Search

Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan

22 Apr 2009

PEMBODOHAN ALA SINETRON


PEKAN lalu saya ngobrol dengan Adjie Pangestu di Semarang. Pria penghobi Mercy ini menuturkan bahwa sinetron telah benar-benar parah karena para pelakonnya tak mendalami materi.

"Mereka (para pemain) datang ke lokasi syuting, lalu menghapal naskah, kemudian bermain. Tak ada watak, minim karakter, dan kejar tayang. Itu sebabnya akting mereka pas-pasan, tak ada penjiwaan. Sementara televisi mengejar rating belaka," terangnya, dengan mimik muka prihatin.

Sinetron striping melintasi layar kaca nyaris 24 jam setiap hari. Sejumlah stasiun bahkan mengambil slot-slot bertetangga: dari judul satu ke judul lain, dan judul berikutnya, di jam-jam berurutan!

Paparan Adjie Pangestu yang mantan suami Annisa Trihapsari tadi tampaknya kontra dengan selera masyarakat Indonesia, setidaknya sepuluh tahun terakhir, terhadap sinema elektronika, alias sinetron. Bayangkan, Cinta Fitri yang nyata-nyata tak keruan juntrungan cerita, tak mencitrakan budaya negeri sendiri, dan dibesut asal kejar tayang, memenangi Panasonic Award 2009, 27 Maret lalu.

Cinta Fitri -- kita singkat saja dengan CF -- mengingatkan kita pada sinetron Tersanjung yang amburadul, melebar dan memanjang hingga 6 season. Seperti galibnya sinetron, Tersanjung adalah film televisi yang menjual mimpi komplet dengan pemain-pemainnya yang cantik dan tampan, rumah mewah, berdasi, dan tak manusiawi.

CF -- sebagaimana sinetron sejenis -- dibesut dengan perangkat digital, meninggalkan pita seluloid yang biayanya berlipat-lipat. Namun, digital yang seharusnya bisa dipermak untuk menghasilkan gambar-gambar ciamik, alami, dan merangsang, gagal dioptimalkan oleh juru kamera maupun sutradara. Walhasil, di sepanjang episode dalam 3 season, gambar-gambar CF adalah terang benderang. Semua seragam, mulai dari dapur, bangsal rumah sakit, hingga taman bunga.

Selera properti yang rendah itu bisa saja karena daya apresiasi masyarakat kita telanjur bodoh (ataukah dibodohi?), sehingga mereka (barangkali juga saya) cukup senang disuguhi atmosfer glamour di kamar tidur hingga ruang direktur.

Coba bayangkan, mana ada orang hendak pergi tidur bibirnya berlipstik tebal, berambut mata palsu, dan rapi jali seperti mau pergi kenduri? Adegan kamar tidur terang benderang tanpa efek cahaya dan pemain-pemainnya rapi ini, misalnya, tampak pada scene suami-istri Moza-Aldo (diperankan Adly Fairuz dan Donita) di episode ke sekian CF season 3.

CF juga mewakili sinetron-sinetron kita yang miskin variasi angle. Hampir semua adegan di-close up. Barangkali ingin mematuhi patron film televisi yang 'haram' melakukan long shot bahkan medium shot, namun mereka keblinger dan sangat bersemangat mengambil gambar sebatas dada. Hasilnya memang 'hebat': akting mentah dan hapalan teks menjadi tampak kentara!

Tetapi, herannya, pemirsa televisi kita memilih CF sebagai tontonan paling oke, dengan cara mengirim SMS ke panitia Panasonic Award!

Tampaknya, kita akan tetap bodoh dan terus dibodohi!


**
Ditulis dengan seksama, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya guna memberi saran: sebaiknya kita tak terapung-apung dalam pusaran televisi yang makin giat mengomoditikan mimpi.

9 Nov 2008

KACA CERMIN TUKUL


SAYA tak kenal Tukul, meski sama-sama Semarang. Beberapa kali kami menghubungi, tapi selalu yang ber-”halo” adalah asistennya. Sampai “Empat Mata” dibredel KPI, cuma sekali media kami memuat wawancara eksklusifnya. Itu terjadi ketika ia menyanyi di launching Daihatsu Grand Max di halaman sebuah mal Semarang.

