Search

21 Mei 2007

DEJA VU


Alam di bawah sadar kita mirip pergulatan pasar malam. Riuh rendah, ribuan percakapan berseliweran. Mimpi adalah manifestasi dari 'keributan' alam bawah sadar. Tak jarang mimpi kemarin terjadi hari ini. Itulah deja vu.

Tiap orang pernah mengalami misteri déjà vu – kilasan kenangan saat Anda bertemu seseorang dan Anda merasa sudah mengenal seluruh hidup Anda atau mengenali suatu tempat meskipun Anda belum pernah kesana sebelumnya. Tetapi bagaimana jika firasat adalah sebuah peringatan yang dikirimkan dari masa lalu atau menjadi petunjuk masa depan?

Banyak film mengisahkan fenomena ini, salah satunya Deja Vu, dibintangi Denzel Washington. Agen ATF Doug Carlin (Denzel Washington) melakukan pemeriksaan sebuah kasus kejahatan. Terpanggil untuk menyelamatkan bukti saat bom meledak di atas kapal Feri New Orleans. Carlin menemukan bahwa apa yang dipercaya oleh kebanyakan orang hanya ada di kepala mereka dan itu jauh lebih kuat. Ini membuatnya berusaha keras untuk menyelamatkan ratusan orang tak bersalah.

2 Mei 2007

TENTANG MIMPI


Pintu itu berwarna ungu. Saya mengetuknya perlahan, takut membangunkan secara mendadak penghuni rumah. Hari masih pagi, sisa kabut menyelimuti pekarangan. Sepi. Hening.

Seraut wajah muncul dari pintu yang sedikit terkuak. Perempuan. Ia tampak lelah.

"Selamat pagi. Boleh saya bertemu pemilik rumah ini?" Ujar saya seraya membungkukkan sedikit tubuh dengan sopan.

Sesaat ia menyimak saya seraya mengerjap-ngerjapkan mata. "Anda siapa?" Ah, suaranya serak, tetapi membuat saya mendadak ingin mengapung di atas suara itu.

"Tak penting siapa saya. Lebih penting saya harus segera menemuinya."

"Untuk keperluan apa?"

"Saya harus bertemu dengannya, ini sangat mendesak. Saya mimpi bertemu dengannya dan ia menitip banyak pesan. Saya harus menyampaikan pesan-pesan itu, atau setidaknya saya akan mengatakan padanya bahwa saya telah bermimpi bertemu dengannya, sehingga saya memiliki kesempatan untuk mengatakan bahwa saya menyanggupi untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut."

"Seberapa penting pesan itu sehingga Anda setengah memaksa untuk bertemu dengannya?"

"Penting, bahkan teramat penting karena menyangkut rasa dan saling memiliki."

"Saya tidak paham."

"Mari saya perjelas. Saya sebelumnya tak pernah bermimpi sehebat ini. Dalam mimpi, saya bertemu dengannya di padang ilalang. Saya memberinya percik air karena ia menahan dahaga, dan kemudian memapahnya menuju pohon perdu. Kami cepat akrab karena seolah kami telah lama saling mengenal. Ia bercerita banyak soal masa lalu, masa sekarang, dan bagaimana ia bisa terdampar di padang ilalang yang maha luas ... "

"Ia berpesan apa, itu yang saya tanyakan!" Ia menyela.

"Ia berpesan, agar saya menjaganya, agar saya berada di sisinya setiap kali ia membutuhkan saya. Ia juga bersedia memberikan apa saja jika pesan-pesannya saya lakukan. Ia mengatakan cinta, membuat penggalan kata 'cinta' menjadi hirarki dan pondasi. Saya menyentuh pipinya, dengan harapan ada aliran darah yang menyesap ke jantung dan segenap pembuluh. Saya sadar akan satu hal, kami sama-sama terdampar dalam kubus yang sama, cinta."

"Anda mencintainya atau hanya akan mengirim pesan?"

"Saya mencintainya."

Ia menatap saya dengan seksama.

"Tolong bukakan pintu kalau ia ada di dalam sana," ujar saya tidak sabar.

Ia kembali menyimak saya lekat. Lalu berujar lirih, "Ketahuilah, sayalah yang Anda cari."

Saya terperanjat. "Jadi?"

"Ya, pesan-pesan yang Anda bawa itu sayalah yang menitipkan. Mari masuk. " Ia mengulurkan senyum pertamanya.

****

27 Apr 2007

INFOTAINMEN


Pagi, siang, malam, masyarakat dibenamkan pada persoalan-persoalan bintang, atau mereka yang mengaku bintang, selebriti, atau setengah selebriti. Pagi, siang, malam, seolah tak ada berita kosong tentang mereka.


Infotainmen merayu remaja dan ibu-ibu untuk tersedu, menitikkan airmata, kecewa, penasaran, kesal, gembira, sekaligus lupa bahwa yang berperkara itu bukan sanak famili, apalagi anak-bini.

Infotainmen yang (konon) mengaduk-aduk perasaan itu sesungguhnyalah alat pengelabuan massal yang digerakkan industri televisi. Dengan demikian, program ini menjadi alat paling efektif untuk sensasionalisasi figur publik dan 'bisa diatur'.
Dalam artian, karena bersifat 'mengikat' (karena ditunjang oleh pengidolaan kepada bintang), maka dimanfaatkan secara semena-mena oleh mereka yang perlu mendongkrak popularitas.

Lihatlah mereka yang keluar masuk Pengadilan Agama. Tengok mereka yang rebutan anak dan hak asuh, coba juga telaah pecat memecat personel grup band, sampai cakar-cakaran antarteman. Warna apa cat kuku mereka, model rambut, hingga isi WC artis pun dipublikasikan. Omong kosong!

Isu dihembuskan tanpa malu-malu. Gosip diletupkan sampai harga diri tak dipedulikan lagi. Yang penting komoditi. Yang penting raihan perhatian. Bintang, atau orang-orang yang mengaku bintang, kelabakan karena tak lagi disiarkan televisi, jarang diberitakan koran maupun tabloid. Padahal mereka mencari nafkah dari sana, atau berharap mengasi rejeki dari pemberitaan kontinyu.

Maria Eva diundang ke banyak talkshow usai kasus video porno. Angel Lelga mendadak mahal sesudah kawin siri dengan Aman Jagau. Padahal, siapa Angel? Siapa Maria Eva?

Mungkin kalau saya artis dan mulai tak dikenal publik lagi (atau pengangguran yang pengin cepet terkenal), jalan yang saya tempuh paling-paling ya infotaimen itu ...

23 Apr 2007

PENALTI


Penalti itu nisbi. Pelanggaran dalam kotak terlarang bisa subyektif, karena hanya berada di bawah rekomendasi wasit dan salah satu asistennya yang terdekat. Itupun sering asisten tak digubris lantaran keputusan mutlak di tangan wasit.

Subyektif, sebab penafsiran tentang pelanggaran bisa bermacam-macam. Tim yang dijatuhi penalti bisa saja memprotes, sebab handsball tak terjadi karena tangan pemain sedang tidak aktif (rapat dengan tubuh) saat tersentuh bola. Protes juga bisa mengucur karena lawan yang diganjal sebenarnyalah pura-pura jatuh, alias diving, sehingga tidak patut mendapat hadiah penalti.

Penalti itu nisbi dan keadilan. Peraturan FIFA tidak selamanya ampuh. Penafsiran bisa hanya akal-akalan wasit untuk kepentingan tertentu. Kalau sudah begitu, buat apa ada tendangan penalti?