Search

3 Okt 2011

Kembang Turi


PEREMPUAN itu menatap kembang turi di pekarangan rumah dengan seksama. Ia ingin menjadi kelopaknya, atau dahan yang mengaliri kembang turi dengan serat-serat makanan lezat.

Lalu, suatu ketika tatkala seorang ibu rumah tangga menyuguhi suami dan anak-anaknya dengan pecel atau gudangan kembang turi, maka perempuan yang menatap kembang turi dengan seksama itu seperti penari yang berjingkat-jingkat di atas lidah suami dan anak-anak ibu rumah tangga itu dengan irama dansa yang mempesona.


Sudah lama ia ingin menjadi kembang turi. Saat hari pertama di Sekolah Dasar, murid diwajibkan maju ke depan kelas, mengenalkan diri. Tibalah giliran perempuan itu maju. "Nama saya Erliana, alamat di gang nomor enam ... " Ia berhenti. Bu guru pun bertanya, "Nah, cita-citamu apa, Erliana?" Anak itu menjawab sekencangnya yang membuat kelas itu sontak gaduh oleh tawa, "Saya ingin jadi kembang turi ... "


Kembang turi memasuki mimpi-mimpi Erliana. Tas, buku tulis, buku gambar, semuanya penuh gambar kembang turi. Ia memandangi gambar-gambar itu saat ayahnya memboncengkannya pulang-pergi sekolah dengan sepeda. Ia mencuci kaki dan tangan, kemudian makan, dan matanya kembali jatuh ke kembang turi di sampul buku dan tasnya ketika ia sendirian di kamar.


Bolamatanya menyipit, dahinya berkerut, dan alam lain lalu menyedotnya, menyeruakkannya ke dunia antah berantah. Di sana ia menjadi ratu dengan kembang turi menyelinap di atas telinganya dengan belasan pangeran yang menatapnya takjub ... sampai kemudian ibu menepuk bahu Erliana, membangunkannya dari lamunan.
"Ayo sholat dulu sana!"

Kembang turi. Ah, mengapa ia menggantung dengan badan yang segar di ranting yang kering, dengan kelopak-kelopak yang ranum padahal turi tumbuh di pematang sawah yang terpanggang matahari?

Mengapa turi yang batang dan dahannya keras, cokelat mengelupas, dan tak menarik itu menetaskan kembang-kembang yang sekemilau mahkota?
Erliana juga tak habis pikir, mengapa kembang turi sangat gurih. Mengapa kembang turi tidak wangi namun enak rasanya sehingga menciptakan cemburu buta mawar, melati, dan bunga kamboja?

***


BERTAHUN kemudian, ketika ia dibawa suaminya ke kota untuk tinggal di sana, tak lagi ia lihat kembang turi. Bahkan ia melupakannya.

Sampai suatu ketika, di suatu malam dengan hujan yang tumpah ruah memalu genteng dengan amat keras, tiba-tiba kembang turi melintas dalam pikirannya. Dan di tengah malam itu ia sangat ingin mengunyahnya. Sangat ingin!


"Pi ... mimi pengen maem gudangan kembang turi. Cariin, dong ... " ucapnya memelas sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit ...


***

26 Okt 2010

Kamu Tak Boleh Pergi


Pernahkah kau merasakan datangnya gerimis yang menitik bertubi-tubi ke hati? Pernahkah kau diremas rindu yang bertalu-talu mengetuk kalbu? Seperti air terjun, Ayu, rasa itu ngilu seperti tergores sembilu.

Mimi melipat surat. Memasukkannya di loket kantor pos. Dan kemudian menyuruk langkah menembus gerimis, mengejar waktu tersisa sebab sepuluh menit lagi ia harus bekerja, kalau tak ingin Aris memelototkan mata karena jam makan siangnya terampas oleh keterlambatan Mimi.

Bisa saja ia mengirim e-mail, atau cukup SMS. Tapi Mimi ingin meluapkan denting hatinya melalui goresan tinta. Ia ingin mengabarkan pada Ayu yang kini mukim di sudut Kota Kendal sana tentang airmata. Dan ada pula bangga yang menyelip di hatinya tatkala dulu Ayu pernah memuji tulisan Mimi yang rapi.

Di balik kaca showroom-nya, Mimi termangu. Begitu banyak orang berseliweran, begitu riuh tempatnya bekerja, tetapi hatinya sunyi. Berkelebat bayangan pria dengan tawa kecilnya yang mengganggu malam-malamnya. Ia datang tanpa diduga dalam mimpi-mimpi kecil Mimi, menyenandungkan lagu syahdu, berteriak kecil manakala datang cubitan lembut di perutnya. Mimi tersenyum bila mengingat betapa pria itu gampang geli, bahkan ketika Mimi cuma menyentuh tengkuknya.

Pria itu bukan siapa-siapa tadinya. Ia berdiri di ujung jembatan tatkala gerimis membuat licin jembatan bambu yang menghubungkan kampungnya dengan kampung sebelah. Sudah senja pula. Langit seperti cungkup bengis yang meremangkan bumi melalui mendung tebal.

Mimi terpeleset. Tubuhnya limbung. Sedetik lagi tubuhnya akan melayang, dan mencebur ke sungai berarus deras di bawah sana, kalau saja tangan kekar itu tak datang secara tiba-tiba dan menangkap lengannya.

"Tak apa-apa. Kamu sudah aman sekarang," ujar pemilik tangan itu, dengan nada yang amat menenteramkan.

Masih dengan napas memburu, Mimi mengamati pria itu. Bukankah ia tadi masih berdiri di ujung sana untuk mengantre jembatan saat aku menyeberang? Manusia atau bukan? Mimi bertanya-tanya. Tapi itu tak penting. Yang penting kini ia selamat.

Lalu, dengan sabar pria itu menuntun Mimi hingga ujung jembatan. Gerimis reda. Pria itu membantu menangkupkan payung, dan kemudian berlalu. Diam-diam Mimi menyesal karena tak sempat mengucapkan terima kasih.

Tetapi dunia tak selebar yang disangka-sangka. Seminggu kemudian Mimi menjumpai pria itu lagi di sebuah pesta pernikahan seorang kawan. Memakai baju putih dengan celana casual berbahan jins, Mimi sempat tak mengenalinya. Saat berpapasan di perjamuan makan, pria itu memberinya senyum. Itu senyum terindah yang pernah Mimi lihat. Ditelitinya, apakah si pria bersama seseorang di resepsi ini. Setelah dirasanya aman lantaran tak bersama siapa-siapa si pria, Mimi mendekati. Ah, untuk sekadar berterima kasih, boleh dong menyambangi seorang pria, batin Mimi.

"Terima kasih, ya, kemarin aku ditolong sama kamu," ucap Mimi seraya mengulurkan tangan. "Aku Mimi. Kamu siapa namanya?"

Pria itu meraih tangan Mimi setelah mengusap-usap telapaknya yang sedikit kotor oleh sambal dengan tergesa ke celana. "Oh, iya. Iya sama-sama. Aku Pipi. Loh, kok namanya bisa Mimi-Pipi ... " Ucapnya tergelak. Mimi pun tak bisa menahan tawa ...

***

Pria dengan tawanya yang khas, dengan alis tebal, rambut yang lucu. Mimi pernah bermimpi bersuamikan pria tinggi yang cerdas. Dan Tuhan memang tak pernah tidur.

Ia menerima lamaran Pipi suatu hari, tiga bulan silam. Rembulan begitu rendah malam itu. Angin bergerak perlahan, menciptakan aroma kembang di ruang tamu tatkala keluarga Pipi datang berombongan. Hingga dinihari Mimi diliputi senyum yang terus mengembang.

"Tiga ya," rajuk Pipi.

"Dua saja ah. Memang enggak capek apa melahirkan? Kamu sih enak, cuma bikin tapi nggak ikutan ngeden," cemberut Mimi.

"Iya, deh."

"Awas kalau udah dua minta nambah lagi!" Mimi mencubiti pinggul Pipi, membuat Pipi blingsatan kegelian.

Tanggal 20 Februari. Itulah pelaminan yang direncanakan. Tiap pagi, saat matanya membuka, Mimi menghitung hari. Rasanya waktu bergerak lamban. Rasanya jarum jam sengaja menggodanya dengan perlahan-lahan jalan.

Tinggal satu setengah bulan lagi saat-saat membahagiakan itu tiba, ketika suatu sore ponselnya bergetar. Mimi menyambar handphone, mengamati nomor. Tak tercatat dalam memorinya, tapi tetap ia angkat.

