Search

14 Feb 2008

INGIN 'PULANG' KE MASA SILAM


DI kantor, tatkala ‘adik-adik’ saya sibuk dengan Ungu, Repvblik, atau Kangen Band, saya cuek saja nyetel lagu Bimbang atau Rela Andi Meriem Matalatta. Terkadang bahkan Jujur, milik Bram Moersas itu.

“Lagu apaan tuh, Mas?” Tanya seseorang di antara mereka keheranan, suatu ketika.

“Jujur.” Jawab saya pendek seraya menyunting naskah.

“Radja itu ya? Kok suara penyanyinya beda?”

Saya tatap dia setengah kesal. “Radja yang sekarang itu pakai judul Jujur dengan menjiplak Bram Moersas tahun 1989! Jujur yang asli itu ciptaan RH Bramantio, waktu kamu mungkin masih SD!” Dia pun manggut-manggut, entah mengerti entah enggak, lalu berlalu dari meja saya dengan muka takut-takut.

Tiba-tiba pikiran saya mengembara. Tahun 1988, semasa SMA, saya kos di Wijaya Kusuma II. Itu nama perumahan di belakang SMA 1 Demak, sekolah saya. Sore saat menyeterika seragam, radio kami setel kencang-kencang. Sebuah radio mungil, yang sekarang mungkin tak lagi bisa dijumpai di toko elektronik. Lagunya? Jujur (Bram Moersas), Catatan si Boy (Ikang Fawzi), Seandainya Kita Selalu Satu (Harvey Malahiholo), dan semacamnya.

Meski era 80-an itu memberi kandungan kenangan yang luar biasa bagi saya (jatuh cinta dengan teman sekelas, meledek kawan yang ngebet guru Prancis, menyaksikan teman berkelahi karena rebutan cewek), namun saya tetap mengapresiasi generasi sekarang dengan romantismenya sendiri.

Jujur saja, di laptop saya ada daftar lagu Samsons, Tangga, Padi, Nidji, Naff, atau Letto. Tetapi penyanyi yang masih sanggup menyentuh relung paling jauh hati saya terus terang KLA Project, Tika Bisono, Iwan Fals, Andi Meriem, Bram Moersas, Trie Utami, 2D, atau Paramitha Rusady!

9 Feb 2008

PARAMITHA RUSADY


PARAMITHA RUSADY menurut saya salah satu perempuan cantik di Indonesia. Suaranya mendesah, seolah terlunta-lunta, sebanding dengan wajahnya yang tampak ringkih dan patut dilindungi. Nyaris tak ada beda saat ia menangis atau tertawa, karena keduanya sama-sama memelas.

Semasa SMP, saya pernah naksir cewek, namanya Ana. Ia termasuk kembang kelas, tapi saya minder karena saya ndeso dan belum akil baliq, ditambah pula Ana itu anak kapolsek.

Saat perpisahan menjelang lulus, Ana menyanyi di panggung. Suaranya enak didengar dan menakjubkan. Lagunya Nostalgia SMA yang waktu itu amat populer. Kasetnya laku keras. Penyanyi aslinya? Paramitha Rusady.

Saya tak pernah berhenti mengenang Ana gara-gara lagu ini. Seakan sudah diatur, Ana sekampus dengan saya. Sekian tahun tak bertemu, penilaian saya terhadapnya berubah. Ia tak lagi lugu. Di kampus ia pakai lipstik menyala. Alisnya ditekuk. Sepatunya hak tinggi. Tasnya bukan tas kuliah, melainkan tas plesir, entah apa isinya. Barangkali di kandungan tas itu tak hanya ada buku dan diktat, melainkan ‘perkakas’ lain yang membuat saya merinding.

Saya tetap menghargainya sebagai teman, tapi cinta saya kandas. Namun Paramitha Rusady tetap ayu di mata saya!

[Thanks untuk radio yang pagi tadi mengudarakan Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, salah satu lagu populer Paramitha, saat saya merayap dalam mendung dan macet, menuju kantor]

7 Feb 2008

TIKUS


SEOLAH sudah diatur, saat Imlek yang berlambang shio tikus jatuh pada Kamis (07/02/08), rumah saya juga kebanjiran tikus.

