Search

Tampilkan postingan dengan label TRUE STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRUE STORY. Tampilkan semua postingan

3 Nov 2009

ELANG DARI GOENOENG


SIANG meretas naik ketika elang itu menukik. Wahai angin, mengapa kabarmu mendadak begitu rupa?

Rindu pada angin, rindu pada gelegak samudera. Rindu ini memecahbelah kepala, menautkannya pada sebuah perahu yang terseret ombak dan onak.

Kami bercengkerama. "Jangan di beranda!" Ujar saya seraya membimbingnya ke ruang tamu, mengenalkannya pada hembus angin keluarga saya.

Lalu bernyanyilah sonata. saya menatap elang di matanya, di bawah gerai rambut yang selalu begitu dari waktu ke waktu. "Saya perlu puisi, saya butuh sandaran hati," ucapnya lirih, menyenandungkan kenangan kafe dan sesendok gula.

Puisinya mengajak saya berkelana, dari Yunani hingga Rusia, dari Jogja hingga Blora, dari Pati tempat kelahirannya, hingga Banyumanik tempat ia menetas dan menyemburat.

Puisi pula yang menyambit aorta darah saya, mengalirkan benih-benih bugenvil, menyiraminya hingga waktu tak terbatas. Saya tersentak karena tiba-tiba saya dibangunkannya persis ketika jendela itu terbuka dimana saya segera bisa menatap padang Savana melalui rongga udara.

Tak genap setengah jam kemudian elang itu terbang, kembali ke ujung Goenoeng ...


*Rindu bertalu buat Mas Goenoeng

5 Agu 2009

PUISI UNTUK BOYOLALI DAN POLISI


AWAL pekan ini saya tersengat musibah yang amat tidak keren: kehabisan bensin! Tapi saya memperoleh pengalaman batin berlimpah.

Memasuki Boyolali dari arah Solo, tiba-tiba mesin saya tersengal. Saya mengira aki bermasalah lagi. Lima hari sebelumnya ia ngambek dan enggan menggerakkan segenap perkakas elektronik gara-gara saya alfa memeriksa airnya. Tapi ternyata bensin ludes. Indikator digital di dasbor menjelaskannya. Lampu BBM kedap-kedip, dan celakanya baru saya ketahui di tengah perjalanan.

Tentu saya panik tak terkira. Maklum saja, senja telah roboh, sementara di dompet tak ada duit sepeserpun.

Di tengah sengal mesin, saya memaksa menginjak pedal gas, mencari tiga-lima meter ke depan supaya kendaraan tidak berhenti di tengah jalan. Jalur itu cukup padat. Bisa-bisa truk gandeng menyambar saya dengan seksama.

Ups! Berhenti persis di sisi trotoar seberang pos polisi bibir timur kota Boyolali. Sesaat saya menarik napas. Mencari-cari cara supaya terbebas dari belitan cemas. Siapa teman di Boyolali? Adakah famili? Nihil!

Saat itulah jendela kaca diketuk dari luar. Seorang polisi muda. Saya perkirakan baru dua-tiga tahun ia lulus sekolah calon bintara. Saya turunkan kaca. Mendapati senyumnya yang ramah.

"Selamat sore, Pak. Ada masalah apa?" Tanya polisi ini dengan amat santun.

"Kehabisan bensin, Mas," jawab saya seraya tersenyum getir. Sengaja saya memanggilnya "mas" karena jarak usia, meski ia aparat negara. Ia tampak tidak protes.

"Hm, begini saja. Bapak istirahat dulu di pos kami, kemudian nanti saya suruhan seseorang untuk membeli bensin di SPBU sana dengan jerigen," ucapnya sambil tetap ramah dan menunjuk SPBU satu kilometer di belakang kami.

Saya jujur saja bahwa saya tak membawa uang. Ia mengerti dan tampak berpikir sejenak. Lalu ia menanyakan apakah ada famili di Boyolali. Saya bilang kerabat terdekat ada di Salatiga (satu jam perjalanan), yakni Komarul, saudara sepupu. Tapi saya tak mengatakan pada polisi muda ini bahwa Komarul adalah seorang reserse berpangkat perwira menengah. Tak lebih untuk menghindari pemikiran negatif, misalnya dikira pamer.

Pendek kata, akhirnya saya duduk di pos polisi. Selang beberapa belas menit polisi muda tadi berpamitan, bertukar piket dengan dua polisi lain. Dua petugas berikutnya tak kalah ramah. Kami bersalaman. Yang senior bernama Wibowo (saya memanggilnya Pak Bowo), satunya Pak Arief (kebetulan namanya sama dengan saya). Pak Bowo lebih senior ketimbang Pak Arief.

Dalam dingin menusuk tulang -- selagi saya menunggu transfer dari Komarul -- kehangatan menyelimuti kami. Entah mengapa kami selayaknya tiga kawan yang lama tak berjumpa. Tak ada batas-batas, tak ada hal-hal yang mereka sembunyikan.

Awalnya saya tak berterus terang bahwa saya jurnalis. Tapi saat Pak Bowo bertanya apa pekerjaan saya, akhirnya saya ungkapkan juga. Toh pengakuan saya tak menyurutkan keterusterangan dua polisi ini melontarkan apapun, termasuk rahasia-rahasia kepolisian yang selama ini jarang diketahui umum. Termasuk pula ia bertekad untuk menjadi polisi yang bersih supaya menjadi suri tauladan anak-anaknya yang kini masih berusia SD.

Sebagai manusia, Pak Bowo yang asal Kendal itu punya rasa takut juga. Ia mengisahkan bagaimana pernah dikeroyok sepuluh pemuda mabuk di depan pentas dangdut. "Saya membawa pistol. Tapi saya tak boleh menembak secara acak. Dua peluru saya muntahkan ke langit, padahal bisa saja saya arahkan ke kaki para pengeroyok. Tembakan ke atas itupun mencemaskan saya, jangan-jangan peluru nyasar mengenai orang tak berdosa," tuturnya.

Pak Bowo beristrikan seorang guru SD. Kehidupan sederhana mereka jalani bertahun-tahun. Kebersahajaan itu saya dapati dari sepeda motornya. Ia cuma menunggang motor bebek keluaran lama. Tak mengesankan ia polisi beringas yang main gertak. Itu terbukti saat mendadak datang seorang pemuda dengan motor protolan ke pos polisi ini. Saya sempat mengira pemuda itu bakal diomeli. Bahkan barangkali diintimidasi. Ternyata tidak!

Pak Bowo menatap prihatin RX King berpelatnomor Jakarta itu. Sudah nomornya palsu, tak dilengkapi kaca spion pula. Si pemuda juga tak memakai helm. Kemudian Pak Bowo menyunggingkan senyum kebapakan kepada si pengendara. Antara tersipu dan takut, pemuda berkaus belel ini mengaku asli Sukoharjo (masih karesidenan Solo), tersesat saat mencari rumah kawan, dan kehabisan bensin (saya sempat tersenyum lantaran senasib dengannya).

Usai bertanya-tanya, Pak Bowo meminta Pak Arief menelepon markas. Kemudian datang mobil polisi bak terbuka. Si pemuda kusut itu beserta motornya lalu diangkut ke Polres Boyolali karena terindikasi melakukan hal-hal tak beres.

Kami kembali mengobrol. Dingin makin menggerogoti. Pak Arief kemudian bergabung setelah tadi sibuk mencatat-catat di meja pos. Saya dan Pak Bowo sejak petang memilih duduk di kursi kayu sebelah bangunan.

Makin hangat saat kami bersama menyantap nasi goreng yang gurih, dibeli Pak Bowo dari warung dekat pasar. Terkuak pula Pak Arief yang kelahiran Klaten ini adalah anak tentara. Ingin jadi polisi ia rela merantau ke Semarang. Di Semarang sempat ia menjadi kuli bangunan, semata untuk bertahan hidup dan membuktikan pada orangtua.

"Saya dididik untuk disiplin dan penuh semangat. Saya anak tentara, tapi jarang saya katakan kepada orang-orang," ungkapnya sebelum bergegas membelikan air kemasan botol saat dilihatnya saya perlu minum. Pak Arief pula yang mengantar saya dengan sepeda motornya ke ATM BCA yang cukup jauh.