"Mbak Mimi ya?" Ujar suara di seberang. Seorang pria.

"Iya benar. Dengan siapa saya bicara?"

"Ini Han, teman kantor Pipi. Saya mau mengabari bahwa Pipi sekarang di rumah sakit. Mbak segera ke sana. Pipi pingsan tadi ... "

Wajah cokelat itu kini pucat. Mimi berdiri di seberang pembaringan, menatap pipi Pipi, menyentuh rambut yang tinggal satu senti. Pipi harus dikemoterapi, dipangkas rambutnya hingga pelontos untuk mempermudah dokter melakukan operasi. Kanker otak. Sebuah vonis yang meluruhkan segenap saraf Mimi hingga ia lemas tanpa bisa berkata-kata.

Hampir sebulan Pipi dirawat. Ia telah melewati masa kritis paskaoperasi. Tiap pagi, saat Mimi membawakan bubur ayam, Pipi memberi senyum lewat kerdipan mata, seolah-olah ia ingin mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Mimi tak mampu menahan haru. Diusapnya tangan kekasihnya. Memberi aliran hangat. Membisikkan kata-kata indah. Mengelap keringat di leher, dan kadang ia sampai tertidur di bibir ranjang dengan kepala tergeletak setelah lelah melafalkan doa-doa.

"Kamu nggak boleh meninggalkan aku. Nggak boleh! Kamu jangan pergi! Kamu jahat!" Lalu seseorang menepuk-nepuk pundaknya hingga mata Mimi nyalang. Ia mengusap-usap mata. Mengingat kembali kepingan-kepingan mimpi barusan tadi. Ia mimpi Pipi tengah meregang nyawa di ruang ICCU rumah sakit. Airmata Mimi meleleh, dan kemudian tersedu sedan ...

***

Sore setelah tadi mengirim surat ke Ayu, Mimi tetap termangu-mangu. Ia melayani costumer tanpa gairah. Nasi bungkus yang dibelikan Kinan pun belum disentuhnya. Untunglah teman-temannya memberi perhatian lebih. Mereka tak lelah menghiburnya.

Mimi melirik arloji. Jam empat. Sudah waktunya salat. Ia beranjak meninggalkan meja, mengambil mukena dari ruang dalam. Lalu sebelum ia meminta ijin Kinan untuk salat, matanya bersitatap dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu showroom.

Mimi mengerjap-ngerjapkan mata. Mengawasi dengan seksama siapa yang berdiri di sana. Seulas senyum mengembang di bibir pria yang kurus, berambut tipis, tapi tetap gagah itu. Mimi tak asing dengan senyum itu. Ia berlari tergopoh menuju pintu ...

13 Sep 2010

Iklan Sejati, Simpel, Macho, dan Pintar


IKLAN Rokok Sejati mengingatkan saya pada kedigdayaan Rokok Bentoel merenggut Piala Citra Adhi Pariwara 1993. Bentoel, dengan suguhan iklan berupa gambar megah-detail dengan sentuhan jingle "I Love Blue Indonesia", tanpa banyak mengumbar kalimat-kalimat "jual obat", begitu asyik dan menorehkan romantisme.

Citra Adhi Pariwara ialah sebuah sayembara yang digelar RCTI dan SCTV (semasa mereka masih satu grup), yang berbiaya penyelenggaraan cukup besar dengan menyediakan hadiah total Rp 60 juta untuk memancing minat pemirsa.

Sampai hari terakhir sayembara (saat itu), 1.928.034 lembar kartu pos masuk, bahkan dikirimkan pula dari wilayah yang tak bisa menangkap secara langsung siaran RCTI/SCTV dan harus menggunakan antena parabola seperti Makassar, Klaten, Semarang, dan Purwakarta.

Bentoel International unggul karena dipilih 138.727 pemirsa. Iklan odol Close Up masuk peringkat kedua, dipilih 100.715 pemirsa. Urutan selanjutnya: iklan obat batuk Komix (83.641 pemirsa), iklan obat Promag (81.712), iklan sampo Dimension (70.323), iklan korporasi Marlboro (38.110), iklan obat nyamuk Baygon (33.901), iklan mi Indomie (32.311), iklan sirup Nutrisia (30.421), dan iklan pesawat televisi Digitec (28.510).

Sayembara iklan dengan publisitas luas itu bukan sekadar mengukur kebagusan iklan televisi, melainkan juga menegaskan tampilnya kecenderungan baru dalam strategi periklanan di Indonesia: menguji pesona iklan di kalangan masyarakat (konsumen).

Belasan tahun kemudian, pada era terkini ketika Sayembara Citra Adhi Pariwara sudah tak lagi ada, iklan di televisi begitu kusam dan menjemukan. Para pengiklan tak ubahnya penjual obat di trotoar, dengan jargon-jargon: "Pakailah shampo ini karena akan membuat rambut Anda indah", atau "Mengapa pakai pembalut yang lain ketika pembalut kami membuat Anda lebih nyaman bergaul?"

Pemirsa televisi dipaksa untuk bodoh dengan propaganda iklan (baik yang menjerumuskan, maupun produk tertentu memang benar-benar berkhasiat dahsyat), sehingga konsumen dipaksa terpojokkan harus memilih sabun anu, atau obat maag itu, tanpa kesan mendalam, tanpa masyarakat diberi ruang untuk berapresiasi (karena sesungguhnya iklan televisi juga media seni dan sarana memintarkan pemirsa).

Iklan tivi di Indonesia rata-rata memang cerewet. Tak peduli calon konsumen bakal paham atau tidak, mereka dipaksa menelan istilah-istilah biologi, kimia, ilimiah (macam cocoba di iklan shampo); dan bahkan tak jarang iklan memaksakan seorang bintang menjadi tokoh utama dengan pencantuman namanya di iklan bersangkutan plus tandatangannya. Seolah-olah produsen begitu tak percaya diri pada produksinya sehingga perlu 'onani' agar orang mau berbelanja.

Sejati Iklan, Iklan Sejati

Kembali ke Rokok Sejati. Apa kira-kira yang menawan hati Anda tatkala menyimak iklan rokok ini? Tentu pemilihan tema, sudut pengambilan gambar, kualitas pencahayaan, pemilihan pemain, dan tahu benar bagaimana menyampaikan pesan.

Tema-tema iklan rokok ini, mulai versi "Dangdut di Atas Truk", "Pasar Malam", "Cikulon", hingga edisi "Mudik", seluruhnya bertutur tentang "solusi sederhana bagaimana menaklukkan problem berat".

Pemilihan lokasi syuting pun menerjemahkan bagaimana sesungguhnya rokok ini membidik segmen, yakni daerah pinggiran. Daerah yang tak perlu megah-mewah karena sebenarnya konsumen rokok bukan hanya penghuni apartemen atau juragan dealer mobil.

Versi "Dangdut di Atas Truk" menyuguhkan kreativitas yang dibutuhkan guna meramaikan kembali warung yang sepi dengan teknik simpel tapi memikat masyarakat. Edisi "Pasar Malam" dikisahkan bagaimana menghidupkan kembali generator yang rusak hanya dengan mekanisme sepeda motor.

Jilid "Cikulon" pun begitu. Wilayah yang gersang dan sepi sebuah dusun mendadak ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dengan cara propaganda yang sederhana. Lalu, di edisi terbaru bahkan lebih 'manusiawi' dengan menyajikan seorang pemuda yang merelakan diri menjadi pahlawan bagi kawan-kawannya yang karena sesuatu hal tak bisa mudik Lebaran.

Kemudian, di akhir iklan, slogan "Sejati emang bikin bangga" pun didengungkan. Ya, hanya kalimat itulah yang menegaskan bahwa ini iklan rokok. Bukan dengan pesan "belilah rokok kami, karena kami lebih enak!"

Karena merek rokok adalah Sejati, maka tak pelak dipilihlah bintang iklan yang mewakili pria macho, pintar, gagah, dan ganteng. Tiap menggelar audisi (terakhir bulan Maret lalu, seperti yang saya baca di sebuah situs), syarat-syarat bagi pelamar ialah usia 25-30 tahun yang ganteng, macho, dan diwajibkan memakai kemeja plus celana jins. Itu untuk pelaku utama. Untuk pemeran pendukung cukup berwajah lucu dan bahkan boleh berbadan pendek.

Di tengah ketatnya persaingan industri rokok, Bentoel Group (produsen Rokok Sejati) berhasil membukukan pendapatan Rp 2,8 triliun pada semester pertama 2008 (tahun pertama Sejati diproduksi). Itu berarti terjadi peningkatan 37 persen dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Ingin tahu omzet sebesar itu didongkrak dari merek yang mana? Bisa ditebak: Sejati!

