Search

31 Jul 2010

Ponsel: Penjajah Baru



KALAU Anda penikmat film Hollywood, telitilah adegan menelepon saat detektif memburu penjahat. Amat jarang kita saksikan mereka menarik Blackberry atau Nokia mutakhir dari saku baju. Kecuali James Bond yang biasanya diboncengi iklan Nokia.

HP mereka tergolong jadul untuk ukuran kita, atau mungil seperti zaman Samsung SGH S-500 atau paling banter D900. Bahkan tak jarang muncul pula Nokia 1011 yang di sini terbit pada 1992, atau 8110 keluaran 1996.

Gaya hidup Amrik tampaknya berseberangan dengan lifestyle orang-orang kita soal ponsel. Tadi pagi, saat saya lewati sebuah ruko dengan sejumlah karyawati yang kongkow menunggu pintu besi dibuka, inilah adegannya: seluruh cewek di emper toko itu sibuk memencet tombol-tombol keyboard. SMS atau sekadar membaca-baca pesan.

Apa coba HP mereka? Sekejap saya lirik harganya kisaran Rp 1 juta (indikasinya bermerk, tidak jadul, berkamera, dan menyerupai Blackberry tapi bukan bikinan Cina, Tangerang, atau Singapura).

Saya terkesiap lantaran terpikir untuk membeli ponsel seperti itu sudah barang tentu mereka giat menabung, mengerem keinginan membeli baju baru, membatasi makan cukup nasi bungkus saja (di Semarang dikenal dengan "nasi kucing"), atau bergantung pada pacarnya untuk pengeluaran-pengeluaran kecil macam nonton, beli pulsa, dan sebagainya.

Gaya hidup telah menciduk akal sehat, sehingga penampilan adalah nomor utama. Tak peduli cuma untuk SMS saja mereka membeli telepon genggam, yang penting enak dipandang dan bergengsi.

Ponsel tampaknya adalah penjajah baru di negeri ini. Dari PRT, pelacur, tukang sampah, abang becak, sampai wakil rakyat kecanduan telepon genggam. Pada saat sidang, anggota dewan lebih senang SMS-an ketimbang menyusun kebijakan. Pembantu rumah tangga ber-SMS-ria dan tak jarang cuek telah memasak menu siang dengan beres atau belum.

Anak-anak SD dan SMP masa kini telah dibekali ponsel (kelas menengah hingga mewah) dengan handsfree menancap kupingnya, yang keperluannya untuk apa belum bisa dijelaskan.

Dunia komunikasi di negeri ini sudah meninggalkan hakekat penyampaian pesan karena orang lebih suka mendadani pencitraan. Tanpa HP, maka ia dianggap jadul (untuk ini saya salut dengan bos Jawa Pos Dahlan Iskan yang beberapa waktu lalu masih menggunakan HP Siemens amat kuno, diikat dengan karet pula karena tutup baterenya suka copot). Dunia komunikasi yang petentang-petenteng bawa Blackberry, padahal niatnya cuma ingin SMS sebab di kartunya hanya ada pulsa tak lebih 20 ribu.

Tahun 2002 saya ke Korea Selatan. Telepon umum di pinggir jalan begitu diandalkan, sampai-sampai buku telepon tertata rapi di meja (kalau di sini mungkin cepat-cepat diembat orang untuk bungkus kacang). Di Malaysia, tahun 1996 dan 2001, saya berbicara dengan sanak keluarga cukup dari trotoar, dengan telepon umum yang dirawat dengan benar, tanpa perlu sok hebat dengan mengacung-acungkan HP berkelas.

Kita, yang katanya dibekap problem ekonomi gawat, semestinya malu.

4 Mar 2010

Cinta Diobral Murah


Suatu ketika seorang teman membisiki saya. "Jam 8 aku udah harus pulang, mau apel. Tolong sebagian pekerjaanku dihandel ya," ucapnya seraya menyodori saya sebungkus LA merah, rokok kesayangan.

Saya heran, bukankah baru kemarin ia mengaku kini tengah tak punya pacar? Ataukah baru tadi pagi ia punya kenalan dan lekas-lekas ia ikat menjadi pacar?

Belum lagi terlontar keheranan saya tersebut, ia buru-buru menjelaskan bahwa yang mau ia apeli adalah Rika, sekretaris kantor sebelah. Segera saya mengingat sesuatu. Bukankah Rika sudah punya pacar? Bukankah tiap sore seorang pria berjaket hitam menjemput Rika dengan Suzuki Satria?

Agaknya ia paham apa yang sedang saya pikirkan. Dan inilah penjelasannya. Rika memang sudah punya pacar, namanya Rio. Nah, Rio kebetulan sedang ditugasi oleh kantornya ke luar kota. Tampaknya Rika memanfaatkan 'kesendiriannya' untuk membagi waktu kepada teman saya itu.

"Sudah lama kamu memacari Rika?" Tanya saya.

