Search

12 Okt 2008

JEJAK CINTA DI KACA


Secarik cinta itu ditemukan Tia dari balik kaca. Bukan kaca akuarium di rumah Bunda yang ada arwana dan ikan emasnya.

Cinta pernah mengelabuhinya, menjerangnya sepanas air di atas tungku. Tia mencoba menghitung berapa lama Pras meninggalkannya. Namun makin jauh jemarinya menghitung, makin menganga luka.

Pagi ini, ketika bayu masih menyisakan dingin dini hari, Tia menerima telepon. “Mbak Tia, saya Alfian yang Mbak hubungi tempo hari untuk meng-update analisis tentang pembiakan ayam. Saya dalam perjalanan ke kantor Mbak.”

Suara yang biasa saja. Tetapi saat bersitatap, Tia melihat retina mata yang amat teduh. Ia bergidik sebentar, tapi segera perasaan anehnya ia terpa.

Tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan di kibod komputer. Serta merta mata keduanya bersirobok. Hati Tia bergemuruh seperti air terjun Niagara. Ia tak sanggup membendung rasa ini dan membiarkannya berselancar.

“Minggu depan kita bertemu lagi,” kata Alfian sambil menjabat tangan Tia.

Dari balik kaca kantornya, Tia mengikuti langkah Alfian hingga tempat parkir. Telapak tangannya berkeringat, meninggalkan jejak biru dan ungu. Ia takut relung hatinya tak lagi menyisakan rongga untuk cinta ...

11 Okt 2008

PENYANYI DANGDUT


Penyanyi dangdut adalah impian-impian. Ia menghibur dan butuh pengakuan. Betapa rentan ketika goyangnya dimaknai komoditi. Orang meludah seolah memandang limbah. Padahal ia harus membeli bedak, gincu, beras, susu, dan baju.

Penyanyi dangdut menyelinap dari kampung ke kampung. Mengamati dengan was-was para pejoget teler. Ia dijemput dan diantar selayaknya dai, meliuk dan mengerang, memamerkan tubuhnya yang sintal dalam hubungan saling menguntungkan: pengundang puas, honor diberikan, dan mengantongi sawer yang melebihi jumlah bayaran.

Penyanyi dangdut adalah miniatur sakwasangka, tetapi dibutuhkan. Ia tak perlu membuat album atau disiarkan televisi. Ia hanya butuh uang untuk hidup, meski kadang mereka memaknai kiprahnya sebagai jembatan menuju transaksi lain. Transaksi yang mengubur rambu, dan uang adalah berhala.

Penyanyi dangdut adalah pinggul, suara, uang, dan penisbian tata krama. Tetapi mereka (seharusnya) tetap manusia ...


[
Kepada Eza, Widi, Ima, Pertiwi, Inung, Siwi, dan sejumlah penyanyi dangdut tarkam lainnya yang senantiasa menjunjung tinggi norma-norma. Tetap dengan gaun-gaun sopan, neng]

10 Okt 2008

RINDU


Rindu itu tak ubahnya kupu-kupu. Ia terbang dari kamboja satu ke kamboja lain, sampai akhirnya ia tersadar satu hal: "Aku harus segera pulang, sebab Ibu dan kakak-kakakku menunggu."

Rindu tak ubahnya kepak elang. Ia mengitari mayapada, memangsa ikan, bangkai, dan ular. Sampai suatu saat ia sadar satu hal: "Aku harus kembali ke sarang, anak-anakku menunggu dengan mulut menganga.”

Rindu tak ubahnya kehilangan wasiat, atau berkelana tanpa batas, tetapi ketika lolong serigala terdengar dan kita terjaga dari mimpi, pada saat itulah airmata meleleh karena begitu lama kita meninggalkan famili. Kita harus pulang untuk membasuh khilaf. Kita akan berpelukan, mencium tangan, dan mandi di kali.

9 Okt 2008

BUNGA-BUNGA BERGUGURAN


Pernahkah kau berpikir suamimu akan meninggalkanmu? Pernahkah kau tiba-tiba resah karena suamimu tak memedulikanmu lagi karena ia bekerja di tempat yang jauh?