Masyarakat sudah bisa memilah mana iklan buruk, menggurui, dan brengsek, dengan mana iklan pintar dan tak ceroboh. Itu sebabnya Rokok Sejati kini menjadi rokok alternatif di sebelah Dji Sam Soe, Sukun, atau Sampoerna Hijau, lantaran iklannya memikat. Padahal Sejati tergolong pendatang baru. (*)

(Tulisan ini disusun berdasarkan apresiasi pribadi belaka, plus sedikit pertimbangan teknis periklanan. Tak ada pesan sponsor atau keberpihakan untuk kepentingan tertentu selain upaya memintarkan masyarakat)



8 Sep 2010

SAYA PULANG, BU


Lebaran tahun ini adalah Lebaran yang kesekian rumah hanya terisi Bapak, Ibu (Endang), dan beberapa topeles makanan dan bergelas-gelas teh. Di atas tikar, di ruang depan, Bapak bersila dengan sarung yang tak lagi baru (entah mengapa sarung yang ia pakai bukan sarung yang saya belikan, tapi memilih sarung yang dibelikan Ibu). Sementara Ibu (Endang) sesekali menerima tamu.

Mengapa saya menulis Ibu dengan Endang dalam tanda kurung? Sebab Bu Endang adalah wanita pengganti Ibu. Ibu meninggal tahun 1993, meninggalkan kami dengan bertangkup-tangkup kenangan yang selalu membuat saya menangis tiap Lebaran tiba.

Saya biasanya pulang saat Lebaran pertama. Memasuki halaman rumah, dada saya sudah mulai sesak. Dulu, Ibu menyambut kami, anak-anaknya, dengan wajah riang di depan pintu. Lalu kami dirangkul satu persatu. Eni, si bungsu, paling lama dikecup rambutnya. Bungsu yang bandel, bungsu yang cerewet, tapi Ibu amat menyayanginya.

Kini, tak ada lagi senyum itu. Tak ada yang memasakkan ayam dari peternakan sendiri. Tak ada yang bersuara lembut ketika menyodori kami kue-kue bikinannya. "Coba cicipi ini. Ayo coba, dong. Ibu susah payah membikinnya," ucapnya dengan kebanggaan yang tersirat. Kami pun lahap mengunyah, dan terkadang saya bohong karena kue itu sebenarnya biasa-biasa saja rasanya tapi saya mengatakan enak sekali agar Ibu senang.

Di rumah, saat takbir sayup-sayup terdengar, saya menatap foto Ibu di tembok ruang dalam. Tak ada orang yang mengawasi saya, tapi Tuhan menyaksikan saya menangis, bahkan sesenggukan. Ia kini hanya bisa saya tatap lewat foto dengan senyum lembutnya yang tak pernah luntur.

Sering tanpa sepengetahuan siapapun ia menyelipkan 100 ribu ke kantong saya saat adik-adik asyik mengobrol sendiri. "Buat nanti minum di jalan. Tak perlu kamu bicarakan soal uang itu ke adik-adikmu, biar mereka tidak iri. Panen tak seberapa banyak tahun ini, jadi Ibu harus mengirit," katanya, dengan elusan di rambut saya yang menciptakan kerinduan yang mendalam ketika ia kini sudah tak ada.

Saya masih menatap foto Ibu saat membayangkan selang-selang infus itu menancap lengannya, dengan oksigen yang senantiasa menangkup sebagian wajahnya. Ruang ICCU RS Telogorejo sepi sunyi tengah malam itu tatkala seorang suster memegang pundak saya. Dengan sangat berhati-hati, ia mengabarkan bahwa Ibu telah tiada ...

Ibu, Lebaran ini saya pulang. Tidurlah dengan tenang.

17 Agu 2010

CELANA (SANGAT) PENDEK


SUATU siang di jalan protokol Semarang, seorang perempuan muda membonceng Mio pacarnya. Karena footstep motor jenis itu letaknya agak meninggi, jadilah dua kaki perempuan ini terangkat mengangkang.

Bukan perkara kakinya yang ngangkang, tapi, olala, dia pakai celana teramat pendek yang ujungnya tak mampu menutupi separuh pahanya. Alhasil, hampir seluruh kakinya dibiarkan telanjang, dengan garang matahari memanggang!

Sebagai lelaki, mestinya saya menikmati pemandangan ini. Tapi, tidak untuk hal-hal yang membuat saya ngakak dalam hati. Bayangkan, kaki perempuan ini tampak belang di sana-sini. Mungkin pernah kudisan, atau campak menyerangnya sewaktu ia kecil, atau cacar.

Perempuan jenis ini pede saja meski kakinya ditertawakan orang, demi tren. Ya, tidak Jakarta, tidak Surabaya, tidak pula Semarang, para perempuan memakai celana super pendek yang menyembulkan nyaris sekujur kakinya, baik kaki mulus, maupun yang berbintik-bintik kayak tadi.

Tren boleh-boleh saja, sebab kadang orang diledek lantaran tak mengikuti gaya sekarang. Tetapi tak jarang orang-orang menerjemahkan tren salah kaprah. Cina, atau bule (terutama tentu yang kemana-mana naik mobil ber-AC dan perginya ke tempat adem macam hotel atau mall) bisa dimaafkan jika mereka bercelana mini. Tapi naik motor, panas-panas pula dan kaki penuh 'mur-baut' kok ya nekat.

Dulu saat film Ghost tengah populer, orang-orang pun ikut-ikutan memangkas rambutnya sependek mungkin, kemudian memberinya poni agar 'menyerupai' bintang film Ghost Demi Moore yang begitu imut dan cantik dengan poninya. Tak peduli ia keriting atau botak, yang penting mirip Demi Moore. Sampai-sampai mereka diledek "KDM", alias korban Demi Moore.

Lalu ada pula tren rambut mohawk yang njegrag di tengah. Mohawk sebenarnya adalah satu suku di Amerika Serikat yang berasal dari Lembah Mohawk (Mohawk Valley) di bagian utara negara bagian New York sampai arah ke selatan Quebec dan sebelah timur Ontario, Kanada. Kemudian rambutnya diadaptasi oleh punk, dan merembet ke Indonesia. Orang-orang Semarang pun tak mau ketinggalan.

Kemudian saat Ariel Peterpan mengenalkan model rambut dengan sulur-sulur yang menutupi sebagian muka dan pipi, remaja pun latah mengikutinya. Band-band baru (macam Kangen Band itu) pun memasang vokalis berambut mirip Ariel. Nah, setelah Ariel merekam video mesumnya, apakah tren ini juga masih berlaku?

Pada prinsipnya, mengikuti tren boleh-boleh saja (asal tentu jangan tren telanjang di depan kamera). Tetapi harus ditilik: sudahkah kita pantas bercelana pendek hingga celana dalam nyaris kelihatan? Apakah dengan berambut mirip Ariel tampang kita menjadi lebih cakep? Apakah dengan berambut njegrag kita sontak menjadi tampan?

Indonesia penuh jatidiri, Semarang pun punya modal untuk pamer keaslian sendiri. Maka, jangan salahkan orang menyebut kita plin-plan hanya karena kita tak punya kepribadian lantaran bisanya cuma niru Bandung, Jakarta, atau Amerika.

Untung saja istri saya bukan tipe perempuan yang suka berpanas-panasan dengan celana pendek, atau memanasi otak pria dengan pakaian yang mengundang.

31 Jul 2010

Ponsel: Penjajah Baru



KALAU Anda penikmat film Hollywood, telitilah adegan menelepon saat detektif memburu penjahat. Amat jarang kita saksikan mereka menarik Blackberry atau Nokia mutakhir dari saku baju. Kecuali James Bond yang biasanya diboncengi iklan Nokia.

HP mereka tergolong jadul untuk ukuran kita, atau mungil seperti zaman Samsung SGH S-500 atau paling banter D900. Bahkan tak jarang muncul pula Nokia 1011 yang di sini terbit pada 1992, atau 8110 keluaran 1996.

Gaya hidup Amrik tampaknya berseberangan dengan lifestyle orang-orang kita soal ponsel. Tadi pagi, saat saya lewati sebuah ruko dengan sejumlah karyawati yang kongkow menunggu pintu besi dibuka, inilah adegannya: seluruh cewek di emper toko itu sibuk memencet tombol-tombol keyboard. SMS atau sekadar membaca-baca pesan.

Apa coba HP mereka? Sekejap saya lirik harganya kisaran Rp 1 juta (indikasinya bermerk, tidak jadul, berkamera, dan menyerupai Blackberry tapi bukan bikinan Cina, Tangerang, atau Singapura).

