Search

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

4 Mar 2009

TATO


MIMIN sangat membenci tato. Ia menghardik Lyla agar menghapus tato di lengan. Diseretnya putri semata wayangnya itu ke dapur, mengaduk sabun colek, lalu dengan sentakan kasar ia menghalau gambar bunga, bonus makanan ringan.

Pekan silam, ia membentak remaja tanggung di taman kota gara-gara di leher si remaja ada tato bokong perempuan. Untunglah Barata tahu gelagat. Ditariknya Mimin dari sana demi dilihatnya teman-teman si remaja berniat mengeroyok.

"Kau ini kenapa?" Pelotot Barata saat mereka telah tenggelam di padat lalu lintas.

"Aku membenci tato!" Sergah Mimin.

"Simpan kebencianmu itu kalau tak ingin berurusan dengan polisi!" Timpal Barata tak kalah nyaring.

Pagi ini meja makan penuh selidik. Mimin tampak sibuk memasukkan sesuatu ke dalam tas. Barata mengunyah nasi dengan cemas. "Kau jejali apa saja tasmu itu, Min? Tak pernah sebelum ini tasmu itu menggelembung seperti itu," ujar Barata tak tahan.

"Pisau. Juga gunting dan dua cutter," kata Mimin dingin. Menimbulkan kengerian dahsyat di benak Barata.

"Untuk apa?"

"Aku akan menikam Ratih dan Sasa ... "

"Dua kawan kantormu itu?" Barata mendadak gemetar. Keringat dingin meleleh tak tertahan.

"Benar. Mereka pantas dicabik-cabik karena punya tato di pundak. Aku melihatnya saat senam kemarin ... "

Barata menggigil. Kalap telah mencapai puncaknya. "Keluarkan benda-benda itu dari tasmu! Sekarang! Atau mau kurebut dengan paksa?" Pekik Barata, membuat Lyla ketakutan.

Mimin merogoh tasnya. Menaruh gunting, cutter, dan pisau di atas meja. Matanya tetap liar. "Asal tahu saja, tanpa senjata ini pun aku bisa menusuk mata mereka dengan pulpen ... "

***

"ISTRIMU itu mungkin gila, Bar. Coba bawa ke psikiater," kata Syahrial lewat telepon. Barata memarkir mobilnya di seberang gerbang bank tempat Mimin bekerja. Ia meminta ijin kantornya absen sehari. Ia menduga bakal terjadi keributan di dalam bank, jerit pekik menggema di seantero gedung, lalu sirine polisi bersahutan sebelum mereka meringkus Mimin yang berlumuran darah karena baru saja membunuh dua teman kerjanya. Di tengah panik luar biasa, ia menelepon Syahrial.

Di waktu normal, Barata akan membentak Syahrial yang kurang ajar. Tapi, saat genting begini segenap masukan bermanfaat, terutama dari ahli jiwa macam Syahrial itu.

Lalu, usai ia lukiskan keanehan istrinya dan berjanji membawa Mimin ke rumah Syahrial, Barata menyeberang jalan. Sarapan dan merokok beberapa batang untuk menghalau cemas.

Sampai siang tak terjadi apa-apa. Ia menghubungi Mimin. Ponsel tak diangkat. Berulang demikian, sampai akhirnya ia memutuskan menelepon kantor bank. Oleh operator diberitahukan, Mimin meminta ijin pulang karena harus ke dokter.

Kecemasan Barata merangkak lagi ke kepala. Ia bergegas menghidupkan mesin, dan memutari kota. Ke dokter? Dokter mana? Dokter apa? Sakitkah Mimin? Ubun-ubun Barata berdenyut hebat. Dan akhirnya ia kelelahan setelah tak tahu harus kemana ia menuju.

Ia pun membelokkan mobil ke jalan pulang. Di halaman, ia lega karena tak ada mobil polisi di sana. Tadi ia sempat membayangkan Mimin diringkus aparat karena menusuk orang.

Di teras, tampak Mimin menebar senyum. Seperti seseorang yang sedang lega karena lulus melakukan perbuatan gila. Barata turun dan berjalan gontai. Di beranda pula, tiba-tiba Mimin memeluknya. Barata terperanjat. Tahu sang suami tengah penasaran, Mimin kemudian membentangkan secarik kertas. Barata menerimanya tanpa semangat.

"Positif, Mas. Kita akhirnya punya anak!" Ujar Mimin girang. Barata meneliti kertas dengan kaget yang belum berhenti. Disimaknya, lalu ia mendapat noktah yang merenggutnya dalam pusaran gembira tiada tara dari Dokter Hariman, dokter kandungan.

Barata pun mendekap Mimin dengan segenap rasa, seraya melihat Lyla dari punggung sang istri. Lyla, yang tengah bermain kertas di ruang tamu, sepertinya tak menyadari bahwa beberapa bulan lagi ia memiliki adik. Adik 'tiri' sebenarnya, karena ia bukan anak kandung Mimin-Barata, melainkan darah daging Purnomo, famili jauh Barata yang diadopsi sejak bayi.

***

"JADI hanya sampai di sini?" Ucap Meta Siregar. Matanya melotot, nyaris lepas dari kelopak.

"Ya, kita sudahi hubungan kita. Mimin menyadarkanku perihal arti kebersamaan. Kami segera punya anak," kata Barata, ringan, seringan beludru biru yang kini menyelimuti hatinya.

Meta Siregar mendengus kasar. Lalu ia berdiri, meraih blazer dari kursi, kemudian berdebum-debum keluar dari ruang Barata. Sekejap tadi, sebelum Meta sampai pintu, Barata masih sempat melihat tato naga di lengan kiri sekretarisnya itu ...


***
-Request Mbak Ernut yang menginginkan happy ending.
-Cerpen Tato pernah dimuat Harian Pikiran Rakyat, Bandung, edisi medio Juli 2006. Di atas adalah versi mininya.

20 Feb 2009

PELURU CINTA


... Mengapa surat-suratku tak pernah kau balas? Mengapa kau pergi seperti ditelan bumi? ...

