Search

2 Jun 2008

I Love U, Daddy


GUSTI Allah sedang mencubit saya.


Sabtu lalu, di tengah deadline Bolamania yang melelahkan, datang telepon dari Bapak. Suara parau yang khas, yang belakangan mulai akrab di telinga saya sejak ia menderita sakit gula. Suara yang sayup-sayup dan timbul tenggelam lantaran ponsel Bapak Sony Ericsson yang sangat jadul. Lebih-lebih ia menelepon dari sebuah pelosok desa di Demak sana.


“Rif, gimana pilkada cagub? Kok ndak ada tanda-tanda beras datang ke desa? Bapak sudah ditanya-tanya penduduk,” ujarnya.


Saya langsung tidak simpati pada detik pertama. Pilkada Gubernur Jateng tak ubahnya pilkada bupati/wali kota, atau pilpres. Semua diukur dengan beras dan uang. Suara ditentukan oleh “siapa paling royal membagi duit atau minyak goreng”.


Tetapi bahwa yang melontarkan perkataan adalah Bapak, ketidaksimpatian saya sirna seketika. Saya tahu persis seperti apa kondisi desa yang membesarkan saya hingga SMA ini. Desa yang “selalu kemarau” karena minus. Desa yang baru disentuh listrik tatkala saya SMP, gara-gara di sana Golkar selalu unggul.


Saya paham benar bahwa Bapak berniat baik. Ia mengupayakan ‘kesejahteraan’ rakyatnya lantaran ia seorang carik yang kini “sedang menjalankan tugas lurah” karena sang lurah diberhentikan lantaran kasus korupsi.


Dulu, jaman Demak menggelar pilkada bupati, calon bupati Endang (yang mantan istri Sukawi Sutarip, cagub Jateng yang kini masih Wali Kota Semarang itu) membagi-bagi rejeki. Dan Bapak (tentu bersama rakyatnya) kecipratan duit, meski akhirnya Endang gagal dalam pemilihan.


Itu mengapa Bapak mengharap hal serupa terjadi, setidaknya dari Sukawi. Boleh beras, atau duit, atau bola-bola tendang saja untuk para remaja yang mulai aktif bersepakbola sejak lapangan desa dipermak.


***


SUARA yang renta. Suara yang minta diperhatikan. Bapak boleh jadi adalah cermin diri saya tatkala nanti berumur lebih dari 50 tahun. Saya mewarisi hampir seluruh yang ada pada dirinya, dari postur, vokal, hidung, cara tersenyum, sampai kulit. Yang membedakan cuma rambut, ia keriting, saya lurus.


Setelah ditinggal selamanya oleh Ibu, praktis ia satu-satunya orang tua saya kini. Pantas ia kesepian, masalahnya seluruh anaknya telah mentas. Di rumah, Bapak memang ditemani ibu, tapi ibu satu ini bukan wanita lengkap. Apapun yang namanya “ibu sambung”, tentu tak bisa sekomplet istri sesungguhnya.


Saya merasa berdosa karena telah sekian bulan tak bertelepon dengan Bapak. Kesibukan telah merampas waktu saya untuk menyambangi Bapak dengan suara, biar hanya 5 menit setiap hari. Lebaran kami memang sungkem, namun itu tak menghambat Bapak untuk mengingatkan bahwa kami, terutama saya, untuk sebulan sekali pulang.


“Kalau Bapak memintamu pulang, itu berarti karena Ibu juga berharap kamu sowan di depannya. Apa kamu tega melihat Ibu kedinginan di kuburan sana? Kirimlah doa,” pintanya suatu ketika.


Saya sangat ingin memeluk Bapak tatkala Sabtu pagi itu ia menelepon. Ingin saya usap peluhnya, sebagaimana dulu ia telaten menghapus ingus saya yang meleleh.


