Search

Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESAKSIAN. Tampilkan semua postingan

9 Jun 2008

Omong Kosong BBM


SAYA 'berpikiran kotor' setelah harga BBM naik. Saya berangan-angan orang malas keluar rumah, tak ada lagi macet, dan aspal menjadi selengang jalan-jalan di Korea Selatan. Tapi saya gigit jari. Macet tetap ada, meski tak sesuntuk Jakarta. Pagi, saat berangkat ke kantor, sebal tetap saja menggumpal.

Saat meluncur menuju tempat kerja, kisaran jam 6-7 pagi, jalan dari Plamongan Indah ke arah Simpanglima tak menyisakan sejengkalpun ruang untuk bernapas. Enam lampu merah di jalur itu menyusahkan siapapun karena semua tak mau mengalah. Orang menjadi gampang kesal dan emosional karena harus beringsut dan berjejal. Sepeda-sepeda seenak perut mengendap dan merayap. Mobil menyalip tanpa belas kasihan. Sepeda motor menukik tanpa hirau keselamatan sesama.

'Kejahatan' saya tak berhenti di sini. Saya juga berdoa agar mal menjadi sepi karena orang lebih mementingkan duduk di rumah untuk mengirit duit. Restoran kosong lantaran sea food tak lagi bisa dibeli. Pasar malam tak lagi diadakan. Simpanglima tak seberjejal biasanya pada Minggu pagi karena warga yang menyemutinya memilih tidur di pagi hari sebab malamnya begadang untuk menenteramkan bayi-bayinya yang tak lagi mampu meminum susu.

Dugaan saya, lagi-lagi, keliru. Mal masih riuh. Kafe masih penuh gelak tawa tanpa dosa. Simpanglima masih seramai biasanya, dan bahkan mereka menenteng belanja. Toko-toko tetap panen, pasar tradisional tak diselimuti wajah-wajah cemas, gedung bioskop tetap memutar film dengan penonton yang mengantre.

Ah, jangan-jangan cuma di Semarang. Siapa tahu di Solo, Yogya, Kudus, Jakarta, Surabaya, atau Medan pemandangannya berbeda. Tidak juga! Solo Grand Mall tidak lengang. Malioboro tetap dikunjungi turis domestik. Medan? "Siapa bilang sepi? Tuh orang-orang tetap girang! Bah!" Seru Marwis Umsa, kawan saya di Medan dalam SMS-nya.

Apa kesimpulannya? Harga BBM melejit, orang tetap tak menjerit. Orang-orang tetap belanja dan bersuka. Orang-orang tetap konsumtif dan "antimiskin". Orang tetap mempertahankan hidup lewat cara-cara yang mereka yakini. Kegembiraan, begitu ucap mereka barangkali saja, mahal harganya. BBM naik bukan alasan penting untuk menekuk muka dan menjilati lara, sebab hidup ini indah. Hidup ini cuma sesaat!

Ataukah kesimpulan itu timbul karena saya tak menyeruak ke lapis terbawah masyarakat? Atau mungkin cuma melintasi jembatan Banjirkanal menuju rumah, tanpa pernah berpaling ke orang-orang papa di bawahnya?

Mereka, barangkali, golongan paling tertikam dan tetindas!

12 Mei 2008

RINDU TUHAN


HARI Minggu kemarin saya ingin tiduran di pangkuanMu seraya mengadu. Tak tahan hati saya menyimak mata-mata polos itu. Mata-mata yang dicampakkan. Mata-mata yang disembelih sendiri oleh orangtuanya tanpa iba.

Sepanjang hari saya amat merindukanMu, Tuhan. Bakti sosial ultah Tabloid PULSA ini menjadi pengembaraan spiritual yang luar biasa, dari ujung barat hingga timur Kota Semarang. Dari wanita papa dan janda-janda tua, hingga anak-anak yang tersuruk. Lalu, tibalah pada tengah hari rombongan kami di Panti Asuhan Wiratama Putra.

Di gerbang panti asuhan dengan jejalanan yang terjal ini mata kami bersirobok dengan seringai sejumlah anak tanpa alas kaki. Beberapa dari mereka kausnya seragam. Tangan saya bergetar tatkala mereka melambaikan tangan. Mata saya sembab, sampai-sampai mencari ruang untuk memarkir mobil saja saya nyaris menyuruk gardu.