***

SURAT bersampul cokelat. Nada-nada putus asa ditunjukkan Viona lewat amplop yang tak lagi ungu. Gegar menggeletakkannya di meja, di sebelah botol Jack Daniels, lantaran ia masih bergulat syahwat dengan Diana di sofa.

Ia mengguyur sekujur tubuh dengan air hangat, sejam kemudian. Dalam telanjang, ia ingat Viona. Ah, gadis yang ranum. Gegar mengenalnya di sudut pasar, tatkala hari menjelang dini, lima tahun lewat.

Hati-hati ia melindap menuju BMW warna gelap yang bannya kempes di sudut pasar itu. Ia menyorotkan senter tanpa bermaksud mengagetkan. Tapi, tak urung, si pemilik mobil terperanjat. Wajah kuning langsat itu serta merta sepucat mentega.

"Ada yang bisa saya bantu?" Suara berat Gegar menyurutkan nyali Viona. Tapi, entah, nalurinya mengatakan pria di depannya bukan bandit. Setidaknya, kalaupun penjahat tetapi berhati lembut.

"Ban saya kempes, Pak ... " Ujar Viona dengan geletar yang susah disembunyikan, meski tadi ia sempat merasa aman ada orang datang. Maklum saja, pasar ini gelap gulita. Ada aura jahat di sekeliling.

Tanpa basa-basi, Gegar membuka bagasi. Ditariknya dongkrak dari kolong, membuka ban, dan memasang ban cadangan.

"Lain kali jangan lewat sini, neng. Banyak pencoleng di ujung sana. Untung saya ada di dekat sini tadi," ucap Gegar seraya menunjuk sudut gelap di sayap kiri pasar.

"Terima kasih, Pak."

"Panggil Gegar saja. Oke, kau boleh pergi sekarang. Hati-hati."

Pertemuan yang membuat Gegar menyesal. Ia meninggalkan nomor telepon pribadi ke ponsel Viona. Bukan hal biasa ia lakukan. Ia pembunuh bayaran yang sangat teliti dan rapi menyimpan beragam celah kebocoran.

Paginya Viona menelepon. Sekadar menanya kabar. Celakanya Gegar tak menolak ajakan makan siang. Gegar menjemput Viona di gerbang kampus, menyisir hujan di kota atas dengan renda-renda cinta. Ada sentuhan-sentuhan kecil lengan Viona yang menggerakkan aorta Gegar ...

Keduanya terlontar dalam pusaran pelangi di rentang enam bulan. Viona seolah bersebelahan dengan gladiator tiap kali mendapati Gegar menangkupkan lengannya yang kekar. Gegar pun merasa mendapatkan tetes anggur di kemarau yang retak tiap kali mendengar tawa Viona yang nyaring.

Lalu Gegar harus berkelahi dengan situasi ini. Ia tak mau hanyut dalam asmara bahaya. Riskan andai Viona tahu apa pekerjaannya. Berisiko kalau gadis itu kelak terlibat dalam situasi panas pertaruhan nyawa.

Hanya PO BOX yang menautkan Viona kepada Gegar. Setidaknya bayangan Gegar. Gegar menyesal telah memberi alamat itu. Itu sebabnya ia tak pernah membalas surat-surat Viona.

***

MONCONG senapan mengarah lurus ke kaca plaza di bawah sana. Dari ketinggian -- di gedung berlantai 9 di jarak 200 meter dari plaza --, Gegar menghisap sigaretnya dengan tenang. Ia harus membunuh seseorang malam ini. Sesuai perintah Mr X -- begitu Gegar memanggil 'sosok' yang biasa memberinya order -- ia hanya perlu melesatkan satu peluru yang menembus kaca 5 inci, melalui banyak kepala di acara peragaan busana, dan menancap di jidat seseorang di tengah kerumunan.

Pekerjaan berat. Biasanya ia hanya perlu membidik satu target tanpa rintangan. Tapi Mr X meyakinkan. "Kau tak akan susah menembak karena ia berdiri di atas pentas," ujar pria yang sama sekali belum pernah ia lihat parasnya ini. "Besok, kau ambil sendiri honormu di tempat biasa. Lima puluh juta rupiah," sambung Mr X.

Gegar tak perlu bertanya siapa yang akan dibedil, untuk masalah apa, dan sebagainya. Pekerjaannya cuma membunuh. Lalu upah ia dapatkan. Dan lupakan.

"Lima menit lagi," ujar Mr X, entah dari mana. "Ada tanda dari seseorang yang akan melambaikan tangan di sisi kiri panggung, menuntunmu siapa yang hendak kau tembak. Ia berbaju kuning, melambaikan tangan ke arahmu."

Lup telah memperpendek jarak. Gegar menemukan pria berbaju kuning yang sebentar-sebentar memandang ke arahnya. Tiga menit ... Dua menit ... Satu menit ... Gegar mulai mengatupkan telunjuk di pelatuk. Menunggu aba-aba pria berbaju kuning.

Inilah saat Gegar harus menembak. Pria berbaju kuning menunjuk ke arah seorang peragawati yang gemulai memamerkan busana di atas catwalk. Gegar tersentak. Di bawah sana, perempuan yang harus ia bunuh adalah ... Viona!


***
Cerpen Peluru Cinta pernah saya kirim ke Koran Tempo, medio 2007. Tapi, hingga detik saya menulis ini saya belum mendapatkan kabar dimuat atau tidak. Naskah di atas adalah nukilan cerpen tersebut.



19 Feb 2009

CINTA PUTIH LOLITA


LOLITA menatap relung mata Paundra. Secarik berkas putih ia siratkan, melesak dan bersemayam dalam dada kekasihnya. Di pembaringan, Paundra tampak lelah.

"Ambil gitar itu, Lolita, nyanyikan untukku lagu termerdu," bisik Paundra seraya mengayunkan mata menuju gitar di atas sofa.

Lolita mengambil gitar. Duduk bersila di sudut ranjang. Menekan lembut kaki Paundra yang dingin. Lalu mulailah ia memetik senar. Ia nyanyikan Cinta Putih, lagu Katon Bagaskara.

