Search

31 Jul 2008

Terkapar


Mengapa begitu sulit bersenggama dengan awan? Telah kuhalau kokok ayam, gonggong anjing, riuh nyamuk, dan segala sesap penat, tetapi tak juga muncul kata-kata.


Jam telah menukik ke sudut subuh. Rokok saling bertindih dengan tembakau yang raib menjadi asap di kubang asbak. Dimana kau sembunyikan secawan kopi? Kemana sapu terbang tatkala aku membutuhkan?


Otakku berhamburan di meja, di beranda, di jendela, di kabel telepon, di lampu merkuri. Benakku berkelana dan tak mampu mengeja. Kepalaku larut dalam air keruh selokan. Jiwaku melayang-layang dihempas dan dijilat setan.


Mengapa begitu susah mendaki pelana? Telah kubeli kuda paling troya, menyembelih beruang kutub dan rusa, tetapi layar komputer seperti bilik kulkas yang membeku, seperti penari perut yang meliuk dengan pusar menganga namun susah dijamah.


Malam telah rebah. Pagi datang dengan gersang. Otakku mampat dan tersumbat. Jiwaku piatu dan tak jelas apa yang tengah kutunggu ...

28 Jul 2008

Dorce Gamalama


Dorce Gamalama mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian kita. Tetapi saya menyimak “Sang Bunda” dengan kacamata bening. Bukan melulu lantaran saya begitu kesal karena sesuatu hal tak bisa menyaksikannya dalam “Dorce Show” dan "Dorce Jalan-jalan” – keduanya ditayangkan TransTV – yang rutin bikin saya ngakak kencang karena joke-jokenya cerdas, melainkan karena ia adalah makhluk langka di negeri ini.


Langka karena ia multi talenta. Dalam dirinya bersemayam beragam bakat – dari presenter, menyanyi, hingga akting (ia pernah bermain di dua film, Dorce Sok Akrab dan Dorce Ketemu Jodoh) – yang membungkusnya dalam satu kubus berlian, menyalip kenyataan pahit bahwa ia sesungguhnya dilahirkan sebagai pria sebelum ia berganti kelamin menjadi wanita, pada 1983 oleh sentuhan Dokter Djohansyah Marzuki SpBP, di Surabaya.


Menyaksikan gerak bibir dan langkah kakinya, aurta seakan dibius lokal untuk terus mengangakan mulut menerima rangsangan yang bertubi-tubi. Ia tak sungkan turun ke meja-meja tamu untuk totalitasnya sebagai penghibur sejati. Ia melakukan cubitan nakal (yang tak terasa pedih) kala ‘menggarap’ bintang tamunya di “Dorce Show”. Di hadapan ibu-ibu pengunjung acara itu, tak jarang ia melakukan ‘rayuan’ kecil terhadap bintang tamu ganteng, sekadar menandaskan bahwa dirinya perempuan sejati, bukan banci yang terbungkus kebaya namun (maaf) alat kelaminnya masih pria!


Dorce satu diantara segelintir saja daftar penghibur di Indonesia yang antikemunafikan. Ia blak-blakan dan bloko suto, mengutarakan apa yang mengendap dalam bilik hatinya tanpa sekat. Ia ‘ngaco’ tapi jujur. Ia ‘ngoceh’ namun mulutnya berjalan berarak dengan hati. Dorce bisa tiba-tiba menjadi manusia paling gokil, bisa pula mendadak menjadi ustadzah.


Dalam jiwanya tertanam masa silam yang kelam, lalu kini menyerbuki tanah tandus dengan semerbak wangi bunga. Tahun 1973 tak ada yang meliriknya dengan nanar. Ia cuma waria sepah dalam kelompok Fantastic Dolls yang terkadang laku, terkadang tidak. Namanya sempat berkelebat di TVRI untuk acara-acara yang menyuguhkan aksi wadam. Aksi yang sesaat menghibur, tetapi esoknya dilupakan.


Wewangian yang melahirkan aroma bunga sedap malam dan tak terbantah. Dorce yang cantik menjadi kian ranum dengan keluhuran hati yang melumuri. Ia mendirikan Yayasan Dorce Halimatussa’diyah 1963 di Jl. Raya jatibening Estate No. 118 Rt.002/001, Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, sebuah yayasan yang bergerak di wilayah pendidikan tingkat dasar untuk mencetak manusia-manusia bermental baja.


Menyaksikan Dorce ultang tahun ke-45, 21 Juli lalu di Masjid Al-Hayyu, Bambu Apus, Jakarta Timur yang dihadiri orang-orang beken macam Gus Dur dan istri, Rhoma Irama, Cici Paramida, Dewi Yull, dan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen Tri Tamtono, pupil mata saya sembab oleh keterharuan yang teramat sangat. Panjang umur dan terus mengabdi, Mbak.

25 Jul 2008

Memunguti Inspirasi dari Kepedihan Hati


Duka nestapa kadangkala lebih dahsyat ketimbang anabolic steroid. Eric Clapton melahirkan lagu Tears in Heaven beberapa jam setelah Conor, anaknya yang baru berumur 4,5 tahun, tewas karena terjatuh dari jendela lantai 53 sebuah apartemen di New York, ke atap bangunan berlantai 4 di sebelahnya pada 1991.