Tubuh-tubuh mungil ini mengerumuni kami. Saya mengelus mereka satu persatu tanpa bisa menyembunyikan isak. Beberapa teman juga tampak menggigil. Saya amat-amati mata mereka sekian lama, lalu saya temukan kegembiraan yang mulai bersemi setelah dicangkok oleh Bapak dan Ibu Untung, pengelola panti asuhan ini. Tetapi sampai kapan cangkokan mampu menahan gerus nasib yang warnanya buram?

Sekitar 80 anak dengan sejarah yang beragam menghuni panti asuhan itu. Perih rasanya dada tatkala diceritakan satu persatu awalnya mengapa mereka dengan sangat terpaksa dibesarkan di sana.

“Yang ini dititipkan polisi karena dibuang begitu saja oleh orangtuanya. Nah, yang itu ditinggal mati oleh ibunya yang pengemis di sebuah sudut Jakarta. Yang di sana itu kami temukan di terminal, yang sebelahnya … “

Saya tak sanggup mendengar lagi. Ingin rasanya mengasah belati, menghambur ke iblis yang membuang bayinya di selokan atau toilet umum. Ingin rasanya menembaki mereka satu persatu, mencincangnya menjadi ratusan bagian, lalu menceburkannya di sungai paling keruh yang pernah ada!

Minggu kemarin saya merindukanmu, Tuhan. Saya ingin bertukar pikiran. Saya ingin Anda memberi penjelasan kepada saya tentang arti keadilan. Saya ingin mengajakmu berdebat perihal ketersia-siaan. Saya ingin Anda menjenguk anak-anak ini lalu memberi mereka pedang.

Saya ingin menggiring mereka ke pangkuanmu, tanpa karma dan dosa …

7 Mei 2008

KELAPARAN


TIAP kali mengingat kelaparan atau papa, selalu saya berhenti makan, menaruh sendok, dan menghembuskan napas berat. Di ujung lain dunia ini, atau di beberapa tempat di sekeliling kita, banyak balita merengek karena tak makan apa-apa seharian. Di sekitar kita banyak orang mengais makanan sisa di keranjang sampah.

Kita kenyang dan mengumbar tawa. Kita berjoget dan hura-hura. Tapi, ketahuilah, banyak suami-istri ribut malam-malam lantaran besok pagi harus makan apa. Ketahuilah pula, banyak pria mencuri ayam untuk sekadar membeli beberapa kilo beras dan ikan asin untuk anak-anaknya.

Kita masih subur dengan perut menggelembung. Kita masih sejahtera dengan sarapan dan makan siang tanpa cemas. Tapi bagaimana dengan mereka yang makan pagi sepiring dibagi? Bagaimana dengan mereka yang selalu kelaparan?

Ada perlunya kita meresapi lirik lagu We Are the World tulisan Michael Jackson dan Lionel Richie yang berkibar era 80-an ini. Tak kurang 50 penyanyi papan atas Amerika gotong royong melakukan ‘koor’ lagu ini dalam bungkus Band AID. Kasetnya sendiri berlabel “USA for Africa”.

Kapan penyanyi-penyanyi kita sejenak berhenti mendulang uang, lalu membikin album seperti ini?

Inilah We Are the World itu:

There comes a time
When we head a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it's time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can't go on
Pretneding day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of
God's great big family
And the truth, you know love is all we need

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

Send them your heart
So they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stone to bread
So we all must lend a helping hand

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

When you're down and out
There seems no hope at all
But if you just believe
There's no way we can fall
Well, well, well, well, let us realize
That a change will only come
When we stand together as one

[Chorus]
We are the world
We are the children
We are the ones who make a brighter day
So let's start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
It's true we'll make a better day
Just you and me

19 Apr 2008

POLISI


POLISI negeri ini selalu berselimut nyinyir. Setiap ada sekelompok polisi berdiri di tepi jalan, kita disergap tanda tanya: “Wah, ada apa lagi ini?”

