Search

Memuat...

31 Jul 2008

Terkapar


Mengapa begitu sulit bersenggama dengan awan? Telah kuhalau kokok ayam, gonggong anjing, riuh nyamuk, dan segala sesap penat, tetapi tak juga muncul kata-kata.


Jam telah menukik ke sudut subuh. Rokok saling bertindih dengan tembakau yang raib menjadi asap di kubang asbak. Dimana kau sembunyikan secawan kopi? Kemana sapu terbang tatkala aku membutuhkan?


Otakku berhamburan di meja, di beranda, di jendela, di kabel telepon, di lampu merkuri. Benakku berkelana dan tak mampu mengeja. Kepalaku larut dalam air keruh selokan. Jiwaku melayang-layang dihempas dan dijilat setan.


Mengapa begitu susah mendaki pelana? Telah kubeli kuda paling troya, menyembelih beruang kutub dan rusa, tetapi layar komputer seperti bilik kulkas yang membeku, seperti penari perut yang meliuk dengan pusar menganga namun susah dijamah.


Malam telah rebah. Pagi datang dengan gersang. Otakku mampat dan tersumbat. Jiwaku piatu dan tak jelas apa yang tengah kutunggu ...

28 Jul 2008

Dorce Gamalama


Dorce Gamalama mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian kita. Tetapi saya menyimak “Sang Bunda” dengan kacamata bening. Bukan melulu lantaran saya begitu kesal karena sesuatu hal tak bisa menyaksikannya dalam “Dorce Show” dan "Dorce Jalan-jalan” – keduanya ditayangkan TransTV – yang rutin bikin saya ngakak kencang karena joke-jokenya cerdas, melainkan karena ia adalah makhluk langka di negeri ini.


Langka karena ia multi talenta. Dalam dirinya bersemayam beragam bakat – dari presenter, menyanyi, hingga akting (ia pernah bermain di dua film, Dorce Sok Akrab dan Dorce Ketemu Jodoh) – yang membungkusnya dalam satu kubus berlian, menyalip kenyataan pahit bahwa ia sesungguhnya dilahirkan sebagai pria sebelum ia berganti kelamin menjadi wanita, pada 1983 oleh sentuhan Dokter Djohansyah Marzuki SpBP, di Surabaya.


Menyaksikan gerak bibir dan langkah kakinya, aurta seakan dibius lokal untuk terus mengangakan mulut menerima rangsangan yang bertubi-tubi. Ia tak sungkan turun ke meja-meja tamu untuk totalitasnya sebagai penghibur sejati. Ia melakukan cubitan nakal (yang tak terasa pedih) kala ‘menggarap’ bintang tamunya di “Dorce Show”. Di hadapan ibu-ibu pengunjung acara itu, tak jarang ia melakukan ‘rayuan’ kecil terhadap bintang tamu ganteng, sekadar menandaskan bahwa dirinya perempuan sejati, bukan banci yang terbungkus kebaya namun (maaf) alat kelaminnya masih pria!


Dorce satu diantara segelintir saja daftar penghibur di Indonesia yang antikemunafikan. Ia blak-blakan dan bloko suto, mengutarakan apa yang mengendap dalam bilik hatinya tanpa sekat. Ia ‘ngaco’ tapi jujur. Ia ‘ngoceh’ namun mulutnya berjalan berarak dengan hati. Dorce bisa tiba-tiba menjadi manusia paling gokil, bisa pula mendadak menjadi ustadzah.


Dalam jiwanya tertanam masa silam yang kelam, lalu kini menyerbuki tanah tandus dengan semerbak wangi bunga. Tahun 1973 tak ada yang meliriknya dengan nanar. Ia cuma waria sepah dalam kelompok Fantastic Dolls yang terkadang laku, terkadang tidak. Namanya sempat berkelebat di TVRI untuk acara-acara yang menyuguhkan aksi wadam. Aksi yang sesaat menghibur, tetapi esoknya dilupakan.


Wewangian yang melahirkan aroma bunga sedap malam dan tak terbantah. Dorce yang cantik menjadi kian ranum dengan keluhuran hati yang melumuri. Ia mendirikan Yayasan Dorce Halimatussa’diyah 1963 di Jl. Raya jatibening Estate No. 118 Rt.002/001, Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, sebuah yayasan yang bergerak di wilayah pendidikan tingkat dasar untuk mencetak manusia-manusia bermental baja.


