Search

12 Jun 2008

Malam Malam Retak


BULAN merah jambu. Hening ingin memunguti bintang jatuh melalui pucuk karsen yang bergoyang ditimpa angin. Tetapi sonata ini berhenti di kusen jendela, tempat ia menyulam mozaik malam. Malam yang renta dan selalu piatu.

Dua jam lalu ia menyimak Mama yang mematut di kaca dan menggumamkan lagu cinderela. Bibir itu tak henti tersungging. Bedak telah mengkilat. Baju sudah melekat. Hati Hening tetap meratap dan bertanya.

“Takkah kau lihat mamamu ini cantik, bidadariku? Takkah kau simak tubuh mama ini digilai setiap laki-laki?” Mama menari, menyibak bagian bawah rok bak Marylin Monroe. Mama memang seperti kutilang. Sebuah adonan sintal dan kerjap mata. Ruang menjadi benderang oleh payudara Mama yang mengayun-ayun seperti delima.

“Udah cantik, Ma. Kapan Mama mau berangkat?” Hati Hening melepuh. ‘Keberangkatan’ berarti sepi. Malam yang selalu berkerak. Mama tak ubahnya monster yang datang malam-malam, mendorong pintu dengan tergesa, menghambur ke kamar tanpa melepas sepatu, menguarkan alkohol yang melumuri anak tangga menuju lantai dua.

Seorang pria telah menjemput di beranda. BMW merah berpelat Yogyakarta. Senyum ramah ia sunggingkan kala berpamitan, tapi Hening seolah bertatapan dengan seringai serigala.

Hening mencintai Mama, meski perempuan itu bukan ibu kandungnya. Wanita yang slebor tapi lucu. Ia menggamit hati Hening yang perih karena sekian tahun ditinggal Ibunda. Saat berdua di pembaringan, Mama meminjami banyak kisah kehidupan. Diam-diam Hening memetik beberapa diantaranya untuk menambal sejumlah hal yang tak ia peroleh dari orang tuanya.

“Apa yang kau lihat dari Mama, bidadariku? Rembulan yang terbelah? Matahari yang terkapar? Ataukah debu?” Kata Mama suatu ketika.

Hening mengamat-amati Mama. Ada relung mata yang berselimut kabut. Ada pipi yang merona tetapi gundah. Bibir merekah, namun tampak ngilu. Beberapa uban meringkuk di atas telinga.

“Mama cantik,” ujar Hening sembari menyembunyikan dusta.

“Kau tidak jujur, bidadariku.”

“Setidaknya Mama membuat pria tergila-gila.”

Mama menatap Hening beberapa kejap, sebelum menuturkan hal yang membuat Hening sangat terkesima. “Tahukah kau, nak, Mama adalah binatang paling jalang yang pernah diciptakan Tuhan ….”

(Terinspirasi kisah Wiwied Nurwidyo, di Solo)

5 komentar:

aswin mengatakan...

boleh donk kenalan ma wiwied nurwidyo. Cowok pa cewek sich?

seto mengatakan...

busyet dah, ibunya pramuria yak?

widi philips mengatakan...

apik banget paparannya. aku ajari nulis donk mas.

SiMunGiL mengatakan...

hehe..namanya Hening. Aku suka tuh! Dan barusan juga dapet ide nulis tentang Ibu :) hehehe...

Garagara sering denger Mas protes soal tulisan, kemaren baca buku novel yang 'katanya' best seller di pasaran, baru baca dibagian awal bagian tengah dah eneg duluan.

Entah kenapa bahasanya aneh. Atau karena aku dah 'ketuaan' baca buku 'teen' yah?

oh well...

ARIEF FIRHANUSA mengatakan...

itu buku apa sih dek? jadi penasaran nih. Supernova? Perahu Kertas? Ayat Ayat Cinta? Atau Bercinta dengan Serigala? Hah-hah!