Search

Tampilkan postingan dengan label CERMIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERMIN. Tampilkan semua postingan

29 Apr 2009

KUPU-KUPU, GERIMIS, DAN MALAM JAHANAM


PIA menatap cemara lewat kaca. Kupu-kupu mengepak perlahan, hinggap beberapa depa dari kusen jendela. Saat itulah gerimis menitik.

Hatinya sedang meradang. Tadi pagi ia memergoki Papa memasuki toko berlian di Citraland Semarang, bersama perempuan. Perempuan sebaya Tante Windra, menggelayut dekat dan lekat.

Ia ingin mengadu pada Mama. Tapi lidahnya kelu. Nanti akan terjadi cekcok lagi seperti dulu ketika ada nama Martina, perempuan yang membuat Papa tergila-gila dan mendorong Mama ingin bunuh diri. Pia memilih diam saja seraya menahan ngilu di dada.

***

DIOLESKANNYA lipgloss. Lamat-lamat. Kemudian mematut, menyisir, mengepaskan dress court ke lempengan tubuhnya. Sejam ia di depan kaca. Tetapi sembilu menguntit kemanapun napasnya terhembus. Rasa percaya diri itu musnah sudah.

Ia pencet keypad Bluberry tatkala klakson menyalak di depan pagar. Daniel!

Di kabin BMW seri M Class, Pia murung. Daniel menjumput sulur rambut kekasihnya, melempar pertanyaan "kenapa". Pia hanya menggelengkan kepala. Isak itu tak terbendung akhirnya.

Pia mengurung diri di sudut taman, meninggalkan dentum house music pesta ultah Rosemary, karibnya, di ruang sebelah. Daniel sibuk membujuk. Melingkarkan lengan di leher Pia, mengajak sang pacar memandang rembulan, menelisik angin, dan mengapung di awan.

Malam begitu jahanam. Pia roboh dalam aroma pesta gila, berenang dalam kelam cairan yang ia tenggak secara bertubi-tubi serta sejumlah suntikan di lengan. Ia lupa segalanya, mengapung dalam sentakan-sentakan purba, menggelepar dalam raung serigala yang menguarkan jerit perempuan dalam pelukan papa. Ia tertawa. Makin membahana tatkala air api menggelar permadani.

Daniel merangkul. Memapahnya menuju surga dengan api yang menjilat-jilat. Mengajaknya sekarat ...

29 Jan 2009

MENIKAH ADALAH PERJUDIAN?


Benarkah menikah adalah kunci membuka gerbang kegersangan?

***

ROFIQ mencegat saya tatkala saya membelok untuk menjauhi gang rumah. Saya pikir ia mau menodong rokok, seperti biasanya. Tapi meleset. “Mas, cariin istri, dong. Saya bosan membujang,” ujarnya meringis dari luar jendela kaca.

Saya meneliti wajahnya. Muka yang ganteng tidak jelek pun tidak ini menyeringai. Tapi sejurus kemudian mimiknya berkerut, alias serius.

“Kamu serius?” Tanya saya seraya menepikan mobil.

“Serius, Mas. Ayo dong, perempuan mana saja saya mau, asal dia baik dan mau mengerti saya,” katanya, setengah merengek. Saya memaki pendek dalam benak. Dipikirnya saya ini biro jodoh apa!

Namun ada rasa kasihan yang menyengat. Rofiq pria baik. Ia menginjak 32 di Tahun Kerbau ini. Tapi di umur yang sepantaran usia Pak Harto menjadi presiden negeri ini tak pernah tersiar kabar ia memiliki pacar. Padahal, teman-teman sebayanya sudah meminang anak orang.

“Mengapa baru sekarang terpikir untuk menikah?”

“Kemarin-kemarin saya asyik membujang. Tapi lama-lama tak kuasa juga saya menahannya. Saya merasa sepi. Saya juga merasa tak tenang bekerja, sehingga sering melamun di pekerjaan. Akhirnya saya di-PHK. Sekarang saya menganggur dan sulit mencari pekerjaan lagi. Siapa tahu dengan menikah saya lekas mendapat pekerjaan lagi,” tuturnya panjang lebar, dengan manik mata yang digenangi air.

Sebuah keyakinan yang membuat saya sangat terharu. Tetapi, barangkali, Rofiq tak pernah membayangkan betapa peliknya rumah tangga. Betapa rumit memecah problem rumah, mengatasi banjir perkara dan repotnya membeli susu. Lebih-lebih saat ini ia tengah menganggur.

Rumah tangga adalah menaiki biduk menuju ombak yang bergejolak. Menikah, kata orang bijak, adalah perjudian ...

21 Jan 2009

MISKIN HARTA, KAYA HATI


Lagu “You Rise Me Up” milik Josh Groban sayup-sayup menghilang bersama munculnya credit title di layar kaca. Saat itulah saya masih terisak ...
***

PEREMPUAN berbaju kuning ini melongokkan kepala ke kabin becak. “Pak, bisa mengantar saya?” Ucapnya sambil meringis.

“Bisa, Bu. Kemana?” Kata abang becak dari kursinya.

“Ke Rumah Sakit Dokter Kariadi. Jauh enggak, Pak? Perut saya mulai mulas,” ujarnya sesayup sampai sembari mengelus kandungannya yang besar.

“Wah, jauh, Bu. Tapi tak masalah kalau Ibu membayar 30 ribu,” ujar si tukang becak girang lantaran sebentar lagi bakal meraup rejeki.

“Tapi uang saya tadi hilang. Dompet saya dicuri orang ... ” kata si perempuan masih dengan mimik muka memelas. Raut muka tukang becak berubah tentu saja, dari senang menjadi kelu.

“Wah, kalau begitu nggak bisa, Bu. Saya harus menyetor uang ke juragan,” ucapnya seraya memalingkan muka, membiarkan sang ibu merana di sela bias mentari yang gencar memanggang kepala.

Perempuan ini berlalu, menyeret sendal jepitnya di kerikil. Sudah lebih 10 jam ia datang dan pergi ke abang-abang becak. Total 136 becak menolak. Panas mulai beringsut ke barat, tetapi perih perut si ibu makin merejam. Lunglai dan putus asa menyirami wajahnya. Rasa sakit akibat orok yang mulai meronta membuatnya nyaris pingsan, bahkan barangkali mati.