"Sebulan terakhir ini, kawan," jawabnya bangga.

"Lalu, Rio itu ... "

"Ow, bukan masalah. Rika senang-senang saja punya dua pacar, asal tentu saja aku harus mau memahami jika Rika sedang membonceng Rio. Aku sih enjoy saja, sebab Rika juga menikmati segitiga ini," kata teman saya itu dengan mimik muka tanpa dosa.

Saya diam. Saya tak habis pikir. Betapa cinta saat ini murah harganya. Betapa membagi hati adalah sebuah keniscayaan, dan malah cenderung menjadi kebutuhan, bahkan para pelakunya berjenis kelamin perempuan sekalipun.

Cinta kini tak ubahnya baju-baju obral menjelang Lebaran. Digelar secara terbuka di keranjang supermarket untuk dipilih secara mengaduk-aduk tumpukan. Cinta sudah dibanting harganya, demi memuasi diri, demi kebutuhan mendesak akan belaian dan elusan.

Saya menghandel pekerjaan kawan saya itu akhirnya, demi pertemanan, tetapi membuang sebungkus rokok LA merah sogokan teman saya tersebut ke keranjang sampah!

4 Feb 2010

Li Na


Entah terbuat dari apa kau, Lin. Serat-serat kulitmu terbujur teratur. Buku-buku ototmu berjajar seperti perca.

Pagi-pagi dan malam-malam aku sibuk mengumpulkan denyut jantungmu di punggungku. Kurangkai hembus napas itu, menyatukannya dalam hati yang temaram. Lalu kukabarkan cinta tatkala senyummu mengubur rekah amarah.

Entah kau ini terbuat dari apa sehingga hatiku dipenuhi akuarium. Ikan-ikan menari dan berkecipak di dalamnya. Ikan penuh warna dan semuanya bermata lentera, mirip matamu ketika memandangku.

Tak ada yang mampu menghitung betapa kali aku jatuh cinta kepadamu, sebab setiap detik cinta itu menetes deras. Menyuburkan kecambah, mengalunkan asmaradana untuk peri-peri kecil di hati kita.

Matamu itu selalu biru dan ungu. Mata yang senantiasa mengatakan cinta. Menghela kelenjar darahku untuk mengalir dengan gegas.

Banyak lagu disusun dalam partitur dan not balok. Tapi lagumu tak perlu itu, sebab segera mengayun lewat kecupan yang lembutnya tiada tara. ...

29 Jan 2010

Wanita Tercantik di Dunia


"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah kepak merpati dengan kulit kuning langsat itu," godanya, suatu ketika.

Bukan! Bukan menggoda! Ia selalu mengatakan yang sebenarnya tentang tahi lalat di bawah mata, tentang rambut hitam tebal Lina, dan tentang jari-jemari kekasihnya yang runcing dan langsat.

Ia menemukan Lina di tangga sebuah pertokoan. Mata Lina mengerjap dan membius, membuat pria itu bertekuk lutut. Lalu ia meminta nomor telepon, mengucapkan kalimat-kalimat yang samar karena ia gugup.

"Aku akan menelepon. Kamu kos di mana?" Tanya dia.

Lina menyunggingkan senyum. Sederet gigi dengan pesona luar biasa. Membuat jantung pria itu berdenyut. "Saya kos di belakang situ. Mampir kalau ada waktu," ucap Lina, dengan benih-benih cinta.

Cinta? Apakah sekelumit perjumpaan itu bermakna cinta? Pria itu berkaca. Memandang Lina berkelebat dalam cermin, mengingatkan padanya pada sebuah pertemuan awal, sekian bulan lalu. Pria itu hanya menawarinya tumpangan, dan kemudian menurunkannya di sebuah perempatan. Tetapi setengah jam cukup untuk meliarkan perasaan.

Sekian bulan kemudian bertemu di tangga toko itu. Dan kemudian, hingga kini Lina tetap menjadi bidadari, dengan isak tangis yang sesekali memasuki relung telinga pria tadi, ketika keduanya perlu menangisi sesuatu.

"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah tambatan hati dengan asmara yang tak terperi," ucapnya setiap kali.

Bukan ucapan biasa, sebab tak ada makhluk lain yang mampu menandingi kecantikan itu. Lina memiliki tubuh semampai, yang teratur dan ritmis saat berjalan. Lina pulalah yang punya ledak tawa lucu tapi menciptakan rindu.

Pria itu rindu dendam setiap waktu, seolah langit segera runtuh jika sehari tak bertemu. Ia tak berselera makan tanpa Lina di sisinya. Tanpa Lina, ia tak tidur dengan nyenyak. Tanpa bidadari itu, hidup terasa semu ...

Pagi ini -- dan pagi-pagi berikutnya sampai ajal tiba -- selalu ia ucapkan kalimat yang membuatnya merasa nyaman karena diselimuti cinta: "Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina."