Search

4 Agt 2008

Mutiara Nasib Aris


Jangan pandang Aris dari prespektif anting dan kuku yang selalu dicat warna gelap. Jangan menyimaknya dari rambut ala kadarnya dan masa silam yang kelam. Tataplah dia sebagai simbol kemisteriusan hidup.


Hingga awal 2008, ia adalah pengamen di Stasiun Cakung, Jakarta Timur, dan tak jarang merambah Kemayoran, Senen, Tangerang, Serpong, Stasiun Kota dan Bogor, bersama Yoyo (tam-tam) dan Ricky (bas). Aris sendiri vokalis merangkap pembetot gitar. Dalam sehari mereka bisa membawa ‘pendapatan’ sebesar Rp 50 ribu.


Aris tinggal di sebuah rumah mungil berukuran 3 x 5 meter yang berhadapan dengan sungai kecil, bersama orangtuanya, pasangan Silop Runtuwene dan Siti Rohaya, adiknya, Amta; kakaknya, Alfino; serta istri, Rosillia Octo Fany dan anaknya, Mocalist Rasya Fatiruwllah. Sementara satu anggota keluarga lain, kakak Aris, Firman, jarang pulang.


Sampai di sini, gambaran yang melindap benak kita adalah sebuah kesulitan. Kesusahan yang skalanya tidak kecil, sebab Aris – nama asli di akte kelahirannya ialah Januarismanto Runtuwene, tetapi ia lebih senang dipanggil Januarisman Runtuwene – menikah di usia belia, dengan Fany, cewek sekolahan yang kagum berat pada suara serak Aris kala mata mereka bersitatap di kereta. Pernikahan ini membuahkan bayi mungil yang butuh gizi dan susu, yang memperberat perjuangan ayah muda itu menggedor tembok tebal kehidupan.


Tetapi kini Aris adalah lahar yang menyembur. Ia menjadi idola baru lewat jembatan Indonesian Idol, dalam malam “result and reunion show” di hadapan sekitar 8.000 penonton yang memenuhi Hall D PRJ Kemayoran, Jakarta, 2 Agustus lalu, menyalip Gisel, di tikungan terakhir. Lahar menyembur yang mengukuhkan keyakinan kita bahwa Tuhan tidak tidur!


Aris adalah realisasi atas presentasi takdir. Takdir yang bisa mengusung siapa saja ke singgasana, bahkan terhadap seseorang yang dijemput dari lumpur beku selokan. Dalam pakem logam mulia, pria ini tak ubahnya mutiara yang dirogoh dari hamparan pasir, digosok, kemudian kilaunya menyentuh pupil mata kala ia ditaruh di sokis toko emas.


Nasib tak serta merta melambungkan seseorang dari kubangan, sebab mengubah hidup tak cukup dengan duduk mencangkung di beranda, melainkan melalui perjuangan dan doa. Kita tak pernah mendengar apa doa dalam batin Aris. Tetapi kita meyakini keluh kesah Fany, sang istri; ratap pilu Siti Rohaya, sang ibunda; serta jutaan warga negeri ini yang menginginkan Aris tak sekadar laki-laki yang bernyanyi di atas kereta untuk sekeping dua keping ratusan rupiah.


Aris adalah cermin. Ia memiliki keyakinan atas kemampuan. Setelah ia mendapat kesempatan rekaman dari Sony-BMG, hadiah mobil, serta uang jutaan rupiah, kita hanya bisa mengantarnya hingga persimpangan jalan. Kita tak ingin ia membelok ke arah yang salah ...


[Foto: kapanlagi.com]



2 komentar:

Enno mengatakan...

aris! yay!!! dari awal Indonesian Idol, aku udah dukung dia. Ngefans berat sama suaranya... yuhu aku ikut senaaaaang!!!

pandeglang mengatakan...

Minyak
Angin
Aromatherapy
Mohon maaf lahir dan batiin.
Met idul fitri yach...?!
Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang
MINYAK ANGIN AROMATHERAPY