Di tengah frustrasi, ia mendekati becak ke-137. Dengan kalimat yang sama dalam harap yang mulai sirna, ia kembali memohon. Si bapak – yang kemudian diketahui bernama Toyib – memandang sebentar wajah si perempuan. Tiga detik kemudian, ia menyambar lengan si ibu, membimbingnya menaiki becak, dibantu beberapa orang lain di sana. Lalu mulailah ia mengayuh. Peluh merembes di bajunya yang dekil. Tak ayal napasnya tersengal saat ia mendorong becak di tanjakan.

Pria 60 tahun itu mulai mengerem kala becak mendekati gerbang belakang Kariadi. Dengan penuh perhatian ia mengangkat bagian belakang becaknya, mempersilakan si ibu turun dengan santun, kemudian mengantar penumpangnya hingga ambang gerbang.

Pak Toyib merasa sangat lega, meski baru saja ia kehilangan Rp 25 ribu, angka yang amat besar baginya.

Tetapi Tuhan tak pernah tidur. Mendadak, entah datangnya dari mana, seorang gadis muda mendatanginya dan bertanya, mengapa ia mau menarik becak untuk sesuatu yang cuma-cuma. Ia menjawab, “Saya kasihan padanya. Ia hamil tua dan sedang kehilangan uang.”

Gadis muda itu merogoh tas, menarik beberapa lembar 50 ribuan, dan menyodorkannya pada Pak Toyib. Terkejut, ia pun melongo. Si gadis menarik tangan Pak Toyib, lalu menangkupkan tumpukan uang ke telapak sang bapak.

Pak Toyib roboh. Ia memanjatkan syukur yang lafalnya tak jelas. Airmata meleleh deras. Ia meraung pendek-pendek, menyulut simpati orang-orang yang mengerumuninya. Mereka sontak memberi selamat, menepuk-nepuk pundak, bahkan seorang ibu mencium dahi pria tua ini.

***

ITU adegan program “Minta Tolong” RCTI, Selasa sore kemarin, yang setingnya di Semarang. Reality show yang menguji kepedulian. Orang 'ditantang' untuk kebajikan dalam kemiskinan.

Saya hanyut dalam emosi yang meninggi tatkala sekian puluh tukang becak menolak mengantar perempuan renta dan tersiksa karena hamil tua, ditambah pula kehilangan uang. Saya marah dan memaki. Saya merutuki orang-orang yang kehilangan kepekaan. Saya sumpah serapahi mereka yang dijilati setan sehingga tak punya belas kasihan.

Dan saya pun meraung tatkala Pak Toyib muncul sebagai malaikat. Pria dengan sisa-sisa napas. Orang lapuk yang dijejali kerut merut di pipi. Lelaki dengan kemiskinan harta tetapi kaya hati!

Saya masih terisak tatkala "Minta Tolong" berganti program lain, menyisakan You Rise Me Up di ujung acara yang terus bergaung di telinga ...

2 Jan 2009

SAYA DIMINTA JADI LURAH, HAHAHAH!


MUSIM pilkades merebak di Demak. Seorang kerabat yang mengabdi di Kecamatan Wonosalam, Demak, mengirim SMS begini pada 21 Desember lalu: “Rief, nyalon lurah aja. Kalau mau nggak usah keluar duit. Saya jamin kamu jadi.”

Saya terlongong. Lurah? Apa tidak salah? Bukankah saya tak punya talenta membangun desa? Ngomong di depan seminar mungkin lancar. Lha ini mesti pidato di depan warga dengan Bahasa Jawa. Bukan saya tak mampu berbahasa Jawa, tetapi di hadapan massa yang tingkat pendidikannya rendah adalah masalah.

Problem yang menerpa bukan itu saja. Saya harus menjadi pendekar untuk melancarkan saluran, memperjuangkan jalan supaya enak diinjak, belitan program KB dan posyandu, hingga masalah remeh macam menengahi pertengkaran warga, cekcok suami istri, dan sebagainya, dan seterusnya.

Usai menerima SMS itu, saya sempat berangan, ah, andai jadi lurah, saya akan bawa komputer spesifikasi tinggi ke balai pertemuan, mengaliri dusun dengan internet, dan membuat koran. Koran beroplag kecil tapi menyulut antusiasme warga. Saya juga berencana menggelar press conference rutin saban bulan, mengundang kawan-kawan wartawan untuk menginformasikan progresi desa kami.

Namun itu cuma khayalan kecil. Kepala desa, kini, bukan jabatan gurih seperti masa lalu. Dulu, lurah dijabat sepanjang masa. Sekarang masa bhakti hanya lima tahun, dengan bengkok (bayaran berupa sawah) seluas 25 bahu (lebih kurang 5 hektar). Sawah yang bersifat pinjaman. Jika tak menjadi lurah, mantan kepala desa harus mengembalikannya lagi ke negara.

Upah yang saya rasa tak cukup untuk membayar pengorbanan jiwa, raga, waktu, pikiran, dan mental. Menghadapi warga desa persis menimang bayi. Salah susu, maka si bayi teriak kencang dan susah didiamkan.

Tapi, alamak, para calon kades mengejar jabatan ini hingga liang lahat. Uang dihamburkan hanya untuk memperoleh baju lurah. Seorang calon kades di sebuah desa di Kecamatan Dempet, Demak, Jateng -- sebut saja Handono – mengaku menggelontorkan dana Rp 800 juta. Padahal, ia digampar ending yang sangat tak enak: gagal menjadi lurah!

Pilkades tak ubahnya pilkada kabupaten/kota, pilgub, bahkan pilpres. Dana disiapkan untuk menyuap warga supaya mencoblos calon bersangkutan. Handono, menurut sumber yang sangat layak dipercaya, memberi angpaw sebesar Rp 250 ribu kepada setiap pencoblos. Itu belum 'serangan fajar' berupa Rp 20 ribu bagi mereka yang bersiap menuju TPS, serta barang-barang berupa sarung atau kain untuk upeti warga. Hitung saja andai pencoblos di desa ini berjumlah 5000 orang.

Saya curiga, jangan-jangan kerabat yang meng-SMS saya itu salah satu calo lurah ...


30 Des 2008

TAK PERLU PERAYAAN TAHUN BARU


SAAT orang-orang sibuk dengan tahun baruan, saya tenang-tenang saja. Saya hanya akan nonton TV, memutar DVD, atau menyalakan playstation tatkala handai taulan dan kawan meniup terompet pada pukul 12.00 malam.

Apalah arti tahun baru? Apalah makna pergantian tahun? Apa, sih, yang istimewa?

Bagi saya tak beda dengan hari-hari biasa. Semua hari sama. Semua terdiri dari 24 jam. Mungkin yang membedakan adalah angka di kalender, dari 2008 menjadi 2009.