Tadinya saya tak mengira lubang kecil di kusen pintu kamar mandi itu biang keladinya. Cuma kira-kira berdiameter 10 cm dan letaknya tak terlalu menyolok karena di bagian bawah kusen. Tetapi ternyata inilah akses utama rombongan tikus masuk ke rumah.

Mereka menerobos terowongan lewat got depan rumah, meliuk-liuk pralon, lalu menemukan lubang menuju kamar mandi yang (bodohnya) saya biarkan menganga tanpa saringan. Dari kamar mandi, mereka menyusup ke dalam rumah melalui lubang di kusen itu.

Kemudian mereka mengendap-endap menuju ‘persinggahan’ masing-masing. Ada yang nangkring di belakang lemari lewat pigura foto yang saya geletakkan di sana, di bawah lemari dapur, meringkuk di dekat tabung gas, bahkan, kurang ajarnya, sebagian bobo di tumpukan piring dalam lemari lewat lubang yang mereka kerat seraya buang hajat di sana! Bangsat!

Tentu saya marah. Sudah berisik malam-malam mereka mengerat papan, tahinya juga menebar aroma busuk!

Terus terang saya bingung bagaimana cara membunuh mereka. Dijebak? Diracun? Dihalau dengan linggis? Atau sekadar dikagetkan dengan menggedor pintu lemari ketika mereka mengerat?

***

Di tengah amarah, saya lari ke internet. Mencoba menggali sesuatu mengenai tikus. Siapa tahu saya mendapatkan beberapa alasan untuk memberi maaf kepada tikus-tikus ini.

Dari Sciencedailiy.com saya menemukan sejumlah hal yang sedikit menekan amarah saya pada tikus. Sedikit! Tolong dicatat: saya hanya sedikit memaafkan mereka.

Di sela sikap memusuhi tikus oleh masyarakat, para ilmuwan justru menyanjung binatang ini, seperti halnya Dr Kristina Kalivoda dari Universitas Texas A&M, yang menyebut tikus sebagai binatang yang sangat pintar, dan bahkan bisa jadi binatang peliharaan yang menyenangkan. Sial!

Ada beberapa fakta unik yang mungkin tak banyak diketahui tentang tikus ini, karena mayoritas orang lebih suka melabeli tikus dengan binatang menjijikkan. Menurut Kalivoda, tikus adalah hewan pintar dan memiliki banyak keunikan, seperti:

1. Memiliki rentang hidup antara 1-3 tahun
2. Tidak memiliki kantung empedu
3. Tidak bisa muntah
4. Tikus juga dikenal sebagai binatang yang produktif untuk urusan beranak. Sepanjang hidupnya, mereka bisa beranak 15 ribu ekor dan bisa dibilang tikus betina menghabiskan sepanjang hidupnya hanya untuk hamil dan beranak
5. Tikus memiliki gigi yang menakjubkan, tak salah jika tikus dijuluki binatang pengerat bergigi paling tajam
6. Tikus juga memiliki beragam warna, ada yang hitam, abu-abu, pirang, perak, dan albino, entah itu yang bertelinga pendek atau panjang
7. Tikus paling besar hidup di Afrika, tingginya bisa mencapai 3 kaki (91,44 cm) atau hampir setinggi anjing kecil
8. Tikus juga dikenal sebagai perenang tangguh
9. Tikus dikenal sebagai binatang ekspresif, yang tertawa atau mencicit saat mereka bingung
10. Tikus adalah hewan favorit para ilmuwan sebagai objek penelitian mereka

"Tikus itu binatang yang cerdik dan pintar. Mereka juga memiliki kemampuan menyelesaikan masalah. Jika Anda meletakkannya di dalam sebuah labirin, ia akan menemukan jalan keluarnya dengan cepat. Tikus termasuk hewan sosial dan bisa jadi sangat jinak, dapat dilatih, dan melakukan banyak trik sulit, yang belum tentu bisa dilakukan binatang lain," jelas Kalivoda.

Itu hanya sekilas info biologis tentang tikus. Lalu bagaimana pandangan tikus itu sendiri dalam kaca mata astrologi China? Seperti dilansir Chiff.com, bagaikan tikus, tahun ini mayoritas orang akan disibukkan dengan tujuan pribadi dan ambisi yang belum tercapai di tahun lalu. Maklum tikus sendiri dianggap sebagai simbol kerja keras dalam astrologi China.

Dan bagi mereka yang lahir di tahun tikus (1912, 1924, 1936, 1948, 1960, 1972, 1984, 1996), tahun tikus ini bisa jadi tahun penuh hoki, entah dalam kehidupan personal maupun profesional, kesempatan bagus terbuka lebar. Meski beberapa kesialan juga mengikuti mereka yang bershio tikus, karena kecenderungan berspekulasi nekat.

Persetan! Saya tetap benci tikus!





6 Feb 2008

DHANI


APA yang istimewa dari Dhani? Lirik dan melodinya puitis. Ia juga pintar mempengaruhi orang lewat diplomasi 'preman'-nya.

Tahun 1992, ketika DEWA konser untuk pertama di Semarang, di lapangan Tri Lomba Juang, saya bergetar. Tentu itu getaran yang jujur, pasalnya saya masih ingusan dan lugu. Menjadi wartawan freelance pun semata untuk mencari uang buat bayar kos.

Lengking senar Andra, jerit Ari Lasso, dan aksi Dhani yang macho, menciptakan histeria massa. Para ABG memiliki idola baru. Saya juga. Mendadak saya jatuh cinta, terlebih usai konser itu mereka mau-maunya difoto dengan backdrop DEWA yang saya copot dari background panggung.

Tahun 2002 saya kos di Yogya, saat saya bekerja di Grup Kedaulatan Rakyat. Anas, teman yang saya kosi, kebetulan Baladewa (sebutan untuk fans DEWA). Maka terjadilah interaksi sharring. Kami mendiskusikan lirik hingga tabiat Dhani yang keras dan tanpa kompromi. Sejauh itu, saya masih cinta DEWA. Lagu-lagunya masih kerap saya stel di kamar, terutama menjelang tidur.

Sampai akhirnya DEWA kesandung masalah, April 2005. Dalam konser "Laskar Cinta" di Trans TV, mereka beraksi di atas karpet motif kaligrafi yang bertuliskan "Allah" dalam bentuk bintang.

Reaksi dari para ulama membuat heboh, melebihi geger "Arjuna Mencari Cinta" yang diprotes penulis novel Yudhistira AM Massardi itu.

Dhani mulai dikenal sebagai pria keras kepala sewaktu ia berkomentar enteng mengenai protes-protes dan komplain itu. Di corong infotainmen, ia begitu innocent, begitu tanpa dosa. Seolah dunia dan seisinya sudah ia genggam dalam tangan. Banyak kalangan menilainya arogan, kemlinthi, sok gentle, bergaya menteri, sampai ada yang merutuknya dengan label playboy.

Label terakhir itu mulai gencar merebak saat ia bermasalah dengan Maia, istrinya, dan ditingkahi pula kabar mengenai keterlibatan asmara antara dia dengan Mulan Kwok (belakangan namanya diubah menjadi Mulan Jameela).

Perseteruan Dhani-Maia mendongkrak kembali popularitas program infotainmen di hampir seluruh televisi di negeri ini. Orang menunggu-nunggu kabar lanjutan. Masyarakat tak segan mengeraskan volume TV hanya untuk mendengar komentar Dhani, atau sekadar menyimak kisah tentang kamar tidurnya, dimana ia di sana sedang bergulingan dengan ketiga anaknya menjelang konser tahun baru 2008!

Dhani memang layak jual. Sebab itu ia tak henti membangun sensasi. Bayangkan andaikata tiba-tiba tak lagi terdengar kabar tentang dirinya, apakah manajemen "Republik Cinta" bakal bertahan hidup?

Dhani adalah satu di antara sederet orang fenomenal di negara ini. Ia butuh makan dan memakani anak. Ia perlu mengumpulkan deposito untuk hari tua. Ia harus memenuhi targetnya, sehingga jika nanti generasi telah berganti sehingga anak-cucu kita tak lagi mengenal DEWA, ia cukup mendirikan perusahaan rekaman atau menyewakan alat-alat band, seraya melamun di beranda.

Dhani itu manusia biasa. Kita cukup tersenyum saja ketika ia berkomentar di televisi. Tak perlu diambil hati, apalagi membencinya. Perkara mau beli CD DEWA atau tidak, terserah Anda.

Terus terang belakangan saya tak lagi mengoleksi album-albumnya ...