Sampai kemudian kami harus berpisah. Setelah bensin yang saya beli di kios eceran persis di sebelah mobil saya diparkir mengalir ke tanki pada jam 8 malam (total 3 jam saya dinaungi pos polisi), saya minta diri dengan berat hati. Bertukar nomor telepon, lalu kami bersalaman.

Boyolali meninggalkan jejak cinta dan sejuk yang membius. Pepohonan di sepanjang jalan menuju Salatiga melambai-lambai, menyusupkan memori terdalam, memori yang temaram. Malam senyap. Misterius. Ingin rasanya menulis puisi untuk Boyolali ...

13 Mar 2009

CINTA DARI MATANYA


Saya melambatkan kendara. Pukul 20.30 kira-kira. Lampu merah mengertap di depan sana. Lalu mata itu melintasi jendela, dan memasung saya dalam jiwa merana.


SAYA
pulang membawa kesal. Seorang caleg dari partai anu berjanji mau bertemu. Ia ingin diskusi, memantapkan kampanye efektif menjelang pemilu. Rupanya ia berat ke istri yang memintanya mengantar ke toko sepatu.


Dalam gerimis yang mencecar kaca bersamaan lagu Tentang Kita dari kelompok Jingga mengguyuri kabin mobil itulah saya menemukan cinta.

Saya setengah mengantuk ketika jendela diketuk. Bergegas saya menatap keluar. Seorang perempuan paruh baya, berambut masai, dan mata memerah. Bukan kusut pilu yang menyentak tangan saya merogoh laci, mencari kepingan 500 rupiah atau seribu, melainkan makhluk mungil dalam gendongannya.

Usianya mungkin setahun, satu setengah, atau mungkin dua tahun. Saya tak memedulikan umur berapa dia, atau berjenis kelamin apa, tetapi tempias gerimis yang menghajar pipi dan rambutnya itulah yang memeras jantung saya hingga terasa perih. Kuyup dingin berbaur jadi satu, membuat si kecil menggigil. Membuat bayi ini terhempas keras dan bisa paru-paru basah!

Amarah saya menggelegak. "Anak siapa, Mbak?" Bentak saya kasar.

"Anak saya," jawabnya setengah mengiba. Saya tahu ia pura-pura memelas. Dan ia bohong tentang si mungil karena bayi begini biasanya hasil nyewa.

"Kalau itu anakmu, tolong dibawa minggir! Kamu ngerti nggak ini hujan? Berteduh sana! Ia bisa mati kedinginan!" Gertak saya kencang, mengejutkan beberapa pengendara motor di sekitar.

Perempuan itu merandek sebentar. Mungkin kaget ada yang membentak karena ini tak biasa. Ia mengangguk tanda mendengar, tapi saya yakin ia pura-pura mengerti.

Sebelum perempuan itu berlalu, beberapa detik saya menemukan cinta dari mata balita yang meringkuk dalam gendongan itu. Mata bening bulat dan menganyam rindu. Mendadak saya terisak ...

26 Feb 2009

PERTAMA KALI KE LUAR NEGERI (2-HABIS)


/Ditawari PSK

SAYA
di lantai lima Hotel Regent (nomor kamarnya lupa). Bang Apul di lantai 6. Pria kocak seumuran Bapak ini membuat saya nyaman. Ia fasih Bahasa Inggris. Pernah saya dilihati paspornya. Bujubuneng, lebih 20 negara telah ia injak!

Malam itu, usai mengirim berita dan foto ke Jakarta, kami plesir. "Bawa paspor, Rief, jangan lupa!" Ujar Bang Apul via intercom. Buat apa paspor? Bukankah dokumen ini cuma diperlukan di imigrasi? Ah, daripada dianggap banyak cingcong, saya turuti. Kadang-kadang saya seperti menyimak paras Bapak saat menatap Bang Apul, hehehe ...

Benar saja. Paspor memang wajib di kantong tatkala saya menemui kejadian seperti ini.

Baru lima langkah dari pintu utama Regent, kami dihampiri pria separuh baya. Ia tersenyum sok intim, lalu merangkul saya. "Encik butuh perempuan? Saya bisa menyediakan wanita Asia hingga Rusia. Harganya murah. Ayo ikut saya kalau berminat," ujarnya, beraroma calo.