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku

Masihlah panjang jalan hidup mesti ditempuh

S’moga tak lekang oleh waktu


Cukup bagiku hadirmu

Membawa cinta selalu

Lewat warna sikap kasihku

kau ungkap tlah terjawab


Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia

Sepenuhnya t’rimalah apa adanya dua beda menyatu

Saling mengisi tanpa pernah mengekang diri

Jadikan percaya yang utama


Mata Paundra memejam. Larut. Hanyut. Mengalir menyusuri darah di segenap aorta. Darah yang sedang bermasalah ...

"... Positif, Lita. Leukemia ... " Ujarnya pendek di telepon, dengan geletar yang mengoyak tenggorokan.

Di seberang, Lolita terdiam. Lama. Hanya isak tangis. Ya, tak ada kata-kata.

"Kamu masih mencintaiku, kan?" Tanya Paundra putus asa.

Tak ada jawaban. Tetapi esoknya Lolita mengatakan cintanya dengan dekapan. Di beranda, di sela gerimis tebal, Lolita menciumi pipi Paundra. Ia tak ingin dipisahkan dengan Paundra, walau seinci saja.

Paundra mendapatkan cinta Lolita, suatu pagi, Desember 2006, menjelang malam pergantian tahun. Paundra hanya anak pemilik kafetaria mungil di sudut kampus. Tak ada baju mahal, lebih-lebih Blackberry. Ia mencatat daftar makan Lolita dan teman-temannya, lalu menghambur ke dapur.

Saat meninggalkan kafe, dompet tebal Lolita tertinggal. Paundra mencari-cari Lolita. Namun sampai hari kelima tak bertemu juga. Ia pun akhirnya bergegas menuju rumah Lolita. Dari KTP Paundra mendapat alamat. Ada 2 juta yang terjalin rapi serta 5 kartu kredit dalam dompet. Dan ia bukan pria yang mudah tergoda.

Di teras, Lolita bersorak girang. Ia menyangka dompetnya terhempas di jalan raya, atau dicopet saat berbelanja di toserba. Ia bahkan telah melaporkan kehilangan ini ke polisi.

Lolita mencabut 100 ribu untuk balas jasa. Tapi Paundra menolaknya. "Tidak, non, terima kasih. Saya senang menerimanya, tapi lebih senang lagi kamu nggak kehilangan sepeserpun uang di dompet itu," katanya. Ia lantas bergegas pulang, membantu ibunya melayani mahasiswa.

Tapi jalan hidup adalah misteri terbesar arcapada. Lolita menghabiskan malam-malamnya yang sepi dengan menelepon Paundra. Ia berkisah banyak, bercerita panjang. Bahasa lisan yang diliputi buncah tawa, isak sengal, dan cemburu.

"Tak percaya! Pasti kamu udah punya pacar!" Berondong Lolita.

"Sumpah!"

"Tak perlu bersumpah. Aku percaya kamu."

Kepercayaan. Rasa aman. Rasa tenteram di hati. Itu yang Lolita dapatkan dari Paundra.

"Aku pernah hamil ... Keguguran. Dikuret ..." ucap Lolita suatu hari. Ia menunggu reaksi Paundra. Seolah menanti eksekusi. Ia sudah bersiap andai Paundra meludah. Atau memaki. Atau menyumpahserapahi. Tapi tak ada respon berlebihan. Emosi yang super stabil. "Kau tak bertanya siapa yang melakukannya?" Sambung Lolita, tak sabar.

"Itu berapa tahun lalu?" Tanya Paundra dengan ketenangan luar biasa.

"2004."

"Hm, berarti telah sekian lama. Dan aku yakin kau menyesalinya. Sesal yang kau bawa hingga kau duduk di depanku ini. Untuk apa aku menanyakan siapa yang menghamilimu kalau itu hanya akan menguak luka lama?"

"Sesal itu hanya enam bulan sesudah kejadian. Aku mengulanginya lagi. Hinggap di cowok-cowok berikutnya."

"Lalu untuk apa kau ceritakan?"

"Agar kau tahu betapa nistanya hidupku."

"Hidupmu tidak nista, setidaknya setelah aku menemukanmu dalam kondisi baik-baik saja."

"Kau tak menyesal?"

Paundra menggeleng.

"Kau percaya aku telah meninggalkan jejak lama dan kemudian menemukanmu secara utuh untuk menandaskan bahwa aku pernah tak mempercayai laki-laki manapun selama setahun terakhir sebelum akhirnya memutuskan untuk mencintaimu hingga ajal tiba dan bersumpah tak akan mencari penggantimu andai kau memenuhi panggilan-Nya?"

Paundra menangkupkan kepala Lolita di dadanya. Detak cinta yang melebihi berjuta-juta kata, meski ada jurang menganga: Lolita putri tunggal direktur Pertamina, sedangkan ia hanya anak pemilik kafetaria ...

***

SIANG dengan gemerisik daun bambu. Lolita duduk bersimpuh. Tanah pekuburan masih basah. Ia menatap pusara Paundra dengan kabut yang melingkupi mata ...




***
(Terinspirasi oleh film Autumn in New York, dibintangi Richard Gere dan Winona Ryder)

12 Feb 2009

TABUNG TELEVISI


SUSI meremas baju dengan cemas. Pekik kecil keluar dari mulutnya tiap Andri menyalip. "Awas, Andri! Awas remmu blong!"

Andri bersiul kecil. Ia tenang saja memelintir setir tanpa ia sadari tiap saat mobilnya bakal terguling di aspal. Ringsek. Lalu ia tewas seketika.

Susi tak ingin itu terjadi. Tadi ia lantang mengingatkan agar Andri mengurungkan niatnya menaiki mobil usai ia meeting di sebuah hotel. Sepuluh menit sebelum Mercy itu bergerak keluar, seorang pria mengiris selang oli rem, atas suruhan Marvela, istri Andri.

Marvela menginginkan Andri mati karena ia mengincar kekayaan sang suami, pewaris tunggal PT Megah Citra Laksana, perusahaan raksasa perminyakan. Marvela bersekongkol dengan Sakti, teman karib Andri. Sakti dan Marvela berselingkuh beberapa lama.

