Search

24 Jun 2008

TENTANG MIMPI

Seorang murid TK ditanya gurunya: “Apa cita-citamu, nak?” Si kecil menjawab: “Dokter, Bu!”

Itulah mimpi. Sebagaimana minggu-minggu kemarin Bambang Sadono atau Sukawi Sutarip serempak bermimpi: “Saya ingin jadi Gubernur Jawa Tengah!”

Mimpi adalah angan-angan. Seorang gelandangan bermimpi punya rumah, meski RSSS sekalipun. Kuli mimpi jadi mandor, wartawan mimpi mendapat Pulitzer, kernet mimpi jadi sopir, pengamen mimpi jadi penyanyi tenar.

Apa yang melintas dalam benak saya saat merayakan ulang tahun ke-37, hari Senin kemarin? Tak banyak. Saya cuma ingin hidup bahagia. Bentuk kebahagiaan yang bisa direntang ke macam-macam. Bisa membiayai sekolah anak-anak juga kebahagiaan. Bisa makan-minum tanpa mengutang, tak dibelit gangguan lever atau maag, jarang lagi kena flu, punya pekerjaan sehingga tak menjadi pengemis, masih punya motor tanpa menumpang angkutan kota, juga membahagiakan

Kalau pun ada selipan mimpi tatkala jam berdentang 12 kali menjelang tanggal 23 Juni, paling-paling ingin memenangi lomba cerpen atau cerbung. Sebuah angan-angan lama setelah sekian kali hanya runner up atau juara empat.

Saya tak ingin diperbudak mimpi. Misalnya ingin merebut kursi direktur dan punya rumah tiga lantai. Atau ingin punya mobil mewah dan memiliki warnet. Atau ingin punya banyak duit sehingga mampu membeli apa saja, termasuk membeli mimpi.

Saya tak ingin diganggu mimpi-mimpi yang menyesatkan. Saya tak ingin memberhalakan mimpi sehingga melakukan segala cara. Saya tak ingin hidup di tengah mimpi yang membuat maag saya kumat. Saya tak ingin dipaksa bermimpi kalau itu hanya untuk membuat lever saya makin membengkak. Saya tak ingin dikerjai mimpi jika itu akan membuat saya menjadi maling, tukang peras, atau pengecut.

Saya tak ingin jadi pemimpi dan memimpikan sesuatu yang membuat wajah saya tampak tua. Saya tak ingin jadi pemimpi yang membuat jantung saya berhenti tiba-tiba. Saya tak ingin jadi pemimpi dan mengangankan sesuatu yang bukan rejeki saya.

Saya tak ingin mati sia-sia …



(Terima kasih tak terhingga pada kawan, kerabat, sahabat lama yang nyaris terlupakan, bekas guru dan dosen saya, teman di luar negeri, mantan pacar, serta siapapun yang merasa kenal pada saya tapi kurangajarnya saya justru melupakan (atau secara tak sengaja memang lupa) pada kalian, atas ucapan: “selamat ulang tahun” untuk saya yang kecil dan hina ini, baik lewat SMS, langsung menelepon, maupun email)

1 komentar:

Enno mengatakan...

beuh, ultah gak bilang2... pantesan kemaren ngilang... takut ditodong traktir ya.. met ultah ya... udah tuwir, jangan genit2 lagi hehehe :))