Saya bengong sesaat. Memandang sebentar ke Bang Apul. Ia mengerdipkan mata, memberi isyarat agar saya menampik. Syukurlah benteng saya kuat. Saya tolak tawaran pria ini dengan halus, dan ngeloyor pergi meninggalkan mucikari tadi.

"Kalau mendapat tawaran seperti tadi, jangan senang dulu. Itu bisa saja perangkap, sebab nanti kamu disergap polisi karena ada narkoba di saku celanamu yang diselipkan oleh seseorang. Paspor di sakumu itu memang membantu, tapi sebatas polisi tahu bahwa kamu bukan TKI gelap," wejang Bang Apul. Saya manggut-manggut mengerti.

Di trotoar, di sela lalu lintas padat, saya memperoleh pengalaman baru. Saat mendekati kios rokok, saya melihat sigaret merek Indonesia banyak dijual di sana. Hanya, bungkus dan rasanya tak segurih aslinya.

"Cekap niku mawon, Mas? Mboten mundut sanesipun? (cukup itu saja, Mas? Tak membeli yang lain?)," kata penjual rokok. Saya simak wajahnya. Ia tersenyum lebar. "Jangan kaget, Mas, saya asli Madiun," imbuhnya seraya nyengir. Lebih lebar. Sompret! Kami ngakak.

***

/Foto dengan Legenda

HARI
terakhir Seminar "The Future of Soccer" yang dilibati insan sepakbola dari seluruh penjuru dunia itu tiba. Ada sesi foto-foto. Nah, inilah yang saya tunggu-tunggu! Kamera membidik sini-sana. Foto bersama Pele adalah level tertinggi seminar selama seminggu itu. Maka, inilah giliran saya!

Saya jabat tangan pria keling ini. Ia menggenggam erat-erat. Beberapa detik waktu yang disediakan tak saya sia-siakan. Saya bilang dari Indonesia. Ia membelalakkan mata. "O, saya pernah ke Indonesia tahun 1976. Stadion (Utama) Senayan membuat saya terkesan!" Ujar pria Brasil itu dengan Inggris patah-patah. Dan, cepret! Cepret! Fotografer Jepang yang bergantian dengan saya berfoto bersama Pele itu melakukan tugasnya.

Ada wawancara eksklusif yang disediakan Pele, khusus untuk kami, saya dan Bang Apul. Itu oleh-oleh terbesar kami selama di Kuala Lumpur.

***

/Pacaran Ala TKI

BARANG
telah saya packing. Menunggu penerbangan jam 6 sore saya manfaatkan untuk membaca koran lokal. Saat itulah pintu diketuk. Ruangan mau dibersihkan. Saya mempersilakan masuk dua petugas.

Di sudut kamar, dekat jendela, saya menyelonjorkan kaki seraya membaca. Tak saya hiraukan para room girl menarik sprei dan membilas kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian, mendadak satu di antara dua perempuan itu berkata, "Mas dari Indonesia, ya?"

Saya menurunkan koran. Saya lihat sumber suara. Wanita muda dengan logat Jawa Timur yang kental. Ia tersenyum, seakan mengatakan, dugaan Anda benar, saya memang dari Jawa.

"Mbak dari mana?" Tanya saya penasaran.

"Mojokerto, Mas. Saya Suyati, dan ini Misnah, asal Kendal, Jateng," katanya sembari menunjuk teman kerjanya.

Lalu kami 'reuni'. Keduanya berkisah banyak perihal TKW, nasib, serta tradisi sehari-hari di negeri orang. "Berapa gaji kalian di sini?" Tanya saya.

"(Ia menyebut sekian ringgit). Kalau dirupiahkan kira-kira 3 juta rupiah, Mas," ungkapnya. Wah, lumayan juga (untuk standar rupiah sebelum krisis moneter 1998).

Dasar jurnalis, saya terpikat untuk melontarkan pertanyaan nakal. "Kalian sudah bersuami?"

"Saya belum, Mbak Yati sudah," kata Misnah cepat.

Saya lebih tergoda bertanya lebih spesifik. "Oke, Mbak Yati sudah bersuami. Apakah tidak takut suami sampean selingkuh karena bertahun-tahun sampean tinggal ke sini? Lalu sampean sendiri apa kuat sekian lama tak tidur dengan suami?"