Susi benci pada Marvela, terutama ketika sinetron Cinta Berselimut Kabut ini memasuki episode 23. Tiap malam ia berselonjor depan tivi, menanti tak sabar jam berdentang tujuh kali. Tak ia pedulikan azan isya berkumandang. Tak ia dengar teguran ibunya agar ia mematikan tivi lantaran Hasan dan Fikri, dua adiknya, sedang belajar.

"Mau jadi apa kau tiap malam nonton sinetron? Cari kerja sana! Malu dong sama tetangga!" Teriak ibunya saban kali. Susi diam saja. Seolah tak ada apa-apa.

Di layar kaca, mobil Andri mulai tak terkendali. Tol padat. Andri panik tatkala disadarinya ada yang tak beres. Ia menginjak dan memompa pedal. Nihil. Kemudian ia memindah persneleng ke gigi rendah. Mesin menderum kasar diliputi cericit roda. Di depan sana menghadang jurang ...

Susi meracau tak keruan. Jeritan-jeritan kecil berloncatan. Tubuhnya terdorong ke depan tatkala mobil Andri mulai membentur mobil lain, mengiris rerumputan, melanggar pagar, dan menyerbu jalur berlawanan di seberang.

"Awas Andri! Awaaaaass ... !!" Teriaknya kalang kabut. Tangannya menggapai-gapai angin dalam ketegangan yang maha hebat.

Lalu, tiba-tiba tubuh Susi mengapung di udara. Sedetik berikutnya, secepat angin televisi menyedotnya, menerobos kaca dengan lekas, dan tahu-tahu ia telah terbang di belakang mobil Andri ketika mobil itu melayang ke jurang.

Ia mencengkeram erat-erat bember belakang, mencegah pria tampan yang diam-diam ia cintai itu celaka. Tapi mobil meluncur deras, mencium batu dengan keras, hiruk pikuk sebentar, dan hancur berkeping-keping.

Susi histeris saat ia lihat badan Andri tak berbentuk lagi.

***

SEJAM kemudian saat isak sengal mereda, gelap menyelimuti Susi. Ia sadar telah tersesat dalam dunia yang tak ia sangka-sangka.

Di depannya tergolek tabung televisi. Di layar ia melihat ibunya tengah menjerang air. Hasan dan Fikri tampak mengudap mi instan di meja makan.

Ia menggedor-gedor kaca, memanggil-manggil ibunya. Tapi tak seorangpun mendengarnya ...


=======

"Tabung Televisi" adalah cerpen saya di Tabloid Citra, edisi 768/XV/24-30 Desember 2004. Tabloid milik Kelompok Gramedia yang bertiras 800 ribu eksemplar ini berhenti terbit pada Desember 2004 itu juga, sesudah 15 tahun beredar, dan berubah wajah menjadi Tabloid Genie yang kini masih kita jumpai di lapak-lapak koran.

So, "Tabung Televisi" boleh dikata 'cerpen sayonara' Tabloid Citra.


9 Feb 2009

SAHABAT SAMPAI AKHIR HAYAT


HATI Wita perih menyimak wajah murung Zen yang cekung. Uban berkerumun di beberapa sudut kepala.

Kamar sempit-pengap ini diliputi sarang laba-laba. Jantungnya mendadak serak demi dilihatnya
botol air di meja yang dijilati kecoa ...

"Udah sarapan?" Tanya Wita lirih. Menyesal tadi tak memesan penyet tempe kesukaan Zen. Namun ia ragu, apakah Zen mau memakannya. Pria ini susah menerima pemberian atas dasar kasihan, bahkan bila itu sekadar kacang rebus sekalipun.

"Belum, sih. Gampang nanti," ujar Zen acuh.

Sikap cuek yang dulu amat dikagumi Wita saat sekampus di fakultas sastra. Saking penasaran, Wita melabrak Zen di ujung toilet. Ia menghardik Zen agar tak melulu membuat puisi untuk Salwa, kembang kampus.

"Satu puisi buat saya tak membuatmu mati mendadak, Zen! Tahu tidak, saya mengagumimu sejak lama!" Ujar Wita sembari melotot, membuat rokok Zen melompat dari bibir.

***

ZEN memandang Wita dengan lorong mata yang pipih. "Jauh-jauh mencariku ke sini ada apa?"

"Aku diangkat menjadi GM ... "

"Oya? Wah, selamat. Masih di hotel yang sama?" Wita mengangguk.

"Selamat" yang terlontar tanpa emosi. Wita menginginkan lebih. Tapi apa daya. Zen bukan jenis pria yang silau sesuatu. Ia mengapung di belantara kesenimanan yang aneh, hidup di antara menulis novel dan puisi, atau mati bunuh diri ...

"Anak-anak sehat, kan?"

Wita mengerjapkan mata tak menduga ditanya. "Yuka ranking 2. Huma udah pengin sekolah, tapi umurnya belum genap 6. Nggak ada SD yang mau menerima. Mereka rindu kamu ..."

***

SEPATU Wita menjejak undakan terakhir di jalan menurun yang sempit menuju jalan raya. Segera ia mencium punggung tangan Zen dan melambai. Di tikungan, Wita memencet remote control. Menyalak. Pintu BMW merah itu pun terkuak.

Di jalan raya yang padat, ia ingat betul ucapan Zen di teras pengadilan agama, sesaat setelah mereka bercerai tiga tahun silam. "Jaga baik-baik Yuka dan Huma, ya. Mereka tak perlu diberi badai yang membuat mereka tak kuat."

Wita menyeka airmata ...


***
(Cerpen "Sahabat Sampai Akhir Hayat" oleh Arief Firhanusa pernah dimuat Majalah Kartini, edisi minggu IV Agustus 2006. Cerita mini di atas adalah nukilannya)


6 Feb 2009

BERCINTA DENGAN SERIGALA


SISIL melirik ruang Pak Rudi dari celah gordin. Hatinya gerah. Tamu dari Jogja itu tak pulang-pulang juga. "Perutku udah jojing nih! Kelewatan!" Rutuknya.