Kartu pos merah jambu. Teronggok tak berdaya di atas taplak sebelum Rinai menjumputnya. Dari Hening, sahabat karibnya yang kini domisili di luar kota. Rinai mengerenyitkan dahi membaca pertanyaan pendek yang melukiskan penulisnya lunglai.

Hening adalah gadis dengan kicau kutilang di mata Rinai. Hening yang tak sesuai namanya, karena ia cerewet dan selalu punya kosa kata untuk setiap hal. Mereka bersekolah yang sama di sebuah pendidikan perhotelan. Rinai pernah cemburu karena Hening begitu banyak teman, lelaki dan perempuan.

Tetapi kecemburuan yang tak ada artinya lantaran di balik sikap bengalnya, Hening solider dan setia kawan. Ia tak segan memberi bantuan untuk kawan yang berkesusahan. Pernah Rinai kekurangan uang ketika membeli kaus kaki, Hening kemudian menambahinya sehingga Rinai bisa berkaus kaki baru saat upacara bendera.

Tamat sekolah, keduanya berpisah. Rinai mendengar Hening bekerja sebuah hotel di Yogja dan kemudian berpindah Jakarta, dan belakangan kembali ke kampung halaman, sementara ia mengikuti suami ke arah utara. Sejauh itu ia belum juga menerima warta bahwa sahabatnya itu melepaskan lajang.

“Kapan kau akan menikah?” Tanya Rinai dalam pertemuan tak terduga di sebuah mal di kota asal.

“Kau pasti orang pertama yang kukabari saat aku kelak akan berdiri di pelaminan,” janji Hening.

Janji itu ditepati. “Hore! Selamat, ya say. Pria mana yang beruntung itu?” Teriak Rinai di ujung telepon. “Nggak jauh-jauh kok, dari kota tetangga. Nanti resepsinya di kota kita. Sempatkan datang, ya,” jawab Hening dengan suara penuh binar.

Rinai tak bisa hadir di hari bahagia itu lantaran suaminya mondok di rumah sakit. Itu mengapa hingga satu setengah tahun usia pernikahan Hening, Rinai belum pernah melihat seperti apa suami karibnya ini.

Tetapi ia tak perlu berpikir panjang bagaimana ujud, karakter, dan latar belakang suami Hening, karena baginya siapapun pria itu pasti benar-benar mencintai Hening apa adanya.

Ah, Hening yang slengekan. Hening yang bisa berganti pacar dalam waktu sekejap. Dulu Rinai pernah berpikir, mereka yang berpacaran dengan Hening pastilah cowok-cowok yang memilih kehangatan seorang gadis ketimbang melihat hal-hal fisik. Dan Hening menyadari betul romantisme itu penting.

Hening yang romantis dan penuh perhatian itu kini mendadak berkirim kartu pos mengenai kegelisahan. Ada gejolak apa? Ataukah Hening telah kehilangan kepercayaan diri yang dulu amat ia andalkan?

Lalu Rinai mengangkat telepon.

“Halo,” suara lembut di seberang.

“Bisa bicara dengan Mbak Hening?”

“Mbak Hening lagi ke kios, beli rokok. Ini dari siapa, Bu?”

“Saya Rinai, temannya. Ini dengan siapa, ya?”

“Saya pengasuh anak. Ibu nanti bisa menghubunginya lagi. Kiosnya nggak jauh, kok.”

“Oke kalau begitu. Omong-omong, di rumah ada suaminya Mbak Hening, ya?”

“Belum pulang, Bu. Bapak bekerja di kota S, seminggu sekali pulang, bahkan kadang lebih.”

“Oo. Terus, rokok itu buat siapa?”

“Buat Mbak Hening sendiri.”

“Loh, ia merokok?” Rinai terkejut.

Keterkejutan yang membuat Rinai ternganga beberapa saat. Bukan rokok itu penyebabnya, sebab sejak dulu Hening memang perokok, tetapi mendadak hatinya diliputi banyak pertanyaan mengenai prinsip berumahtangga yang tampaknya dilupakan oleh Hening.

“Ya, ya, nanti aku akan banyak bertanya padanya ... “Bisik Rinai dalam hati.