Search

17 Agt 2010

CELANA (SANGAT) PENDEK


SUATU siang di jalan protokol Semarang, seorang perempuan muda membonceng Mio pacarnya. Karena footstep motor jenis itu letaknya agak meninggi, jadilah dua kaki perempuan ini terangkat mengangkang.

Bukan perkara kakinya yang ngangkang, tapi, olala, dia pakai celana teramat pendek yang ujungnya tak mampu menutupi separuh pahanya. Alhasil, hampir seluruh kakinya dibiarkan telanjang, dengan garang matahari memanggang!

Sebagai lelaki, mestinya saya menikmati pemandangan ini. Tapi, tidak untuk hal-hal yang membuat saya ngakak dalam hati. Bayangkan, kaki perempuan ini tampak belang di sana-sini. Mungkin pernah kudisan, atau campak menyerangnya sewaktu ia kecil, atau cacar.

Perempuan jenis ini pede saja meski kakinya ditertawakan orang, demi tren. Ya, tidak Jakarta, tidak Surabaya, tidak pula Semarang, para perempuan memakai celana super pendek yang menyembulkan nyaris sekujur kakinya, baik kaki mulus, maupun yang berbintik-bintik kayak tadi.

Tren boleh-boleh saja, sebab kadang orang diledek lantaran tak mengikuti gaya sekarang. Tetapi tak jarang orang-orang menerjemahkan tren salah kaprah. Cina, atau bule (terutama tentu yang kemana-mana naik mobil ber-AC dan perginya ke tempat adem macam hotel atau mall) bisa dimaafkan jika mereka bercelana mini. Tapi naik motor, panas-panas pula dan kaki penuh 'mur-baut' kok ya nekat.

Dulu saat film Ghost tengah populer, orang-orang pun ikut-ikutan memangkas rambutnya sependek mungkin, kemudian memberinya poni agar 'menyerupai' bintang film Ghost Demi Moore yang begitu imut dan cantik dengan poninya. Tak peduli ia keriting atau botak, yang penting mirip Demi Moore. Sampai-sampai mereka diledek "KDM", alias korban Demi Moore.

Lalu ada pula tren rambut mohawk yang njegrag di tengah. Mohawk sebenarnya adalah satu suku di Amerika Serikat yang berasal dari Lembah Mohawk (Mohawk Valley) di bagian utara negara bagian New York sampai arah ke selatan Quebec dan sebelah timur Ontario, Kanada. Kemudian rambutnya diadaptasi oleh punk, dan merembet ke Indonesia. Orang-orang Semarang pun tak mau ketinggalan.

Kemudian saat Ariel Peterpan mengenalkan model rambut dengan sulur-sulur yang menutupi sebagian muka dan pipi, remaja pun latah mengikutinya. Band-band baru (macam Kangen Band itu) pun memasang vokalis berambut mirip Ariel. Nah, setelah Ariel merekam video mesumnya, apakah tren ini juga masih berlaku?

Pada prinsipnya, mengikuti tren boleh-boleh saja (asal tentu jangan tren telanjang di depan kamera). Tetapi harus ditilik: sudahkah kita pantas bercelana pendek hingga celana dalam nyaris kelihatan? Apakah dengan berambut mirip Ariel tampang kita menjadi lebih cakep? Apakah dengan berambut njegrag kita sontak menjadi tampan?

Indonesia penuh jatidiri, Semarang pun punya modal untuk pamer keaslian sendiri. Maka, jangan salahkan orang menyebut kita plin-plan hanya karena kita tak punya kepribadian lantaran bisanya cuma niru Bandung, Jakarta, atau Amerika.

Untung saja istri saya bukan tipe perempuan yang suka berpanas-panasan dengan celana pendek, atau memanasi otak pria dengan pakaian yang mengundang.

2 komentar:

Sekar Lawu mengatakan...

syukurlah...akhirnya bisa baca postingan mas arief lagi disini....

ikofx mengatakan...

kesenagan tersendiri