Search

4 Jun 2008

Tiga Lagu Hebat




ADA tiga lagu yang membuat saya bersemangat. Celakanya, semua berbahasa Inggris. Pertama It Must Have Been Love (Roxette), lalu November Rain (Guns N' Roses), lantas Forever and One (Helloween).

Masing-masing punya sejarah.
It Must Have Been Love dinyanyikan seorang house keeper Hotel Graha Santika Semarang ketika Kelompok Gramedia merayakan syukuran (syukuran kelompoknya Kompas ini digelar setiap akhir tahun secara desentralisasi) di Semarang, sekitar tahun 1999.

Suaranya enak. Cengkoknya "Inggris" banget. Saya makin tertegun karena ujung-ujungnya saya ketahui bahwa si penyanyi adalah seorang
house keeper, yang, maaf, kerjanya bagian paling bawah di sebuah hotel. Namanya Mbak Sani.

Lagu N
ovember Rain saya kenali pertama saat sering dilantunkan Heidi Ibrahim, vokalis Power Slaves, grup band asal Semarang yang kini mati suri itu, awal 90-an, ketika Power Slaves belum tenar. Heidi begitu flamboyan saat menyanyikan salah satu hit Guns N' Roses ini. Ia mengenakan celana selutut, dengan tampang yang selalu tertutup rambut kala ia menunduk.

Lebih terpesona lagi ketika
November Rain saya simak lewat video klipnya. Dibesut dengan seting sebuah gereja, ada adegan ciamik tentang kematian seseorang. Di tengah klip, gitaris Slash keluar dari gereja, kemudian membetot senar dengan sangat menyayat. Angle hebat pun terbidik dari pengambilan gambar melalui helikopter yang berseliweran di gereja sehingga menimbulkan efek angin yang menerbangkan daun-daun kering.

Bagaimana dengan
Forever and One? Jujur tadinya saya tidak kenal lagu ini. Pertama mengenalnya saat saya mengantre di tukang potong rambut madura, tahun 1998. Saat kesal karena tukang cukurnya lemot, mendadak radio yang digantung dekat kaca cermin mengudarakan lagu tersebut. Setelah beberapa kali mendengar di kesempatan lain, tahulah bahwa lagu ini judulnya Forever and One.

Ketiganya saya bawa kemana-mana, dan menjadi lagu wajib di kala suntuk maupun girang. Di bandara ketika menunggu jadwal penerbangan, saya sempatkan menyolok
earphone ke laptop, mendengar tiga lagu tersebut secara berulang-ulang, sembari menyeruput teh.

Di bus patas, di kesendirian dalam kamar, di kantor menjelang kerja, bahkan di sebuah resepsian yang hingar bingar oleh solo organ, saya hantam kromo saja: mendengar lagu-lagu ini seraya manggut-manggut. Peduli setan dibilang edan!

It Must Have Been Love menawari beat yang semarak dan berjingkrak. Saya selalu larut dalam setiap tarikan napas Marie fredriksson, vokalis Roxette. Aura lagu itu merembes ke setiap pori-pori saya, menuang spirit dalam gumpalan-gumpalan adrenalin di kepala.

November Rain tampak dari luar sebagai lagu yang kencang. Namun, secara lirik maupun sentakan gitar yang menyayat, lagu ini sebenarnya berkisah tentang kesedihan. Rock yang "ramah lingkungan" dan mampu membuat dada bergemuruh. Saya selalu menikmatinya sebagai altar dengan bunga-bunga di permukaannya.

Forever and One setali tiga uang. Sebuah drama percintaan yang menggigit. Ia dibungkus oleh hentakan drum yang konstan dan menawan. Saya ingin menjadi Michael Kiske, vokalis Helloween yang belakangan cabut tersebut. Saya ingin berteriak lantang dari atas pentas, dengan semburan lirik: ... Forever and one, I will miss you. However, I kiss you, yet again, way down in Neverland. So hard I was trying, tomorrow I’ll still be crying. How could you hide, your lies, your lies ...

Uh!

9 komentar:

ansea anton mengatakan...

halah yg ngenalin it must have been love jg aye. ente dl kaga suka tuh ma lagu ini, trus aye bimbing agar ente demen. ya kan? ngaku aja hahaha

win-virus-band mengatakan...

mas apal lirik forever and one ga? saya dulu punya partiturnya tp hilang setelah kafe hitam putih itu dipugar. saya perlu banget mas krn kadang ada request lagu ini. suwun

brad pitt mengatakan...

satu lagi lagi pak, anda tampaknya lupa mencantumkannya. lagu yang selalu anda puja-puja sebagai lagu yang paling puitis di dunia. Still Got The Blues kan?

widi philips mengatakan...

mau komentar apa yah? ini aja dech, mas arif koq sentimentil sich? tampangnya aja preman hihihihi. ojo nesu mas muah!

seorang wartawan hiburan mengatakan...

Dari tiga lagu itu, aku paling setuju dengan deskripsi tentang November Rain. Guns N' Roses itu sejajar dengan grup band legendaris macam Scorpion, The Police, bahkan mungkin The Beatles.

Tapi aku salut sama sampean karena tak gampang tergoda dengan band-band anak muda yang kini mengucur tak terkendali, dengan kualitas yang pas-pasan.

blue mengatakan...

setiap orang memang berhak memiliki kenangan dengan lagu.

dari dulu aku tetap suka Too Much Love Will Kill You liriknya dahsyat.

satu lagi. its a Hard Life. semuanya dinyanyikan Queen. semuanya enak dinikmati. saya suka sendirian menikmatinya, sampai karaoke pun dua lagu itu jadi menu wajib.

tapi heran, kawan-kawanku kok pada nggak tau its a hard life yah...

Veni mengatakan...

it must have been love buat v is a must. Lagu wajib karaoke hehe

yang punya blog mengatakan...

wah wah, suara mbak V pasti yahud neh. Boleh dong kapan2 denger Mbak V nyanyi :p

SiMunGiL mengatakan...

It must have been love. Yup, lagu ini ada di soundtrack pretty woman, Mas. Gimana klo mas nonton lagi filmnya :D eheheh...

@Blue
memangnya still got the blues gak masuk itungan yah? atau honky tonk woman? :p