Saya sangat ingin rebah di pangkuannya, berbagi kesedihan dan lara seraya menyanyikan tembang asmaradana, seperti lagu Yang Terbaik Bagimu milik ADA Band itu, dan menyesap dalam penggalan lirik: ... ayah dengarlah, betapa sesungguhnya kumencintaimu, kan kubuktikan kumampu penuhi maumu ...


I love you, Bapak.

9 komentar:

titik mengatakan...

Trakhir ketemu bapak pas dia lagi beli sesuatu di pecinan, "Toko 39". Masih gagah dan oke. Kapan mulai sakit, Mas? Kapan-kapan, kalau kantorku ada program ke desa-desa, aku mau mampir. Tentu dengan seijinmu. Bagaimanapun dia pernah aku anggep bapakku sendiri.

Ayik mengatakan...

rief, ikut terharu kondisi bokapmu. Dulu waktu kita ngunduh degan di belakang rumah itu beliau baek banget ya.

Oya rief, mau ada reuni SMP. Ndaftar di Anna ya, acaranya masih Juli akhir kok. Aku tunggu kamu. Ngga ada lo ngga rame rief,, hehe

anjing^tanah mengatakan...

weleh, masih inget punya bokap to dul? Bhuwkakakak.

Peace untuk bapakmu. Aku kangen kumpul-kumpul sesama mantan SMA 1 Demak nan OK!

Kutunggu dudamu, kawan! bhuwhahwkakak

hanum mengatakan...

Puitis mas. Betapa senangnya punya anak kayak mas arif.

frida mengatakan...

weh, ada hanum di atasku. pakabarmu PNS cantik? long time no see beb!

mas ariiiffffffffffff, somse ye sekarang! Cariin kerjaan mas, nganggur neh sejak resign dr dealer yamaha. lali yo karo mantan pacar (celinguk kanan celingak kiri,, hihihih,, takut ma bininye haha, ga ding mbak, guyon loh).

buat bapak, smoga cepet sembuh pak, salam dari pekalongan

firhanusa mengatakan...

@titik
oya? kok bapak enggak cerita-cerita. Udah lupa kali sm kamu tik, hehehe. Boleh kok, main aja ke rumah. Pasti tar dipotongin ayam atau bebek.

@ayik
iya, yik, betapa indahnya masa silam ya. Uh, kalau saja waktu bisa diputar ulang ... OK, tar aku coba ikutan reuni itu. Kangen berat nih.

@anjing^tanah (Eddy yah? Wah, identitasnya menakutkan!)
Iya ed, sekali bapak tetep bapak.
Oke tar kapan2 kita kumpul.

@hanum
makasih num. Eh, masih di dinas perpajakan Semarang, ya?

@frida
hahahaha .. istriku bisa sewot loh kalo baca ini. Gapapalah, entar aku jelasin ke sitri bahwa yang komentar emang sinting,, hahahah ..

SiMunGiL mengatakan...

hohoh...banyak tulisan dari teman2 yah? KEREN!

Dan tampilan blog juga tambah keren, waahh emang ternyata yah?

Udah jangan diganti lagi, ini dah tob markotob, Mas! :D

btw, salam buat Bapak :)

blue mengatakan...

wedeh!! welkombek bang!!

treyuh aku setiap baca untaian kalimatmu ini.

jadi kangen bapak aku!!
oya, blog sudah balik. dan terasa lebih indah, meski agak berat aku membukanya. sedikit lama bukanya. untung pake inet unlimited. kalo yang bandwith nya terbatas bisa termehek-mehek buka blog sampeyan ini..

tapi asik bang!

Veni mengatakan...

Jadi inget kejadian hari Minggu kemarin, ayah v tiba2 sakit n v langsung bawa kerumah sakit, sakitnya. Saat itu juga v pikir seandainya ayah dipanggil Sang Pencipta, v mau ko menggantikannya. Ga kebayang gimana bisa balas jasa ayah selama ini.

Makanan sehat dan olahraga secara teratur baik banget buat Bapak. Jalan pagi abis sholat subuh udah efektif ko, bisa menghindari dari ketergantungan obat. Cepat sembuh...