Menyaksikan Dorce ultang tahun ke-45, 21 Juli lalu di Masjid Al-Hayyu, Bambu Apus, Jakarta Timur yang dihadiri orang-orang beken macam Gus Dur dan istri, Rhoma Irama, Cici Paramida, Dewi Yull, dan Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen Tri Tamtono, pupil mata saya sembab oleh keterharuan yang teramat sangat. Panjang umur dan terus mengabdi, Mbak.

25 Jul 2008

Memunguti Inspirasi dari Kepedihan Hati


Duka nestapa kadangkala lebih dahsyat ketimbang anabolic steroid. Eric Clapton melahirkan lagu Tears in Heaven beberapa jam setelah Conor, anaknya yang baru berumur 4,5 tahun, tewas karena terjatuh dari jendela lantai 53 sebuah apartemen di New York, ke atap bangunan berlantai 4 di sebelahnya pada 1991.


Dave Mustaine, gitaris merangkap vokalis Megadeth menulis lagu In My Darkest Hour di album So Far, So Good... So What! (1988) guna mengenang sahabatnya Cliff Burton, bassis kelompok Metallica yang tewas karena kecelakaan bus yang tergelincir akibat jalanan bersalju dekat kota Ljungby, Swedia saat Metallica mengadakan tur ke Eropa tahun 1986.


Yok Koeswoyo, bassis Koes Plus, membuat lagu berjudul Maria untuk mengenang mendiang istrinya yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalulintas. Yok selamat, namun istrinya meregang nyawa. Ironisnya, suami istri itu sedang bertengkar saat kecelakaan terjadi (perhatikan lirik "senja itu aku pergi bersamamu, tiada senyuman kau berikan padaku").


Bebi Romeo mengukir lagu Bunga Terakhir yang kord-nya sangat berat itu ketika ia ditinggalkan kekasih hati, Meisya Siregar. Tak tahunya, beberapa waktu silam Meisya malah kembali ke dekapan Bebi dengan status janda.


Kepedihan tak jarang adalah butiran mutiara. Sakit hati, ngilu di dada, rasa sedih berkepanjangan, seringkali menitiskan inspirasi. Mas Handry TM, cerpenis/novelis Semarang, pernah mengungkap rahasia mengapa ia kerapkali memenangi sayembara novel, cerpen, maupun penulisan skenario.


“Saya kaya inspirasi ketika sedang miskin uang. Tiap kali kere, saya malah menang lomba. Tatkala mengetik naskah untuk lomba tersebut, yang terpikir dalam benak adalah bagaimana saya segera bisa membayar utang-utang,” ujar mantan wartawan Suara Merdeka ini kepada saya di sebuah siang yang padat dalam kafe Excelso Citraland Mall Semarang, beberapa hari setelah skenarionya dinobatkan menjadi juara 1 oleh Departemen Pariwisata, penyelenggaranya. Untuk gelar itu, Mas Handry dihadiahi 30-an juta, yang setelah dipangkas-pangkas untuk melunasi utang, sisanya tinggal sekitar Rp 2 juta.


Menikmati kegelisahan dan menjadikannya cambuk alami bagi proses kreatif, bukan pekerjaan gampang lantaran membutuhkan sikap batin yang kuat. Apakah saya termasuk yang punya pertahanan kuat ketika jiwa sedang gundah gulana padahal saya sedang mengikuti lomba penulisan novel sekarang ini? Entahlah ...

21 Jul 2008

Yang Kaya Makin Kaya


Menyimak berita televisi belakangan ini miris rasanya hati. Segenap stasiun mengabarkan tentang ketimpangan. Sesi pertama seluruhnya memberitakan angka-angka mencengangkan tentang sogokan Rp 6,6 miliar dari Artalyta Suryani ke jaksa Urip Tri Gunawan, sesi berikutnya memberitakan masalah kekeringan. Ratusan warga Tasikmalaya ramai-ramai menenteng jeriken, menuju mata air di sebuah sawah yang berjarak 3 kilometer dari rumah, demi mandi, minum, dan menanak nasi.

Saya tak mengungkit kebijakan stasiun televisi perihal sesi-sesi lara dan nestapa yang ditaruh secara ‘bertetangga’ – meski kepiluan lain juga diusung di trap berikutnya penyuguhan berita, umpama soal mutilasi terhadap Aril Somba Sitanggang oleh Ryan, sesama homoseksual, yang menambah-nambah kepedihan hati – lantaran keredaksian TV punya pertimbangan news value yang rancak sesuai pakem masing-masing jurnalisme televisi.