Tetapi tadi pagi saya menemukan fenomena. Seorang polisi berlari kencang mendekati seorang tuna netra yang terjebak padatnya perempatan Dr Cipto, Semarang. Pria tuna netra ini sudah mengayun-ayunkan tongkatnya agar diberi jalan, tatkala ia mau menyeberang dari arah Dr Cipto menuju Bangkong. Namun pengendara motor berulangkali nyaris menyambarnya karena pagi hari di area ini memang kawasan sibuk.

Polisi tadi – deskripsinya, muda, rada ganteng, sawo matang, dan gaul (pakai kacamata hitam) -- secepat kilat menjumput lengan bapak yang tengah terjebak, kemudian menuntunnya ke trotoar seberang jalan.

Saya nyaris bertepuk tangan. Sumpah bukan menyindir, tetapi sangat salut. Saking terpana, saya kelupaan menyambar kamera (lagipula tustel itu ada di tas laptop, dan perlu merogohnya ke kedalaman tas untuk mendapatkannya), sehingga momen ‘besar’ ini terlewat begitu saja (untuk hal ini jujur saya akui naluri kewartawanan saya mandeg dan perlu dikasih rapor merah).

Peristiwa campur tangan polisi untuk hal-hal krusial seperti ini bukan sekali saja saya jumpai. Di tempat yang sama, beberapa bulan sebelumnya, terjadi tubrukan antar dua sepeda motor. Pengendaranya siswi SMA, melawan seorang bapak. Siswi ini terlempar sekian meter dari titik tabrakan, dan pingsan.

Dua orang polisi yang mangkal di pos perempatan ini secepat angin menyambar tubuh korban, lalu membobongnya ke keteduhan terdekat. Sang polisi memprioritaskan korban kecelakaan, karena ini kaitannya sama nyawa, sedangkan si bapak yang langsung bangkit setelah benturan diurusi belakangan. Salut! Sayang, lagi-lagi saya tak mampu cepat-cepat memotret momen penting ini, padahal saat itu kamera digital menggantung di gesper saya.

Ada sisi-sisi baik polisi kita, di luar ribuan makian yang tertuju ke pengayom masyarakat tersebut lantaran: “urusan dengan polisi, pasti melibatkan uang”.

Saya melihatnya dari sisi positif kepedulian polisi atas dasar kemanusiaan. Nah, perkara nanti ternyata berbuntut duit (atawa sekadar mencari muka) atas dua kejadian yang saya ilustrasikan tadi, wallahu alam bisawab!

11 Mar 2008

MENANGIS


SAYA termasuk golongan orang cengeng. Menyaksikan pengibaran bendera 17-an saja kerap menitikkan airmata. Ada sejumlah acara televisi yang membuat saya terisak-isak, umpama “Tolooong..” atau “Bedah Rumah” yang pernah diudarakan RCTI dan SCTV itu.


Pagi tadi kelenjar airmata saya juga tersentak tatkala dua mobil pemadam kebakaran melintasi Jalan Sriwijaya, saat saya berhenti di lampu merah di belokan menuju kantor. Dua hal yang membikin saya terharu, pertama kebergegasan para petugas dengan mengebut mobilnya menuju kebakaran (yang hingga saya ketik catatan ini belum saya ketahui dimana kebakarannya); kedua, itikad baik para pengguna jalan raya yang serentak minggir kala PMK mau melintas.


Kepedulian terhadap musibah ternyata masih ada di dada warga negeri ini. Tetapi, beberapa tahun silam, ada seorang pemuda yang terpaksa saya damprat lantaran ia tak memberi jalan pada sebuah ambulance yang bergegas melesat membawa orang yang (mungkin saja) mendekati ajal jika tak segera ditangani medis.


Itu terjadi di Jalan Siliwangi, di jalur padat menuju bundaran Kalibanteng. Yang lain sudah minggir, tapi mobil mewah ini cuek saja menghalangi ambulance di lampu merah menuju Bandara A Yani. Saya dekati kacanya, lalu saya ketuk jendela. Ia membuka kaca dan melongokkan kepala. Dari balik kacamatanya ia tampak kaget bercampur marah, tapi saya tak peduli.


“Bisa minggir nggak, Mas!” Kata saya sambil melotot sembari saya tunjuk ambulance persis di belakangnya. Mungkin merasa diperintah, dia acuh tak acuh.