Lalu, ketika pintu ruang bosnya terkuak dan dua pria perlente dari Jogja itu berlalu, tinggalah kini Sisil menunggu isyarat tertentu melalui aiphone di mejanya. Isyarat yang mengabarkan bahwa mereka siap berkelana ...

Makan siang. Bercengkerama dan saling mencengkeram. Pak Rudi tahu betul letak kelebihannya guna menyulam kelemahan Sisil. Kelemahan yang mengubur kesadaran gadis ini akan satu kenyataan bahwa Pak Rudi punya sulung perempuan yang kini semester 4 di kampus tersohor Semarang, anak laki-laki kelas 2 SMP, dan bungsu perempuan kelas 5 SD ... serta istri yang cantik.

"Kemana kita?" Tanya Pak Rudi seraya menaikkan volume Immortality Celine Dion. Sisil sangat suka lagu ini. Sesekali, ketika speaker mobil mengayunkan jantungnya melalui lagu-lagu tertentu, ia membuat gerakan liar serigala, persis di bawah setir Pak Rudi.

"Ke Citybank Pa, bayar tagihan. Udah jatuh tempo, loh," kerling Sisil. Kerling yang pernah meluluhlantakkan pertahanan Pak Rudi tatkala Sisil masuk kerja pada hari pertama.

Ia memakai rok hitam di atas lutut. Terang saja menggoyang kelelakian lantaran tubuhnya yang semampai itu dibungkus kulit putih susu. Tak lama, Pak Rudi memintanya jadi sekretaris. Tentu bukan sekretaris di atas kertas belaka, sebab berulang Sisil dimintanya mengikuti Pak Rudi ke luar kota, dan di sana ia leluasa memanggil bosnya dengan "pa".

Di depan mesin debet Citybank, Sisil menggesek kulit lengan Pak Rudi disertai ucapan-ucapan mengundang. Itu cara mujarab menyentak tangan Pak Rudi agar bergegas merogoh dompet. Sesungguhnyalah tanpa dirayu pun Pak Rudi tahu. Ia memang 'berkewajiban' membayar semua kebutuhan Sisil atas jerih payah membuat hati Pak Rudi bungah.

***

ITU berjalan dua tahun. Sisil menuai rumah mewah di kawasan elite kota atas Semarang, 1 unit Honda Jazz, dan tabungan yang membengkak.

Tapi, pagi ini, tatkala sidang korupsi Pak Rudi dimuat di halaman pertama koran-koran, Sisil meringkuk ketakutan di sudut kamar sebuah hotel. Mukanya pucat seperti mayat ...


5 Feb 2009

MEMBUNUH AYAH


AKU akan membunuh Ayah!”

Jangan, nak!”

Mengapa kau melarang?

Kau darah daging Sukarti yang lemah lembut, bukan angkara murka titisan Sumantri.”

Persetan!”

Bulu kudukku meremang. Ngeri dan waspada. Tidak untuk mendorongnya melakukan pembunuhan mengapa aku datang. Terlebih terhadap ayah atau ibunya. Tetapi semata karena aku merasa perlu mengabarkan sesuatu.

Sejauh ini kau bilang ia sangat jahat, tapi mengapa kau merintangiku?”

Kau hanya menuruti keinginan.”

Apa yang lebih baik ketimbang membuatnya mati?”

Tapi bukan oleh tanganmu. Dan aku harus memberitahumu, jika kelak ia mati pun bukan karena pembunuhan.”

Untuk perbuatan nista yang dilakukannya pada Ibu, ia harus mati mengenaskan! Aku aku membunuhnya!”

Jangan, nak, urungkan niatmu itu!”

Ia mendengus kasar dan liar. Tubuhnya bergerak gelisah. Jari-jari mungilnya mencengkeram. Geram dan amuk berkecamuk. Tangan itu tidak mustahil kelak gemetar menarik geretan. Mendorong api di tungku geretannya menuju obor berlumur minyak, menciptakan lidah api yang sangat merah dan menari-nari.

Obor terayun. Menumbuk tubuh yang sebelumnya juga telah diguyuri minyak. Seseorang meraung kesakitan dengan bara menjilat-jilat tubuhnya, berlarian sepanjang hutan dengan perih tak terkira. Lalu ambruk berdebum. Berkelejotan seperti belut di pemanggangan. Dagingnya mendidih. Bau sangit bergulung di udara. Perlahan-lahan lapuk dan mengkerut, menyisakan belulang kehitaman. Bukan pembunuhan biasa. Seorang laki-laki perkasa meregang nyawa oleh api yang disulut anaknya sendiri.

Anak ini menunggu bertahun-tahun sampai merasa cukup kuat berkelahi. Pada saat sama ayahnya sudah renta dan tak bertenaga. Laki-laki tua yang mulai rabun itu mengira malaikat pencabut nyawa telah tiba. Mungkin ia dijalari ketakutan untuk pertama sepanjang hidupnya.

Bisa saja justru sebaliknya. Anak ini masih sangat muda saat memburu ayahnya. Sementara sang ayah masih bugar hingga sulit ditaklukkan. Sang anak menjadi bulan-bulanan. Diseret dan dicincang tanpa belas kasihan. Dikubur entah dimana. Bahkan mungkin jasadnya diceburkan ke laut.

Aku tak ingin itu terjadi. Kupelajari bolamatanya. Mencari celah meredakan amarah. Rekah murka yang meletup dari seseorang ketika merasa perlu menjaga martabat ibunya. Aku menyesal karena telah menceritakan bagaimana Sukarti hampir tak memiliki lagi harga diri karena Sumantri merenggut semua, sebelum benar-benar yakin anak ini siap memahami.

Kau masih punya kesempatan untuk menemuinya. Berembug adalah jalan terbaik. Pembunuhan bukan jalan keluar. Kau bakal memahami saranku ini setelah kau dapati matahari dan rembulan yang berkilau menyenangkan di luar sana.”

Jangan mencoba memengaruhi!”