Mbak Yati tersenyum dikulum. Lalu, dengan malu-malu membuat pengakuan yang bikin saya terperanjat. "Saya punya pacar, Mas. Dia TKI juga, tapi di Serawak. Seminggu sekali kami ketemu di taman kota ... "

"Ngapain saja saat ketemuan itu?" Potong saya.

"Sebagaimana layaknya pacaran lah, Mas, kami (SENSOR) di hotel dekat sana ... " katanya, tanpa sungkan.

Saya makin melongo.


***
Dedikasi untuk Bang Apul Maharaja. Dimana Abang kini berada? Saya rindu.


25 Feb 2009

PERTAMA KALI KE LUAR NEGERI (1)


ENDANG, ibu tiri kami, mengisahkan pengalamannya menjadi TKW di Kuala Lumpur. Saya pura-pura takjub, seolah tak pernah menginjak Malaysia. Di sudut lain ruang tamu Bapak, Indah, adik saya nomor dua, hanya mesam-mesem saja.

Nah, inilah yang terjadi pada 1996, ketika saya untuk pertama ditugasi ke luar negeri oleh Tabloid BOLA. Sesuatu yang memalukan, sekian lama saya simpan, tapi tak tahan untuk tak diceritakan.

Pagi, di Soekarno Hatta, jantung saya berayun tak teratur. Maklum saja, ini pertama saya bakal menumpang pesawat terbang.

Di tangga menuju lambung Singapore Airlines, Bang Apul, wartawan senior Suara Pembaruan, sudah menjinakkan hati saya lewat joke-joke-nya yang renyah. Tapi saya tetap dengan dada berderap. Lalu duduk diam di kursi, melihat sekitar seperti pria kampung yang tahu-tahu telah berada di jantung Jakarta yang hiruk pikuk.

Beberapa menit menjelang terbang, sejumlah pramugari (cantik-cantik pula) berkeliling. Mengecek ini-itu. Menyuruh penumpang mematikan elektronika, atau sekadar mengingatkan agar kami mengunci perut dengan seat belt.

Sabuk pengaman! Aih, yang mana? Gimana caranya mengunci? Saya panik tak keruan saat telah menemukan sabuk pengaman tetapi berkali-kali gagal mengaitkan. Lebih panik lagi waktu seorang pramugari datang. Saya berpikir cepat. Supaya tak malu, segera saya tutupi perut dengan jaket, dan pura-pura sibuk membaca koran. Syukurlah, sang pramugari menganggap saya aman. Saya nyengir, tapi pahit.

Lebih pahit lagi pada babak berikutnya. Saat pesawat sudah di atas awan, pramugari mulai membagi-bagi makanan. Giliran satu diantaranya sampai di kursi saya. Menebar senyum sebentar, lalu ia bertanya: "Beef or chick?"

Tentu saya gugup. Maklum, kala itu Inggris saya belepotan dan tak siap berbincang. Asal saja saya bilang: "Beef!" Eh, tak tahunya ia menyodorkan daging. Alamak, rupanya ia bertanya saya ingin daging atau ayam!

Pesawat transit di Bandara Changi, Singapura. Saya dan Bang Apul melenggang di hamparan lantai bandara yang luas. Diterpa sejuk udara, saya mencabut Gudang Garam dari tas. Menarik sebatang dari bungkus, lalu menyelipkan sigaret di bibir.

Seseorang menepuk pundak. Saya kaget bukan kepalang. Seorang bule. Ia mengingatkan saya agar tak merokok di sana, sembari ditunjukkannya tulisan "dilarang merokok" di tembok. Buru-buru saya telusupkan lagi rokok tadi, demi menghindari borgol polisi. Bule tadi menjelaskan, siapa saja yang merokok di bandara itu (dan tentu saja kalau ketahuan), maka akan dipenjara. Wah-wah, hampir saja!

Lalu tibalah kami di Hotel Regent, Jalan Hang Tuah, Kuala Lumpur, beberapa jam kemudian. Saat Bang Apul telah menyelesaikan administrasi, maka giliran saya. Saya mencoba rileks. Kantor Jakarta sudah reservasi, jadi saya tinggal menyebut nama dan resepsionis memberi kunci.

Tapi apa lacur. Ternyata markas kami hanya reservasi, sementara pembayaran tetap oleh saya, dengan uang bekal yang tadi diberikan. Saya melirik sekeliling. Rata-rata mereka memakai kartu kredit. Sedangkan saya bentuk dan rupa credit card saja tak pernah tahu.