Seumur-umur saya tak pernah merayakan ulangtahun. Cuma, terkadang, istri mencium kening saya secara tiba-tiba, pagi saat saya masih berkubang selimut. Juga kadang teman-teman kantor riuh rendah mengucapkan selamat ultah. Tahu-tahu ada tumpeng atau kue bermotif bola di meja rapat, dan saya dipaksa meniup lilin, kemudian foto-foto.

Sebaliknya, saya juga jarang menyelamati istri, Ibu, Bapak, mertua, ipar, keponakan, adik-adik, famili, kawan, atau siapapun yang berulangtahun. Tradisi latah yang menurut saya hanya pemborosan belaka karena ketika tanggal lahir tiba, seseorang mendadak panik karena bakal ditodong kawan-kawannya untuk makan bersama. Kalau ada duit, beres urusan. Nah, bagaimana jika dompet sedang kempes? Tak jarang, kata seorang teman, ia perlu mengutang untuk mentraktir sate kambing atau MCD bila ultahnya tiba!

Saya memang anti yang latah-latah. Saat ulangtahun tiba, dan kemudian mendadak kawan-kawan menodong traktir, saya biasanya bilang: “Loh, bukannya saya yang harus ditraktir karena usia saya berkurang setahun?

Tahun baru tak ubahnya tantangan baru. Bakal banyak setan bergentayangan di depan sana, dan kita harus menaklukkannya. Mengapa perlu diramai-ramaikan?


22 Des 2008

CERAI


DALAM sebulan, dua kali saya bertanya dengan satu kalimat yang sama: “Mengapa cerai?”

Pertama pada M. Ia teman satu sanggar sewaktu kami sama-sama miskin di Semarang, awal 1990. Ia sosok yang, jujur saja, saya kagumi. Jarang bicara ngelantur dan khusuk shalat. Artikelnya banyak dimuat di beragam suratkabar.

Lalu saya mendengarnya ia berpisah dengan istri. Istri yang cantik, pemain sinetron, dan gaul. Tiga anak telah mereka peroleh. Anak yang tentu lucu-lucu. Kehidupannya juga tidak kekurangan. Ia terakhir saya pergoki menaiki Kijang kapsul yang mulus. Saya ingin bertemu dengan M usai mendengar ia menceraikan istrinya. Dan terkabul.

“Ada yang salah dalam pernikahan kami. Tapi saya tak bisa bercerita banyak. Ini problem internal kami. Sudahlah, saya harus melaluinya,” ujarnya serius dan misterius. Tapi saya amat memahami.

Kemudian yang kedua dengan J, kawan seperjuangan sekitar 1999. Kami bertemu di Bandara Soekarno-Hatta sewaktu sama-sama menunggu penerbangan ke Semarang. Saya melontarkan pertanyaan: “Mengapa cerai?” Tak ada jawaban jelas. Dan saya bukan tipikal pria yang interogatif masalah rumah tangga orang.

***

CERAI mungkin kata yang biasa saja di khasanah selebriti. Tetapi di kalangan umum perceraian meniupkan aroma ngeri. Kengerian yang timbul pada nasib anak-anak. Anak-anak yang tanpa dosa tetapi dilibatkan pada dosa-dosa orangtuanya.

Pengadilan Agama mungkin mulus memutuskan gono-gini, hak asuh anak, dan sebagainya. Namun selang sebulan setelah ketuk palu, ada rentetan lain yang menguras airmata. Malam, ketika gerimis turun, salah satu anak akan bertanya kepada ibunya: “Ma, Papa pergi kemana? Kok lama sekali nggak pulang? Kakak rindu Papa.”

Ketika si anak sakit dan perlu rawat inap, si ibu kalang kabut. Ia terbiasa berdua mengatasi beragam masalah. Tahu-tahu kini hilir mudik dan lintang pukang sendiri. Belum lagi jika si anak demam dan menggumamkan nama sang bapak ...

Status duda mungkin gurih pada awalnya. Ia ngeceng di mall atau dugem semalaman tanpa diganggu SMS istri. Tetapi ia punya hati kecil yang tak bisa diam. Di jalanan, tatkala dilihatnya balita dalam gendongan ibunya, si duda akan meratap lantaran teringat Devi dan Saskia yang kini hidup bersama ibunya. Kecuali, tentu saja, ia telah mati rasa!

Perceraian cuma mengguratkan luka. Seorang janda, sebut saja Zaenab, pernah merintih dengan ratap ngilu ketika menyadari dia sendiri, lima bulan setelah ia cerai. “Aku kesal dengan kelakuan Apri, tapi lebih kesal lagi ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa status janda itu sungguh tak nyaman di hati. Anak-anakku nakal sekali. Mereka hanya segan pada ayahnya. Aku nggak ngerti, apakah aku yang salah pilih suami, ataukah salah karena menuruti kata hati dengan menceraikan Apri ..” Kata Zaenab yang famili jauh dengan saya itu. Dua anaknya kini beranjak remaja.

Sebab itu, berbahagialah orang-orang yang bisa menahan diri untuk tidak bercerai, karena segenap masalah sudah pasti ada jalan keluarnya. Bukan begitu, Bapak Ibu?

18 Des 2008

SENYUM YANG AMAT REMBULAN


SAYA selalu menoleh padanya. Biar cuma 2 detik saja. Biar ia tak memedulikan saya. Sesekali saya menglaksonnya, meski ia sibuk melayani pembeli.

Saya tak tahu namanya. Barangkali ia pun tak peduli siapa nama saya. Tapi saya selalu ingin melihatnya setiap pagi saya lewat. Hanya sekilas, tapi itu cukup. Cuma beberapa kejap, tapi itu telah memenuhi hasrat saya untuk menyimaknya.

Ia duduk takzim jika sepi pembeli. Di trotoar, tempatnya menggelar sayur, makanan kecil, dan ikan, ia dinaungi akasia yang rimbun. Pepohonan yang memelihara wajahnya yang berjilbab itu agar tak gontai oleh gencar matahari. Melindungi sayur mayurnya agar tak mengelupas dan layu.

Saya berniat membeli donat, seminggu silam. Tapi ia tak ada di sana. Saya bertanya-tanya.

Esoknya, trotoar itu juga lengang. Tiba-tiba saya merasa kehilangan. Saya merasa rindu padanya. Rindu yang aneh. Ia tak mengenal saya, dan saya pun tak tahu asal usulnya. Entah mengapa saya berdoa agar ia baik-baik saja.