Yang membuat ngilu, negeri ini seolah sedang berada dalam pusingan angin yang membanting-banting kaum papa dengan debum yang amat menyakitkan. Di jajaran elite dan berduit, uang seolah kertas tak berharga yang begitu mudah dilempar ke keranjang sampah. Di dunia duafa, seseorang perlu menjilati nasi basi untuk sekadar memperoleh 10 ribu rupiah.

Memang benar KPK gesit menyikat koruptor. Tetapi yang terkuak kemudian adalah munculnya semacam presentasi massal bahwa negara yang pernah dijajah Jepang dan Belanda ini keropos luar dalam, bahkan barangkali seperti dijilati belatung yang beranak pinak di sekujur tubuh Bumi Pertiwi.

Seorang kawan pernah menyebutkan, Indonesia bukanlah negara merdeka. “Kita masih dijajah oleh kapitalisme yang mendorong semua orang ingin mendapatkan duit besar, kendatipun melalui cara-cara yang bengis dan tanpa malu-malu,” begitu ucapnya.

Kesempatan memang seolah tersodor di depan mata, jika siapapun di negara ini memperoleh jalannya. Nyaris tak ada beda antara preman yang mengompas pedagang sayur di ujung pasar, dengan pria-pria (belakangan juga wanita) berparas licin dan lehernya digantungi dasi. Seluruh akses menuju “menjadi pekerja” perlu dilalui dengan pelicin. Sampai-sampai menjadi portir sebuah bandara pun seseorang harus mengeluarkan belasan juta rupiah untuk mempermudah.

Haji Oma Irama dalam album Soneta 11 pernah menciptakan lagu Indonesia. Penggalan liriknya sebagai berikut:

Seluruh harta kekayaan negara hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya. Namun hatiku selalu bertanya-tanya mengapa kehidupan tidak merata.

Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin


16 Jul 2008

Payudara Julia

SAYA kehilangan momen penting, tadi malam, gara-gara Julia Perez. Perempuan yang gemar menaruh payudara seolah-olah tak betah dalam tempurung kutangnya ini nongol di acara “Empat Mata” Trans7. Padahal “Empat Mata” itu tontonan favorit saya sebelum mengarungi alam mimpi.

Topik pembahasan “Empat Mata” tadi malam memang dangdut. Ada Thomas Jorgi, Dhawiya (putri bungsu Elvy Sukaesih), pedangdut cantik Chintya Sari, serta seorang bule asal Jerman yang, katanya, penggila dangdut.

Julia -- saya lebih suka memanggilnya “Julia” ketimbang “Jupe” yang terkesan ikut mempromosikannya secara gratis – tak seharusnya berada di kursi “Empat Mata” malam tadi, jika pembahasan mengalir cerdas dan tak sekadar memberi ruang kepada payudara mengintip yang kemungkinan besar disaksikan pula oleh anak-anak SMP yang mulai dirasuki pubertas.

Namun sebaliknya, ia diperlukan juga untuk duduk di depan Tukul kalau bakal muncul pertanyaan-pertanyaan menukik dari “Tya”, orang di balik layar “Empat Mata”. Nah, yang terjadi memang ini. Tukul mendadak memunculkan pertanyaan tentang citra dangdut agar 'musik rombeng dan kampungan' ini menjadi wibawa di negeri sendiri.

Saat Dhawiya menjawab bahwa salah satu kewibawaan dangdut tertumpu kepada para pelakunya agar tak sembrono dan seronok saat menyanyi, celakanya komentar Dhawiya itu ditanggapi Julia dengan tawa cengengesan sembari menggoyang tubuh, seperti belatung yang sedang menjilati bangkai sapi!

Julia boleh sangat percaya diri malam tadi karena “Empat Mata” episode ini 'dicukongi' beberapa iklan yang melibatkan senyum keringnya itu, tetapi ia lupa, dengan menjadi bintang tamu untuk sebuah topik yang masih amat rentan untuk digasak FPI, seharusnya ia tertib memperlakukan susu. Dengan tubuh yang sama sekali tak indah, ditopang cara tertawa yang jauh dari standar kelayakan wanita cantik, struktur payudara yang menjadi kebanggaannya itu justru sama sekali tak membuat pria terus menerus setia mengaguminya, namun justru berbalik menjadi eneg dan mual-mual!