Saya bertanya pada petugas, apakah membayar dengan tunai diijinkan. Ia pun mengangguk. Maka, saya mengeluarkan lembaran-lembaran ringgit yang lusuh hingga recehan terkecil yang bunyinya bergemerincing kala berjatuhan di meja reception. Tak ayal semua yang di sana -- termasuk Bang Apul -- tak bisa menahan tawa. Muka saya mirip udang rebus ...

Di kamar, usai Bang Apul ngakak berat melalui aiphone antarkamar, saya nyengir kuda menyadari betapa udiknya saya ... (Bersambung)

23 Feb 2009

KETIKA SAYA NYARIS BERKELAHI


DI tikungan dekat gang kami ada warung tenda. Warung hik orang Jogja dan Solo bilang. Orang Semarang menyebutnya "warung kucing", atau sego lunyu (nasi licin).

Warung tersebut berjual nasi bungkus murah meriah beserta goreng-gorengan, dan, tentu saja, teh lezat yang dimasak dengan arang.

Sore hingga malam ramai sekali di sana. Sepeda motor berjajar di depan dan kiri-kanan. Di antara riuh rendah orang-orang lesehan, terdapat sejumlah remaja. Dari parasnya, tampak benar mereka bengal. Pria-pria tanggung itu merokok seraya saling ejek dengan bahasa kasar.

Syahdan, di warung ini sering pula ada reserse yang menyaru, ikut bergabung. Mengapa polisi di sana? Tentu saja untuk meringkus bandit, atau sekadar memburu informasi. Dengar-dengar polisi-polisi preman tadi beberapa kali memborgol kawanan maling sepeda motor di warung tenda itu.

Minggu sore kemarin saya menyantap gongso pindang di sana. Selagi makan dan kemudian merokok sesudahnya, terdengar para remaja "slum" itu bercengkerama dengan nada kencang diliputi tawa ngakak yang sangat berisik. Entah, saat itu saya sama sekali tak merasa terganggu. Biasanya situasi semacam ini memancing rasa jengah saya.

Usai merokok dan membayar makanan, saya membersit keluar. Sontak tawa mereka berhenti seolah direm. Sedetik saya membatin, kehadiran sayakah yang membuat mereka berhenti tertawa? Atau ada hal-hal konyol dalam diri saya? Saya tatap kerumunan itu. Tak kurang selusin remaja nakal melihat secara serempak ke tubuh dan mata saya. Saya sedikit tersinggung karena sebagian ada yang cekikikan seraya memandang saya.

Naluri saya mengatakan, saya memang alasan mereka menghentikan canda. Saya bawa insting itu kala kaki saya melangkah ke arah belasan orang ini, dengan risiko dikeroyok. Tak masalah, batin saya, toh hari belum gelap. Andai mereka mencoba menganiaya, saya masih punya celah untuk menyerang balik. Sudah lama kami, warga terdekat, kesal dengan ulah mereka yang suka trek-trekan motor tiap malam Minggu, menimbulkan bunyi knalpot yang memekakkan telinga! Dan inilah saatnya!

Sejengkal lagi saya sampai di motor-motor yang mereka tunggangi. Saya waspada. Tiap gerakan mereka saya teliti benar. Siapa tahu mendadak ada yang mencabut obeng dan menikam kepala saya.

Tapi ternyata keliru. Tanpa tahu apa sebabnya, seorang diantara mereka yang bertato kupu-kupu di lengan menyapa dengan ramah, "Pak ... " Ujarnya sembari menganggukkan kepala. Beberapa di antaranya bersikap sama.

Kepalan tangan yang saya persiapkan pun saya lepas. Berganti senyum untuk merespon sapaan itu. Tak lama, kami terlibat obrolan seru. Mereka ternyata maniak sepakbola. "David Beckham itu cuma dipinjam AC Milan atau benar-benar dibeli, sih, Pak?" Tanya remaja kurus dengan gigi yang berkerak hitam karena rokok.