Di rumah, ia boleh juragan, tetapi di sini pria itu harus menjadi manusia yang beradab! “Minggir!!” Teriak saya galak sambil saya tendang pintu BMW-nya. “Sampean budeg, ya? Minggir nggak!” Akhirnya dia minggir, demi melihat orang-orang di sana juga memandangnya dengan marah.


Saya mungkin tergolong orang yang cengeng. Tetapi saya tidak menangis ketika melihat tayangan televisi yang menceritakan seorang bandit ditembak polisi lantaran berusaha kabur …

21 Feb 2008

WAGE


JANTUNG saya serasa dibetot. Saya amati dengan seksama foto pria berkacamata yang sedang menatap kamera dengan kedua tangannya menggenggam sepatu itu. Koran Radar Semarang di jemari saya pun rasanya mau merosot.

Wage? Wage Teguh Wijono yang dulu garang itu? Benar adanya! Dialah Wage!

Tetapi mengapa berkutat dengan sepatu? Mengapa wajahnya tampak begitu tua? Mengapa ia berganti nama menjadi “Lek Wage”? Paparan dalam berita di koran itu mengabarkan duduk perkara: Wage sekarang menjadi tukang sol sepatu di kawasan Jatingaleh, Semarang!

Lima belas tahun lalu, Wage sekamar dengan saya di Sanggar Aktor Studio, milik Mas Djawahir Muhammad, salah satu seniman di Semarang. Sanggar yang tak hanya memproduk para pemain teater, melainkan juga kumpulan para pelukis, penyair, penulis, bahkan tukang becak boleh numpang tidur.

Dalam keseharian, Wage bicara ceplas-ceplos dan idealis, seolah dunia ini enteng di tangannya. Ia mengobrolkan WS Rendra hingga Sitok Srengenge. Ketika bicara tentang kesenian, ia fasih melontarkan istilah-istilah susastera. Beberap kali ia saya pergoki pagi-pagi merentangkan tangannya seraya menghadap matahari, seakan ia hirup energi alam semesta.

Karena saya masih hijau, ada beberapa hal yang saya adopsi dari Wage, umpama sikap pedenya menghadapi apapun. Ia juga secara tak langsung mengajari saya untuk kuat, meski waktu itu saya sangat marah tatkala ditugasi mengepel lantai. Sampai usia belasan, saya tak pernah mengepel. Hidup saya cukup borju untuk ukuran kampung, karena bapak adalah carik di sebuah desa di Demak sana.

Setelah sekian tahun tak terdengar kabarnya, tahu-tahu pagi-pagi saya membaca ulasan mengenai Wage, dengan sorot mata optimis ketika mengelus sol sepatu,
untuk menghidupi tiga anak serta satu istrinya!

!

5 Feb 2008

DUNIA SEMPIT


DUNIA tak selebar daun pintu. Di bandara, Minggu (3/1) pagi lalu, saya bertemu teman kuliah. Namanya Joko. Ia tampak asyik dengan laptop putih susu di pangkuannya, di sebuah sudut ruang tunggu Cengkareng. Tadinya saya ragu, apa benar itu Joko. Sampai kemudian ketika kami sudah memasuki kabin Sriwijaya Air, senyumnya yang mengembang memupus keraguan saya.

Sepuluh tahun tak bertemu mengubah segalanya. Tubuhnya tampak gemuk. Ia juga terbelalak melihat saya lebih tambun. Saya merasa berdosa ketika bertanya soal rumah tangganya. Tadinya saya berharap mendapat jawaban standar, misalnya: "Baik-baik saja. Anak-anakku mulai besar. Istriku masih bekerja di perusahaan lama." Kebetulan saya kenal istrinya. Ternyata, mereka telah .. cerai!

Tak sekali ini fakta membuktikan bahwa dunia itu sempit. Di Seoul, tahun 1999, saya tak menduga bertemu tetangga di Demak sana. Ketemuanya sepele. Saya sedang jalan-jalan di Dong Daemun (semacam toserba, letaknya di bawah tanah jalan protokol Seoul), memilih-milih wallpaper, senter, dan barang-barang unik yang tak ada di negeri ini.

Saat menimang-nimang speaker active bermotif bola di sebuah gerai, seseorang tiba-tiba mengomentari, "Yang itu bagus, Mas. Saya jamin di Indonesia tak ada." Saya menoleh. Mendapati wajah Jawa yang rasa-rasanya tak asing. Saya hanya manggut-manggut, dan segera membayar.

Tak lama kami akrab. Merasa ada orang senegara, saya menguntit langkahnya, dan tiba-tiba merasa aman. Tibalah waktunya bertutur asal-usul. Namanya Syaiful. Ia mengaku kelahiran Demak. Saya terkejut. "Demaknya mana?" Kejar saya.

"Wonosalam, Mas, desanya Getas," katanya, enteng banget, seakan tak menghormati kekakegatan saya.

"Ah, yang bener! Kamu Syaiful anaknya Lik Mardi, rumahnya deket SD itu?" Ujar saya membabi buta.

Gantian ia yang tampak terperanjat. "Loh, kok tahu, Mas? Ini Mas Arief anaknya Pak Carik ya?" Serunya senang. Kami pun segera bereuni, karena ia adik kelas saya sewaktu SD.

Tak perlu saya kisahkan 'nasib' Syaiful yang 'tersesat' di Korea, menjadi TKI selepas SMA. Tak perlu pula saya ceritakan kemana saja kami menghabiskan waktu selama perjumpaan di Seoul itu, di sela tugas jurnalistik saya. Yang ingin saya tandaskan, dunia memang sempit!


 

4 Feb 2008

WE ARE THE WORLD



PAGI masih menggeliat dari peraduan, ketika tangan saya mendadak tergerak untuk menyusuri folder Sweet Memories di laptop. Entah, tiba-tiba saya mual dengan Ari Lasso, NAFF, atau DEWA. Ingin lagu yang benar-benar menyentak spirit! Pokoknya jangan sekadar Akhirnya Kumenemukanmu punyanya NAFF itu, atau Hitam Putih-nya DEWA. Jangan! Jangan yang cengeng! Tapi lagu yang bener-bener LAGU!

Maka, ketemulah We Are the World dari deretan lagu sweet memories. Ups! Bukankah ini lagu semasa aku di SMP. Bukankah lagu ini yang pernah membuatku menangis karena dikabarkan bahwa We Are the World diciptakan untuk membantu warga Afrika yang kelaparan?

Adalah USA for Africa (United Support of Artists for Africa). Ini nama kelompok artis terkenal dari Amerika Serikat di bawah pimpinan Harry Belafonte, Kenny Rogers, Michael Jackson, dan Lionel Richie. Mereka merekam singel hit We Are the World di tahun 1985. Lagu ini berhasil menjadi hit di AS dan Britania pada bulan April 1985.

Keuntungan dari penjualan singel ini diberikan kepada USA for Africa Foundation untuk penanggulangan kelaparan dan penyakit di Afrika. Rekaman pertunjukan live kelompok ini disertakan dalam set DVD Live Aid yang dirilis tanggal 8 November 2004.

We Are the World ditulis Michael Jackson bersama Lionel Richie, dan direkam 28 Januari 1985 dengan Quincy Jones sebagai produser. Pada awalnya, proyek ini diberi nama United Support of Artists agar memiliki singkatan "USA", tapi akhirnya dinamakan USA for Africa. Lagu dirilis tanggal 8 Maret 1985 dan berhasil menduduki puncak tangga lagu di banyak negara di dunia.

Tahun 2004 terbit DVD ulang tahun ke-20 tahun "We Are The World" yang diberi judul “We Are The World The Story Behind the Song”. DVD ini berisi berisi dokumentasi rekaman lagu We Are the World.


Inilah daftar panjang Band AID yang membuat dunia berlinang airmata itu:
Dan Aykroyd (satu-satunya orang Kanada sekaligus salah satu dari 2 orang peserta yang bukan orang Amerika), Harry Belafonte, Lindsey Buckingham, Kim Carnes, Ray Charles, Mario Cipollina (Huey Lewis & The News), Johnny Colla (Huey Lewis & The News), Bob Dylan, Sheila E., Bob Geldof (satu-satunya orang Irlandia sekaligus salah satu dari 2 orang peserta yang bukan orang Amerika), Bill Gibson (Huey Lewis & The News), Hall & Oates, Sean Hopper (Huey Lewis & The News), James Ingram, Jermaine Jackson, Jackie Jackson, LaToya Jackson, Marlon Jackson, Michael Jackson, Randy Jackson, Tito Jackson, Al Jarreau, Waylon Jennings, Billy, Joel, Cyndi Lauper, Huey Lewis, Kenny Loggins, Bette Midler, Willie Nelson, Jeffrey Osborne, Steve Perry, The Pointer Sisters, Kenny Rogers, Diana Ross, Lionel Richie, Smokey Robinson, Paul Simon, Bruce Springsteen, Tina Turner, Dionne Warwick, Stevie Wonder.


Dan inilah liriknya:

There comes a time when we hear a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
and its time to lend a hand to life
There greatest gift of all

We cant go on pretending day by day
That someone, somewhere will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So lets start giving
Theres a choice we're making
We're saving out own lives
its true we'll make a better day
Just you and me

Send them your heart so they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stones to bread
So we all must lend a helping hand

We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So lets start giving
Theres a choice we're making
We're saving out own lives
its true we'll make a better day
Just you and me

When you're down and out, there seems no hope at all
But if you just believe theres no way we can fall
Let us realize that a change can only come
When we stand together as one

We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So lets start giving
Theres a choice we're making
We're saving out own lives
its true we'll make a better day
Just you and me


(dan, lagi-lagi, saya tersedu … )

28 Jan 2008

PAK HARTO


Minggu siang, tatkala Siti Hardiyanti menggelar press conference usai bapaknya meninggal, entah mengapa airmata saya menetes. Bukan penuturan Mbak Tutut yang melankolis dan bersuara serak, tetapi saya kira rasa sentimentil saya ini berkaitan dengan kematian.

Setiap melayat siapapun, saya melafalkan doa-doa sebisa saya. Dalam benak saya, orang kalau sudah meninggal tak perlu kita bebani dengan pikiran negatif. Biarlah ia menghadap Sang Khalik dengan tenang dan sempurna. Kalau perlu, biarlah ia masuk surga. Kalau penuh dosa, saya minta Tuhan mengampuninya, sehingga dalam timbangan baik-buruk bisalah seimbang.

Kembali ke Pak Harto. Jujur saya pernah kesal pada orang satu ini. Saya pernah melihat pria renta di desa saya, di Demak sana, ditempelengi tentara Koramil gara-gara terbalik memasang bendera. Pria ini kira-kira umurnya 70 tahun yang mungkin sudah rabun. Bayangkan kalau orang tersebut adalah bapak atau pakdenya si tentara.

Rezim Orde Baru memang identik dengan semena-mena. Barangkali Pak Harto tak pernah memerintah tentara untuk menggebuki warga. Barangkali juga Pak Harto tak pernah secara langsung menyuruh polisi memalak pelanggar lalu lintas.

Tetapi ibarat kepala ular, kemanapun ia bergerak dan mematuk, maka ekornya mengikuti dan menyaksikan. Kalau mulut ular ganas menyerang siapapun, ekornya akan melakukan pembelaan dan meniru!

Pak Harto pernah (secara tak langsung) memerintah agar Golkar menang dengan cara apapun. Itu mengapa Bapak saya yang carik di sebuah desa memerlukan paku di bawah meja untuk mencoblosi PPP dan PDI sekaligus jika kartu Pemilu abstain. Bila PDI atau PPP yang dicoblos warga, maka gambar lain juga harus dicoblos (melalui paku rahasia ini) agar kartu tersebut tidak sah.

Pak Harto menurut saya manusia ajaib. Ia diwarisi wahyu menjadi pemimpin oleh trah yang kita tak tahu dari mana, kerajaan apa, atau siapa raja itu. Itu mengapa 32 tahun memerintah, ia melahirkan hegemoni yang superstar, hingga akhirnya Bu Tien meninggal, sehingga kesaktiannya berangsur luntur.

Kini presiden yang gemar tersenyum itu telah tiada. Meski pernah kesal, tetapi sejak hari Minggu siang saya memanjatkan doa-doa agar ia diberi jalan yang terang menuju tempat yang terbaik baginya. Bagi saya, orang yang telah mati tak perlu didoakan agar ia masuk neraka!

Selamat jalan, mantan presiden!

