
Arjuna mengirim teks YM begini kemarin: “Jadi pindah Jakarta, Kang? Wah, makan-makan, nih.”
Di kantor Semarang, saya nyengir saja. Kawan asal Solo yang kini mencari makan di Depok, Jabar, ini barangkali tak memahami kegelisahan saya.
Tapi, baiklah, ia memang berhak merasa senang karena kami bakal reuni. Maklum telah 10 tahunan kami tak bertemu muka. Jadi, pantas kalau kami bakal ngobrol apa saja, tentang banyak hal, di sela geraham mengunyah pecel atau nasi padang.
Reuni pula yang kelak akan saya gelar bersama teman-teman di Palmerah (Kompas, Bola, Nova, Otomotif, Bobo, The Jakarta Post, Radio Sonora) serta banyak lagi kawan yang tersebar di beragam media macam Indo Pos, Suara Pembaruan, Sindo, dll.
Nantinya saya juga akan berjumpa kawan-kawan lama di luar media, macam komunitas seni IKJ, beberapa asisten sutradara yang dulu satu sanggar di Semarang, teman penulis, serta mungkin saja kawan di komunitas blogger.
Cuma itu tadi, dada saya berdesir hebat. Teringat tahun 2002, saat kaki menginjak lantai Stasiun Tawang Semarang, saya pernah berikrar untuk tak lagi bekerja di Jakarta.
Jakarta yang pengap dan suntuk. Jakarta yang tak ada belas kasihan. Jakarta yang riuh tapi murung. Jakarta yang tak pernah tidur. Jakarta yang menghipnotis warga desa sampai akhirnya mereka tuna wisma. Jakarta yang menyulut gelombang urbanisasi!
Tetapi dunia sulit ditebak. Hidup adalah misteri. Kita mengambang di atas air kali, kemudian angin tiba-tiba bisa membawa kita bukan ke kanal seperti kita angankan, namun bisa membelok ke sebuah muara yang jauh dari pemikiran.
Saya harus meneruskan hidup, dengan berbagai risiko yang mengintai.


