalo kalo pas ga mood, ngga ada yang ditulis babar pisan...

salam moody

goenoeng mengatakan...

itulah indahnya jadi penulis seperti mas arief. baru keblusuk cinta saja , malah bisa produktif.
eh, apa perlu cari gara2 terus, biar jadi lebih produktif ya, hahaha....

blue mengatakan...

hehehe...
baru di curhati soal pelangi saja bisa jadi tulisan. memang dahsyat mas Arief.
ckckckckc...

nita mengatakan...

mungkin kau sedang jatuh cinta pd kegiatan nge-blog, rief. makanya semakin produktif:)

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

Jawaban untuk orang-orang yang peduli cinta:

-G-: Saya tidak sedang membicarakan tentang airmata, Mbak.

Sekar Lawu: Ho oh mbak. Cita-cita saya sebenarnya supir bis malem (ini beneran), tapi tak kesampean, hehehe

prihandoko: ujar sampean itu benar adanya Mas. Saya menyesal dilahirkan jd org yg sangat moody, hihihihihi ...

Goenoeng: benar! Ini jg lagi mencari gara-gara, hahahaha ...

Blue: pssssttt ah! Banyak rahasia yang harus kita jaga bersama, brother.

nita: nggak juga Nit. Kegiatan nge-blog itu sebenarnya untuk me-refresh penat saja, sekalian nulis buku harian. Lalu perlahan-lahan saya 'terjebak' (pake tanda kutip loh Nit).

goresan pena mengatakan...

klo mncintai diri sendiri...piye?
hehe, sama aja y, cinta ya tetap cinta...