Saya penyuka Tukul. Ia lucu tanpa dikarbit. Namun belakangan banyolannya garing, segaring “Empat Mata” dengan seting panggung baru yang tampak asing.

Pagi, di kantor, usai membaca berita pembredelan “Empat Mata”, seorang teman berkomentar nyinyir: “Iya saja ditutup, lha wong ratingnya mulai turun. Jangan-jangan Trans7 kongkalikong dengan KPI, seolah-olah terjadi pembredelan gara-gara bintang tamunya Sumanto dan orang makan kodok. Padahal sebenarnya “Empat Mata” mulai kehilangan iklan.” Semoga ini tuduhan ngawur.

Tukul, boleh jadi, akan dicatat sejarah. Ia menjadi motivator, disengaja maupun tidak. Nyaris setiap tayang ia mengajak untuk bersemangat bagi orang-orang yang dibelit nasib. Ia menciptakan kaca cermin yang memantulkan perguliran alam, dari buntung ke untung, dari limbung ke melambung.

Tetapi “dari tanah akan kembali ke tanah”. Honor Rp 20 juta perepisode “Empat Mata” sudah cukup untuk investasi jangka panjang baginya. Jikapun sesudah “Empat Mata” ia tak lagi lucu, Tukul akan tetap abadi.

5 Okt 2008

KUMAN SINETRON


Jika Anda menyalakan televisi dan keluar pemandangan seperti ini:

  1. Perempuan teriak-teriak atau terbahak-bahak
  2. Perempuan lari ke kamar lalu menelungkup di atas kasur kemudian terisak-isak
  3. Perempuan memakai bedak-gincu tebal meski ia bangun tidur atau sedang menanak nasi
  4. Mobil mahal meluncur dari gerbang depan menuju pintu utama rumah mewah
  5. Mobil menabrak perempuan atau orang tua yang menyeberang jalan, lalu orang yang ditabrak itu tergeletak dan kemudian ditolong oleh pemilik mobil
  6. Darah, eh, cat merah, mengucur di dahi
  7. Semua wanita tampak cantik, tak peduli PRT atau juragan
  8. Pria-pria memakai lipstik menyala
  9. Baju resmi dipakai perempuan yang sedang memasak atau ngobrol dengan suami
  10. Seseorang menampar lawan bicara, lalu yang ditampar terjengkang ke tanah
  11. Rebutan warisan
  12. Rebutan pacar
  13. Anak-anak SMP sibuk ngerumpi pacar
  14. Direktur/manajer tampak muda belia. Ia duduk sambil telepan-telepon
  15. Seseorang tergeletak di rumah sakit, lalu beberapa orang mengerumuni di sekelilingnya sambil bertengkar atau menangis
  16. Setiap ruangan terang benderang, tak peduli siang atau subuh, di dapur atau di gudang
  17. Seseorang yang melamun mendadak ada narasi, seolah ia bicara padahal bibirnya bungkam
  18. Cerita yang melingkar-lingkar, tanpa ujang dan pangkal
  19. Serba kebetulan, seolah dunia ini sesempit kamar mandi
  20. Penjahat yang gondrong dan memakai rompi
  21. Polisi yang kaku ketika meringkus penjahat
  22. Penjahat yang nongkrong di pertigaan dengan trail atau RX King
  23. Orang marah dengan mulut dimencong-mencongkan,
  24. Sering ada kata-kata: “Huh, sebel!”, “Awas pembalasanku!”, “Kamu memang bajingan!”.
  25. Orang-orang di pinggir jalan yang melirik-lirik pemain yang sedang akting. Celakanya pula, mereka juga melihat kamera yang sedang merekam adegan
  26. Hantu yang selalu pocong atau wanita sangar dengan darah menimbuni wajah
  27. Ular besar yang ujudnya mirip kartun
  28. Seorang pendekar yang menumpang burung besar tapi sayap burung ini melambai seperti barongsai
  29. Bubuk putih seperti talek memuncrat saat seorang pendekar dijotosi lawan
  30. Orang-orang yang sama di banyak judul, di stasiun TV berbeda-beda

Maka, itulah SINETRON!