24 Jan 2008

PSSI


Kalau saya sertakan logo PSSI di sebelah kiri ini bukan berarti saya cinta PSSI. Jujur saya mual. Logo itu padi dan kapas. Seolah-olah sebuah kewajiban di negeri ini bahwa logo ya padi dan kapas, alias sandang dan pangan.

Padahal logo Arema saja asyik punya. MU oke banget. AFC keren. Juve ciamik. Klub tarkam di kampung saya malah punya logo sangar, mencerminkan sepakbola yang laki-laki banget.

Perlu diganti? Sangat wajib! Harus diganti! Apa hubungannya padi dan kapas dengan sepakbola? Tunggu dulu! Jangan-jangan logo padi-kapas tersebut mencerminkan betapa makmurnya menjadi pengurus PSSI. Uang berhamburan dari sekadar pencabutan kartu kuning untuk pemain, hingga uang-uang siluman untuk pengaturan wasit atau promosi-degradasi.

Rabu malam, 23 Januari lalu, SCTV menggelar acara "Topik Pekan Ini". Yang diundang wartawan Kompas Anton Sanjoyo, Menpora Adhyaksa Dault, seorang komentator sepakbola, dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes. Di tengah mereka ada perwakilan suporter.

Acara ini seru dan perlu. Pendek kata, seluruh yang di sana memojokkan PSSI dengan menyinggung perkara kerusuhan Kediri pada partai Arema-Persiwa babak 8-Besar LI XIII, sampai pertanyaan: mengapa sebuah organisasi dipimpin seseorang yang lagi mendekam di penjara?

Saya sungguh takjub dengan cara Nugraha ngeles. Ia begitu pintar berkelit dan mencoba meyakinkan bahwa apa yang dilakukan pengurus PSSI adalah untuk kebaikan semua.

Hei, kebaikan untuk siapa?!!

21 Mei 2007

DEJA VU


Alam di bawah sadar kita mirip pergulatan pasar malam. Riuh rendah, ribuan percakapan berseliweran. Mimpi adalah manifestasi dari 'keributan' alam bawah sadar. Tak jarang mimpi kemarin terjadi hari ini. Itulah deja vu.

Tiap orang pernah mengalami misteri déjà vu – kilasan kenangan saat Anda bertemu seseorang dan Anda merasa sudah mengenal seluruh hidup Anda atau mengenali suatu tempat meskipun Anda belum pernah kesana sebelumnya. Tetapi bagaimana jika firasat adalah sebuah peringatan yang dikirimkan dari masa lalu atau menjadi petunjuk masa depan?

Banyak film mengisahkan fenomena ini, salah satunya Deja Vu, dibintangi Denzel Washington. Agen ATF Doug Carlin (Denzel Washington) melakukan pemeriksaan sebuah kasus kejahatan. Terpanggil untuk menyelamatkan bukti saat bom meledak di atas kapal Feri New Orleans. Carlin menemukan bahwa apa yang dipercaya oleh kebanyakan orang hanya ada di kepala mereka dan itu jauh lebih kuat. Ini membuatnya berusaha keras untuk menyelamatkan ratusan orang tak bersalah.

30 Mar 2007

APA KABAR, PELE? SAYA RINDU ANDA


[6 Juni 1997. Ubin lantai 5 Hotel Regent, Jalan Hang Tuah, Kuala Lumpur, seolah bergoyang ketika pria berkulit hitam itu memasuki ruangan. Dada saya berdegup kencang. Pria itu, Edson Arantes do Nascimento, atau dunia menyapanya dengan Pele, menebar senyum. Lalu lampu kilat menghujaninya]

Apa kabar, Pele? Pagi ini saya mendadak sangat merindukan Anda. Seolah hangat telapak tangan Anda tatkala kita bersalaman di Kuala Lumpur itu masih membekas. Saya cermati beberapa lama foto kita di tembok rumah, sampai akhirnya saya harus bergegas menyalakan DVD, memutar cakram kenangan Piala Dunia.

Di final Piala Dunia Swedia, 29 Juni 1958 itu, Anda masih berusia 17. Tetapi pesona Anda sangat memukau, bukan hanya lantaran Anda membidik dua gol ke gawang Swedia, melainkan juga karena Brasil yang Anda bela unggul 5-2.