Hari ketiga saya kembali melihatnya duduk bersila. Ah, senang rasanya. Bergegas saya membelok dan jongkok. “Dua hari tak jualan kemana saja, Bu? Ada famili punya hajat, ya?” Tanya saya. Tak peduli sejumlah ibu-ibu kompleks perumahan mencibir karena saya sok akrab.

Ia melihat saya. Lalu menyunggingkan senyum datar. “Saya kehilangan sepeda motor, Mas,” ujarnya, dengan ritme stabil, seolah “kehilangan” yang ia maksudkan itu tak mengganggu. “Pulang dari sini, saya mampir di masjid Penggaron, memarkir motor dengan keranjang dipenuhi sayur masih terkait di sadel. Selesai shalat, saya tak mendapati motor saya di tempatnya, dibawa kabur maling, komplet dengan dua keranjangnya ...”

Saya ternganga dan susah berucap apa-apa. Terbayang betapa perih hatinya. Betapa sedihnya dia. Herannya, ia malah tersenyum seolah ia baik-baik saja. Senyum yang amat rembulan. Senyum yang mengabarkan sesuatu yang membuat saya kagum dan tertegun: Ia ikhlas atas musibah yang menimpa!

Nyaris saja saya memeluknya saat sadar senyum ikhlas seperti itu pernah dimiliki almarhumah Ibu ...


(Apa kabar, Bunda? Baik-baik saja, kan, di alam sana?)

16 Des 2008

PROSTITUSI SMA DAN AIRMATA SAYA


SETENGAH jam saya menunggu. Food court Citraland Mall berisik. Saya mengawasi setiap orang yang memasuki ruangan. Tapi Lena belum juga tampak.

Lena (nama saya samarkan) menyanggupi bertemu pukul 13.30. “Usai sekolah ya Mas. Biar nanti ia saya jemput dulu,” kata Lastri (ini juga bukan nama sebenarnya), ibu Lena, lewat telepon, sehari sebelum janji pertemuan ini.

Baik Lena maupun ibunya belum pernah bertemu saya. Saya diberi nomor telepon mereka oleh seorang teman. “Apa mau dia ketemu? Apalagi ini untuk wawancara,” kata saya khawatir. Teman saya tersenyum penuh arti. “Siapkan saja Rp 150 ribu, dan ajak mereka makan. Saya jamin mau,” ucap dia, masih dengan senyum jahatnya.

Lima belas menit kemudian, seorang ibu menggamit lengan perempuan belia berseragam SMA. Dada saya berdebar sengit. Si ibu menebar pandangan ke sekeliling, dan berhenti pada lambaian tangan saya di ujung ruangan. Keduanya pun bergegas menuju meja saya.

Mereka duduk di seberang meja. Saya mencoba mencairkan kebekuan dengan senyum sehangat mungkin saat lengan saya terulur untuk bersalaman. “Mas Arief, ya? Saya Lastri. Ini Lena,” ujar Bu Lastri dengan sikap yang masih canggung.

Saya melirik Lena. Umurnya 17 tahun kira-kira. Tampang ingusan yang masih pantas mengobrolkan bintang sinetron bersama kawan sebaya. Atau cekikikan membaca SMS di sudut sekolah. Membicarakan baju atau celana terbaru, atau mendiskusikan cowok-cowok yang mereka taksir.

Pesanan datang. “Ayo, Lena, jus alpukatnya tampak gurih tuh. Ayuk minum.” Saya mendorong gelas panjang lebih dekat ke Lena. Ia kikuk. Tapi toh tangannya memetik sedotan, lalu menyelipkannya ke bibir. Saya membayangkan bibir itu meruap dan merintih ketika seorang pria meraupnya di atas ranjang ...

Makan sambil basa basi adalah cara yang praktis untuk membuka tabir. Wawancara tak perlu formal dengan mengacung-acungkan notes atau alat perekam. Bu Lastri menyetujui ‘harga’ Rp 150 ribu untuk interview ini, plus tentu saja makan saya yang bayar (tepatnya, kantor saya yang bayar), dengan syarat: identitas mereka tak boleh dikorankan dengan jelas!

Kemudian Bu Lastri mengisahkan. Keluarga ini tadinya fine-fine saja. Tiga anak Bu Lastri miliki, Lena adalah sulung dengan dua adik yang semuanya perempuan. Ayah Lena seorang polisi.

Sampai suatu hari mendadak datang tagihan. “Jumlahnya hampir 20 juta. Saya hampir pingsan. Di luar sana, ternyata suami saya dililit utang,” kata Bu Lastri terbata-bata.

Sudah jatuh masih tertimpa tangga. Si Bapak punya WIL dan jarang pulang. Di tengah kalut, setelah lintang pukang sendirian mencari nafkah plus mengangsur utang sang suami, Bu Lastri pun menyerah. “Dalam pikiran saya hanya satu, bagaimana mencari uang untuk hidup. Saya berpikir keras, saya mengumpulkan beberapa alternatif. Sampai kemudian seorang germo bekas kawan saya SMA mengusulkan sesuatu yang membuat saya hampir mati karena sesak napas. Ia menawari saya menerjunkan Lena ke lembah hitam. Bayangkan, Mas, sanggupkah menerima kenyataan bahwa anak kita adalah pelacur?” Airmata Bu Lastri tumpah. Napasnya tersengal dan mengiba. Ia sibuk mengusap ingus yang meleleh cair.

Setelah tangisnya reda, ia detail menceritakan bagaimana Lena bisa dibooking. Setelah empat bulan dibawah kendali mucikari, Bu Lastri melepaskan diri. Ia ‘pasarkan’ sendiri sang buah hati, melalui informasi dari mulut ke mulut. Pria hidung belang yang mengencani Lena langsung bertelepon dengan Bu Lastri, kemudian setelah ada kesepakatan harga dan tempat kencan, ia sendiri yang mengantar sang anak ...

“Berapa tarif Lena, Bu?” Tanya saya. Ekstra hati-hati.

Short time Rp 300. Itu tiga jam. Kalau semalam tiga kali lipatnya, atau bisa diskon menjadi 700 ribu jika terpaksa. Itu dengan syarat Lena harus diantar ke sekolah pada esok harinya oleh yang membooking. Sebab itu Lena harus bawa seragam dan buku pelajaran ke hotel,” ungkap Ibu Lastri, dengan beban yang sudah sedikit hilang. Dengan tampang yang menurut saya lebih kejam ketimbang monster dengan wajah berlumuran darah.