Aku telah kenyang pengalaman.”

Tidak membutuhkan satu pun pengalaman bagi seseorang untuk membela ibunya.”

Luar biasa. Anak ini tumbuh seperti beton. Laki-laki yang mewarisi sorot mata tajam Sumantri dan kelembutan pori-pori Sukarti. Kelak ia menjadi pria gagah dengan wanita-wanita yang berebutan. Aku turut bangga, sekaligus cemas.

Sumantri tak ubahnya percik neraka. Ia pria gagah yang bersekutu setan. Sebuah kekeliruan Sukarti bersedia dinikahi, karena begitu turun dari pelaminan, serta merta Sumantri menjadi binatang. Bukan pria lembut seperti yang diangankannya.

Dalam desau angin kemarau, saat bulan sabit mengintip, lamat-lamat kudengar derit ranjang yang berisik dan penuh rintih. Sukarti kesakitan dan meratap. Gigil deritanya begitu menyayat. Menyeret kakiku mengendap-endap di pekarangan dengan jantung yang ribut.

Dari celah dinding papan kutemukan pemandangan biadab di keremangan kamar. Tangan Sukarti diikat seperti sapi, terentang ke kiri dan kanan seolah akan disalib. Sprei tercampak di lantai. Pembaringan menjelma menjadi altar pengorbanan. Sumantri merangkak dengan seringai serigala di atas tubuh telanjang Sukarti.

Darahku bergejolak. Jala menggelosor lepas dari genggaman. Kamar pengantin itu merenggutku dalam gelembung murka yang sulit ditahan dan dipadamkan. Melintas keinginan mendobrak papan, menghambur ke dalam lalu menghajar Sumantri.

Tetapi keinginan itu kutahan. Membengkak dalam gegas lari kesetanan menuju sungai, terbang mencebur, menyeberangi arus deras. Berteriak sekuat tenaga di seberang sana saat tubuh basahku telentang lemas ....


***
[Merupakan prolog novel saya Membunuh Ayah, dikutip dari cerpen berjudul sama yang dimuat Media Indonesia, Agustus 2005]

3 Des 2008

KETIKA CINTA HARUS PURNA


MALAM telah purna. Mata Ratu Felisia nyalang meski semalaman tak terpejam. Percik ngilu melumuri dadanya tanpa mega-mega di luar sana mau membantunya.

Ia perlu kekuatan untuk menulis surat pada Genta, penyair tampan dari negeri seberang. Tapi tak sebutirpun angin membawanya pergi untuk mengadu tentang dilema ini. Jauh di lubuk hatinya, Ratu Felisia mengagumi Genta, namun batinnya menolak. Genta telah beristri. Ratu Felisia pantang merajut cinta dengan suami orang.

Ia beringsut. Dari jendela kamarnya ia melongok ke bawah. Mendapati sekumpulan jelata yang mengembalakan domba. Terkadang ia iri pada rakyat biasa. Kecantikan adalah sebilah pisau. Ia ingin kabur dari ‘penjara’ itu, mengelupas segenap pori mukanya, berganti dengan wajah biasa yang lekat dengan debu.

Pria-pria bersilangsengketa memperebutkannya. Raja-raja bertarung untuk mengambil hatinya. Ratu Felisia sedih, dan memilih mendayung hatinya ke Genta, pria biasa yang pandai memanah rembulan dengan kata-kata pujangga, meski akhirnya ia berhenti pada satu titik bahwa mencintai pria beristri adalah kekeliruan.

Di sela kuyub matahari, ketika angin telah lelah menghibur hatinya, Ratu Felisia mengambil pelepah kayu dan tinta. Lalu mulai menulis:

“Sayang, mencintai suami orang itu salah, karena berpotensi memecah sebuah rumah tangga. Nonsen ungkapan yang mengatakan “cinta tidak harus memiliki”, sebab manusia yang mencintai pasti berusaha untuk memiliki dan penuh tuntutan.

Jaman sekarang komunikasi super instan sehingga batas ruang dan waktu semakin hilang. Inilah kemudian yang menciptakan an instant affair. I don’t like that.

Saya meyakini friendships dan admirations ketimbang affair, yang memberi inspirasi dan rasa rindu yang dibiarkan. Admirations memberi ruang untuk tumbuh membentuk kenangan manis tanpa saling membelit. Affair selalu menyisakan luka!

Karena itu, saya memilih untuk mengagumi, menyukai, dan memujamu, tanpa perlu menyentuh apapun di luar batas kepemilikan. Bukan saya tidak menyukai, tetapi karena saya selalu menyukai!”

Setelah itu ia menggulung surat, memanggil kurir, lalu menyodorkan gulungan itu dan memerintahkannya agar selekas mungkin surat dikirim ke negeri seberang.

Bergegas kemudian ia menaiki kuda. Menyentaknya dengan kecepatan penuh menuju utara. Tak seorangpun tahu kemana ia menuju ...

19 Nov 2008

BIDADARI SATURNUS


“Pernahkah kau membayangkan kita duduk di bawah merkuri, menghitung bintang sambil mengunyah cherry?”

AKU menatapnya dengan kelembutan maksimal. Sulit menerka apa yang sedang ia pikirkan manakala mata itu senantiasa ceria. Berulas-ulas senyum yang kukirim kepadanya membentur batu belaka.

Sudah seminggu ini ia di rumahku. Pesawatnya mendarat darurat di sisi rel kereta api karena planet Saturnus, asalnya, sedang bergejolak lantaran terjadi pembengkakan amonia dan metana. Pembengkakan itu menciptakan suhu atmosfer yang membara sehingga seluruh penduduk harus mengungsi ke bumi.

Aku merawatnya seperti mengasuh bayi. Membuatnya tetap sehalus pualam. Memberinya mantel saat ia mengerjap risau ketika menghirup udara senja. Hanya senyum yang ia berikan, sementara aku menantinya dengan gelisah agar kami bercakap-cakap.