Ketika Piala Dunia digelar di Meksiko, 1970, Italia datang untuk menebus kegagalan di Inggris. Memang berhasil sampai ke final, namun membentur tim super Brasil yang kembali Anda perkuat, padahal empat tahun sebelumnya Anda cedera. Brasil menang 4-1. Karena telah tiga kali merebut Piala Jules Rimet, negara Anda berhak memiliki selamanya. Maka FIFA membuat piala baru untuk diperebutkan di Jerman Barat, 1974. Sejak itu dikenal istilah Piala Dunia, yang juga berlaku untuk nama resmi turnamen.


Di Piala Dunia Jerman Barat, 1974, Anda pensiun, tetapi muncul Johan Cruyff dari Belanda dengan total football-nya.


Johan Cruyff? Maradona? Bukan! Andalah yang terbesar!



27 Mar 2007

KAUKAH ITU, SHERINA?


... selamat pagi, Sheri, sedang apa saat ini?

... rasanya baru kemarin aku menyimakmu menyanyikan Andai Aku Besar
Nanti, Pelangiku, Kembali ke Sekolah. rasanya baru kemarin aku menonton kaki-kaki mungilmu berlarian di kebun teh dalam Petualangan Sherina [oya, proficiat untuk Riri Riza, Elfa Secioria, dan Jujur Prananto yang membuat aku gemas dan berdegup senang] ...

... Sheri, rasanya baru kemarin aku menyimakmu dengan gigi renggang saat kita bersalaman di Auditorium Binakarna Kompleks Bidakara, Jakarta Selatan, usai konsermu yang menawan itu ...

... kini, kemarin pagi, aku berlinang airmata kala remaja dan ibu-ibu berebut menyentuh lenganmu ketika kau menyibak terowongan manusia di pelataran SCTV. kau mempesona sebagai bidadari baru, mirip Paramitha Rusady kala pertama menjejak remaja ...



MENJALA IKAN



... hidup itu seperti menjala ikan. itu filosofi yang dituturkan mendiang Ibu, beberapa tahun sebelum beliau wafat. ketika kita melangkah keluar melewati pintu, mayapada menyambut kita dengan beragam kemungkinan, bisa pahit, bisa manis. ikan besar, ikan kecil, ikan yang sangat teri, bahkan ikan yang sama sekali tak tersandung jala kita, adalah sempit atau lebar nasib memberi kita terowongan ...

16 Mar 2007

SELAMAT PAGI, PAK POLISI



selamat pagi, pak polisi, sudahkah anda sarapan pagi ini? tanki motor anda telah terisi bensin, bukan? hari ini kami perlu anda untuk mengatur lalu lintas, mengejar copet, menangkapi rampok, dan menenteramkan hati. hari ini kami akan bersikap manis, agar anda tidak gusar. maaf, belakangan ini kami sangat takut, terutama bila anda sudah mengacung-acungkan pistol ... (semoga jalan anda diterangi Tuhan, pak waka)

MENGGLADIATORKAN SEPAKBOLA

... apa sesungguhnya yang terjadi di atas rumput, tatkala bola bergerak kesana kemari dengan jejak-jejak kaki yang tergopoh-gopoh? sepakbola menandai betapa purbanya manusia. betapa sempitnya nalar jika olahraga melulu menjadi perburuan kalah dan menang. betapa darah dibiarkan mengucur seakan sepakbola adalah tempat untuk memunculkan kembali naluri gladiator. sepakbola dibiarkan berkembang liar, meranggas, dan menohok. sepakbola melahirkan perih berkepanjangan lantaran ongkosnya dirogoh dari ulu hati rakyat. sepakbola dipicu menjadi karburator politik, menjadi bagasi ambisi, menjadi api ...

15 Mar 2007

TRAGEDI BUAH APEL


... entah apa dosa apel, hingga namanya diseret dalam institusi bernama tragedi. makan apel, pagi ini, saya teringat anita sarawak. penyanyi malaysia ini memukau dengan "tragedi buah apel", sebuah lagu dengan kandungan dongeng mengenai terenggutnya keperawanan. apel, dengan demikian, apakah simbol dari kegadisan? dengan demikian pula, tatkala mengunyah serat-serat halusnya yang gurih pagi ini, saya juga tengah menikmati tragedi? ...