**Sorenya, saya menulis cerita ini dengan air yang merembes hebat dari pupil mata. Saya ingat Eni, adik bungsu saya, saat memandang dengan seksama wajah Lena dari foto-foto yang tadi siang saya bidik.

Kisah ini nyata. Terjadi ketika saya bekerja di grup Jawa Pos, awal 2000-an. Ada penugasan feature bersambung tentang prostitusi di kalangan anak-anak SMA Semarang, yang membuat saya makin tahu, betapa keruh dan muramnya isi jagat raya!
**

13 Des 2008

TEBAR PESONA


Jangan TP-TP loh! Awas!

ISTRI saya gemar mengucap itu kala saya hendak pergi, jauh sebelum Amin Rais mengomentari calon presiden negeri ini yang gemar tebar pesona di televisi.

"TP" yang dimaksud tentu tebar pesona. Dia tidak khawatir saya mencari pacar, tapi menurutnya, tebar pesona adalah pekerjaan melelahkan. “Bukankah kau harus pura-pura manis, pura-pura baik, pura-pura tidak pura-pura ketika tebar pesona? Lebih baik energinya untuk bekerja. Mencari duit untuk menghidupi anak-istri,” omelnya. Lebih pada omelan seseorang pada kawan. Sungguh, kami sudah seperti rekan.

Tebar pesona pada prinsipnya mencuri hati, menaklukkan pertahanan, dan ia bersorak puas sesudah memakan korban. Itu jika dilakukan orang terhadap lawan jenis (termasuk barangkali berlaku pula bagi kaum homoseksual dan lesbian terhadap sejenis). Penebar pesona tak melulu bujangan. Bapak-bapak dan om-om bahkan, konon, lebih cekatan. Ibu-ibu yang suka arisan juga (lagi-lagi katanya) piawai memulai.

Tebar pesona dilakukan untuk kepuasan batin maupun penaklukan. Mereka memamerkan sesuatu yang amat mereka andalkan. Seorang tante melenggang di mal seperti macan lapar. Pinggulnya bergoyang dengan sentakan-sentakan tertentu. Ia memamerkan bahunya yang mulus lewat tanktop -- yang kurangajarnya -- dari bahan tipis. Itu ketika ia melihat sekelompok pria sedang berdiri di depan etalase. Tante ini sedang menebar pesonanya.

Seorang pria setengah baya berdiri dengan bau wangi di meja penerima tamu sebuah seminar. Ia berdasi sutera, menggenggam Nokia E90 seraya mengayun-ayunkan tangan, dan bicara tentang golf serta bursa saham. Di depannya, tiga perempuan ayu, para penerima tamu itu, ternganga-nganga dibuatnya. Salah satu di antaranya membatin: “Hm, andai si bapak ini bepergian sama saya ke sebuah tempat yang amat mewah, betapa asyiknya, ya.” Aha, si bapak sedang sukses menebar jeratnya!

Tebar pesona bisa dilakukan di bus kota, konser musik, khitanan anak teman, lobi sebuah hotel, di sebuah malam amal yang mengundang dai, bahkan di yahoo messenger. Di YM, seseorang pandai menikung kata, meluluhlantakkan pertahanan lawan bicaranya (bahkan terkadang memakai webcam guna memamerkan bagian terdalam tubuhnya). Ia sedang menebar pesona. Ia tengah melakukan 'pertunjukan' kecil supaya orang lain di ujung sana takluk di hadapan dengkulnya.

Dari survei kecil-kecilan saya, mereka yang tebar pesona adalah pria-pria atau perempuan-perempuan yang merasa cantik atau tampan, atau setidaknya seseorang yang merasa punya keunggulan, umpama bibirnya yang sensual, (maaf) payudara yang membuat jelalatan mata, kerlip mata yang mengerjap seperti bintang, badan montok padat merayap, atau hanya sekadar punya jari jemari runcing dengan kutek menyala-nyala di kukunya.

Tebar pesona itu tak ubahnya kleptomania. Ia mencuri untuk kesenangan. Ibu-ibu yang menggondol asbak atau vas bunga di kamar hotel dibimbing oleh 'hobi'-nya yang aneh, sekaligus itu penyakit. Begitu pula tebar pesona ...

("Kau tak mungkin laku kalau tebar pesona, karena kulitmu hitam dan jarang sisiran," cibir istri saya suatu ketika. "Ah, masa, sih?" Protes saya di depan cermin)

4 Des 2008

LIFE BEGINS AT FORTY


SAYA pernah dipelototi oleh seorang bupati perempuan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sepele penyebabnya: saya menanyakan berapa usianya.

“Wartawan pintar tak perlu menanyakan berapa usia nara sumber penting seperti saya. Kalau ingin referensi, buka buku kerja yang saya bagi-bagikan ke seluruh staf kabupaten. Di sana ada tanggal kelahiran saya,” ujarnya judes sembari beranjak dari kursi. Saya dan seorang teman tersenyum getir dibuatnya.

Umur tak layak ditanyakan. Tak etis, kata orang-orang. Tapi seseorang pernah membisiki saya perihal usianya. “Empat puluh, Mas. Boleh tak percaya,” ucapnya menimbun kekhawatiran saya bakal diomeli, seperti yang dilakukan bupati tadi.

Baiklah kita beranjak saja. Usia 40 memikul sebuah ungkapan: “life begins at forty”, alias hidup dimulai pada umur 40. Di kalangan pria, empat puluh adalah puber. Ia mulai necis dan wangi. Rambutnya mulus ditempa sisir yang ia kantongi kemana ia pergi. Sebentar-sebentar ke kaca, sebentar-sebentar ia mematut bajunya. Ia mulai melirik gadis yang lewat di depannya. Ia cekikikan dengan kawannya saat perbincangan mengarah gincu dan perawan.

Pendek kata, 40 adalah puber. Empat puluh adalah tali kekang disentakkan. Empat puluh adalah godaan baru, dan berbahaya bagi istri jika suaminya tak diawasi dengan ketat.

Bagaimana dengan perempuan? Saya tak mau membicarakannya, sebab saya bukan pakar di bidang perilaku. Salah-salah seseorang menjewer saya bila salah-salah kata.

Yang pasti, “life begins at forty” ini sesungguhnyalah mengandung pesan bahwa semangat mulai meletup tatkala usia seseorang menapak 40. Lahir semangat baru, lahir motivasi baru, lahir produktivitas baru. Bukankah begitu Bapak-bapak dan Ibu-ibu?

(Pertanyaannya, apakah kelak saya juga begitu?)

