Search

11 Sep 2008

Tragedi Buah Apel


... Entah apa dosa apel, hingga namanya diseret dalam institusi bernama tragedi.

Makan apel, sebelum imsak tadi, saya teringat Anita Sarawak. Penyanyi Malaysia ini memukau dengan "Tragedi Buah Apel", sebuah lagu dengan kandungan dongeng mengenai terenggutnya keperawanan.


Apel, dengan demikian, apakah simbol kegadisan? Dengan demikian pula, tatkala mengunyah serat-serat halusnya yang gurih tadi, saya juga tengah menikmati tragedi? ...

10 Sep 2008

Kematian


Kematian itu seperti sniper di sebuah rongga gedung pencakar langit. Ia mengintip dari luv, menakar-nakar jarak sasaran sambil jarinya mencengkeram pelatuk dengan erat, dan kemudian memuntahkan peluru yang membelah angin dengan kecepatan tak terkira sebelum menciptakan lubang berdarah pada kepala seseorang di bawah sana.

Begitu tiba-tiba. Begitu tak terduga. Mendadak saja seseorang menggelosor dan menemui ajal.

Kematian seolah mengakrabi saya akhir-akhir ini. Sehari menjelang puasa, saya menabur bunga di makam seorang sesepuh, di Pemakaman Bergota, Semarang. Usai khusuk memanjatkan doa, perempuan penjaga kuburan mendatangi.

“Sampeyan apanya Pak Bambang Sumitro?” Tanya dia tanpa basa-basi.

“Pak Mitro Lemah Gempal?” Saya balik bertanya. Lemah Gempal yang saya maksudkan adalah sebuah perkampungan di Semarang. Perempuan separuh baya itu mengangguk. “Beliau pakde saya, Bu.”

“Tadi malam istri Pak Sumitro meninggal. Tuh, kuburannya sedang digali,” tuturnya sembari menunjuk sekelompok pria yang sedang menggali tanah, di sudut lain pemakaman itu.

***

Kemarin, untuk sebuah keperluan, saya hendak bertamu ke Pakde Win, satu kerabat lain di Semarang. Baru saja saya memarkir mobil di seberang jalan depan gang menuju pakde, tukang parkir datang dengan bergegas. Saya kira ia mau memberi aba-aba, namun ternyata ia mengabarkan sesuatu yang tak terduga.

“Mas mau bertamu ke rumah Pak Win?” Tanyanya saat saya menurunkan kaca. Saya mengangguk. Tukang parkir ini tampaknya sudah cukup akrab dengan raut muka saya lantaran telah beberapa kali saya diaba-abai kala memarkir mobil depan gang Pakde Win.

“Rumah Pak Win sepi, Mas, pada pergi ke Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum,” sambungnya tanpa saya minta.

“Memangnya siapa yang sakit, Mas?”

“Istrinya Pak Win meninggal dua hari lalu. Ia diistirahatkan di Panti Wilasa, menunggu kedatangan anaknya yang tinggal di Kanada,” terangnya.

Malaikat pencabut nyawa seolah sedang berseliweran sambil menggenggam daftar orang-orang yang mengantre untuk mati ...

7 Sep 2008

Biarlah Waktu Tak Bisa Diputar Ulang


Di depan puluhan santri dalam sebuah workshop jurnalistik di Semarang Timur, Minggu (7/9), saya disadarkan tentang satu hal: anak-anak jaman sekarang lebih gurih mengunyah fasilitas.

Seorang remaja putri, mengaku bernama Dela, bertanya: “Mas Arief, saya mau tanya, keahlian khusus apa saja yang harus dimiliki calon wartawan?”

Dengan semangat puasa, saya langsung menjawab: “Nggak ada keahlian khusus, kecuali nggak punya malu.” Ia tampak bengong. Saya segera menimpalinya untuk menandaskan, “Keahlian khusus yang kamu maksud itu ialah nggak punya malu, jangan pernah malu, alias bertebal muka.” Lalu sontak mereka terbahak-bahak.

Ya, wartawan tak boleh introvert lantaran mereka harus menyeruak ke percakapan-percakapan, bertemu dengan orang-orang, dan harus mengorek komentar dari narasumber.

Pada masa kini, rasa-rasanya rasa malu itu nyaris sirna. Para remaja tak pernah segan-segan memakai kaus kelihatan pusar, mengalungkan ponsel di leher, bahkan menyemir rambutnya dengan cat yang warnanya sulit ditebak karena campur baur dan tumpang tindih. Beberapa di antara mereka duduk di kafe dengan laptop hotspot, sesekali telepon dengan nada ‘ember’, dan membuat dunia seolah sempit dan ‘hanya milik mereka’.

Itu sebabnya tak ada alasan bagi generasi mutakhir untuk malu tatkala ia harus mewawancarai seseorang pada saat mereka telah menyandang baju wartawan. Ini berbeda dengan awal 90-an, ketika seorang wartawan freelance seperti saya harus menginterview Rano Karno di GOR Simpanglima (almarahum), yang kini berubah menjadi Mal Citraland.

Saat sudah beradu muka dengan Rano, lidah saya kelu. Saya tak tahu harus ngomong apa, sampai kemudian Rano ‘menolong’ saya dengan bertanya: “Mas mau nanya apa? Hayo, nanya apa saja, nanti saya jawab,” katanya sembari tersenyum tulus (senyum yang belakangan justru sangat akrab dengan saya sejak saya bekerja di Tabloid BOLA – 1996-2002 – dan Rano menjadi kolumnis Piala Dunia, Piala Eropa, atau even-even sepakbola lain di BOLA).

***

Anak-anak jaman sekarang tak pernah dibelit kesulitan sarana. Dulu, saya mengirim naskah berita ke Jakarta (saat bekerja di BOLA) dengan faksimil. Lalu beranjak lebih modern dengan modem (dengan kapasitas minim, sehingga mengirim satu file bisa lebih dari 5 menit). Mengetik tulisan bukan dengan komputer, tetapi mesin ketik konvensional yang suara tak-tok-nya membangunkan tetangga.

Awal-awal menjadi jurnalis tak pernah saya naik sepeda motor, sebab memang tidak punya. Kesana-kemari saya menunggang ompreng, sehingga baju atau kaus sudah sangat kusut ketika saya sampai di depan narasumber.

Untuk mencetak foto, saya mengutang dulu dari kawan, kemudian saya ganti ketika honor tiba. Era digital seperti saat ini membuat saya sangat iri. Pada 1990-1997, pemotretan harus memakai film, dan harganya cukup mahal untuk ukuran saya yang memang pas-pasan. Yang membuat jengkel, jika kebutuhan foto hanya 2-3 frame, film harus dipotong di kamar gelap, dan pemotongan itu mengorbankan tak kurang 5 frame. Begitu seterusnya, sampai tiba-tiba saya sadar film saya sudah habis, sementara esoknya saya musti memotret lagi, alias saya wajib berbelanja film lagi.

Toh jaman tak bisa diputar ulang. Selagi anak-anak jaman sekarang menikmati fasilitas, generasi tua macam saya tak mau kalah. Kalau mereka bisa bangga dengan internet yang membuka jendela dunia, saya malah sudah berada di beberapa langkah di depan mereka.

Kalau anak-anak sekolahan membuat friendster, maka saya sudah mampu mengutak-atik html blog/web. Laptop saya lebih garang dalam urusan spec karena Core 2 Duo, dan jauh lebih maju ketimbang beberapa remaja yang saya lirik masih memakai centrino, bahkan Pentium M.

Saya bisa mengutak-atik Photoshop, atau Corel, atau PowerPoint. Kemajuan karena otodidak dan cukup membuat saya bangga karena beberapa kali justru saya dimintai tolong meracik foto dengan Photoshop oleh sejumlah ABG anak tetangga.

Menyangkut ketertinggalan yang pernah saya enyam tatkala remaja, saya berjanji kelak anak-anak saya adalah orang-orang hebat yang amat dibutuhkan bangsa dan negara, dengan kemampuan maksimal dan membanggakan. Anak-anak yang taat beragama dan berbhakti pada orangtua!

5 Sep 2008

Wahai Setan, Mari Kita Berkelahi!


Puasa selalu menyuguhkan keindahan tersendiri. Bukan es blewah atau bergelas-gelas kolak semata. Bukan seni menunggu bedug maghrib belaka. Melainkan kehadiran kumparan tradisi yang setiap tahun datang dengan menggendong corak dan warna yang berubah, tapi dengan aroma yang sama.

Jam 3.00 bangun, atau dibangunkan. Lalu dengan mata sembab meneliti televisi, memilih stasiun mana paling lucu. Kemudian kita biarkan televisi menyala karena ada segelas teh mengepul di meja. Kita menyeruputnya seraya mencari-cari sesuatu di lemari atau ujung dapur. Jika pun adanya cuma telor asin dan sayur sisa tadi malam, bukanlah masalah, karena esensi sahur adalah mengisi perut untuk perjuangan pagi hingga petang hari.

Setelah tafakur subuh, hari pun membentang. Ada matahari nyalang yang menggoda iman, ada warung yang dikuak pintunya, ada perempuan setengah telanjang bertebar di jalanan. Di situ, ada setan pula yang mendengus dan menari-nari.

Seberapa hebat kita membangun bendungan? Seberapa dahsyat kita membentengi napsu untuk sekadar menjangkau gelas cingcau? Masih adakah pilar yang menyangga hasrat kita untuk kalem dan tak bergejolak? Masih adakah kunci yang menggerendel napsu kita untuk tak berkelana di tubuh perempuan yang menguarkan bau setan di jalanan?

Puasa adalah seni yang mengatur kita untuk terus menari dan berlari, biarpun ada beribu kalajengking dan syahwat. Puasa pula yang membuat kita terus berada dalam sekam karena masakan padang, soto kudus, es teler, bakso, sop buntut, dan segala setan yang beranak pinak di segenap ruang dan waktu begitu menggoda. Puasa begitu indah karena saat bedug buka puasa tiba kita menemukan titik finish usai seharian kita berlarian.

Alhamdulillah, hingga hari ini, saya telah sukses menghajar ribuan setan yang mencoba menghalang-halangi laju lari saya menuju finish itu!