“Percakapan apa yang kau inginkan?” Sebuah suara mengagetkan lamunan. Aku terperanjat. Menerka-nerka wajahnya yang sangat stabil. Mengawasi bibirnya untuk meyakinkan bahwa ia yang tadi berucap.

“Hm. Aku hanya ingin yakin bahwa kau baik-baik saja. Katakanlah sesuatu.”

“Aku baik-baik saja. Tak seperti yang kau bayangkan, di Saturnus aku dikenal ceriwis,” ia mengulum senyum. Menciptakan debur yang tak menentu di paru-paru.

“Lalu mengapa di sini kau banyak diam?”

“Aku hanya ingin yakin bahwa kau bukan seperti yang kubayangkan.”

“Pria yang tak bisa dipercaya, begitukah bayanganmu?”

“Oh, tidak. Kita dari planet yang berbeda. Dalam empat puluh tahun usiaku, aku mempertahankan diri dengan tradisi Saturnus, planet yang memiliki ribuan cincin itu. Planet yang menempa penduduknya untuk kuat dalam pertahanan. Bumi kami kenali sebagai planet yang jahat. Tapi apa yang kami yakini itu tak sepenuhnya benar. Kau salah satu yang baik, bahkan super baik. Seminggu ini aku mencoba mengenalmu.”

Malamnya aku bawa ia gazebo. Menyimak sejumlah lagu. Ia suka Biru Vina Panduwinata. Bibirnya mencoba bergerak menirukan. ... tiada pernah aku bahagia, sebahagia kini oh kasih//sepertinya kubermimpi, dan hampir tak percaya, hadapi kenyataan ini ... Kami terkekeh geli. Rembulan tampak sungkan. Angin bergerak berarak menciptakan kesiur lembut di dahan akasia.

Dini hari ia kuselimuti. Menjaganya dari lembab embun kala matanya terpejam. Membuatnya tetap lelap, dengan dada dan hidung yang naik turun.

Diam-diam aku berdoa supaya ia tak pulang ke planetnya ...

18 Nov 2008

PRIA BERKEPALA BUAYA


PRIA berkepala buaya itu berkali-kali menyelinap dalam mimpi Salma. Menebar ancaman yang membuat tidurnya tak nyaman.

Kepada Lena ia menceritakannya, dengan getar kepanikan yang melebihi kisah tentang pertama ia menstruasi. Tetapi sahabatnya itu sama sekali tak punya belas kasihan dan malah terpingkal-pingkal.

“Jangan sering-sering nonton film horor, Neng. Itulah akibatnya,” ujar Lena di tengah tawanya yang nyaring. Salma melenguh kecewa.

Sorenya ia mendekati Mama. “Ma, Salma mimpi buruk. Ada pria berkepala buaya yang terus menerus-menerus menguntit. Salma takut.”

Bersikap kolokan biasanya menyita perhatian Mama, sebagaimana ia mengadu karena diganggu temannya di sekolah, atau suatu pagi didapatinya bulu tumbuh meremang di bagian tubuhnya yang tertutup.

Sang mama sejenak menyimak paras gadisnya. Memelorotkan kacamata. Dijentiknya hidung perawan ranum itu. “Jangan kelewatan kalau bercanda karena akan terbawa saat kamu memicingkan mata. Ayo belajar sana, Mama tahu besok kamu ulangan.”

Salma menatap Mama putus asa. Dari jendela kamar ia menerawang jauh. Tak ia pedulikan kupu-kupu putih yang terbang mendekat untuk mengucap selamat tidur seperti biasanya. Kekalutan benar-benar menguntitnya setiap malam tiba. Bahkan ketika hanya mengingat malam.

Terkadang ia ingin menulis surat pada Papa, mengabarkan mimpi buruknya. Tapi Salma tak tahu bagaimana memulai. Di benaknya nyaris tak ada lagi perkataan untuk ia tuangkan ke kertas tertuju Papa. Menelepon mungkin lebih baik. Mendengar kata halo yang berat. Dan telepon akan segera ditutup kasar oleh Salma tanpa sepatah kata sempat terucap, saat suara bariton di ujung sana bingung siapa yang menelepon.

Dua tahun sudah Papa pergi. Salma pernah menyimpan beberapa fotonya secara rahasia di tumpukan buku. Kini sudah tak bersisa lagi. Salma menyobeknya menjadi cuilan-cuilan kecil. Membakarnya penuh amarah di pekarangan rumah. Menginjak-injak abunya hingga melesak ke tanah.

Saat belum dibakar, sesekali ditariknya foto itu dari persembunyian, menatap deretan gigi putih di sela kumis tebal. Ah, mata yang selalu tersenyum dan berkecipak. Seperti ketika suatu hari tanpa sengaja Salma melihat kecipak menakjubkan dari kamar mandi.

Ia hanya akan melintas karena ingin menyedu kopi. Menuju rak piring untuk mengambil cangkir, ia harus melewati kamar mandi. Minggu pagi yang sepi. Mama arisan. Bik Inah mengobrol dengan pembantu sebelah.

Tepat ketika sejengkal lagi mencapai rak, sesuatu menyedotnya. Pintu kamar mandi separuh terbuka. Dilihatnya lekuk tubuh seorang pria dewasa yang berlumur busa sabun. Salma terkesima, lupa harus bergegas menjauh karena yang ia tatap adalah ayahnya sendiri ...


Catatan kaki

**Setelah peristiwa kamar mandi itu, Salma mempergoki sang ayah bergandengan tangan di sebuah mal dengan wanita sintal. Sebuah pukulan amat berat. Ia oleng dan merasa terhina, sebab diam-diam ia mencintai ayahnya. Cinta yang menyimpang, tapi ironisnya Salma menikmati.

Bertahun kemudian, ia mendapatkan paradigma baru mengenai cinta. Salma merasa nyaman berada di sisi wanita, lebih karena pria tak ubahnya jentik-jentik di selokan yang siap menjadi nyamuk pengisap darah. Sikap inilah yang melahirkan mimpi buruk tentang "pria berkepala buaya", manifestasi dari kebenciannya terhadap kaum adam.