26 Apr 2008

INDONESIA IDOL


INDONESIA IDOL menjadi pelipur lara. Tadi malam, di RCTI, digelar babak workshop. Seluruh 12 kontestan cewek unjuk kebolehan di depan Titi DJ, Anang, dan Indra Lesmana. Dari 12 orang itu, 4 diantaranya didepak, dan tinggal 8 yang kelak bakal beradu top di babak spektakuler.

Kualitas mereka? Namanya juga kontes audisi. Jadi ada yang oke, ada juga yang letoy. Situasi macam ini juga pasti terjadi di deretan peserta pria yang nanti malam (Sabtu, 26/4/08) beraksi di depan juri dan masyarakat pemirsa televisi.

Tapi yang patut di-stabilo adalah kentalnya acara ini dengan elemen-lemen bermutu. Taruh misal, seluruh juri – Titi DJ cs itu – begitu dingin cara menilai, dan simpel. Simpel bukan berarti mereka tidak pintar, namun justru penuh muatan.

Saya tidak setuju dengan beberapa komentar di sebuah forum milling list yang menyebut bahwa juri-juri itu tak punya sikap. Titi, Anang, dan Indra bukan Paula Abdul, Simon Cowell, dan Randy Jackson. Anang memang nylekit seperti Simon, Titi adem dan keibuan macam Paula, dan Indra bijak seperti Randy. Tapi ini pasti bukan disengaja oleh produser Indonesia Idol. Lagian, kalaupun menjiplak, sah-sah aja. Lha wong II (Indonesia Idol) itu kan gagasannya dari American Idol (AI).

Kembali ke pentas tadi malam. Suasana temaram panggung, plus layar digital di latar belakang yang membuat sang penyanyi berkelebat-kelebat dengan aksinya dari rekaman sebelum naik pentas, membuat II lebih cerdas ketimbang kontes sejenis yang kini marak di televisi. Para peserta pun dibalut busana simpel dan tidak norak.

Suasananya memang AI banget. Tetapi idol versi Indonesia ini tidak miskin variasi. Contohnya ketika Wulan diberi kejutan dengan kehadiran dua orang tuanya yang renta di studio. Peserta asal Solo itu menangis sesenggukan saat menciumi pipi dan pundak sang ayah. Saya haqul yakien ini bukan sandiwara. Lalu ada pula Harvey Malaiholo yang dihadirkan untuk memberi beberapa komentar dari bangku penonton.

Ada hal lain yang turut membedakan II dengan kontes sejenis di negeri ini, yakni tampang kontestan. II tak menggubris performa, tapi suara. Maklum, ajang ini memang mencari bakat untuk industri rekaman, bukan pamer wajah tetapi suaranya jeblok (tak perlu saya sebut kontes apa saja yang pesertanya cakep-cakep itu).

Pendek kata, saya tiba-tiba tidak alergi lagi menonton acara semacam ini. Tapi tetap saja mual menyaksikan kontes audisi yang presenter dan jurinya cengengesan kayak yang di Indosiar itu!

25 Apr 2008

MIMPI JADI ARTIS


KONTES-KONTESAN di televisi menyaingi sinetron. Bila sinetron sudah membuat muntah, maka kontes-kontesan masih tahap menebar bau anyir sehingga perut kita (terutama saya) sedang bergejolak sehingga jika tren ini makin menjadi-jadi, maka kita muntah-muntah juga.

Dulu ada AFI yang memancing airmata jika ada kontestan yang dieliminasi. Lalu API yang lucu karena ada Teamlo. Indonesia Idol menarik karena pesertanya aneh-aneh dan juri-jurinya oke punya. KDI juga lumayan.

Nah, sekarang bermunculan kontes-kontes bakat yang menggunakan polling SMS massa sebagai acuan penilaian, mengekor AFI, API, KDI, dan Indonesia Idol. Sebut saja “Idola Cilik”, “Mamamia Show”, “Stardut”, “Kontes Dangdut Indonesia”, serta banyak lagi. Sebagian acara ini menyita waktu, bahkan ada yang sampai 6 jam!

