Search

24 Okt 2008

BENCI NIDJI, SUKA LASKAR PELANGI


SAYA dan keponakan pernah berantem gara-gara Nidji. Dia bilang, Nidji itu grup paling oke saat ini. “Personelnya keren-keren, bo!” Kata cewek kelas 2 SMA itu dengan muka centil.

Saya sewot. “Keren apanya? Giring yang kribo itu kalau nyanyi kaya orang kesurupan. Lha wong lagunya sendu kok dia jingkrak-jingkrak seperti kesetrum!” Pelotot saya.

Debat kecil dan panas yang tiada ujung. Sampai akhirnya, suatu pagi, Adi, tetangga saya, mencuci mobil seraya menghidupkan radio. Sayup-sayup sebuah lagu menjilati kuping. Terdengar enak dan membekas, seolah ada nirwana menyeberangi rintih lelautan.

Saya penasaran. Melongok ke kusen mobil, lalu mendapati sebuah aransemen setengah ceria, setengah sendu. “Lagu apa ini?” Tanya saya mengagetkan Adi yang tengah menarik karpet.

“O, ini Laskar Pelangi.”

Laskar Pelangi film itu ya? Siapa yang nanyi?”

“Nidji.”

Saya terperangah dan segera balik kanan, meneruskan mandi yang tertunda. Siangnya saya coba browsing, mencari kebenaran: apakah film yang diantre sampai kaki kesemutan itu memang ada soundtrack-nya? Lebih tepatnya: apakah memang Nidji yang dipercaya mencipta theme song Laskar Pelangi?

Benar adanya! Saya menunda sebentar sikap skeptis saya terhadap Nidji untuk menelaah lagu bersangkutan. Ternyata memang enak. Saya selalu jujur – setidaknya mencoba jujur – untuk hal-hal bersifat apresiatif.

Tak ada yang sangat istimewa di lagu Laskar Pelangi, kecuali kekuatan lirik. Jika mau sedikit susah payah, aromanya tak jauh bergeser dari Negeri di Awan-nya KLA Project. Keduanya sama-sama bicara tentang eksotisme dan sensualitas pinggiran, kawasan yang ngungun dan diselimuti embun. Kebetulan keduanya ditopang video klip andal.

Terus terang saya menyukai Laskar Pelangi, tapi tetap kurang senang dengan aksi Nidji, terutama saat melantunkan lagu Tuhan karya Bimbo itu di sebuah studio TV, dengan jingkrak-jingkrak.

Hingga saya tulis naskah ini saya belum menonton Laskar Pelangi! Alasannya? Saya tidak senang dengan yang berbau tren, seperti Ayat-ayat Cinta atau novel Jakarta Undercover itu, kecuali Spider-Man (1, 2, 3), Superman Returns, atau Batman Begins.

Tapi entah nanti ...

6 komentar:

Riema Ziezie mengatakan...

laskar pelangi OK lah ... potret pendidikan Indonesia ... nidji? ada apa dengan nidji?

blue mengatakan...

laskar pelangi ya bang. duh, saya saja yang sering kali diajak nonton, kok ya masih belum tertarik untuk mengantre tiket ya.

nanti pada waktunya, saya pasti akan nonton. entah melalui media apa saja.

goresan pena mengatakan...

ternyata ada teman yang ga suka dengan gaya nyanyi nya giring. tapi saya suka keybordist nya.hehe...sama kayak armand maulana kan? jejingkrakan pdhl lagunya melowww..

ttg laskar pelangi, saya pun blm nonton.dengan alasan yang sama pula. tak mau latah. sama seperti baca bukunya dulu, buku itu bahkan sampe' ngendap 2 bulan dirumah, setelah tetangga ngoyak2 maksain baca...baru deh kebaca dan tidak mengecewakan.

david mengatakan...

Walah anak muda sekarang kn aneh2 boss...di maklumi aj lh klo keponakan boss suka band Nidji.tp menurut saya Nidji kurang tepat membawakan lagu Laskar Pelangi,kenapa gak band lain aj y

timur matahari mengatakan...

aneh ceritanya? suka dan tidak suka, di ketidak sukaan ada juga sedikit suka, tapi tetap tidak suka.. saya awalnya membaca laskar pelangi tidak saya ketahui buku ini banyak diminati.. saya hanya membaca,tertarik dengan cerita pendidikan dan daerah daerah pelosok yang terisolir.. bahkan waktu itu saya juga belum pernah mendengar dari siapapun bahwa buku ini bagus.. setelah saya baca baru saya tau bahwa buku ini inspiratif sekali..
dan kedua tentang nidji... usulan mas,, tak usah di lihat siapa dia.. dengarkan saja karnyanya.. mungkin itu lebih baik.. berbagi cerita tentang bioskop.. seumur hidup saya belum pernah menonton bioskop.. di medan hiruk pikuk bioskop sudah seperti menu utama.. alasanya saya merasa aneh saja dibuatkan ruangan dan disediakan layar ukuran lebar.. gelap2..aneh saja... paling lama 2 bulan kasetnya juga sudah beredar.. ditonton sendiri dirumah.. lebih menikmati saja rasanya... aneh2 saja bioskop.. tapi itu menurut saya

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

Jujur saya terperangah oleh pengakuan Timur Matahari. Wealah, baru sekarang ada orang belum pernah memasuki gedung bioskop.

Tapi, hidup adalah pilihan. Timur Matahari melalui sesuatu yang menurut dia itu bagus untuk dirinya. Saya salut dengan antikemapanan.

Ada seorang teman di Jakarta yang hampir lima tahun terakhir ogah menjamah bioskop, padahal sebelumnya ia maniak film (bioskop). Apa alasannya? "Buat apa mangantre tiket sampai kaki kesemutan untuk sebuah apresiasi? Mendingan saya tunggu CD/DVD-nya, kemudian menonton sendiri di kamar sepi."

Diam-diam saya ingin meniru jejak kawan saya itu dan Timur Matahari ...