
CINTA adalah istana dengan seribu jendela. Ia berjalan perlahan-lahan seperti rusa di padang Savana. Lalu menukik lembut ke pucuk pinus dan mengepak sayap di sana.
Shugy meniti pelaminan seperti pangeran. Matahari gencar memancar, memercikkan sebutir peluh kecil di dahi. Tetapi ia takzim dengan senyum yang tak pernah tanggal, menggamit hati Ethika Kumalaayu Arumsariningtyas yang duduk di sisinya dengan pendar mata syair pujangga.
Pelaminan penuh pijar dan bunga di Jalan Kenangasari 15, Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu 9 Mei lalu itu menghipnotis. Aura dan peri berkejaran, membentuk lingkaran-lingkaran Saturnus.
Di kursi tamu saya dikurung sunyi. Memandang pengantin adalah sendirian meniti debur. Tiga hari sebelumnya saya masih bersilangcanda dengan Shugy. Ia karib. Beberapa kali kami terlibat dalam penyelesaian beragam masalah kecil. Tahu-tahu, ia berbusana maharaja di depan saya, dalam acara penting dan sakral.
Pernikahan bukan akhir, tetapi permulaan. Ada banyak 'polisi tidur', banyak masalah pelik dan peka dalam perjalanan. Tetapi Shugy menatap tantangan ini dengan garang, dengan nyali seorang Musketeers. Maklum, ia masih kuliah, meski juga telah bekerja.
Namun bukan itu masalahnya. Ia dan Ethika Kumalaayu dihadapkan pada perbedaan keyakinan. Indonesia masih memandang sisi ini sebagai musabab lahirnya percik dalam pernikahan.
Tetapi Shugy saya yakini punya pisau tajam untuk membelah sekat. Ia dan istrinya bakal terus lekat bergandengan tangan, hingga ajal tiba. Dan, jujur saja, saya mengagumi kebulatan hati keduanya membangun rumah cinta "dalam perbedaan".
Selamat menyibak samudera baru, kawan!
Shugy meniti pelaminan seperti pangeran. Matahari gencar memancar, memercikkan sebutir peluh kecil di dahi. Tetapi ia takzim dengan senyum yang tak pernah tanggal, menggamit hati Ethika Kumalaayu Arumsariningtyas yang duduk di sisinya dengan pendar mata syair pujangga.
Pelaminan penuh pijar dan bunga di Jalan Kenangasari 15, Ungaran, Kabupaten Semarang, Sabtu 9 Mei lalu itu menghipnotis. Aura dan peri berkejaran, membentuk lingkaran-lingkaran Saturnus.
Di kursi tamu saya dikurung sunyi. Memandang pengantin adalah sendirian meniti debur. Tiga hari sebelumnya saya masih bersilangcanda dengan Shugy. Ia karib. Beberapa kali kami terlibat dalam penyelesaian beragam masalah kecil. Tahu-tahu, ia berbusana maharaja di depan saya, dalam acara penting dan sakral.
Pernikahan bukan akhir, tetapi permulaan. Ada banyak 'polisi tidur', banyak masalah pelik dan peka dalam perjalanan. Tetapi Shugy menatap tantangan ini dengan garang, dengan nyali seorang Musketeers. Maklum, ia masih kuliah, meski juga telah bekerja.
Namun bukan itu masalahnya. Ia dan Ethika Kumalaayu dihadapkan pada perbedaan keyakinan. Indonesia masih memandang sisi ini sebagai musabab lahirnya percik dalam pernikahan.
Tetapi Shugy saya yakini punya pisau tajam untuk membelah sekat. Ia dan istrinya bakal terus lekat bergandengan tangan, hingga ajal tiba. Dan, jujur saja, saya mengagumi kebulatan hati keduanya membangun rumah cinta "dalam perbedaan".
Selamat menyibak samudera baru, kawan!