Untuk sisi ini, saya mengangkat topi untuk Chintya Sari dan Dhawiya yang cerdas dan bermutu untuk acara dengan rating tinggi macam “Empat Mata”. Chintya, pedangdut dengan senyum santun dan goyang ala kadarnya ini, adalah sarjana komunikasi dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

Sementara Dhawiya – meski bawel dan ceplas-ceplos – namun tadi malam membawa harkat dan martabat dangdut agar selalu tak dianggap comberan. Mbak Elvy pantas bangga melahirkannya.

Saya mengatakan Julia Perez comberan? Mungkin saja, karena tampaknya ia tak memiliki satu pun potensi untuk berkembang dan memberi inspirasi kepada dunia luas dari jagat seni, kecuali payudara yang sangat ia banggakan itu ...

11 Jul 2008

Lagu yang Membawa Saya ke Masa Lalu


BUNGA Citra Lestari dan NAFF punya saingan. Di “lumbung lagu” laptop saya kini tertera pula sejumlah judul lagu jadul tapi justru lebih merangsang.


Coba ini: Sanggupkah Aku (alhamrhum Andy Liany), Nona-nona (Gito Rollies), Kartika (Ahmad Albar-Gito Rollies), Dirimu (Gank Pegangsaan), Tentang Aku (Jingga), Satu Kata (Hari Moekti/Adegan), Rinduku Adinda (Protonema), Kamu Cuma Kamu (Modulus Band).


Tembang lawas dan langka. Lagu-lagu 80-an saat saya mulai akhil baliq. Suara-suara masa lalu yang mengingatkan saya pada dusun dan kampung, plus debu tanah merah yang ditingkahi gemulai pohon bambu.


Masing-masing lagu yang saya sebut itu menggendong seribu kenangan, yang jika saya ungkap di sini rasanya tak muat. Satu hal yang seragam: tembang-tembang tadi telanjur meresap menyusuri setiap kelenjar darah saya. Memutarnya ulang, barusan saja, saya seolah menaiki kuda terbang, menengok masa silam yang diliputi cinta remaja. Cinta monyet yang pantas dihela untuk menghantam masa kini yang pelik dengan problema.


Lagu-lagu yang saya tera di atas itu sebagian besar disumbang oleh kawan. Dari Jakarta, saya mendapat kiriman dari Mas Arief Burhan. Dari kantor, saya sibuk mendapat berondongan sharring dari Thomas Joko, fotografer saya yang rajin mengopi tembang dari You Tube.


Kualitas lagu-lagu ini memang selevel You Tube yang tidak nge-bass. Tapi itu bukan masalah, sebab saya tetap saja bisa menikmati dengan kaki yang menghentak-hentak lantai.

9 Jul 2008

Lagu Jadul Lebih Megah


Di kelompok “jadul”, saya bersyukur punya Mas Arief Burhanudin. Orang Semarang yang bekerja di Indomedia Group ini sikapnya mirip saya dalam berondongan banjir alternatif musik masa kini: tak mudah terpengaruh oleh gemerlap palsu penyanyi-penyanyi baru.


Kemarin, misalnya, ia membantu blusukan ke mailing list dan seabrek situs yang memuat lagu-lagu 80-an, saat saya utarakan padanya mengenai keinginan saya memiliki lagu-lagunya Harry Rusli plus DKSB-nya itu.


Meski hasilnya kurang maksimal karena lagu-lagu hits Kang Harry sudah jarang beredar – bahkan di internet sekalipun – namun ada satu kesamaan dalam menyikapi blantika musik.


“Penyanyi jaman dulu itu pakai soul, Mas, sedangkan yang sekarang cuma menuruti tuntutan industri,” ujarnya. Saya mengangguk sepenuh hati.


Lalu kami bercakap tentang Andi Meriem, Fariz, Ikang Fawzi, God Bless, Jingga, Harry Mukti, Adegan, Ian Antono, Nicky Astria, bahkan sampai Basiyo, pelawak legendaris yang barangkali tak dikenali oleh generasi kini.


Andi Meriem, atau Ebiet, atau Franky Sahilatua, Iwan Fals dan sebagainya, menyanyikan tembang dengan penuh kesungguhan, penuh makna, penuh penjiwaan. Labels major juga belum sebanyak sekarang. Dulu, Musica Record adalah pemain tunggal meski ada beberapa mayor label lain yang mencoba menguntit.