Perbincangan kami 15 menit lamanya. Mereka kurang berpendidikan, atau bersekolah tapi tak mendapat perhatian penuh dari orangtua, dan salah bergaul. Itulah kesimpulan saya. Mereka enak diajak ngobrol, tapi sering kurang kontrol. Tak jarang saya mendengar mereka bilang (maaf) "asu" (anjing), "cocote" (diterkemahkan secara harfiah dengan "mulutnya", tapi "cocote" sungguh sangat kasar untuk orang Jawa), serta banyak lagi nama binatang dan "profesi nista" mereka lontarkan.

Saya mencoba menganalisa, adakah diantara mereka adalah pelaku perampokan yang gagal terhadap Pak Komar, tetangga di gang saya itu, beberapa hari lalu? Perampok yang gagal ini sempat membacok punggung atas Pak Komar, sehingga urat harus mendapat belasan jahitan.

Saya pamitan akhirnya. Sebelum beranjak, saya ditanya satu diantara mereka. "Bapak ini polisi, ya? Dinas di mana, Pak?" Saya tersenyum saja.

Memang tampang saya polisi? Gerutu saya.

1 Feb 2009

LA ISLA BONITA



Kau datang tiba-tiba, menderu seperti peluru ...


***

SEMANGKUK sup belum tuntas memasuki lambung ketika tubuhmu muncul di televisi. Aku terkesiap. Benarkah itu kau? Benarkah telah benar-benar kau tinggalkan belit belia dan kemudian tampil elegan dengan menjadi wartawati televisi?

Kau mencengkeram mikrofon berlogo Televisi ***** -- melebihi bayangan tentang La Isla Bonita yang pernah sekian tahun kau peram di kepalaku -- saat kau mereportase sebuah bencana. Menyiarkan berita dengan ngungun dan pilu, jauh dari sifatmu yang ceria.

Keceriaan yang masih melintas-lintas di kepala, menikung dengan lembut di lajur memori terjauh.

Lelah menikam seluruh tubuh usai kita meliput sudut demi sudut venue PON 2000 Surabaya. Dari jarak dua meter, kau memandangku dengan tangkup mata yang sulit kucerna. Lobi Hotel Santika seperti kelambu yang mengerumuni kita berdua. Ya, cuma kita berdua!

Entah mengapa aku harus mengirimimu senyum setelah kau memulainya sedetik sebelumnya. Hatiku terayun seperti menaiki jetcoaster. Terlempar ke udara, lalu mendapatimu bermuram durja di sudut sofa.

"Tak kau lihatkah aku lelah?" Ucapmu ketika aku melontarkan pertanyaan, mengapa kantung matamu hitam.

"Aku juga penat, tapi tak sampai sesembab kau."

Kau sejurus menatapku, lalu bergumam ini: (Gumam yang terus menyiksaku ketika lima hari kemudian kita dipisahkan rel kereta, aku turun di Semarang, kau melanjutkan perjalanan ke Jakarta) "Aku dianiaya oleh cinta, dibenamkan dengan keji ke tungku yang di bawahnya ada api membara. Sebenarnyalah aku telah mati sejak bertahun silam, persis ketika 'ia' membawa lari cinta yang kami pelihara ke pangkuan seorang perempuan lain di kota seberang ... "

Aku berniat memprotes. Cinta? Sebegitu bengiskah cinta sehingga seseorang patut menyesali hidup? Apakah cinta bakal terus menjadi alasan saling hunus pedang? Tapi tak segera protes menuang. Aku meneliti wajahmu, menemukan retakan-retakan kaca.

Lalu, pada malam yang dikerlipi bintang, sehari sebelum PON Surabaya ditutup Gubernur Imam Oetomo, tanganmu berada di pucuk jariku. Menjentiknya perlahan seraya mengabarkan bahwa kau ingin menabur kuncup, mendesis dan berkecipak bersama ...

Tetapi aku harus melakukan 'sebuah kesalahan' yang menurutku benar, ketika kukatakan bahwa kita tak boleh 'melakukannya' karena: "Aku telah beristri, Rose, tak boleh kita berlompatan seperti menjangan ..."

Kau mengayun-ayunkan kepala dengan nelangsa dan putus asa. Ingin kuhalau isak sengalmu, tapi tanganku tak mampu. Maaf, Rose, maafkan aku ...


*) Nama disamarkan
*) La Isla Bonita adalah salah satu lagu hits Madonna