8 Sep 2010
SAYA PULANG, BU

Lebaran tahun ini adalah Lebaran yang kesekian rumah hanya terisi Bapak, Ibu (Endang), dan beberapa topeles makanan dan bergelas-gelas teh. Di atas tikar, di ruang depan, Bapak bersila dengan sarung yang tak lagi baru (entah mengapa sarung yang ia pakai bukan sarung yang saya belikan, tapi memilih sarung yang dibelikan Ibu). Sementara Ibu (Endang) sesekali menerima tamu.
Mengapa saya menulis Ibu dengan Endang dalam tanda kurung? Sebab Bu Endang adalah wanita pengganti Ibu. Ibu meninggal tahun 1993, meninggalkan kami dengan bertangkup-tangkup kenangan yang selalu membuat saya menangis tiap Lebaran tiba.
Saya biasanya pulang saat Lebaran pertama. Memasuki halaman rumah, dada saya sudah mulai sesak. Dulu, Ibu menyambut kami, anak-anaknya, dengan wajah riang di depan pintu. Lalu kami dirangkul satu persatu. Eni, si bungsu, paling lama dikecup rambutnya. Bungsu yang bandel, bungsu yang cerewet, tapi Ibu amat menyayanginya.
Kini, tak ada lagi senyum itu. Tak ada yang memasakkan ayam dari peternakan sendiri. Tak ada yang bersuara lembut ketika menyodori kami kue-kue bikinannya. "Coba cicipi ini. Ayo coba, dong. Ibu susah payah membikinnya," ucapnya dengan kebanggaan yang tersirat. Kami pun lahap mengunyah, dan terkadang saya bohong karena kue itu sebenarnya biasa-biasa saja rasanya tapi saya mengatakan enak sekali agar Ibu senang.
Di rumah, saat takbir sayup-sayup terdengar, saya menatap foto Ibu di tembok ruang dalam. Tak ada orang yang mengawasi saya, tapi Tuhan menyaksikan saya menangis, bahkan sesenggukan. Ia kini hanya bisa saya tatap lewat foto dengan senyum lembutnya yang tak pernah luntur.
Sering tanpa sepengetahuan siapapun ia menyelipkan 100 ribu ke kantong saya saat adik-adik asyik mengobrol sendiri. "Buat nanti minum di jalan. Tak perlu kamu bicarakan soal uang itu ke adik-adikmu, biar mereka tidak iri. Panen tak seberapa banyak tahun ini, jadi Ibu harus mengirit," katanya, dengan elusan di rambut saya yang menciptakan kerinduan yang mendalam ketika ia kini sudah tak ada.
Saya masih menatap foto Ibu saat membayangkan selang-selang infus itu menancap lengannya, dengan oksigen yang senantiasa menangkup sebagian wajahnya. Ruang ICCU RS Telogorejo sepi sunyi tengah malam itu tatkala seorang suster memegang pundak saya. Dengan sangat berhati-hati, ia mengabarkan bahwa Ibu telah tiada ...
Ibu, Lebaran ini saya pulang. Tidurlah dengan tenang.
Kini, tak ada lagi senyum itu. Tak ada yang memasakkan ayam dari peternakan sendiri. Tak ada yang bersuara lembut ketika menyodori kami kue-kue bikinannya. "Coba cicipi ini. Ayo coba, dong. Ibu susah payah membikinnya," ucapnya dengan kebanggaan yang tersirat. Kami pun lahap mengunyah, dan terkadang saya bohong karena kue itu sebenarnya biasa-biasa saja rasanya tapi saya mengatakan enak sekali agar Ibu senang.
Di rumah, saat takbir sayup-sayup terdengar, saya menatap foto Ibu di tembok ruang dalam. Tak ada orang yang mengawasi saya, tapi Tuhan menyaksikan saya menangis, bahkan sesenggukan. Ia kini hanya bisa saya tatap lewat foto dengan senyum lembutnya yang tak pernah luntur.
Sering tanpa sepengetahuan siapapun ia menyelipkan 100 ribu ke kantong saya saat adik-adik asyik mengobrol sendiri. "Buat nanti minum di jalan. Tak perlu kamu bicarakan soal uang itu ke adik-adikmu, biar mereka tidak iri. Panen tak seberapa banyak tahun ini, jadi Ibu harus mengirit," katanya, dengan elusan di rambut saya yang menciptakan kerinduan yang mendalam ketika ia kini sudah tak ada.
Saya masih menatap foto Ibu saat membayangkan selang-selang infus itu menancap lengannya, dengan oksigen yang senantiasa menangkup sebagian wajahnya. Ruang ICCU RS Telogorejo sepi sunyi tengah malam itu tatkala seorang suster memegang pundak saya. Dengan sangat berhati-hati, ia mengabarkan bahwa Ibu telah tiada ...
Ibu, Lebaran ini saya pulang. Tidurlah dengan tenang.
Label: PERSONAL





5 Comments:
lebih keren ini:
http://pejalanjauh.com/2007/10/bulan-di-dalam-kuburan/
rindumu kepada Ibu, akan terjawab lewat sinar bulan ketika menerpa malammu...
rindu seorang anak lelaki kepada Ibunya, adalah rindu terindah...
merinding bang, bacanya.
maaf lahir batin bang...
SOFIIIIII!!!
*keplak2 blue*
jadi teringat almarhum ibuku
Poskan Komentar
Links to this post:
Buat sebuah Link
<< Home