Para penyanyi lawas itu juga dibekali bakat alam. Simak suara Broery Pesolima, Utha Likumahuwa, Harvey Malaiholo, Sundari Sukotjo, Keenan Nasution, Mus Mujiono, Dian PP-Dedy Dukun, Trie Utami, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, Rafika Duri, Fariz RM, Rita Effendi, Agus Wisman, Atik CB, Ermy Kulit, January Christy, hingga Indra Lesmana.


Suara-suara mereka megah tanpa sentuhan mixer. Suara-suara yang kelasnya festival dan bukan asal. Suara-suara yang telah dimasak oleh perut-tenggorokan dan bukan karbitan. Suara yang asli dan tak dikebiri.


Mendengar Andi Meriem melantunkan Bimbang, Rela, Lenggang Lenggok Jakarta, atau Pasrah, jantung serasa diajak berlarian ke wilayah penuh bunga. Menyimak Harvey menyanyikan Dara atau Seandainya Selalu Satu, dada dipenuhi kilau nirwana. Memutar kaset Dian PP dan Vina, hati ini diselipi asmara dan cinta.


Pada masa kini, tatkala musik sudah dikangkangi komoditi, kita seolah langsung dihadapkan pada para penyanyi yang semuanya bersuara bagus, dengan tata musik yang seakan seragam. Gelontoran grup band nyaris tak terkendali, sebab setiap tahun lahir begitu banyak kelompok. Sedikit saja di tengah mereka benar-benar punya ciri khas sebab mereka membangun aransemen yang sama, tanpa menafikan beberapa grup yang punya karakter kuat macam GIGI, Slank, Letto, atau Cokelat.


Vokalis bersuara bagus bisa saja segera diciptakan dari sosok yang antah berantah lantaran kini ada banyak peralatan guna mendongkrak. Mixer merupakan piranti sulap paling ampuh untuk memperkenyal vibrasi penyanyi supaya tampak keren. Padahal, aslinya kapasitas mereka pas-pasan.


Industri musik tak ubahnya penerbitan buku. Setiap label mayor mencantumkan target sekian kaset saban tahun, sebagaimana penerbit yang dikejar-kejar keharusan menerbitkan buku agar tetap eksis, biarpun buku-buku tersebut pada akhirnya hanya teronggok di rak toko!


Itu mengapa sebuah grup musik yang diwawancarai oleh Tukul dalam “Empat Mata”, Selasa (8/7) lalu terpeleset omong dengan mengatakan bahwa bagi mereka bukan masalah jika CD-nya dibajak orang. “Pembajakan malah menguntungkan kami karena ada promosi gratis,” ucapnya.


“Promosi murah” ini tentu kaitannya dengan daya penetrasi pasar untuk lebih lekas mengenalkan lagu-lagu kelompok musik tertentu, lantaran target mereka untuk BEP bukan dari penjualan CD/kaset, melainkan meraup keuntungan lewat konser atau menjadi bintang iklan!


Saya merasa bersyukur punya kawan macam Mas Arief Burhanudin itu.

8 Jul 2008

Melawan Setan


SAYA biasanya tergeragap bukan oleh azan subuh. Umumnya saya terbangun oleh hiruk pikuk penjual air yang diangkut Super Carry bak terbuka, atau penjual sayur dan ikan asin. Tapi, tadi, suara Nasyuha – pelantun azan di masjid sebelah kantor – menyentak gendang telinga saya sehingga saya segera bangkit dari rebah lebih lambat ketimbang biasanya.


Alunan paling syahdu sepanjang saya menginap di kantor. Keindahan yang menguntit sejak saya tidur tengah malam. Rasa nyaman yang dibawa oleh arwah Ibu yang tadi malam hadir. Kehadiran yang tak disangka-sangka, dan selalu bersamaan ketika jiwa saya gundah.


Dalam mimpi, Ibu melarung saya ke ‘rumah’-nya di surga, mengajak anak sulungnya ini meniti pucuk-pucuk bambu, menggamit sepoi angin yang menyelinap dalam setiap aorta darah saya.


“Mengapa, nak, mengapa wajahmu pucat?” Ucap Ibu di sela lentik jari tangannya yang mengusap dengan seksama rambut saya.


“Hidup ternyata cuma petak umpet, Bu. Dimana-mana orang saling pura-pura, saling tikam dan mencederai. Kejujuran adalah sesuatu yang langka. Kebohongan menari-nari di depan mata, kebusukan mengelilingiku tanpa belas kasihan. Aku telah dijilati setan dengan segala pengaruh iblisnya.”


“Setan itu adalah dirimu sendiri, nak. Cobalah memperkokoh sisi putih hatimu agar sisi gelap tak bersemayam di sana.”


“Tapi aku tak tahan lagi, Bu.”


“Kau tak boleh kalah perang, anakku! Kibaskan jiwamu seperti samudera menghajar karang dengan gelombangnya.” Ucapnya saat perpisahan seraya membisikkan sesuatu pada saya tentang sebuah rahasia. Rahasia yang bakal terus saya simpan dalam relung paling dalam hingga ajal tiba.


Karang, bebatuan, kerikil, gelombang samudera, badai, angin topan, gempa dan bujuk goda setan alas roban, mari bertarung dengan saya!!!

7 Jul 2008

Dibekukan Cinta


SEMALAM saya tiba-tiba pikun. Rasa pusing menari-nari di TV, layar laptop, dan tembok kamar.


Subuh saya bangun. Shalat seperti biasa di masjid sebelah rumah. Tetapi shalat yang dibuntuti ngilu karena semalaman berkeliaran monster di mimpi saya, disamping kebetulan ada serbuan ratusan nyamuk yang entah muncul dari mana.


Perih yang stadiumnya sama dengan tunas salak dicerabut dengan paksa. Mungkin seperti orok yang dikeluarkan tanpa iba sebelum waktunya lahir.


Tahun 1994 saya resign dari Mingguan Bahari (sekarang Mingguan Inspirasi) Semarang. Tahun 2002 saya hengkang dari Tabloid BOLA Jakarta. Tahun 2004 saya meninggalkan Harian Merapi dan Tabloid OnAir, keduanya di Yogya. Tahun 2006 saya keluar dari Harian Radar Semarang (Grup Jawa Pos).


Tetapi tidak sesedih ini saya angkat koper. Resign dari Bahari karena saya diterima di BOLA. Keluar dari BOLA karena saya memilih bekerja di Semarang (atau setidaknya Jawa Tengah) karena saya bukan tipe ‘tukang ojek’ yang kerasan bertahan di ibukota dengan seabrek permasalahan. Mengundurkan diri dari Merapi dan OnAir disebabkan saya tak kerasan hidup di Yogya, meski di OnAir saya sudah menjadi pemimpin redaksi.


Hengkang dari lingkungan Jawa Pos juga atas pertimbangan matang, yakni saya merasa berhak menentukan hidup, terlebih saat itu saya merasa mendapat ‘rumah’ yang lebih indah di Tabloid Bolamania.


Namun, kini, tatkala Bolamania ancang-ancang hendak dibekukan, saya seolah terjatuh dengan keras dari lantai sebelas. Rasa sakitnya melebihi calon pengantin yang urung dinikahkan dengan gadis pujaan, padahal resepsinya besok pagi.


Rasa cinta menyalip segala hal yang pernah saya rasakan. Cinta membuat saya hidup dan mencecap keindahan. Cinta menempati bilik paling rahasia di hati saya dan terus saya pelihara. Cinta membimbing saya untuk menyayangi profesi ini sehingga kuat bertahan selama 17 tahun menjadi wartawan, dan sama sekali tak ingin menjadi juragan sapi atau membuka toko. Cinta adalah serpihan-serpihan spirit yang membuat saya selalu berangkat ke kantor (Bolamania) jam 7 pagi, dan pulang tidak menentu. Cinta membuat saya dianggap gila karena rela menerima gaji sama dengan para wartawan saya ...


Cinta itu kini retak dan saya patah hati ...

4 Jul 2008

Titanic


MEMBANGUN kapal diperlukan pemikiran mendalam mengenai keseimbangan bagian haluan dan buritan. Bagaimana sistem hidrolik yang sempurna di kemudinya, konsep pembuangan air, akurasi kompas, kekuatan jangkar dan kipas pendorong, dan seterusnya.


Kapal Titanic sudah memenuhi syarat itu. Ia memiliki kecepatan yang tak bisa dibayangkan pada masanya. Interior pun dibentuk sedemikian rupa sehingga siapapun di dalamnya merasa seperti di surga.


