
SAYA 'berpikiran kotor' setelah harga BBM naik. Saya berangan-angan orang malas keluar rumah, tak ada lagi macet, dan aspal menjadi selengang jalan-jalan di Korea Selatan. Tapi saya gigit jari. Macet tetap ada, meski tak sesuntuk Jakarta. Pagi, saat berangkat ke kantor, sebal tetap saja menggumpal.
Saat meluncur menuju tempat kerja, kisaran jam 6-7 pagi, jalan dari Plamongan Indah ke arah Simpanglima tak menyisakan sejengkalpun ruang untuk bernapas. Enam lampu merah di jalur itu menyusahkan siapapun karena semua tak mau mengalah. Orang menjadi gampang kesal dan emosional karena harus beringsut dan berjejal. Sepeda-sepeda seenak perut mengendap dan merayap. Mobil menyalip tanpa belas kasihan. Sepeda motor menukik tanpa hirau keselamatan sesama.
'Kejahatan' saya tak berhenti di sini. Saya juga berdoa agar mal menjadi sepi karena orang lebih mementingkan duduk di rumah untuk mengirit duit. Restoran kosong lantaran sea food tak lagi bisa dibeli. Pasar malam tak lagi diadakan. Simpanglima tak seberjejal biasanya pada Minggu pagi karena warga yang menyemutinya memilih tidur di pagi hari sebab malamnya begadang untuk menenteramkan bayi-bayinya yang tak lagi mampu meminum susu.
Dugaan saya, lagi-lagi, keliru. Mal masih riuh. Kafe masih penuh gelak tawa tanpa dosa. Simpanglima masih seramai biasanya, dan bahkan mereka menenteng belanja. Toko-toko tetap panen, pasar tradisional tak diselimuti wajah-wajah cemas, gedung bioskop tetap memutar film dengan penonton yang mengantre.
Ah, jangan-jangan cuma di Semarang. Siapa tahu di Solo, Yogya, Kudus, Jakarta, Surabaya, atau Medan pemandangannya berbeda. Tidak juga! Solo Grand Mall tidak lengang. Malioboro tetap dikunjungi turis domestik. Medan? "Siapa bilang sepi? Tuh orang-orang tetap girang! Bah!" Seru Marwis Umsa, kawan saya di Medan dalam SMS-nya.
Apa kesimpulannya? Harga BBM melejit, orang tetap tak menjerit. Orang-orang tetap belanja dan bersuka. Orang-orang tetap konsumtif dan "antimiskin". Orang tetap mempertahankan hidup lewat cara-cara yang mereka yakini. Kegembiraan, begitu ucap mereka barangkali saja, mahal harganya. BBM naik bukan alasan penting untuk menekuk muka dan menjilati lara, sebab hidup ini indah. Hidup ini cuma sesaat!
Ataukah kesimpulan itu timbul karena saya tak menyeruak ke lapis terbawah masyarakat? Atau mungkin cuma melintasi jembatan Banjirkanal menuju rumah, tanpa pernah berpaling ke orang-orang papa di bawahnya?
Mereka, barangkali, golongan paling tertikam dan tetindas!