Program macam ini disatu sisi positif untuk memberi peluang kepada generasi muda memamerkan bakat, kreativitas, dan mengaktualisasi diri, ketimbang menyedot putaw atau berseks ria tanpa nikah. Namun ada dampak kurang sedap di masyarakat, antara lain membuai masyarakat dengan mimpi menjadi selebriti dan adanya unsur judi di balik polling SMS.

Pengaruh TV sudah sangat menyiksa masyarakat kita. Menjamurnya acara infotainment dan ajang kontes-kontes idola membikin warga negeri ini silau. Beragam ajang kontes idola mengiming-imingi masyarakat kita bahwa menjadi selebritis adalah impian.

Celakanya, para orangtua sangat mendukung anak mereka menjadi ‘artis’. Tidak sedikit mereka yang gagal audisi kemudian menjadi sangat sedih atau uring-uringan kepada juri. Hal itu hanya mempertegas fakta bahwa menjadi finalis dan masuk TV adalah segala-galanya.

Kondisi lebih parah ketika anak-anak kita ditanyai cita-citanya, mereka menjawab ingin menjadi artis dan masuk TV. Televisi telah mengubah paradigma masyarakat dan merasuk ke anak-anak. Salahkah menjadi artis? Tidak. Artis adalah pilihan hidup. Tetapi harus dipahami, kehidupan artis sesungguhnya tidaklah segemerlap apa yang tampak di TV. Tidak sedikit popularitas artis membuat mereka tidak mampu mengendalikan diri dan terjebak perilaku negatif seperti narkoba dan seks bebas.

Beberapa diantara mereka yang menang di acara kontes idola lumayan sukses. Misalnya Delon yang jebolan “Indonesia Idol”, Siti KDI, T2 yang finalis AFI 2005, dan Sule yang juara API. Mereka termasuk yang mampu bertahan dan berkembang.

Tapi tidak sedikit juga mantan finalis yang kemudian tidak menjadi siapa-siapa dan dilupakan orang, susah mendapat job karena kemampuan mereka pas-pasan, dan hanya tinggal di kos yang murah. Lebih parah lagi ada yang terlilit utang karena dulu memaksakan untuk mengirim SMS sebanyak-banyaknya.

Banyak diantara mereka yang ketika mengikuti kontes mengorbankan sekolah atau kuliah, dan sekarang baru menyesal bahwa pendidikan mereka menjadi sia-sia. Mungkin sangat menarik jika ada stasiun TV yang mau mengekspos juga bagaimana kehidupan mantan peserta ajang kontes tersebut!

8 Apr 2008

SINETRON


KALAU Anda memencet tombol remote, kemudian di TV keluar tayangan/adegan seperti disebut di bawah ini:

  1. Perempuan berteriak-teriak atau tertawa terbahak-bahak,
  2. Perempuan lari menghambur ke kamar lalu menelungkup di atas kasur mewah kemudian terisak-isak,
  3. Perempuan memakai bedak tebal plus gincu menyala meski ia bangun tidur atau menanak nasi di dapur,
  4. Sebuah mobil mewah meluncur dari gerbang menuju pintu utama rumah super mewah
  5. Sebuah mobil menabrak perempuan atau orang tua yang mau menyeberang jalan, lalu orang yang ditabrak itu tergeletak dan kemudian ditolong oleh si pengendara mobil,
  6. Darah mengucur dari dahi dan tidak alami lantaran darah itu mungkin cat air atau cat minyak yang sekadar ditempel,
  7. Semua wanita tampak cantik karena dipoles make up, sehingga tak ada beda pembantu rumah tangga atau juragan,
  8. Seseorang menampar lawan bicara, lalu yang ditampar terjengkang ke tanah,
  9. Rebutan warisan,
  10. Rebutan pacar,
  11. Anak-anak SMP sibuk ngerumpi tentang pacar
  12. Direktur/manajer tampak muda belia. Dia duduk di meja kerja sambil telepon-telepon ibu, pacar, atau selingkuhannya
  13. Seseorang tergeletak di rumah sakit, lalu beberapa orang mengerumuni di sekelilingnya sambil bertengkar atau menangis,
  14. Setiap ruangan terang benderang, entah pagi atau subuh, entah di dapur atau di gudang, entah adegan mencekam atau biasa-biasa saja,
  15. Seseorang yang lagi terdiam mendadak ada narasinya. Mungkin dimaksudkan untuk bergumam,
  16. Ceritanya melingkar-lingkar, seolah tanpa pangkal ujung,
  17. Kisahnya dibikin serba kebetulan, seolah dunia ini sesempit kamar mandi,
  18. Penjahatnya gondrong atau memakai rompi,
  19. Penjahatnya senang tertawa,
  20. Penjahatnya nongkrong di pertigaan sebelum mengejar sasaran dengan trail atau RX King,
  21. Kalau lagi marah mulutnya dimencong-mencongkan,
  22. Sering ada kata-kata: “Huh, sebel!”, “Awas pembalasanku!”, atau “Kamu memang bajingan!”, dan sebagainya, sehingga tak ada lagi bahasa tubuh yang bernilai teaterikal tinggi,