26 Nov 2008

SAYA CURI ROKOK ISTRI






SAYA cuti merokok. Itu kabar gembira bagi siapa saja yang pernah menggurui saya. Ya, tiga hari saya tak berurusan dengan cengkeh, sebelum akhirnya saya menyerah juga.

“Selamat! Ternyata Oom bisa melakukannya!” Teriak Dian, keponakan saya yang jurusan biologi di SMA-nya, via SMS. Ia paling rajin mengkhotbahi saya perihal bahaya nikotin, melebihi beberapa kawan di blog yang juga getol beretorika.

“Tumben nggak beli rokok, Mas?” Tanya Bu Tik, kios pojok gang, siang saat saya belanja untuk tukang. Saya lagi puasa, Bu, jawab saya sekenanya, tak peduli ia tampak kecewa karena jumlah belanjaan saya berkurang Rp 8 ribuan, seharga Class Mild, rokok saya.

Saya tak paham mengapa dokter menganjurkan agar saya tak merokok ketika saya mengeluhkan batuk. Toh penyebab batuk bisa apa saja, dari gorengan, knalpot, sampai kentut. “Tolong rokoknya dikurangi, Pak,” kata Dokter Beny, tanpa dosa. Bukankah dengan tak merokok saya mengurangi pendapatan kios maupun petani tembakau? Lagipula, dokter gemuk ini juga perokok!

Tapi saya turuti. Hari pertama ganjil rasanya. Biasanya setelah sarapan saya merokok, lalu siangnya ketika mulai beraktivitas. Keganjilan kian menjadi-jadi tatkala saya mengobrol dengan kawan. Mereka mengepulkan gulungan-gulungan pekat, menjentikkan abu di asbak, dan menyulut batang berikutnya saat rokok pertama telah musnah, yang memancing air liur. Saya komat kamit berdoa agar tak tergoda.

Hari kedua, saya mulai terbiasa. Saya taruh air kemasan di selangkangan saat bermobil, untuk mengatasi kebiasaan merokok ketika menyetir. Berulang-ulang saya tenggak air untuk mengatasi hasrat merokok.

Malam, hari ketiga, baru saya gelisah. Saat menulis, tangan keringatan. Kejanggalan datang, sebab saya biasa menaruh asbak di ujung kibod. Sambil menerawang, biasanya saya isap rokok dalam-dalam, kemudian menemukan banyak kata untuk dituang. Tak ayal saya tersiksa karena otak mendadak berkerak.

Itu sebabnya, saya memutuskan dengan bulat: saya harus merokok!

Tapi malam buta dan gerimis begini mana ada kios buka? Aha, Inilah solusinya: Saya ‘pinjam’ dulu rokok istri. Dia biasa menyimpan mentol di tas atau meja rias. Saya berjingkat-jingkat menjangkau tas kerja di meja, lalu merogohnya dengan napas memburu. Ups, ada! Saya berbinar-binar dibuatnya.

Nah, saya mulai tenang, mengetik pun lancar, meski sedikit pahit karena perlu adaptasi dulu setelah sekian hari tak menaruh rokok di bibir.

“Papaaaaaaa ... !!!” Suara melengking dari ruang tengah, pagi buta saat saya baru saja memeluk guling. Pasti itu istri saya yang marah mendapati kantong mentolnya kosong, sementara ia perlu merokok saat buang hajat.

Saya pura-pura pulas.

24 Nov 2008

JANGAN JADI SPIDER-MAN!


Jangan jadi Spider-Man, Mas, karena aku cinta Doc Ock.”

Seseorang mewanti-wanti begitu pada saya, tiba-tiba, dan tak saya duga. Doc Ock yang dimaksud tentu Dr Otto Octavius, musuh Spider-Man di sekuel yang kedua.

Membayangkan Doc Ock mengamuk dengan belalai besinya saja saya ngeri, apalagi mencoba untuk cinta. Ia sadis dan tak punya perasaan. Ia sangar dan darahnya dialiri setan. Ia ingin menguasai dunia, dan tak peduli sesama.

Dari sudut mana ia pantas disanjung dan dipuja? Dari sisi mana ia layak digandrungi dan dicinta? Olala! Saya tahu sekarang! Pastilah lantaran Alfred Molina, pria kelahiran London, 24 Mei 1953 yang mengawali kariernya di film Raiders of The Lost Ark (1981) itu! Ia yang jadi Doc Ock di Spider-Man 2.

Dugaan itu menyelinap di kepala, karena yang mengaku “cinta Doc Ock” ini adalah wanita. Ia mungkin silau dengan ketampanan Alfred Molina, dan barangkali saja terobsesi. Padahal, sebelum-sebelumnya ia penuh keramahtamahan, kelemahlembutan, gokil tapi sopan, penuh harga diri dan memahami makna kebajikan.

Saya masygul. Saya teramat kecewa. Saya terbangun dari mimpi tatkala menyadari, di belahan hati bidadari ternyata juga menyimpan kejahatan!

"Karena ada pahlawan-pahlawan aneh, maka diciptakanlah musuh-musuh aneh oleh pembikin komik," ujarnya. Entah becanda, atau bermaksud membela diri. Tapi saya telanjur malas mendengarnya.

12 Nov 2008

SETELAH BONGKOK


Ipan sekonyong-konyong datang tatkala pagi ini saya sedang mengelap kaca mobil. Sekian lama ia tak berkunjung. Itu mengapa tadi saya sempat pangling.

Setelah basa-basi ia mengatakan sesuatu yang saya tak menduganya. “Saya baru saja di-PHK!” Ujarnya girang, di ruang tamu, saat teh masih mengepulkan asap.

Saya simak wajahnya. Pupil matanya yang stabil saya terjemahkan bahwa ia tidak bersedih. “Dipecat kok malah gembira. Coba kau cerita. Ada-ada saja,” rungutku setengah kesal. Saya berharap ia menggebrak meja, atau menyumpah, memaki, bahkan kalau perlu mengumpat panjang saat menuturkan PHK-nya itu.

“Tentu saja saya gembira karena bebas dari belenggu kesedihan tiap hari. Pekerjaan membebani saya sampai maag, liver, dan migren tapi gaji saya sama dengan bawahan."

"Berapa?"

"Rp ...."

Saya tercengang. "Itu kan sama dengan pegawai kasar di pabrik garmen," desis saya.

Ia tersenyum getir.

Ipan yang saya kenal memang senang berapi-api. Lebih dari separuh hidupnya ia abdikan untuk media. Ia setia menjadi jurnalis dan tak pernah mengeluh, padahal kalau mau ia bisa membuka bengkel atau toko ponsel dari pesangon besar yang ia dapatkan dari sebuah tabloid terkemuka, saat ia mengundurkan diri, tahun 2002.