Kisah nyata ini dituturkan oleh “Y”, perempuan Solo yang memilih menjadi lesbian**

13 Nov 2008

RUMAH ANGSA


ANGSA itu berkecipak sangat dekat dan mendadak.

“Hai, mengapa kau tampak gelisah? Ayo berenang di danau ini seperti ketika aku Berkaca dengan Bintang,” ujarnya di tengah capuccino, coca cola dingin, dan cokelat panas.

Aku membungkuk, meneliti mata angsa yang bergerak ringan. Mata yang beralis lurus memanjang membentuk sebuah bujur dengan keanekaragaman kekuatan ketika ia mempertahankan bulu-bulunya agar senantiasa putih.

Bintik-bintik kecil air bergulir perlahan melalui bulu lehernya, ketika ia meninggalkan telaga untuk bergabung dengan ujung-ujung kakiku. Ia tahu aku tidak mudah mencebur untuk berenang bersamanya mengarungi air.

Bergegas ia mematuk lembut betisku, membuat gerakan-gerakan memutar yang menciptakan rasa nyaman. Aku jongkok untuk meraih pangkal lehernya dan mengelus. Mengabarkan padanya bahwa telah ia ciptakan surga kecil.

“Kau tak perlu bertanya seperti apa kegelisahan ini, sebab aku telah mengatakannya lewat mata. Kau angsaku atau bukan, tetapi telah kau siangi siang ini dengan banyak hal yang membuatku gusar karena cukup terlambat mengenalmu. Ah, andai saja kita dipertemukan jauh ketika kita sama-sama belum melangkah, sama-sama remaja,” ujarku lirih di sisinya.

Angsa itu tersenyum. Sulit menerjemahkan makna senyumnya. Yang membias adalah sebentuk magma. Esok aku akan menciptakan kristal-kristal kehidupan dari magma yang ia berikan.

(Terima kasih tak terhingga untuk “A” dan Anuga atas siang yang hebat)

3 Nov 2008

SETELAH CIUMAN TERAKHIR


KABUT turun perlahan di ruang bedah. Lisa mengerjap-ngerjapkan mata. Serba putih dan tirus. Selang menohok bibir, lengan, hingga punggung kaki. Hatinya membiru dan pilu.

Nyeri berdenyut di bibirnya. Mungkin nanah berontak, atau belatung bergelantung, mengikis bibirnya yang dulu indah.

“Aku ingin menciummu. Sekali ini saja. Setelah itu terserah kau mau kemana,” rajuk Raka. Kabin mobil senyap dengan AC lembab, di tengah Kenny G yang mengalun dengan Ritmo Y Romance.

“Aku tak bisa melakukannya, bahkan jika langit runtuh sekalipun,” lirih Lisa. Semacam pemberontakan kecil. Akhir-akhir ini, tiap kali Raka menciumnya, melintas-lintas bayangan Haga dan Dini, anak-anak Raka. Sebab itu Lisa ingin mengakhirinya. Menyudahi hubungan terlarang ini. Membiarkan Raka merakit bahagia bersama keluarganya.

“Tapi ingin kulalui perpisahan ini dengan indah. Tak maukah kau lihat hatiku yang sunyi? Aku tergila-gila, dan hanya kau yang bisa membuatku mabuk. Cuma kau yang punya alis dan retina mata terindah sepanjang masa ...”

Tangan Raka mencari-cari punggung tangan Lisa. Hati Lisa menampik, tapi tangan Raka magnet yang sukar dilepas. Ia tak berdaya. Begitu pula saat bibir Raka mendekat, Lisa juga tak bergerak seinci pun.

Lalu pagutan itu terjadi pada saat Lisa sudah berikrar dengan teguh untuk tak lagi mau disentuh. Kabin pun akhirnya membara.

***

SEMINGGU kemudian, Lisa mendapati bibirnya seolah pecah, subuh ketika ia tergeragap bangun. Ia mengira bisul biasa. Tetapi sejam kemudian bengkak meranggas tak beraturan, membuatnya seperti monster perempuan dari negeri kabut paling muram di muka bumi.

Di ruang bedah, saat hendak dioperasi pagi ini, Lisa ingin terjun dari lantai 5 guna menyembunyikan pemandangan mengerikan atas bibirnya yang tak lama lagi bakal dipangkas, sekaligus mengubur kenangan-kenangan indah kala ia saling memagut dengan Raka, seolah keduanya lintah ...

(Terinspirasi dari kisah Lala -- bukan nama sebenarnya --, siswi kelas 3 sebuah SMA swasta di Semarang yang kini hamil 4 bulan setelah merajut cinta dengan “P”, seorang lurah yang tak diketahui kemana ia melarikan diri)

12 Okt 2008

JEJAK CINTA DI KACA


Secarik cinta itu ditemukan Tia dari balik kaca. Bukan kaca akuarium di rumah Bunda yang ada arwana dan ikan emasnya.

Cinta pernah mengelabuhinya, menjerangnya sepanas air di atas tungku. Tia mencoba menghitung berapa lama Pras meninggalkannya. Namun makin jauh jemarinya menghitung, makin menganga luka.

Pagi ini, ketika bayu masih menyisakan dingin dini hari, Tia menerima telepon. “Mbak Tia, saya Alfian yang Mbak hubungi tempo hari untuk meng-update analisis tentang pembiakan ayam. Saya dalam perjalanan ke kantor Mbak.”

Suara yang biasa saja. Tetapi saat bersitatap, Tia melihat retina mata yang amat teduh. Ia bergidik sebentar, tapi segera perasaan anehnya ia terpa.

Tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan di kibod komputer. Serta merta mata keduanya bersirobok. Hati Tia bergemuruh seperti air terjun Niagara. Ia tak sanggup membendung rasa ini dan membiarkannya berselancar.

“Minggu depan kita bertemu lagi,” kata Alfian sambil menjabat tangan Tia.

Dari balik kaca kantornya, Tia mengikuti langkah Alfian hingga tempat parkir. Telapak tangannya berkeringat, meninggalkan jejak biru dan ungu. Ia takut relung hatinya tak lagi menyisakan rongga untuk cinta ...