Saya terkesiap lantaran terpikir untuk membeli ponsel seperti itu sudah barang tentu mereka giat menabung, mengerem keinginan membeli baju baru, membatasi makan cukup nasi bungkus saja (di Semarang dikenal dengan "nasi kucing"), atau bergantung pada pacarnya untuk pengeluaran-pengeluaran kecil macam nonton, beli pulsa, dan sebagainya.

Gaya hidup telah menciduk akal sehat, sehingga penampilan adalah nomor utama. Tak peduli cuma untuk SMS saja mereka membeli telepon genggam, yang penting enak dipandang dan bergengsi.

Ponsel tampaknya adalah penjajah baru di negeri ini. Dari PRT, pelacur, tukang sampah, abang becak, sampai wakil rakyat kecanduan telepon genggam. Pada saat sidang, anggota dewan lebih senang SMS-an ketimbang menyusun kebijakan. Pembantu rumah tangga ber-SMS-ria dan tak jarang cuek telah memasak menu siang dengan beres atau belum.

Anak-anak SD dan SMP masa kini telah dibekali ponsel (kelas menengah hingga mewah) dengan handsfree menancap kupingnya, yang keperluannya untuk apa belum bisa dijelaskan.

Dunia komunikasi di negeri ini sudah meninggalkan hakekat penyampaian pesan karena orang lebih suka mendadani pencitraan. Tanpa HP, maka ia dianggap jadul (untuk ini saya salut dengan bos Jawa Pos Dahlan Iskan yang beberapa waktu lalu masih menggunakan HP Siemens amat kuno, diikat dengan karet pula karena tutup baterenya suka copot). Dunia komunikasi yang petentang-petenteng bawa Blackberry, padahal niatnya cuma ingin SMS sebab di kartunya hanya ada pulsa tak lebih 20 ribu.

Tahun 2002 saya ke Korea Selatan. Telepon umum di pinggir jalan begitu diandalkan, sampai-sampai buku telepon tertata rapi di meja (kalau di sini mungkin cepat-cepat diembat orang untuk bungkus kacang). Di Malaysia, tahun 1996 dan 2001, saya berbicara dengan sanak keluarga cukup dari trotoar, dengan telepon umum yang dirawat dengan benar, tanpa perlu sok hebat dengan mengacung-acungkan HP berkelas.

Kita, yang katanya dibekap problem ekonomi gawat, semestinya malu.

4 Mar 2010

Cinta Diobral Murah


Suatu ketika seorang teman membisiki saya. "Jam 8 aku udah harus pulang, mau apel. Tolong sebagian pekerjaanku dihandel ya," ucapnya seraya menyodori saya sebungkus LA merah, rokok kesayangan.

Saya heran, bukankah baru kemarin ia mengaku kini tengah tak punya pacar? Ataukah baru tadi pagi ia punya kenalan dan lekas-lekas ia ikat menjadi pacar?

Belum lagi terlontar keheranan saya tersebut, ia buru-buru menjelaskan bahwa yang mau ia apeli adalah Rika, sekretaris kantor sebelah. Segera saya mengingat sesuatu. Bukankah Rika sudah punya pacar? Bukankah tiap sore seorang pria berjaket hitam menjemput Rika dengan Suzuki Satria?

Agaknya ia paham apa yang sedang saya pikirkan. Dan inilah penjelasannya. Rika memang sudah punya pacar, namanya Rio. Nah, Rio kebetulan sedang ditugasi oleh kantornya ke luar kota. Tampaknya Rika memanfaatkan 'kesendiriannya' untuk membagi waktu kepada teman saya itu.

"Sudah lama kamu memacari Rika?" Tanya saya.

"Sebulan terakhir ini, kawan," jawabnya bangga.

"Lalu, Rio itu ... "

"Ow, bukan masalah. Rika senang-senang saja punya dua pacar, asal tentu saja aku harus mau memahami jika Rika sedang membonceng Rio. Aku sih enjoy saja, sebab Rika juga menikmati segitiga ini," kata teman saya itu dengan mimik muka tanpa dosa.

Saya diam. Saya tak habis pikir. Betapa cinta saat ini murah harganya. Betapa membagi hati adalah sebuah keniscayaan, dan malah cenderung menjadi kebutuhan, bahkan para pelakunya berjenis kelamin perempuan sekalipun.

Cinta kini tak ubahnya baju-baju obral menjelang Lebaran. Digelar secara terbuka di keranjang supermarket untuk dipilih secara mengaduk-aduk tumpukan. Cinta sudah dibanting harganya, demi memuasi diri, demi kebutuhan mendesak akan belaian dan elusan.

Saya menghandel pekerjaan kawan saya itu akhirnya, demi pertemanan, tetapi membuang sebungkus rokok LA merah sogokan teman saya tersebut ke keranjang sampah!

4 Feb 2010

Li Na


Entah terbuat dari apa kau, Lin. Serat-serat kulitmu terbujur teratur. Buku-buku ototmu berjajar seperti perca.

Pagi-pagi dan malam-malam aku sibuk mengumpulkan denyut jantungmu di punggungku. Kurangkai hembus napas itu, menyatukannya dalam hati yang temaram. Lalu kukabarkan cinta tatkala senyummu mengubur rekah amarah.

Entah kau ini terbuat dari apa sehingga hatiku dipenuhi akuarium. Ikan-ikan menari dan berkecipak di dalamnya. Ikan penuh warna dan semuanya bermata lentera, mirip matamu ketika memandangku.

Tak ada yang mampu menghitung betapa kali aku jatuh cinta kepadamu, sebab setiap detik cinta itu menetes deras. Menyuburkan kecambah, mengalunkan asmaradana untuk peri-peri kecil di hati kita.

Matamu itu selalu biru dan ungu. Mata yang senantiasa mengatakan cinta. Menghela kelenjar darahku untuk mengalir dengan gegas.

Banyak lagu disusun dalam partitur dan not balok. Tapi lagumu tak perlu itu, sebab segera mengayun lewat kecupan yang lembutnya tiada tara. ...

29 Jan 2010

Wanita Tercantik di Dunia


"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah kepak merpati dengan kulit kuning langsat itu," godanya, suatu ketika.

Bukan! Bukan menggoda! Ia selalu mengatakan yang sebenarnya tentang tahi lalat di bawah mata, tentang rambut hitam tebal Lina, dan tentang jari-jemari kekasihnya yang runcing dan langsat.

Ia menemukan Lina di tangga sebuah pertokoan. Mata Lina mengerjap dan membius, membuat pria itu bertekuk lutut. Lalu ia meminta nomor telepon, mengucapkan kalimat-kalimat yang samar karena ia gugup.

"Aku akan menelepon. Kamu kos di mana?" Tanya dia.

Lina menyunggingkan senyum. Sederet gigi dengan pesona luar biasa. Membuat jantung pria itu berdenyut. "Saya kos di belakang situ. Mampir kalau ada waktu," ucap Lina, dengan benih-benih cinta.

Cinta? Apakah sekelumit perjumpaan itu bermakna cinta? Pria itu berkaca. Memandang Lina berkelebat dalam cermin, mengingatkan padanya pada sebuah pertemuan awal, sekian bulan lalu. Pria itu hanya menawarinya tumpangan, dan kemudian menurunkannya di sebuah perempatan. Tetapi setengah jam cukup untuk meliarkan perasaan.

Sekian bulan kemudian bertemu di tangga toko itu. Dan kemudian, hingga kini Lina tetap menjadi bidadari, dengan isak tangis yang sesekali memasuki relung telinga pria tadi, ketika keduanya perlu menangisi sesuatu.

"Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina. Kaulah tambatan hati dengan asmara yang tak terperi," ucapnya setiap kali.

Bukan ucapan biasa, sebab tak ada makhluk lain yang mampu menandingi kecantikan itu. Lina memiliki tubuh semampai, yang teratur dan ritmis saat berjalan. Lina pulalah yang punya ledak tawa lucu tapi menciptakan rindu.

Pria itu rindu dendam setiap waktu, seolah langit segera runtuh jika sehari tak bertemu. Ia tak berselera makan tanpa Lina di sisinya. Tanpa Lina, ia tak tidur dengan nyenyak. Tanpa bidadari itu, hidup terasa semu ...

Pagi ini -- dan pagi-pagi berikutnya sampai ajal tiba -- selalu ia ucapkan kalimat yang membuatnya merasa nyaman karena diselimuti cinta: "Kaulah wanita tercantik di dunia, Lina."

26 Nov 2009

KAU TELAH MELAKUKANNYA


KAU telah melakukannya dengan sempurna, meski ada keresahan dalam hatiku, benarkah ini bukan mimpi?

Sejak pertama menatap matamu aku telah menemukan desir ombak. Ada kerlip cinta yang menyala-nyala. Mengubah diriku menjadi kanak-kanak. Membawa diriku pada kenangan masa remaja.

Di sebuah malam pernah kau bertanya, "Bagaimana kalau kita pergi saja, mengikuti angin dan padang belantara, memisahkan diri dari keruwetan pikir, membangun istana di gua atau di pucuk cemara nun jauh di sana?"

Aku kelu dan tak mampu menjawabmu sebab setiap kita bertemu bukan bahasa lisan yang keluar, melainkan bahasa tubuh yang tak lelah memacu keringat. Kita meniti malam-malam dengan bunga sedap malam. Kita lalui bulan demi bulan dengan terang bulan.

Benar-benarkah kau mencintaiku? Benar-benarkah kau mampu menerima keterbatas-keterbatasan? Barangkali pertanyaan itu terus menerus mengganggu hatimu, mengganggu juga hatiku. Pertanyaan yang justru menyuburkan cinta karena sebenarnya kita tak memerlukan jawaban sebab pada setiap kita berjumpa, selalu ada cinta di tatap mata kita yang bersentuhan.

Ah, andai saja kita bersanding tatkala rintik gerimis mengguyur tanah dan aspal seperti saat ini. Sedang apa kau di sana, cinta?

3 Nov 2009

ELANG DARI GOENOENG


SIANG meretas naik ketika elang itu menukik. Wahai angin, mengapa kabarmu mendadak begitu rupa?

Rindu pada angin, rindu pada gelegak samudera. Rindu ini memecahbelah kepala, menautkannya pada sebuah perahu yang terseret ombak dan onak.

Kami bercengkerama. "Jangan di beranda!" Ujar saya seraya membimbingnya ke ruang tamu, mengenalkannya pada hembus angin keluarga saya.

Lalu bernyanyilah sonata. saya menatap elang di matanya, di bawah gerai rambut yang selalu begitu dari waktu ke waktu. "Saya perlu puisi, saya butuh sandaran hati," ucapnya lirih, menyenandungkan kenangan kafe dan sesendok gula.

Puisinya mengajak saya berkelana, dari Yunani hingga Rusia, dari Jogja hingga Blora, dari Pati tempat kelahirannya, hingga Banyumanik tempat ia menetas dan menyemburat.

Puisi pula yang menyambit aorta darah saya, mengalirkan benih-benih bugenvil, menyiraminya hingga waktu tak terbatas. Saya tersentak karena tiba-tiba saya dibangunkannya persis ketika jendela itu terbuka dimana saya segera bisa menatap padang Savana melalui rongga udara.

Tak genap setengah jam kemudian elang itu terbang, kembali ke ujung Goenoeng ...


*Rindu bertalu buat Mas Goenoeng

2 Sep 2009

SAYA PULANG, SAYANG!


Sebulan rasanya jauh. Padahal masih di selongsong bulan yang sama, sedikit menyeberang ke September. Mengapa begitu lama tak singgah di rumah sendiri? Jawabannya panjang. Tapi saya coba pendekkan.

Pertama saya tengah mengalami stagnasi. Stagnan ide maupun hidup. Pelukis bisa berbulan-bulan tidur tanpa menggauli kanvas, cat, dan lamunan, meski misalnya ia sudi menarik garis-garis lukis yang gombal dan omong kosong bisa saja ia lakukan.

Hidup saya juga sedang stagnan. Kaya tidak, miskin mungkin mendekati. Untunglah saya tak lama menganggur. "Tak lama" yang saya maksudkan bukan bertahun-tahun, tapi cukup beberapa bulan saja, termasuk dalam menganggur itu saya pernah mengurusi keponakan mendaftar polwan dan nyari-nyari utangan.

Pekerjaan yang 'lumayan'. "Lumayan" sengaja dalam tanda kutip lantaran bukan pekerjaan yang mewah. Cukup dengan 'gaji bensin' dan mendapat penyaluran hobi. Hobi ngebut? Tentu tidak, walau masih berkutat tentang "mengebut untuk mencapai deadline sesuai jam yang dipatenkan" karena berurusan dengan pemberitaan dan kapan orang-orang di mesin cetak membatasi jam meleknya.

Rindu ini menggebu. Pitoresmi tak capek-capeknya ngulik kuping saya untuk up date blog. "Gimana mo komen kalo apdet aja enggak!" Begitu dia kerapkali sewot mencubit. Ah, kadang saya kangen perempuan ini. Saya membenci dia, anehnya juga rindu.

Hm, rasanya damai memasuki rumah sendiri. Ada adem yang menyesap. Muncul magma yang sekian pekan menggumpal dalam kotak libido yang tak pecah-pecah. Saya balik ke keasyikan lama menelusuri blog kawan-kawan setelah beberapa waktu ber-haha-hihi di fesbuk yang lama-lama menjemukan.

Saya pulang, sayang, jerang air untuk kita mandi bersama ...

5 Agu 2009

PUISI UNTUK BOYOLALI DAN POLISI


AWAL pekan ini saya tersengat musibah yang amat tidak keren: kehabisan bensin! Tapi saya memperoleh pengalaman batin berlimpah.

Memasuki Boyolali dari arah Solo, tiba-tiba mesin saya tersengal. Saya mengira aki bermasalah lagi. Lima hari sebelumnya ia ngambek dan enggan menggerakkan segenap perkakas elektronik gara-gara saya alfa memeriksa airnya. Tapi ternyata bensin ludes. Indikator digital di dasbor menjelaskannya. Lampu BBM kedap-kedip, dan celakanya baru saya ketahui di tengah perjalanan.

Tentu saya panik tak terkira. Maklum saja, senja telah roboh, sementara di dompet tak ada duit sepeserpun.

Di tengah sengal mesin, saya memaksa menginjak pedal gas, mencari tiga-lima meter ke depan supaya kendaraan tidak berhenti di tengah jalan. Jalur itu cukup padat. Bisa-bisa truk gandeng menyambar saya dengan seksama.

Ups! Berhenti persis di sisi trotoar seberang pos polisi bibir timur kota Boyolali. Sesaat saya menarik napas. Mencari-cari cara supaya terbebas dari belitan cemas. Siapa teman di Boyolali? Adakah famili? Nihil!

Saat itulah jendela kaca diketuk dari luar. Seorang polisi muda. Saya perkirakan baru dua-tiga tahun ia lulus sekolah calon bintara. Saya turunkan kaca. Mendapati senyumnya yang ramah.

"Selamat sore, Pak. Ada masalah apa?" Tanya polisi ini dengan amat santun.

"Kehabisan bensin, Mas," jawab saya seraya tersenyum getir. Sengaja saya memanggilnya "mas" karena jarak usia, meski ia aparat negara. Ia tampak tidak protes.

"Hm, begini saja. Bapak istirahat dulu di pos kami, kemudian nanti saya suruhan seseorang untuk membeli bensin di SPBU sana dengan jerigen," ucapnya sambil tetap ramah dan menunjuk SPBU satu kilometer di belakang kami.

Saya jujur saja bahwa saya tak membawa uang. Ia mengerti dan tampak berpikir sejenak. Lalu ia menanyakan apakah ada famili di Boyolali. Saya bilang kerabat terdekat ada di Salatiga (satu jam perjalanan), yakni Komarul, saudara sepupu. Tapi saya tak mengatakan pada polisi muda ini bahwa Komarul adalah seorang reserse berpangkat perwira menengah. Tak lebih untuk menghindari pemikiran negatif, misalnya dikira pamer.

Pendek kata, akhirnya saya duduk di pos polisi. Selang beberapa belas menit polisi muda tadi berpamitan, bertukar piket dengan dua polisi lain. Dua petugas berikutnya tak kalah ramah. Kami bersalaman. Yang senior bernama Wibowo (saya memanggilnya Pak Bowo), satunya Pak Arief (kebetulan namanya sama dengan saya). Pak Bowo lebih senior ketimbang Pak Arief.

Dalam dingin menusuk tulang -- selagi saya menunggu transfer dari Komarul -- kehangatan menyelimuti kami. Entah mengapa kami selayaknya tiga kawan yang lama tak berjumpa. Tak ada batas-batas, tak ada hal-hal yang mereka sembunyikan.

Awalnya saya tak berterus terang bahwa saya jurnalis. Tapi saat Pak Bowo bertanya apa pekerjaan saya, akhirnya saya ungkapkan juga. Toh pengakuan saya tak menyurutkan keterusterangan dua polisi ini melontarkan apapun, termasuk rahasia-rahasia kepolisian yang selama ini jarang diketahui umum. Termasuk pula ia bertekad untuk menjadi polisi yang bersih supaya menjadi suri tauladan anak-anaknya yang kini masih berusia SD.

Sebagai manusia, Pak Bowo yang asal Kendal itu punya rasa takut juga. Ia mengisahkan bagaimana pernah dikeroyok sepuluh pemuda mabuk di depan pentas dangdut. "Saya membawa pistol. Tapi saya tak boleh menembak secara acak. Dua peluru saya muntahkan ke langit, padahal bisa saja saya arahkan ke kaki para pengeroyok. Tembakan ke atas itupun mencemaskan saya, jangan-jangan peluru nyasar mengenai orang tak berdosa," tuturnya.

Pak Bowo beristrikan seorang guru SD. Kehidupan sederhana mereka jalani bertahun-tahun. Kebersahajaan itu saya dapati dari sepeda motornya. Ia cuma menunggang motor bebek keluaran lama. Tak mengesankan ia polisi beringas yang main gertak. Itu terbukti saat mendadak datang seorang pemuda dengan motor protolan ke pos polisi ini. Saya sempat mengira pemuda itu bakal diomeli. Bahkan barangkali diintimidasi. Ternyata tidak!

Pak Bowo menatap prihatin RX King berpelatnomor Jakarta itu. Sudah nomornya palsu, tak dilengkapi kaca spion pula. Si pemuda juga tak memakai helm. Kemudian Pak Bowo menyunggingkan senyum kebapakan kepada si pengendara. Antara tersipu dan takut, pemuda berkaus belel ini mengaku asli Sukoharjo (masih karesidenan Solo), tersesat saat mencari rumah kawan, dan kehabisan bensin (saya sempat tersenyum lantaran senasib dengannya).

Usai bertanya-tanya, Pak Bowo meminta Pak Arief menelepon markas. Kemudian datang mobil polisi bak terbuka. Si pemuda kusut itu beserta motornya lalu diangkut ke Polres Boyolali karena terindikasi melakukan hal-hal tak beres.

Kami kembali mengobrol. Dingin makin menggerogoti. Pak Arief kemudian bergabung setelah tadi sibuk mencatat-catat di meja pos. Saya dan Pak Bowo sejak petang memilih duduk di kursi kayu sebelah bangunan.

Makin hangat saat kami bersama menyantap nasi goreng yang gurih, dibeli Pak Bowo dari warung dekat pasar. Terkuak pula Pak Arief yang kelahiran Klaten ini adalah anak tentara. Ingin jadi polisi ia rela merantau ke Semarang. Di Semarang sempat ia menjadi kuli bangunan, semata untuk bertahan hidup dan membuktikan pada orangtua.

"Saya dididik untuk disiplin dan penuh semangat. Saya anak tentara, tapi jarang saya katakan kepada orang-orang," ungkapnya sebelum bergegas membelikan air kemasan botol saat dilihatnya saya perlu minum. Pak Arief pula yang mengantar saya dengan sepeda motornya ke ATM BCA yang cukup jauh.

Sampai kemudian kami harus berpisah. Setelah bensin yang saya beli di kios eceran persis di sebelah mobil saya diparkir mengalir ke tanki pada jam 8 malam (total 3 jam saya dinaungi pos polisi), saya minta diri dengan berat hati. Bertukar nomor telepon, lalu kami bersalaman.

Boyolali meninggalkan jejak cinta dan sejuk yang membius. Pepohonan di sepanjang jalan menuju Salatiga melambai-lambai, menyusupkan memori terdalam, memori yang temaram. Malam senyap. Misterius. Ingin rasanya menulis puisi untuk Boyolali ...

26 Jul 2009

NOORDIN M TOP DAN CALEG

SAYA iri pada Noordin M Top. Fotonya ditempel dimana-mana. Di halte, terminal, bandara, sampai tembok hotel mesum. Saya pernah sangat ingin gambar muka saya dipasang di gardu listrik atau dipaku di pepohonan. Biarlah di sana tertera pula tulisan "WANTED" berukuran besar, lalu di bawah foto ditulisi jumlah uang bagi siapapun yang mampu menciduk saya, seperti di film koboi.

Saya juga pernah iri pada caleg yang memasang foto di spanduk, umbul-umbul, bahkan brosur. Betapa asyiknya memamerkan deret gigi dan bibir yang terkembang. Seolah menyapa siapa saja, seakan jalanan adalah miliknya.

Pernah saya guyon dengan Mas Goenoeng Mulyo. Dalam canda sempat kami mau memesan spanduk dengan sablonan foto-foto kami, kemudian dipasang melintang di atas jalan. Tentu tak ada logo partai maupun jargon pemilu di situ, melainkan deret tulisan enteng saja: "Saya bukan caleg, cuman pengin nampang saja!"

Namun kemudian baru-baru ini saya menyadari bahwa tampang dipublikasikan belum tentu positif muaranya. Bayangkan, pagi tadi muncul foto seseorang di halaman dalam sebuah koran, dengan kalimat yang sungguh tak enak: "Panggilan, nama W*s**, alamat Jalan S******** Raya nomor sekian Tangerang, untuk mempertanggungjawabkan penggunaan uang sebesar Rp 27 juta". Olala!

Noordin mungkin tidak nyaman fotonya di-"wanted"-kan. Bayangkan, predikat "buronan nomor wahid negeri ini" kemana-mana disandangnya. Jika suatu ketika ia dibekuk, pasal untuk menjeratnya sangat berlapis-lapis. Itu belum cercaan yang menimpuknya dari segenap penjuru jagat raya.

Tapi, siapa tahu ia kini ia tengah menyedu kopi di depan televisi, seraya tersenyum congkak di sela emping melinjo yang sedang dikunyahnya. Noordin tak takut sama sekali lantaran wajahnya tak dikenali lagi usai ia melakukan face off. Itu mengapa siapa menyangka kita saban hari mengobrol dengannya di pasar, terminal, atau di sudut pasar tradisonal.

Sedikit lebih baik adalah nasib mereka yang mengadu untung di pemilu legislatif. Setelah tak dicontreng orang, mereka tak menyisakan masalah apa-apa, kecuali barangkali membayar utang untuk keperluan pileg. Pertanggungjawabannya tak sehebat Noordin, karena cuma berperkara dengan bank, atau pihak lain yang diutangi.

Bagi yang terpilih, segera saja ia merealisasikan janji-janjinya untuk membela rakyat, kecuali bagi mereka yang setelah terpilih lantas bersiap tidur di sidang-sidang, sebab masyarakat boleh jadi telah melupakannya karena jalan telah dipavingisasi pada masa kampanye, atau rakyat telanjur senang karena telah memperoleh kaus dan uang.

Memasang foto di jalanan? Nggak deh!



21 Jul 2009

BLOG ADALAH PAWON SESUNGGUHNYA


SAYA penyendiri. Masuk kamar saat matahari pulang, kemudian bersemayam di kursi putar yang menghadap meja. Lama. Bisa semalaman tak keluar.

Hening begitu sibuk menimang tubuh dan jiwa. Sepi adalah sigaret yang mengentutkan asap-asap bergulung, menyorongkan album-album kehidupan beribu lembar banyaknya. Dan saya hanya ditemani televisi yang menyala sesekali, buku, dan alat tulis elektronika yang dilumasi speedy. Tak ada sesiapa, bahkan anak maupun istri saya.

Itu mengapa kegemuruhan facebook (atau publik menyingkatnya dengan FB) cuma saya hampiri sesekali. Keramaian yang tak terlalu menyeret saya untuk berlama-lama membaca sambil tertawa-tawa, sebagaimana saya hanya seminggu sekali menyeruak keramaian pasar Johar, pasar tradisional terbesar di Semarang, atau Mal Ciputra dan Matahari.

Saya lebih tenteram membaca-baca blog kawan, atau sesekali menulis di blog sendiri, ketimbang berkomentar, membaca komentar, atau mengomentari komentar orang di FB. Blog serasa sudut pawon*) dimana kita meracik sup atau sambal goreng. Mengalun kesunyian yang indah berada di pojok dapur seraya membaui terasi, kepul asap penggorenggan, atau sisa makanan kemarin.

Blog lebih tepat untuk media perenungan, pergunjingan hati, serta menekuri kaya atau kemelaratan. Blog adalah kuali yang melahirkan fiksi bersama realita dalam adonan sedap menurut selera masing-masing penulisnya.

Saya sulit diseret ke satu irama hilir mudik yang menyesakkan mata, meski FB efektif menjalin kekerabatan dan atau memburu kawan-kawan lama. Tapi sangat suntuk menurut saya. Kita dijerat dan sulit keluar dari keinginan menulis ratap hati dan mengomentari. Kita seperti menyelinap dalam ketat pasar malam dimana pantat dan kepala saling beradu dan bersebadan.

Tetaplah blog masih nomor satu di hati saya, kendatipun lama-lama di ranah ini sepi ditinggalkan penghuni ...



*) Pawon: dapur

11 Jul 2009

HOLE IN ONE DARI ISTRI


ISTRI saya marah membaca postingan ini. Bisa dimaklumi. Ia membaca sebuah pesan singkat kiriman 'seseorang' yang sangat ia benci, persis di hari ulangtahun saya, 23 Juni lalu. Padahal itu imajinasi belaka.

Imajinasi atau nyata, ia tak mau mengerti. Maklum, dengan hanya menyinggung tentang 'dia', ia berpikiran bahwa saya rindu pada 'orang itu'. Padahal, sejatinya saya tak pernah lagi mengangankan sesuatu yang dulu terjadi terseret ke masa kini, lebih-lebih menginginkan pertemuan.

Istri saya asyik sekaligus unik. Di satu sisi ia tipikal buldozer yang senantiasa menggilas hari ini dan hari depan untuk tujuan-tujuan. Tapi, sesekali ia juga menengok ke belakang dan berusaha memperbaiki hal-hal buruk masa lalu, termasuk hubungan saya dengan 'dia'.

Saya berterima kasih padanya meski seharian ia mengomel, melebihi omelan saya sesaat setelah saya memergokinya mengirim SMS ke mantan pacarnya. Istri adalah pagar. Istri adalah masinis kereta. Istri juga stik golf untuk menuntun bola memasuki hole in one kehidupan. Sebab itu, setelah meminta maaf padanya, saya mulai menata kembali manajemen perasaan antarkami.

9 Jul 2009

MULUT YANG TAK SETIA


Berbeda Pito yang konsisten nyedot LA menthol, saya cenderung 'asbak'. Bagaimana tidak. Setelah asyik masyuk dengan Sampoerna merah (dah jauh-jauh tahun sebelumnya pernah menyenggamai Filtra, Gudang Garam, Djarum, Dji Sam Soe, bahkan Djarum kretek), saya memadu cinta dengan Class Mild.

Bersama Class Mild saya merenda hari-hari suka dan merana, sedih-gembira, untung dan buntung. Tapi itu cuma setahun, 2008-2009. Beberapa bulan lalu saya jatuh cinta pada Star Mild, baik biru maupun menthol, gara-gara ditusuk batuk. Batuk yang tak kunjung sembuh dan berlendir. Di tengah batuk, saya nebeng Star Mild teman. Eh, sembuh!

Mungkin saya punya bakat tak setia. Buktinya, belum sebulan kesana kemari mengantongi Star Mild, mendadak saya sangat ingin mencicipi LA merah seorang kawan perempuan yang bertemu di sebuah acara ultah. Nah, saya keterusan LA hingga kini.

Rokok, setidaknya menurut saya, tak menyimpan tabiat makanan. Makanan bisa dengan lekas mengubah arah lidah, pagi bayam, siang opor, sore siomay. Perokok tak bisa mengubah selera sigaret dalam waktu singkat. Umumnya mereka bertahan lama dengan satu merek, termasuk para perokok ketengan yang membeli di kakilima Rp 500-an sebatang.

Karena jam terbang saya tinggi dalam urusan sedot tembakau, mulut saya mati rasa akibatnya. Kini saya tak canggung menghisap rokok apapun, bahkan jika disuguhi cerutu kuba sekalipun. Saya paham benar karakter rokok di depan saya, dan berisiko apa (tersedak, terbatuk, dsb) jika saya menghisapnya.

Rokok juga membuat saya mati gaya. Otak saya bisa sekarat gara-gara rokok tak tersedia ketika hasrat menulis menggedor-gedor dada ...

7 Jul 2009

ASAL TETAP TERATUR MAKAN!

SAYA salut pada Adi. Tetangga sebelah kiri rumah ini begitu bersemangat membagi undangan nyontreng ke segenap tetangga. Padahal, jika dihitung capek dan tanggungjawabnya, honor Ketua KPPS tidak nendang. Apa lacur, mari Adi kita nobatkan sebagai salah satu pahlawan tanpa tanda jasa.

Pilpres menyulut orang menjadi sibuk. Bukan oleh kampanye semata, melainkan juga penat menyimak debat, kenyang pemberitaan (sampai mau muntah membacanya), dan sibuk memutuskan mau memilih siapa.

Ada yang bilang ini pesta demokrasi. Tapi galibnya pesta, pemilu justru menguarkan bau sinisme. Ada ketawa membuncah, tapi muncul lantaran seorang capres/cawapres mengejek kandidat lain. Tepuk tangan pun seolah tepuk nyamuk: mencoba membunuh pihak lain lewat teror mental.

Pemilihan presiden di negeri ini masih serupa pemilihan ketua OSIS di SMA, semrawut dan gontok-gontokan. Demokratisasi cuma ada di seminar-seminar dan skripsi anak-anak kuliah. Napsu menginjak lebih tegas ketimbang berlapang dada.

Saya jarang mendengar seorang kandidat presiden berkata begini dalam debat di televisi: "Saya tak peduli kalah atau menang. Yang penting negara ini aman, makmur dan sejahtera.", kecuali dalam debat terakhir di Balai Sarbini tatkala moderator memungkasi acara dengan satu pertanyaan: "Andai Anda tidak jadi presiden, apa yang akan Anda lakukan?"

Seorang kawan mengatakan, pilpres akan berbuntut panjang. Siapapun yang menang akan menghadapi oposisi yang keras dan 'siluman' bergentayangan. Nah, kapan bisa tidur nyenyak bila nanti begini situasinya?

Karena pening menerka 'api' apa yang menjilat-jilat usai pilpres nanti, semalam saya putuskan: saya tak peduli siapapun menjadi presiden 2009-2014, asal kami bisa makan dengan teratur setiap hari dan menyekolahkan anak-anak. Itu saja!

3 Jul 2009

RASA RASA


SEPERTI ranum danau bening, dengan pucuk-pucuk bambu yang mengayun kala matahari bosan menari. Seperti menatap pelangi dan memotretnya dari punggung bukit. Itulah rasa yang kau berikan, sayang.


Kau bidadari dari lekuk langit ketujuh. Melayang ke bumi dengan pijar dan getar tatkala aku tak lagi berada dalam ruang yang nyaman untuk menghirup udara.


Tahukah bahwa kau oksigen bagiku? Di saat hati sunyi, kau datang dengan selendang sutera. Aku gusar sebab sukar mengatakan apa-apa saat kita berpapasan di tangga. Tahukah kau bahwa aku jatuh cinta? Tahukah kau, di tangga itu aku kuyub oleh asmara?


Dan kita bercakap-cakap setelah pertemuan di tangga. Malam-malam ribut oleh pesan-pesan ponsel kita. Aku dipompa oleh spiritmu, sampai akhirnya aku sadar aku bukanlah siapa-siapa. Ya, menyadari “bukan siapa-siapa” inilah mengapa aku sedih. Kau tak bisa kumiliki dan memilikiku.


Itu kenapa sering aku bersikap aneh, sering berubah-ubah sikap, mirip SMA yang sedang jatuh cinta. Aku kerap ingin berada di sisimu untuk mengadu ketika resah dan tak tahu harus berbuat apa. Kau bisa membuatku kembali tersenyum padahal semenit sebelumnya marah-marah, karena mencintaimu adalah hal terindah.


Kau terlalu baik untuk diusik, terlalu indah untuk diganggu, kendati setan pernah mampir dan menyuruh-nyuruhku untuk melakukan sesuatu. Sejumlah teman pernah marah melihatku murung dan tak doyan makan usai memergokimu dalam gandengan seseorang di depan gereja. Tapi, sejauh ini mereka mau memahami penjelasanku bahwa akulah yang bersalah karena aku memang tak berhak apapun atas dirimu.


Aku hanya perlu merajutmu dalam kesendirian dan mengajakmu ke tempat-tempat indah. Di sana aku leluasa memandangmu hingga bola mata perih. Menatapmu dengan sorot mata cinta yang besarnya melebihi samudera.

Ingin kubangun perahu untuk menyeberangi lautan, memeluk punggungmu ketika kau sedang di depan cermin membedaki paras. Aku ingin menciumi rambutmu, membawamu ke ambang jendela dan kita memandang bunga dari sana.


Aku sangat ingin berdua saja memandangi bintang-bintang, meraup kepalamu ke pundakku, dan kita menangis bersama.

(Jantungku berdenyut ketika menulis ini. Serasa di depanku ada kau dengan senyum yang menggoda, dengan tahi lalat yang menari di bawah matamu itu, dengan tangan yang lembut mengaduk gula dalam secangkir teh.


Maukah kau menunggu jiwaku ketika malam-malam ingin singgah? Aku akan mengetuk jendela kamarmu dan memberi setangkai bunga. Menjulurkan tangan dan membelai rambutmu yang lebat itu, lalu mengawasimu ketika kau pulas).

19 Jun 2009

SEMARANG 82 KILOMETER



MENEMBUS
gerimis pekat dengan kecepatan 60 km/jam seolah meniti buih. Solo baru saja habis, dan Kartasura menghisap dengan merkuri-merkuri yang lelah. "Semarang 82 Km", begitu papan menjulang di sudut Kartasura menjelaskan jarak yang mesti saya tempuh tiga jam ke depan.

Saat itulah saya melihatnya.

Ia melambaikan tangan. Sekejap saya pikir ia menyetop bus. Atau mobil lain. Tapi pada saat sama tak ada mobil yang melintas di tiga kaca spion saya. Tidak pula sepeda motor. Sepi menyayat. Artinya, ia melambai pada saya.

Refleks saya menginjak rem. Cericit ban berdenyar sebentar. Perlahan saya mundur, lalu mengambil jarak dua depa di depannya. Dari sorot lampu tampaklah perempuan muda -- kisaran 22 usianya -- berkaus putih, jins biru, dan syal melilit lehernya. Ia mematung dengan ransel menggantung, disangga kaki-kaki basah oleh tempias.

Tak ada sesiapa di sana. Benak saya terganggu oleh beragam kejutan yang berdenyut. Siapa tahu ia hantu. Atau sundel bolong kesepian lantaran tak ada manusia yang digoda. Atau ... Hei, ia melangkah menuju saya!

"Malam, Mas, boleh saya menumpang?" Ucapnya penuh harap. Saya menjatuhkan kaca lebih ke dalam. Mengawasi parasnya yang pias. Rambutnya masai tercabik gerimis. Ia menggigil kedinginan.

"Saya ke Semarang. Kalau Anda ke Jogja, berarti kita tak searah," kata saya seraya menunjuk pertigaan di depan. Ke kiri menuju Yogya, kanan ke arah Semarang.

"Saya mau ke Ungaran. Kalau keberatan, saya akan membayar ongkos tumpangan." Kali ini ia tampak ingin menegaskan bahwa ia sedang bergegas dan tak memerlukan banyak alasan saya untuk menolaknya. Saya melirik rintik. Kian menderas. Saya tak tega membiarkannya kuyub, dan saya akan dikejar-kejar rasa berdosa bila esok ia ditemukan tewas di trotoar lantaran kedinginan atau ditebas parang.

Saya mempersilakannya. Ungaran adalah pintu selatan Semarang. Apa salahnya ada teman mengobrol seperjalanan? CD-CD cengeng di lambung dashboard tentu telah lelah lantaran terlalu sering keluar masuk selop player.

Ia menghambur. Meletakkan pantatnya dengan lembut. Lalu mengantup pintu dengan terukur. Sekejap aroma Guess Pink menguar. Saya hapal baunya karena istri saya memakainya juga.

"Dari mana tadi? Kok berdiri di tempat sepi tengah malam begini? Sedikit bergeser ke pasar kan terang." Saya meliriknya. Roda telah mendorong kami. Gerimis makin tebal.

"Saya diturunkan paksa oleh pacar saya. Tepatnya mantan," ujarnya lirih tetapi penuh geram.

Saya terkesima. Tenggelam sebentar dalam percik pertengkaran yang pasti hebat. Lumayan untuk diceritakan kawan, atau istri, esok hari. Rasa penasaran dan sedikit naluri wartawan memaksa saya untuk bertanya.

"Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Ia memaksa saya untuk melayani napsunya. Seminggu ini itu terus yang ia minta, dengan janji akan segera menikahi. Saya bukan cewek dungu. Bukan perempuan gombal yang bersedia diajak ke kamar hotel lalu membuka baju untuknya. Jujur saya menyayanginya, tetapi tidak untuk seks pra-nikah cinta saya untuknya ... "

"Berapa lama kalian berpacaran?"

"Sejak SMA."

Cepat-cepat saya menghitung. "Wah, lebih lima tahun, dong."

"Enam tahun lima bulan pertanggal ini."

"Dan selama itu kalian sudah sejauh mana?"

"Ciuman. Itupun pipi. Ia pernah meminta bibir, dan saya memberinya. Tapi jangan membayangkan saya membiarkannya berlama-lama menciumi bibir saya. Ia penuh napsu, tapi saya mengatupkan bibir rapat-rapat sambil berdoa agar Tuhan mengampuni saya."

Saya menghela napas. Hm, enam tahun menjalin cinta tanpa persentuhan titik paling sensitif adalah hal langka di jaman sekarang! Saya takjub sekaligus salut.

Jessica -- hingga hampir Boyolali ia baru mengenalkan namanya -- kuliah di kampus sohor di Surakarta, jurusan komunikasi. Kalau tak salah terka, ia pastilah kembang kampus. Hidungnya bangir. Kulitnya -- saya pergoki kala tadi tersiram lampu mobil -- sehalus sutera. Saat mendekati jendela, syalnya sedikit membuka, menyiratkan leher seputih kapas tanpa ruas. Sayang ia pelit senyum lantaran mungkin tengah bersedih. Jika nanti ia tersenyum, saya akan segera bisa menilainya apakah ia lebih cantik dari Dian Sastro ataukah sebaliknya.

Tampaknya ia membiarkan saya defensif sebab sejak tadi tak pernah ia bertanya. Jessica mengaku tak peduli saya bajingan atau setan. Ia menyetop saya untuk satu tujuan yang tak bisa ditunda-tunda: mengadu kepada ibunya, mengguguk di bantal, lalu tidur. Esoknya, ia akan menemukan fajar baru.

"Saya tak menyesal putus darinya. Ia boleh anak pejabat penting, tapi saya lebih terhormat. Orangtua kami mendidik anak-anaknya menjunjung tinggi martabat."

Saya mengangguk-angguk tak putus-putus. Jessica mungkin sekelumit anak negeri ini yang pantas mendapat cum laude untuk hati bening. Ia bibit unggul yang secara fisik merangsang kelelakian tapi sepanjang hidupnya ia duduk di singgasana ratu dengan tatap mata was-was dan waspada.

Jessica membangun benteng kukuh. Membiarkan mata menelanjanginya, namun ia kirim pesan kepada setiap orang bahwa harga diri tak ubahnya berlian di kotak pandora. Tak boleh siapapun menyentuhnya, kecuali jika ia telah menikah nanti.

Saya menyentuh pundaknya untuk membangunkannya dari kantuk pulas. Menanyakan apa tadi sudah makan. Seratus meter di depan ada restoran 24 jam. Saya akan membelok jika ia menyetujui kami berhenti. Tapi ia menggeleng seraya mengucap terima kasih.

Sesampai di Ungaran, ia terjaga. Mengucak mata dengan gerakan ringan, lalu menunjuk belokan ke kiri. Jalan menurun tajam. Kemudian berkelok-kelok naik, lantas berhenti di luar pagar tinggi sebuah rumah sangat megah.

"Saya turun di sini, Mas, terima kasih atas tumpangannya. Kalau ada waktu mampir, ya. " Kali ini ia tersenyum. Semanis es krim. Saya kubur bayangan tentang Dian Sastrowardoyo sebab Jessica lebih cantik! Lalu ia membuka pintu, mengayun langkah menuju pos sekuriti di ujung pagar. Seorang satpam membukakan pintu. Ia melambai, masih dengan senyum tadi, kemudian melenggang ke dalam.

Belakangan saya memperoleh kabar dari kawan, rumah tempat Jessica berhenti adalah milik saudagar kaya pemilik saham terbesar satu televisi swasta hebat di negeri ini. Dan Jessica adalah anak keduanya ...



**
Atas ijinnya, saya diperbolehkan menulis fragmen kecil Kartasura-Ungaran ini, dengan catatan namanya disamarkan.