Sejak beberapa waktu terakhir saya tak mendengar ia bekerja dimana dan menjadi apa. Nah, kalau pagi ini ia datang, tentu tak hanya untuk mengadu.

Ia menyeruput teh. Sambil tetap memperhatikannya, iseng saya bertanya. “Pesangonnya besar, dong?”

Ia mendongak, tersedak, lalu tertawa ngakak. Saya ikutan terbahak-bahak. Lalu kami meluncur ke warung pecel terenak di kompleks perumahan. Saya yang mentraktir.

5 Nov 2008

PULANG


HUJAN hari ini seperti hujan kemarin. Tempias dan basah. Memercik dan menciptakan genangan. Tapi hujan di hati Sri disertai gemuruh badai.

Ia ingin pulang. Telah tiga tahun ia lebur dalam dengus birahi lokalisasi ini. Meninggalkan Emak dan Bapak. Meninggalkan butir-butir bening embun di pelepah bayam dan ketela.

Tapi sesuatu menahannya. Dari kusen jendela tempat ia bertopang dagu ketika gerimis tak juga surut, diliriknya tas jinjing yang telah penuh dengan baju dan sepatu. Tadi pagi ia berpamitan Mami dengan ekstra hati-hati.

“Sudah mantap niatmu itu?” Tanya Mami di teras kiri seraya mematut-matut gincu.

“Bapak sakit-sakitan. Emak setahun ini TBC. Saya harus pulang,” kata Sri dengan suara yang redup.

Mami menarik napas. Ditaruhnya kaca. “Kalau memang begitu, saya tak bisa menahanmu. Cari cerita yang baik agar orangtuamu tetap menganggapmu bekerja di warung makan.”

***

SRI bergegas turun dari bus. Segera angin segar menerpanya setelah tadi guncangan dan pengap membelitnya selama lima jam.

Jalan setapak di depannya mengingatkan Sri pada masa kecil. Pematang sawah dan lumpur, kerbau dan cangkul, mata-mata polos yang berkejaran dengan capung.

“Anak perawan tak boleh mandi bersama laki-laki. Ada sumur di belakang rumah, mengapa kau bercampur mereka di kali sana?” Sungut Emak tiap kali ia mencebur di kali bersama Legi, Parman, dan Sunhaji.

Emak akhirnya yang rutin memandikan Sri. Anak tunggal yang kolokan. Ia tumbuh bersama liuk pinggul penyanyi dangdut yang diundang ke desa tiap panen tiba. Sri kemudian mengenal lipstik dan bedak. Mengenal betapa penting duit. Tak cukup hanya menjadi tukang panen padi untuk handphone dan celana bagus.

Lalu Sumirah datang pada sebuah Lebaran. Diajaknya Sri ke kota. Lampu merkuri, derit rem sedan, restoran mahal dan remang-remang menciptakan sensasi luar biasa di bilik hati Sri. Ia membayangkan bekerja di juragan kaya dengan televisi yang selalu menyala, seperti janji Sumirah.

Langkahnya terbata-bata tatkala dentum musik mengoyak gendang telinganya. Dilihatnya lelaki-perempuan berangkulan seraya menenggak air penuh busa. Orang-orang jejingkrakan. Tak ada rebana, tak ada kasidah, tak ada satupun alasan untuk membalikkan badan karena mendadak ia tak punya pilihan.

***

SRI menyusuri hutan jati. Gurat wajahnya tampak senang karena sebentar lagi ia memeluk Emak sebelum dibongkarnya tas untuk menarik baju baru buat Emak dan Bapak.

Lalu, beberapa puluh meter menjelang rumah, Mak Sadli tergopoh-gopoh datang. Tetangga sebelah itu mencekal lengan Sri dengan amat kuat. “Tabahkan hatimu, Nduk, emakmu meninggal kemarin. Bapakmu sedang diangkut ke rumah sakit karena sesak napas. Ayo kita masuk rumah dulu ...”

Sri menggelosor di tanah dengan raung tangis yang sangat menyayat.

30 Okt 2008

SEPI HATI TSUNAMI


Setiap tsunami disebut, selalu yang terbayang adalah wajahmu.” Tulis Yulfarida lewat surat elektronika.

Reza trenyuh tapi protes. “Bukan Ratu atau papanya? Bukankah mereka adalah belahan jiwa? Aku berdoa dibukakan pintu surga untuk keduanya,” balas Reza. Jemarinya bergetar saat mengetik, teringat foto Ratu di gendongan sang ayah yang dikirim Yulfarida setahun lewat.

“Ratu tetap nomor satu. Papanya juga tak mampu kuhapus dengan segera. Tetapi kau memberiku percik api. Kau memberi gugus baru, menyuntikkan semangat hidupku yang beranjak luntur.”

Reza bertemu Yulfarida setahun setelah tsunami menggulung Aceh dengan gelegak ombak. Cengkareng masih pukul 8.00 tatkala wajah itu muncul di pintu kedatangan. Reza nyaris tak percaya Yulfarida amat cantik. Dengan kerudung ungu, ia bagai putri salju.

“Tak kuduga kau secantik ini,” puji Reza di sela denting sendok. Keduanya sarapan di bandara. Tiap detik dilalui silang mata Reza ke pupil mata Yulfarida.

Yulfarida tersipu. “Tak kuduga kau pintar merayu,” elaknya sembari menyembunyikan rona senang.

***

PERTEMUAN pertama yang melahirkan bintang-bintang. Reza kemudian dikirim ke Aceh oleh instansinya menjadi sukarelawan. Menyapu debu, membuka selokan, mengusap duka dan daki. Lalu terjadilah pertemuan kedua yang amat menentukan.

Jadwal pulang Reza ke Jawa dibelokkan ke Medan. Tangan keduanya bertautan kala menyusuri Mal Perisai Medan. “Tunjukkan aku warna paling indah menurutmu,” kata Yulfarida riang di gerai jilbab.

Warna jingga itu dipakai Yulfarida kemana-mana. Jilbab yang anggun, lebih-lebih Reza yang memilih dan membelikan. Cinta bisa tumbuh kembali, meski pernah diranggas bencana. Cinta adalah makhluk mungil yang bersemayam di sudut kamar Yulfarida, di rumah barunya yang dibangunkan pemerintah.

“Aku kesepian. Kapan ke Aceh, sayang?” Rengek Yulfarida via SMS, suatu pagi.