Dave Mustaine, gitaris merangkap vokalis Megadeth menulis lagu In My Darkest Hour di album So Far, So Good... So What! (1988) guna mengenang sahabatnya Cliff Burton, bassis kelompok Metallica yang tewas karena kecelakaan bus yang tergelincir akibat jalanan bersalju dekat kota Ljungby, Swedia saat Metallica mengadakan tur ke Eropa tahun 1986.


Yok Koeswoyo, bassis Koes Plus, membuat lagu berjudul Maria untuk mengenang mendiang istrinya yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalulintas. Yok selamat, namun istrinya meregang nyawa. Ironisnya, suami istri itu sedang bertengkar saat kecelakaan terjadi (perhatikan lirik "senja itu aku pergi bersamamu, tiada senyuman kau berikan padaku").


Bebi Romeo mengukir lagu Bunga Terakhir yang kord-nya sangat berat itu ketika ia ditinggalkan kekasih hati, Meisya Siregar. Tak tahunya, beberapa waktu silam Meisya malah kembali ke dekapan Bebi dengan status janda.


Kepedihan tak jarang adalah butiran mutiara. Sakit hati, ngilu di dada, rasa sedih berkepanjangan, seringkali menitiskan inspirasi. Mas Handry TM, cerpenis/novelis Semarang, pernah mengungkap rahasia mengapa ia kerapkali memenangi sayembara novel, cerpen, maupun penulisan skenario.


“Saya kaya inspirasi ketika sedang miskin uang. Tiap kali kere, saya malah menang lomba. Tatkala mengetik naskah untuk lomba tersebut, yang terpikir dalam benak adalah bagaimana saya segera bisa membayar utang-utang,” ujar mantan wartawan Suara Merdeka ini kepada saya di sebuah siang yang padat dalam kafe Excelso Citraland Mall Semarang, beberapa hari setelah skenarionya dinobatkan menjadi juara 1 oleh Departemen Pariwisata, penyelenggaranya. Untuk gelar itu, Mas Handry dihadiahi 30-an juta, yang setelah dipangkas-pangkas untuk melunasi utang, sisanya tinggal sekitar Rp 2 juta.


Menikmati kegelisahan dan menjadikannya cambuk alami bagi proses kreatif, bukan pekerjaan gampang lantaran membutuhkan sikap batin yang kuat. Apakah saya termasuk yang punya pertahanan kuat ketika jiwa sedang gundah gulana padahal saya sedang mengikuti lomba penulisan novel sekarang ini? Entahlah ...

21 Jul 2008

Yang Kaya Makin Kaya


Menyimak berita televisi belakangan ini miris rasanya hati. Segenap stasiun mengabarkan tentang ketimpangan. Sesi pertama seluruhnya memberitakan angka-angka mencengangkan tentang sogokan Rp 6,6 miliar dari Artalyta Suryani ke jaksa Urip Tri Gunawan, sesi berikutnya memberitakan masalah kekeringan. Ratusan warga Tasikmalaya ramai-ramai menenteng jeriken, menuju mata air di sebuah sawah yang berjarak 3 kilometer dari rumah, demi mandi, minum, dan menanak nasi.

Saya tak mengungkit kebijakan stasiun televisi perihal sesi-sesi lara dan nestapa yang ditaruh secara ‘bertetangga’ – meski kepiluan lain juga diusung di trap berikutnya penyuguhan berita, umpama soal mutilasi terhadap Aril Somba Sitanggang oleh Ryan, sesama homoseksual, yang menambah-nambah kepedihan hati – lantaran keredaksian TV punya pertimbangan news value yang rancak sesuai pakem masing-masing jurnalisme televisi.

Yang membuat ngilu, negeri ini seolah sedang berada dalam pusingan angin yang membanting-banting kaum papa dengan debum yang amat menyakitkan. Di jajaran elite dan berduit, uang seolah kertas tak berharga yang begitu mudah dilempar ke keranjang sampah. Di dunia duafa, seseorang perlu menjilati nasi basi untuk sekadar memperoleh 10 ribu rupiah.

Memang benar KPK gesit menyikat koruptor. Tetapi yang terkuak kemudian adalah munculnya semacam presentasi massal bahwa negara yang pernah dijajah Jepang dan Belanda ini keropos luar dalam, bahkan barangkali seperti dijilati belatung yang beranak pinak di sekujur tubuh Bumi Pertiwi.

Seorang kawan pernah menyebutkan, Indonesia bukanlah negara merdeka. “Kita masih dijajah oleh kapitalisme yang mendorong semua orang ingin mendapatkan duit besar, kendatipun melalui cara-cara yang bengis dan tanpa malu-malu,” begitu ucapnya.

Kesempatan memang seolah tersodor di depan mata, jika siapapun di negara ini memperoleh jalannya. Nyaris tak ada beda antara preman yang mengompas pedagang sayur di ujung pasar, dengan pria-pria (belakangan juga wanita) berparas licin dan lehernya digantungi dasi. Seluruh akses menuju “menjadi pekerja” perlu dilalui dengan pelicin. Sampai-sampai menjadi portir sebuah bandara pun seseorang harus mengeluarkan belasan juta rupiah untuk mempermudah.

Haji Oma Irama dalam album Soneta 11 pernah menciptakan lagu Indonesia. Penggalan liriknya sebagai berikut:

Seluruh harta kekayaan negara hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya. Namun hatiku selalu bertanya-tanya mengapa kehidupan tidak merata.

Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin