Search

8 Apr 2009

DANIEL MAHENDRA


APALAH arti DM? Ia tak ubahnya pria dengan sorot mata niyaga, penabuh gamelan. Tetapi, dua hari ini ia datang dalam setiap kerjap mata saya.

Saya tak yakin ia membaca mantera-mantera ketika sekonyong-konyong datang dengan peluh di pelipis, memanggul ransel, dan menguarkan senyum setipis kertas. Di tengah hiruk pikuk rindu bertalu diantara mereka, saya merokok di pojok. Menggumamkan kesendirian lantaran belum mengenal mereka, kecuali Mas Goenoeng dan Hesra.

Lalu ada tatapan malu, di pendopo itu, maupun ketika kami berada di rumah Bu Dyah Suminar. Tatapan yang seragam dengan saya, bedanya ia empu, saya manusia biasa. Toh, rasanya, ada kesamaan diantara kami dalam mencecap rasa dan memandang dunia.

DM lebih banyak diam. Ia hanya menimpali kami tatkala ada hal-hal lucu saja. Di mata Mas Goen, ia amat masyhur, terutama dalam menganyam kata. Sejauh itu saya belum membuktikannya lantaran DM lebih saya nilai sebagai pria dengan naluri bapak yang kuat ketika memeluk Riku, atau saat menuang minuman.

Malam begitu sunyi di vila itu, meski beranda buncah dengan kata dan tawa. Kemudian ada kelelawar melayang, dan perlu bagi kami mengusirnya karena ia mengusik kenyamanan. Malam lantas berderap, mengayuh titik-titik embun hingga fajar tiba dengan sangat lelah.

Kantuk merajalela ketika pagi meradang. Itu mengapa ada benang menghalangi pandang, ada ranting-ranting patah di kepala. Saya mabuk. Saya mengomel untuk hal-hal absurd, dan sangat ingin memangkas rembulan. Celakanya, ada DM dalam pendakian kata-kata ketus saya.

Dua hari lalu, saya menerobos maya, mengamat-amati ada apa dengan saya, di mana saya menyimpan sampah yang mengapungkan bau tak sedap di dada. Lantas saya memasuki blog Daniel Mahendra.

Saya kesurupan. Saya menaiki kuda dalam aura kolosal, dengan tameng dan tombak di tangan. Saya berderak mengikuti roda kereta, berdiri terpatri di Majapahit dan Trowulan. Saya mengembara dalam dimensi berbeda, jauh dari apa dan siapa saya karena sesungguhnya saya adalah penyendiri dengan sejuta kata.

Ada hal lain dari Daniel Mahendra di luar sorot matanya yang niyaga serta naluri kebapakannya ...

13 komentar:

Emiko mengatakan...

wow,
hebat juga menilai seorang DM
barus ekali ini saya membaca penilaian ttg org lain di blog dengan kata-kata yang demikian indah.

EM

yessy muchtar mengatakan...

tsahhhhh ;)

udah itu aja mas ..heheheh

blue mengatakan...

saya kok ndak bisa buka blognya DM yah, bang.

Sekar Lawu mengatakan...

Saya kira DM itu nama fam saya, DjojoMartono yang sering diplesetkan oleh para sepupu saya sebagai DM (diabetes melittus), karena kebetulan 14 dari 14 putra-putri Eyang Dm ini meninggalnya karena kencing manis....jebulnya DM disini Daniel Mahendra ta ...?

dyahsuminar mengatakan...

weees....elok tenan....yang jadi topik tulisan mas DM ya..
Hmmm....tak ingat ingat...iya ..iya betul,tenang,sedikit bicara,itulah mas DM..
Eh...bajunya jadi sempit lho,karena mas Arief menulis dengan indahnya tentang mas DM....

Anonim mengatakan...

ah, dem. blognya expired. om daniel ini apa lupa tanggal due-nya ya?
senasib ama aku, om!

*hi5*

lintang mengatakan...

melihat penilaian yang seperti itu aku jadi penasaran pingin masuk ke blog DM..

ernut mengatakan...

itu tangan mas DM?

goenoeng mengatakan...

DM ? Daniel Mahendra ?
siapa ta ? :)

goresan pena mengatakan...

hem... ga tau mau koment apa mas... tulis gini aja yah..? he..

DM mengatakan...

Haih?!
Oalah, Mas Arif... Mas Arif...
Kok jadi tulisan begini tho?
Huehehehe...
Ini berlebih-lebihan, Mas. Hahaha!
Ngakak aku mocone.

Tapi satu hal yang nggak kunafikan, Mas, rawianmu sangat indah. Ngelangut aku membacanya.

Suwun lho, Mas. Jaga kesehatan selalu.

Lala mengatakan...

Ada yang lain?
Apa yang lain?
(Nunggu gosip) hehe

genthokelir mengatakan...

aku rindu rengkuhan seorang bapak namun bukan mas DM hahahahaa