“Belum ada satupun alasan aku bisa bepergian ke kotamu. Bagaimana kalau kita bertemu di Jakarta seperti dulu?”

“Akan kuusahakan, tapi aku tak yakin.”

***

DUA tahun kemudian, datanglah e-mail. E-mail yang nyaris tak dikenali Reza lantaran berulang-ulang ia berkirim ke alamat itu namun tak satupun mendapat jawaban.

Ia memendam rindu dendam yang teramat sangat pada belahan jiwanya. Pekerjaannya kacau, matanya tak lagi memercik riang. Dan kemudian ia harus menjalani rawat inap.

Reza, aku harus menerima pinangan Ismed karena jujur aku tak bisa hidup sendiri di tengah ketidakpastian. Aku butuh seseorang yang menjagaku setiap saat, setiap mimpi buruk datang. Kuharap kau bisa memahami situasi ini. Aku tetap menaruh cinta suci ini di ke dalam hatimu, dan menyemayamkanmu di lubuk hatiku paling dalam.”


[Kisah "M" di Banda Aceh yang dikirim ke e-mail saya panjang lebar. Nama-nama disamarkan]

27 Okt 2008

KISAH BUNGA & KUMBANG


Aku nggak bisa menahan gejolak tatkala mata kita berpapasan.”

Pesan pendek itu diterima Siti pagi ini. Terperanjat sebentar, lalu senyum menggembang di bibirnya yang mungil.

Bergegas ia memencet tombol-tombol. Segera terbentuk kalimat balasan. “Ah, Mas Ringga bisa aja. Emang mata kita berpapasan dimana? Hihihihi ...

Lugu dan riang. Itu mengapa Ringga terkesima. Di kampus matanya tertuju dosen, tapi hatinya di rumah. Pagi ini ia menyibak gordin, mengamat-amati Siti di teras abangnya. Lagi menyapu. Bibir gadis bening itu sedang bergerak, mengikuti 11 Januari-nya Gigi dari radio.

Siti bukannya tak tahu sedang diawasi. Tapi ia sungkan menatap nyalang. Sesekali ia melirik dengan ekor mata, mengirim senyum tipis dan ragu. Ringga bergetar hebat melihat deret gigi putih Siti.

“Saya cuma gadis desa. Ke kota sekadar membantu kakak jualan nasi. Mas Ringga tentu punya kawan cantik-cantik, jadi saya tak ada apa-apanya,” ujar Siti suatu sore saat Ringga membantunya memetik jambu.

“Tapi kau perkecualian. Belum ada cewek murni dan jujur macam kamu,” kata Ringga sembari menebarkan senyumnya.

Jujur saja hati Siti bergemuruh. Di desa ada Parto yang suka menggoda. Juga Marman tukang ojek yang menolak dibayar usai mengantar Siti. Tetapi Ringga wangi dan punya rambut mirip bintang sinetron. Ia ingin menanggapi cinta Ringga, tapi sebentar kemudian bimbang menyergap.

Ringga meyakinkan bahwa ia benar-benar jatuh cinta. “Bahkan tiap hari aku jatuh cinta padamu. Maukah suatu ketika kita bersanding dalam pelaminan?” Siti terkekeh antara senang dan tidak percaya.

***

SITI menaruh kubis di keranjang sepeda, ketika tanpa sengaja dilihatnya Ringga sedang memboncengkan cewek. Cewek yang merangkulnya ketat di tengah obrolan riuh keduanya di atas sepeda motor yang melintasi pasar.

Dada Siti bergemuruh. Kali ini bukan oleh rayuan Ringga, melainkan rasa pahit yang bertindihan dengan mual ...

[Kisah L di Kota Kudus, seperti dituturkan Dwi, teman L, kepada saya]

24 Okt 2008

BENCI NIDJI, SUKA LASKAR PELANGI


SAYA dan keponakan pernah berantem gara-gara Nidji. Dia bilang, Nidji itu grup paling oke saat ini. “Personelnya keren-keren, bo!” Kata cewek kelas 2 SMA itu dengan muka centil.

Saya sewot. “Keren apanya? Giring yang kribo itu kalau nyanyi kaya orang kesurupan. Lha wong lagunya sendu kok dia jingkrak-jingkrak seperti kesetrum!” Pelotot saya.

Debat kecil dan panas yang tiada ujung. Sampai akhirnya, suatu pagi, Adi, tetangga saya, mencuci mobil seraya menghidupkan radio. Sayup-sayup sebuah lagu menjilati kuping. Terdengar enak dan membekas, seolah ada nirwana menyeberangi rintih lelautan.

Saya penasaran. Melongok ke kusen mobil, lalu mendapati sebuah aransemen setengah ceria, setengah sendu. “Lagu apa ini?” Tanya saya mengagetkan Adi yang tengah menarik karpet.

“O, ini Laskar Pelangi.”

Laskar Pelangi film itu ya? Siapa yang nanyi?”

“Nidji.”

Saya terperangah dan segera balik kanan, meneruskan mandi yang tertunda. Siangnya saya coba browsing, mencari kebenaran: apakah film yang diantre sampai kaki kesemutan itu memang ada soundtrack-nya? Lebih tepatnya: apakah memang Nidji yang dipercaya mencipta theme song Laskar Pelangi?

Benar adanya! Saya menunda sebentar sikap skeptis saya terhadap Nidji untuk menelaah lagu bersangkutan. Ternyata memang enak. Saya selalu jujur – setidaknya mencoba jujur – untuk hal-hal bersifat apresiatif.

Tak ada yang sangat istimewa di lagu Laskar Pelangi, kecuali kekuatan lirik. Jika mau sedikit susah payah, aromanya tak jauh bergeser dari Negeri di Awan-nya KLA Project. Keduanya sama-sama bicara tentang eksotisme dan sensualitas pinggiran, kawasan yang ngungun dan diselimuti embun. Kebetulan keduanya ditopang video klip andal.

Terus terang saya menyukai Laskar Pelangi, tapi tetap kurang senang dengan aksi Nidji, terutama saat melantunkan lagu Tuhan karya Bimbo itu di sebuah studio TV, dengan jingkrak-jingkrak.

Hingga saya tulis naskah ini saya belum menonton Laskar Pelangi! Alasannya? Saya tidak senang dengan yang berbau tren, seperti Ayat-ayat Cinta atau novel Jakarta Undercover itu, kecuali Spider-Man (1, 2, 3), Superman Returns, atau Batman Begins.

Tapi entah nanti ...