Maka, itulah SINETRON!

19 Mar 2008

TUKUL


KUL,

Tadi malam saya melihat Sampean begitu lelah. Kantung mata Sampean tampak menonjol, dan mendadak Sampean tidak lucu lagi.

Sampean begitu repot dan menanggung beban menghadapi empat janda, Meriam Belina, Dewi Persik, Nunung Srimulat, dan Mak Iyah. Sampean mati-matian improvisasi – dengan misalnya menaruh tangan di bawah selangkangan Peppy ketika Peppy hendak duduk di lengan kursi Sampean – tapi tadi malam Sampean tetap tidak lucu.

Saya pernah memuji Sampean karena punya banyak energi. Membayangkan Sampean harus syuting live (minus “Empat Mata” edisi Jumat dan Senin yang siarannya direkam) saja saya sudah capek. Durasi 1,5 jam tiap malam (dikurangi slot iklan yang saya perkirakan setengah jam) mampu Sampean lewati dengan haha-hihi.

Sampean juga mendapat banyak pujian dari orang lain. Taruh Rano Karno yang jujur mengakui Sampean cerdas, mengingat Rano pernah mengalami kecapekan luar biasa tatkala merangkap-rangkap jabatan dalam Si Doel Anak Sekolahan, menjadi sutradara, produser, sekaligus pemeran utama.

Beberapa pihak juga setali tiga uang. Mereka menganggap sampean mahal harganya (tak salah, kan, kalau saya menyebut angka Rp 20 juta peredisi besar honor Sampean?), sekaligus aset yang sulit didapat.

Tetapi belakangan Sampean sering tidak lucu lagi karena mengulang materi yang sama, kelucuan yang tak beranjak, serta improv yang mubazir seperti mengajak dialog para penonton di area mini bar. Tak salah jika wajah Sampean sering memerah karena ‘terpojok’ justru oleh guyonan para bintang tamu, sehingga Sampean segera memungkasinya dengan: “Kembali ke laptoop …” yang tidak cerdas itu.

Kul, saya termasuk penggemar Sampean. Saya tak bosan-bosannya menonton “Empat Mata". Saya tak peduli di stasiun lain ada sepakbola, sinetron Kasih, atau tontonan asyik dan mendidik seperti "Kick Andy".

Namun, Sampean perlahan-lahan menjadi ‘budak’ iklan, menjadi pemuas siapapun yang masih penasaran ingin menyaksikan “Empat Mata” dari Studio Trans7, menjadi bemper stasiun televisi yang kemaruk menggaruk pendapatan!

Kul, saya kasihan sama Sampean …

2 Feb 2008

IKLAN


Iklan dulu sopan, tapi cara penyampaiannya begitu sederhana. Seolah calon konsumen itu ibu-ibu katrok yang tak perlu bertele-tele saat menyapanya. Itu jaman negeri ini hanya punya TVRI.

Kini, iklan digelar dengan bahasa kiasan (macam Sampoerna di baliho-baliho itu), atau pengungkapan yang blak-blakan namun dibungkus efek-efek bagus di televisi.

Pemirsa televisi sekarang ini kritis. Mereka sudah bisa membedakan mana iklan megah, mana iklan kacangan. Iklan-iklan shampo maupun sabun (mandi atau cuci) rata-rata menganggap bodoh pemirsa (atau malah membodohi?).

Farhan menuturkan betapa dahsyatnya sabun deterjen dengan bahasa paling sederhana dan 'narsis'. Krisna Mukti setali tiga uang. Naskah iklannya begitu jelek, sehingga kentara bahwa sabun yang ia iklankan memang hanya untuk ditonton kaum ibu yang (dianggap) bebal!

Iklan shampo lain lagi. Banyak berjejal istilah istilah asing macam cocoba, acid, volumizing, dsb, seolah semua kuping konsumen itu borju dan terpelajar. Perempuan di ujung pulau, atau di pelosok pedesaan ngertinya cuma shampo kemasan plastik kecil seharga Rp 500-an!

Shampo dan sabun tidak sendiri. Motor dan mobil (yang segmentasinya menengah ke atas) juga berlarian di sekitar pamer suspensi atau daya kencang yang sanggup merobek baju pengendaranya. Penonton dirayu dengan kedahsyatan yang kelewat batas, sampai-sampai tak ada penghargaan terhadap nalar. Begitu telanjang dan blak-blakan, seakan penonton televisi adalah orang-orang bodoh yang kaga pernah 'makan' sekolahan!

Iklan pada dasarnya menyampaikan pesan. Pesan yang dikandung memang punya alasan untuk merayu konsumen untuk membeli. Sebab itu, jika ada penghargaan kepada pariwara, tentu ini untuk menyampaikan kabar bahwa pembikinan iklan pun perlu menghargai seni.

Pada bagian itu, mari kita angkat topi pada iklan-iklan rokok yang rata-rata kreatif, megah, menyita selera, dan menggelitik. Mereka tak perlu mengatakan: "Isaplah Rokok Anu, karena rokok ini membuat Anda sehat!"


















27 Apr 2007

INFOTAINMEN


Pagi, siang, malam, masyarakat dibenamkan pada persoalan-persoalan bintang, atau mereka yang mengaku bintang, selebriti, atau setengah selebriti. Pagi, siang, malam, seolah tak ada berita kosong tentang mereka.


Infotainmen merayu remaja dan ibu-ibu untuk tersedu, menitikkan airmata, kecewa, penasaran, kesal, gembira, sekaligus lupa bahwa yang berperkara itu bukan sanak famili, apalagi anak-bini.

Infotainmen yang (konon) mengaduk-aduk perasaan itu sesungguhnyalah alat pengelabuan massal yang digerakkan industri televisi. Dengan demikian, program ini menjadi alat paling efektif untuk sensasionalisasi figur publik dan 'bisa diatur'.
Dalam artian, karena bersifat 'mengikat' (karena ditunjang oleh pengidolaan kepada bintang), maka dimanfaatkan secara semena-mena oleh mereka yang perlu mendongkrak popularitas.

Lihatlah mereka yang keluar masuk Pengadilan Agama. Tengok mereka yang rebutan anak dan hak asuh, coba juga telaah pecat memecat personel grup band, sampai cakar-cakaran antarteman. Warna apa cat kuku mereka, model rambut, hingga isi WC artis pun dipublikasikan. Omong kosong!

Isu dihembuskan tanpa malu-malu. Gosip diletupkan sampai harga diri tak dipedulikan lagi. Yang penting komoditi. Yang penting raihan perhatian. Bintang, atau orang-orang yang mengaku bintang, kelabakan karena tak lagi disiarkan televisi, jarang diberitakan koran maupun tabloid. Padahal mereka mencari nafkah dari sana, atau berharap mengasi rejeki dari pemberitaan kontinyu.

Maria Eva diundang ke banyak talkshow usai kasus video porno. Angel Lelga mendadak mahal sesudah kawin siri dengan Aman Jagau. Padahal, siapa Angel? Siapa Maria Eva?

Mungkin kalau saya artis dan mulai tak dikenal publik lagi (atau pengangguran yang pengin cepet terkenal), jalan yang saya tempuh paling-paling ya infotaimen itu ...