Persoalannya, pendiri kapal ini tak pernah memikirkan kekuatan lain yang sewaktu-waktu mampu memporak-porandakan teknologi, yakni kekuatan Tuhan. Mereka pongah dan menyombongkan diri. Mereka tidak fokus pada hal-hal penting (meski tampaknya remeh), sehingga melalaikan tugas-tugasnya untuk memelihara. Mereka mendirikan kapal dengan hanya membawa konsep "yang penting jalan dulu", soal lain-lain "nanti kita pikir sambil jalan".


Mereka lupa bahwa rumahtangga harus diraba dengan cinta, didorong turbin kasih sayang, disengat semangat malaikat.


Titanic pun menghantam karang, pecah berantakan, dan remuk redam, lalu karam. Kapal yang malang, kapal yang tergradasi ambisi pribadi, kapal yang dibangun bukan dengan kesadaran bakal timbulnya celaka karena hanya dikonsepi perhitungan angka-angka.


Saat ini, saya tengah menumpang kapal Titanic itu ...

3 Jul 2008

Gempa Bumi di Hati Sumari


WAJAH yang diguyur garis-garis keriput cokelat. Pupil mata perempuan mungil ini diliputi lara. Dari balik kerudung hitam, ia menerawang ke jalanan dengan sejuta pertanyaan: kapan semua ini berakhir? Kapan Tuhan memanggil untuk menyusul suami dan anak saya?


Hari-hari yang lebam. Perempuan ini mengais rejeki dengan mengundang orang untuk memahami nasibnya yang malang. Ia tak butuh iba, tetapi tak ada lagi yang bisa ia lakukan di usia 55.


“Seribu dua ribu mungkin bisa menyambung hidup saya. Saya tak mau dianggap pengemis. Ini saya lakukan semata karena saya tak punya apa-apa lagi. Saya tidur di terminal, halte, emperan toko, dan ruang tunggu rumah sakit. Di rumah sakit tak ada yang mengusir karena saya seakan sedang menunggui famili yang tengah mondok,” tutur Sumari, nama perempuan ini, di halte Kerten, Solo, suatu pagi, dengan lirih.


Saya menyodorinya dua kotak minuman kardus, rasa kacang hijau dan susu. Ia menolak. “Buat Mas saja. Saya sudah punya air minum di tas itu,” tolaknya seraya menunjuk sebuah tas yang teronggok di kursi halte. Saya melirik. Bukan sebuah tas dalam makna sesungguhnya, tetapi hanya kain kumal yang dilipat menyerupai tas. Tapi saya mendesak. Akhirnya ia menerimanya.


Sumari – ia minta dipanggil Bu Sum saja – mengisahkan ihwal mengapa ia menjadi pengelana. Gempa bumi di Yogya dan sekitarnya, 26 Mei 2006, ‘membunuh’ anak semata wayangnya, sang suami, serta hampir seluruh kerabat.


“Anak dan suami saya mati kejatuhan blandar (rangka kayu rumah, letaknya di atas langit-langit) saat gempa terjadi. Rumah kami remuk. Saya kehilangan orang-orang yang saya cintai, harta benda, dan pengharapan,” paparnya pilu.


Sang anak baru saja menuntaskan pendidikan di STM. “Sebelum gempa ia ikut tes di PLN Bantul, dan diterima. Bulan Juni ia sudah bisa bekerja. Tak tahunya akhir Mei terjadi gempa bumi ... “ air mengembang di sudut matanya. Bergulir perlahan dan mengairi pipi.


Saya menyentuh tangannya. Tapi ia makin tersengal. Saya ingin memeluknya, membawanya berlarian di ladang jagung, memetik semangka dan buah delima ...

2 Jul 2008

Mati Rasa


Bangun tidur tadi saya dihantui ketakutan yang aneh. Saya takut tak bisa marah-marah lagi, tak mampu menyumpah serapah lagi, tak bisa lagi memaki-maki.


Selama bulan Juni, saya sibuk marah. Marah pada perusahaan, pada anak-istri, pada supir angkot, tukang becak, teman-teman, tetangga, bahkan pada cecak yang kurang ajar menjatuhi saya tahi.


Hampir seluruh energi saya muntahkan untuk marah. Di antrean bensin, saya menggedor pintu angkot karena menyerobot. Di warung saya mendamprat mbak berjilbab karena mendahulukan pembeli lain. Di kantor saya nyaris membanting laptop gara-gara koneksi internet naik turun.


Amarah menjadi sahabat dekat. Iblis berdansa di sekitar saya. Setan-setan mengutuk.


Saya berdiri di depan cermin suatu pagi, mencari-cari jati diri. Sebagian wajah saya berlumur darah dengan taring-taring yang sangat runcing. Sebelah mata saya membelalak merah mirip Lucifer, rajanya setan, dengan dua sayap tumbuh di punggung.


Saya mematung di depan kaca, pagi tadi, menelusuri di mana saya berada. Gelombang lautan menabrak saya tiba-tiba. Melontarkan saya ke api yang mengamuk, menjilati hati dan pikiran saya, mengkerutkan tubuh saya menjadi arang, dan kini tinggal bau gosong yang mengepul.


Mendapati saya sedang demam, pagi tadi, saya mendadak mati rasa ...

1 Jul 2008

Seni yang Saya Khianati


Syahir menelepon dari Jakarta, tadi malam. “Mas, ada cerpen islami nggak di harddisk Sampean? Kalau ada nanti kita muat di Khalifah edisi depan. Jangan sampai lewat tanggal 15 (Juni), ya.”


Ada burung walet yang tiba-tiba melintas, membawa serbuk-serbuk kapuk yang berhamburan di angkasa, mirip salju yang turun perlahan dengan syahdu menuruti gravitasi bumi. Saya tergeragap dari tidur. Tidur yang panjang setelah suara seperti Syahir ini mengalun dari Stefanie (Redaktur Fiksi Majalah Aneka Yess) atau Sukrisna (Redaktur Pelaksana Tabloid NOVA).


Saya tengah mengarungi ilalang panjang sejak bekerja di lingkungan Grup Indomedia, mulai November 2006. Ilalang yang tak berujung meski saya naiki kuda troya. Hari-hari silap dan silau oleh dua layar komputer dan laptop, mengalir dalam kesenjangan panjang guna mengabdi kepada sesuatu hal yang, jujur saja, bukan dunia saya.


Beberapa hari lalu saya bertemu Mas Handry TM bersama Mbak Ninik, istrinya, di warnet Citra Media – atau khalayak maya Semarang menyebutnya Cimed – di kawasan riuh Citraland, Semarang. Saya tersudut tatkala ia mengisahkan proses kreatifnya sebelum memenangi lomba penulisan skenario yang digelar Departemen Pariwisata. Saya merasa dicibir dengan sangat nyinyir.


Pembicaraan yang mengalir serampangan lantaran saya gagap mengikuti topik seni. Kesenian yang saya khianati karena saya menembus awang-awang dengan meninggalkan banyak hal. Bekerja dengan gurat-gurat angka, meneliti petak-petak excel, menghitung rugi untung, adalah ‘onani’ yang sia-sia karena tak kunjung memuncratkan 'sperma'.


Satu setengah tahun lalu saya masih mendatangi pameran foto Ganug Nugroho Adi (semasa ia belum bekerja di Indosiar karena masih memakai baju Suara Merdeka) di auditorium IKIP PGRI. Kami membicarakan novel dan cerpen, karena wartawan satu ini juga cerpenis.


Dua tahun lalu saya kerap melakukan pertemuan dengan Bu Rini, guru bahasa sebuah SMP di Semarang Timur, dan menggagas penerbitan novel dan kumpulan cerpen.


Tiga tahun lalu saya masih bermain-main dengan kata dan rajin menulis apa saja di Yogya, kemudian rutin mengirim cerpen ke media mana saja.


Kini, saya adalah baju lusuh yang tergantung di kapstok. Menulis hanya di blog, dan mungkin berangsur goblok.


Suara Syahir yang merdu, tadi malam, mengingatkan saya, membangunkan saya. Menyandarkan sebuah tonggak persis di punggung saya akan makna kehilangan. Saya segera ingat tentang sayembara menulis cerpen dan cerbung oleh sebuah majalah yang ingin saya ikuti saat ini. Saya akan membayar utang-utang sebelumnya, termasuk gagal mengikuti lomba cerpen Tabloid Nyata hanya gara-gara sibuk menjadi pemimpin redaksi sebuah tabloid olahraga ...


(saya akan mengetuk pintumu, sayangku. Biarkan saya berkelana di sekujur tubuhmu)